
Bella tak menyangka kalau Karl akan membela nya. Hati nya berbunga-bunga. Bella berjanji sejak saat ini Dia akan menjadi Istri dan Ibu sambung yang baik. Dia juga bertekad akan segera program hamil.
Karl dan Bella meninggalkan Kantor Polisi.
Sesampainya di rumah, Karl langsung menelpon Leo memberi tahu tentang dalang dari penculikan Lita. Awal nya Leo bersikukuh tak percaya, tapi Karl memberikan bukti-bukti kalau Dia menemukan foto-foto Lita di kamar Dany.
Bella langsung menyiapkan makan malam untuk Mereka.
Rose dan Lily nampak bingung dengan perlakuan Bella. Bella memasak makan malam. Dan bersikap lembut pada Rose dan Lily.
Rose dan Lily menghela nafas. Akhir nya Nyonya Mereka kembali menjadi sosok Nyonya yang baik. Namun kali ini ditambah dengan Bella yang memasak sendiri makan malam nya.
Walau di Yunani sikap Bella baik kepada Rose dan Lily, tapi Bella sama sekali gak mau ke dapur. Untuk menyiapkan minum untuk Karl saja, Bella enggan.
Karl yang baru saja selesai menelpon Leo, mencium aroma masakan yang harum sekali, membuat perutnya berdendang ingin diisi.
Karl langsung keluar dari ruang kerja nya menuju kearah dapur.
"Sayaaang...??? Apa yang Kamu lakukan?" Karl menunjuk celemek yang menempel di tubuh Bella. "Kamu memasak?" Tanya Karl tak percaya.
Bella tersenyum tulus. Bella benar-benar ingin mencintai Karl sepenuh hati, bukan hanya pemenuh nafsu ranjang nya saja.
"Hhhmmm... Harum sekali Sayang... Pasti enak." Puji Karl. Karl begitu bahagia melihat perubahan Istri nya. Karl yakin Bella memang benar-benar ingin memperbaiki semua. "Boleh Aku mencicipinya?" Tanya Karl yang sudah menggulung lengan kemejanya.
"Kamu gak mandi dulu, Sayang?" Tanya Bella.
"Nanti saja abis makan. Aku sudah gak sabar ingin merasakan masakan buatan Mu." Kata Karl sambil mengerlingkan sebelah mata nya.
Bella langsung menyiapkan semua. Rose dan Lily yang ingin membantu, dilarang oleh Bella.
"Kalian bantu bereskan dapur saja. Aku ingin meladeni Suami Ku." Kata Bella ramah.
Rose dan Lily mengangguk sambil tersenyum penuh haru.
Karl sangat bahagia dengan perubahan Bella. Mereka makan malam berdua dengan saling menyuap.
"Ternyata Kamu pandai memasak. Masakan ini sangat enak." Kata Karl setelah memasukan suapan pertamanya.
"Terima kasih, Sayang. Aku janji, setelah ini, Kamu akan terus merasakan masakan yang Aku buat sendiri." Kata Bella sungguh-sungguh.
__ADS_1
Karl tersenyum bahagia. "Semoga rumah tangga Kita langgeng sampai maut memisahkan Kita." Batin Karl.
"Sayang... Mulai besok Aku ingin program hamil. Aku ingin segera memiliki anak dari Kamu..." Kata Bella disela-sela makan malam Mereka.
Karl tidak percaya dengan pendengarannya. Dia meminta Bella mengulanginya.
"Aku ingin punya anak dari Kamu, Sayang...." Bella tersipu malu. Bella seperti anak ABG yang baru saja mengenal cinta.
Karl langsung beranjak dari kursi nya dan memeluk Bella. "Aku sangat bahagia mendengarnya." Karl mengecup kening Bella dengan lembut.
Setelah makan malam, Karl langsung menggendong Bella ala bridal. Bella mengalungkan tangannya ke leher Karl. Karl membawa Bella ke kamar Mereka.
___________________________
Leo menatap diri nya pada Cermin. Dia tak percaya dengan penampilannya saat ini. Dia terlihat sangat kacau.
Omongan Dokter Oliver masuk ke hati nya dan dapat diterima oleh pikirannya. "Dokter Oliver benar, Aku harus belajar ikhlas. Lita tak akan suka melihat Ku seperti ini." Batin Leo.
Leo teringat saat pertama kali bertemu Lita, dan saat pertama kali Dia mengajak Lita untuk makan malam berdua, Lita mengatakan kalau diri nya seperti Om-om galau.
Leo tersenyum. Air mata nya mencelos begitu saja. "Sayaang... Dimana pun Kamu berada, Aku sangat merindukan Mu. Kembali lah Sayang... Aku menanti mu...." Batin Leo.
