CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Berpamitan


__ADS_3

Marcel tersadar. Nindi ada di sebelahnya sambil mengaji. Sambil mengusap kepala Marcel. Melakukan apa yang pernah Tia lakukan pada Lambok.


Marcel tersenyum. Nindi buru-buru menarik tangannya dari kepala Marcel. "Maaf...." Nindi menunduk dan menyelesaikan bacaan Al Qurannya.


Marcel menarik tangan Nindi dan mengecupnya. "Sudah berapa lama Aku tak sadar?" Tanya Marcel.


"Dua hari." Nindi masih menunduk. Ada lara di hatinya. Nindi tak sanggup meninggalkan Marcel apalagi kondisi nya yang sedang terluka.


"Jadi Kita masih di tempat Papa Carlos?" Marcel terlihat khawatir.


Nindi mengangguk. "Tapi Kamu gak usah khawatir, semua sudah baik-baik saja. Papa Carlos menerima Kita dengan baik. Malah dia yang memberikan tempat ini buat Kita tinggali." Kata Nindi.


"Syukurlah." Marcel mengangkat dagu Nindi. Marcel melihat wajah Nindi yang murung. "Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Marcel lembut. Marcel hendak bangun.


Nindi buru-buru membantu Marcel untuk duduk.


"Terima kasih Sayang." Marcel merengkuh tengkuk Nindi dan mengecup kening Nindi. Selama ini mereka pacaran tak pernah sekali pun Marcel rujak bibir dengan Nindi, karena Nindi yang selalu menolak.


Marcel hanya berhasil mengecup bibir Nindi secara tiba-tiba dan itu pun membuat Nindi sangat marah. Makanya Marcel menganggap Nindi tak pernah serius dengannya.


"Sudah sadaaar....?" Tiba-tiba Tabib masuk ke kamar Marcel.


Nindi memberi ruang pada Tabib agar Tabib bisa memeriksa keadaan Marcel.


"Gak apa Nak. Kamu disitu saja. Kekasihmu sangat merindukanmu." Goda Tabib.


Marcel tercengang bagaimana mungkin tabib bisa tahu isi hatinya.


Tabib terkekeh melihat wajah Marcel yang bingung. "Apalagi yang Kamu pikirkan Nak, Dia menemanimu siang malam, sampai kantuknya dia tahan." Kata Tabib.


Nindi menunduk. "Tabib... Saya permisi dulu." Nindi hendak keluar dari kamar tapi tangannya ditarik Marcel.


"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Marcel.


"Aku belum shalat." Nindi beralasan padahal Nindi sudah melaksanakan shalat berjamaah dengan Keluarganya.


Marcel tak dapat menahan Nindi. Nindi setengah berlari. Ingin sekali dia tumpahkan kerisauan hatinya pada Marcel tapi percuma, Marcel akan tetap kekeh dengan pendiriannya.


Nindi berlari tanpa tahu arah. Papa Carlos melihatnya dan segera mengejarnya. "Mau kemana Nindi malam-malam begini?" Papa Carlos terlihat cemas. Beberapa anak buahnya mengikuti Papa Carlos.


"Nindi...!" Panggil Papa Carlos sambil terus mengejar Nindi. Padahal hari sudah larut. Lambok dan keluarganya sudah terlelap.


Nindi mendengar panggilan Papa Carlos. Nindi tersadar dia berlari tanpa arah. Nindi melihat sekelilingnya gelap hanya pohon-pohon rindang di sisi kanan dan kirinya.


"Ya Allah... Dimana Aku?" Gumam Nindi. Nindi menangis.


"Nindi...!" Suara Papa Carlos terdengar lagi.


"Papa.... Nindi disini..." Nindi masih sesegukan.


Carlos melihat Nindi dan bergegas menghampirinya. Nindi memeluk Papa Carlos.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Nak? Arahmu ke jurang. Ini sudah larut malam."


Nindi masih menangis tapi tak juga mau cerita.


Papa Carlos merangkulnya dan membawanya keluar dari hutan. Anak buah Papa Carlos sudah tiba.


"Apa baik-baik saja Tuan?" Tanya salah satu dari mereka.


Papa Carlos mengangguk. "Terima kasih kalian sudah mengikutiku." Kata Papa Carlos.


"Sudah kewajiban Kami, Tuan." Sahutnya.


Nindi menangis membenamkan wajahnya direngkuhan Papa Carlos.


Di Kamar Marcel.


"Dia sangat mencintaimu, Nak. Apalagi yang Kamu tunggu? Kalian sudah sama-sama dewasa. Jangan memperlambat sesuatu yang sudah pasti." Kata Tabib.


Marcel mengerutkan keningnya mencoba mencerna kata-kata Tabib.


Tabib tersenyum dan meninggalkan Marcel. "Oh ya jangan lupa diminum obat nya." Tabib mengingatkan.


Nindi menangis. "Kamu kenapa Nak? Kalau Kamu menganggap Aku Papamu, ceritalah. Mungkin Aku bisa membantumu." Kata Carlos.


Nindi menggeleng. Nindi tak mau banyak orang yang tahu derita hatinya. Dia memendamnya sendiri.