Leo berharap dimana pun Lita berada, Lita dapat mendengar alunan Surat Ar Rahman ini.
__________________________
"Ayaaahhhh!!!!" Teriak seorang anak kecil. Anak kecil itu langsung menubruk sosok laki-laki tampan yang dipanggilnya Ayah.
Laki-laki itu langsung menggendong sang Puteri dengan bungkusan ditangannya. "Ada apa, Sayang??"
"Dia.... Dia udah bangun.... Tangannya gelak-gelak... Tapi mata nya masih bobo." Kata gadis kecil itu yang belum lancar berbicara. Gadis kecil itu diperkirakan berumur 3 tahun.
Laki-laki itu mencium pipi gembil Puteri nya yang menggemaskan. Dia baru saja kembali dari mencari ranting kering di hutan.
Deburan Ombak terdengar samar-samar di kejauhan sana.
Mereka memasuki sebuah rumah yang sangat sederhana. Laki-laki itu mendudukan Puteri nya di kursi rotan sebelah dipan dimana sesosok wanita terbaring disana.
Dia menyentuh kening wanita itu. "Alhamdulillah... Demam nya sudah reda." Dia melihat kearah balutan kain pada lengan dan kaki wanita itu. Juga pada pinggangnya yang terluka. Kondisi nya sangat mengenaskan waktu Dia menemukan wanita itu di tepi pantai. Terdampar.
__ADS_1
Pagi buta itu Dia baru saja akan pergi menangkap ikan. Memang itulah kegiatannya sehari-hari demi memenuhi kebutuhan hidup nya berdua dengan sang Puteri.
Hasil melaut nya akan Dia jual ke Kabupaten. Dia juga membawa kayu-kayu sebagai kayu bakar, sebagai tambahan usaha nya.
Pagi itu Dia langsung pulang tanpa membawa hasil laut. Namun membawa sesosok wanita.
Puteri nya yang sedang bermain di dalam rumah terkejut manakala pintu terkuak dan melihat sang Ayah kembali.
"Ayah...?? Kok Ayah udah puyang cih? Ayah bawa ciapa?" Dia mengikuti langkah Ayah nya yang tergesa-gesa menggendong orang. Dan meletakkannya ke atas dipan.
"Ayah.... Ini ciapa? Kok Dia banyak luka?" Anak itu terus saja mengoceh.
"Bantu Ayah yah Nak... Tolong ambilkan kain panjang di lemari." Pinta laki-laki itu.
Anak itu tanpa membantah langsung menuruti perintah sang Ayah.
Anak itu menyerahkan dua helai kain panjang kepada Ayah nya.
Sedangkan laki-laki itu sedang membersihkan luka-luka pada tubuh wanita itu.
Dia tadi sempat memeriksa denyut nadi dan jantung wanita itu. Ternyata masih hidup walau nafas nya sangat lemah.
"Maafkan Aku...." Gumamnya. Dia merobek baju yang melekat pada tubuh wanita itu. Pakaian yang sudah compang camping, Dia sobek sedikit demi sedikit sambil memeriksa kalau-kalau ada luka ditempat lainnya. Ternyata banyak memar di tubuhnya. Dan luka menganga dibagian pinggangnya.
Dia dan Puteri nya memang tinggal sendiri di daerah itu. Sedangkan tetangga nya berjarak satu kilo meter dari tempat tinggalnya. Dan tempat tinggalnya sangat tersembunyi. Dia memang sengaja menutupi keberadaannya demi keamanan Sang Puteri nya.
Dia menutupi tubuh yang sudah polos itu dengan kain panjang. Merapatkan kesela-sela belakang tubuhnya. "Ya Allah... Ampuni Aku... Aku hanya ingin mencoba membantunya." Batinnya.
"Sayang... Kamu tolong jaga Ibu ini, yah. Ayah mau mencari obat buat Dia." Pesan laki-laki itu.
"Iya Ayah.... Caca akan jaga Ibu." Kata Anak itu.
Laki-laki itu mengelus kepala Puteri nya. Dia membawa caping, golok juga keranjang. Dan segulung tali.
Saat ini, setelah hampir satu bulan tubuh itu terdiam. Hari ini Puteri nya mengabari kalau Wanita itu mulai bergerak.
"Ha...us....." Tiba-tiba mulut Wanita itu berucap.
"Ayah... Ibu nya aus..." Celoteh anak itu.
__ADS_1
Laki-laki itu bergegas menuang air dalam kendi kecil kedalam gelas bambu. Dia mengangkat sedikit punggung wanita itu dan memberikannya minum dengan sendok.