"Baiklah kalau Kamu tak mau cerita. Kita kembali ya ke kamarmu. Ini sudah larut. Kamu belum istirahat dari kemarin. Pinta Papa Carlos.


Papa Carlos mengantar Nindi sampai depan pintu kamarnya. Marcel melihatnya karena kamar Nindi berhadapan dengan kamarnya.


Nindi masuk ke kamar dan menutup pintu. Nindi bergegas mencuci wajahnya dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah dengan perjalanan cintanya.


Entah sudah berapa lama Nindi memejamkan mata. Nindi merasa ada sesuatu yang menindih perutnya.


Nindi membuka matanya. Nindi sangat terkejut melihat Marcel yang tidur disampingnya sambil memeluk pinggangnya posesif.


"Aaaccchhh..." Nindi sedikit berteriak.


Marcel membuka matanya karena kaget mendengar teriakan Nindi.


"Apa yang kamu lakukan disini? Apa yang kamu perbuat padaku?" Nindi hendak duduk dan memeriksa kondisinya.


Nindi menghela nafas. "Masih utuh." Batin Nindi.


"Kenapa Sayaang? Apa Kamu kira Aku akan mengambil kehormatanmu tanpa seijinmu?" Marcel terlihat tersinggung.


Nindi menunduk. Nindi menyesal telah berprasangka buruk pada Marcel. "Maafkan Aku...."


Marcel beranjak dari tidurnya. Dia keluar dari kamar Nindi dan masuk kedalam kamarnya.


Nindi menghela nafas. "Kamu belum menjadi suamiku. Aku hanya ingin Suamiku kelak yang pertama kali menyentuhku." Batin Nindi.

__ADS_1


__________________


Seminggu Kemudian.


Lambok dan Keluarganya sudah berpamitan pada keluarga Papa Carlos dan Tabib.


Tabib berpesan pada Nindi untuk membawa Marcel ke Rumah Sakit untuk memastikan tidak ada penyumbatan di kepalanya. Padahal Tabib sudah tahu, Marcel baik-baik saja. Tapi Tabib ingin Nindi tak meninggalkan Marcel.


Sedangkan Pastor dan dua orang teman Lambok sudah pulang lima hari yang lalu, karena sudah tak ada lagi yang harus diurus.


Papa Carlos dan Istrinya mengantarkan Lambok dan keluarganya sampai ke bandara.


"Kalian hati-hati. Jangan lupa memberi kabar pada Kami jika sudah tiba di Negara A." Pesan Papa Carlos.


"Nanti kalau Kalian sudah pindah ke Indonesia, kabari Papa ya. Papa akan mampir kesana menjenguk Kalian." Kata Papa Carlos lagi.


"Baik Pa." Jawab Lambok.


Mereka berpelukan. Tia memeluk Papa Carlos. Papa Carlos bahagia karena Tia tak takut lagi padanya.


Mama Mery tersenyum bahagia karena suaminya telah kembali seperti dulu. Menjadi suami yang lembut dan pengertian juga baik hati.


Marcel dan Nindi juga berpamitan.


"Kalau ada kabar gembira, kabari Kami. Kami akan menyambutnya." Papa Carlos seakan tahu dengan hubungan Nindi dan Marcel.


"Terima kasih Pa." Jawab Nindi dan Marcel kompak.


Papa Carlos terkekeh dengan kekompakan Nindi dan Marcel.


________________


"Apa ini?" Marcel memperlihatkan kopian surat pengunduran Diri Nindi. Marcel nampak kesal dengan keputusan Nindi yang mengundurkan diri dari Rumah Sakit V.


"Apa Kamu benar-benar akan meninggalkanku?" Marcel kecewa.


Nindi hanya menunduk. Keadaan Marcel sudah jauh lebih baik. Marcel sudah bertugas kembali di Rumah Sakit.


Marcel heran kenapa Nindi tidak diperbolehkan merawatnya selama di Rumah Sakit. Ternyata pihak Rumah Sakit memberitahu kalau Nindi sudah mengundurkan diri sebelum mereka berangkat ke Negara T.


Hari ini Nindi hanya ingin berpamitan pada Teman-temannya. Tapi tak disangka bertemu Marcel di sana. Padahal Nindi tahu jadwal Marcel di Rumah Sakit R hari ini.


"Maafkan Aku. Aku harus ikut dengan Keluargaku ke Indonesia. Aku disini tak punya siapa-siapa." Nindi menunduk. Nindi tak sanggup menatap tatapan Marcel yang tajam.


"Lalu Aku? Kamu anggap apa Aku selama ini?" Tanya Marcel kesal.


"Kamu sudah tahu Marcel. Tapi Kamu masih keras kepala. Kamu tega membiarkanku menunggu." Akhirnya Nindi memberanikan diri menatap Marcel.


"Aku permisi. Jaga dirimu baik-baik." Pamit Nindi. Nindi tak mau menangis di depan Marcel.


Marcel terpaku melihat kepergian Nindi. "Ya Tuhan... Apa yang harus Aku lakukan?" Gumam Marcel. Disatu sisi Marcel sangat mencintai Nindi tapi disisi lain Marcel belum bisa menerima syarat dari Nindi.

__ADS_1


__ADS_2