
"Benarkah?" Vita tak percaya.
Tia pun ikut terperanjat dengan perkataan Lita. "Lalu bagaimana dengan perasaanmu, Sayang?" Tanya Tia.
"Aku gak tahu, Ma. Aku juga awalnya kaget tiba-tiba Bang Vero mengatakan ingin menikah denganku." Kata Lita polos.
Mereka memang sedang melakukan videocall lewat laptopnya Vita.
"Bagaimana menurut Mama, Vita, Papa dan Tristan." Tanya Lita.
Lambok tersenyum. Tia pun demikian. Tristan hanya cuek saja, karena Dia juga belum begitu kenal dengan Vero.
"Kamu shalat istikharah Lita." Kata Vita. "Kalau Aku terserah Kamu, kan Kamu yang akan menjalankan."
"Ya Sayang, Vita benar. Shalatlah Nak, minta petunjuk dari Allah, apa Vero yang terbaik untukmu atau tidak, biar Allah yang menentukan." Kata Tia sambil tersenyum.
"Tapi Ma, bagaimana dengan keluarga di Sumatera? Bukankah Neneknya Bang Vero tidak suka ya dengan keluarga Kita, keluarga Nenek." Tanya Lita.
Tia menghela nafas. Tia juga khawatir Bunda akan ikut campur dan menggrecoki urusan cucu Mereka.
"Nanti Mama dan Papa bicarakan pada Om Adrian dan Tante Dita, ya Sayang. Tapi yang terpenting pastikan dulu hati Kamu, shalat istikharah ya." Kata Tia lembut.
Lita mengangguk. Lita terlihat sedih karena jauh dari Mama dan Papa juga saudara-saudaranya.
Fitri merangkul bahu Lita. "Anak Mama kangen ya...?" Tanya Fitri sambil mengelus rambut Lita lembut.
Lita mengangguk. Dia merebahkan kepalanya di pundak Fitri.
"Apa Kamu sudah tahu, Fit?" Tanya Tia.
"Vero?" Tanya Fitri.
"Ya...." Kata Tia.
Fitri tersenyum. "Sudah Kak. Tapi Aku tak mau mendahului Kakak. Biar Kakak dan Kak Lambok yang kasih keputusan." Kata Fitri.
Tia tersenyum. "Maksud Kakak, menurutmu, apa Bunda masih suka ikut campur urusan anak-anaknya?"
"Ya gitu deh Kak. Nenek lampir itu tak pernah berhenti memusuhi Ibu. Memang sudah dasarnya hatinya tak bisa baik." Kata Fitri.
Tia menghela nafas. "Baiklah kalau begitu. Kalian disana baik-baik saja, kan?" Tanya Tia.
"Alhamdulillaah Kak. Kakak tenang saja, Lita tak akan merasa kesepian disini. Lita juga sering mengajari Fahri dan Farah belajar, kalau Fathir gak ada." Kata Fitri.
"Ya Ma... Tapi Aku kangen sama Kalian." Rengek Lita. Baru kali ini Lita berjauhan dengan keluarganya. Walau Mama Fitri tak pernah kurang kasih sayangnya pada dirinya, tapi tetap saja Lita merindukan keluarganya.
Tia tersenyum. "Sabar ya sayang... Kalau liburan Kamu kesini, atau Kita yang kesana." Kata Tia.
__ADS_1
"Maafkan Aku ya Lita. Gara-gara Aku, Kamu jadi berpisah sama Mama dan Papa juga Adek." Kata Vita merasa bersalah.
"Gak gitu juga Vita. Kamu jangan selalu menyalahi dirimu terus. Lagi pula Aku memang harus belajar mandiri dari sekarang. Tak bergantung pada Mama dan Papa terus. Aku hanya merindukan Kalian." Lita mencoba menenangkan Vita.
"Terima kasih ya Lita. Kamu memang saudaraku yang paling baik." Kata Vita.
"Vita... Vita... Kita ini kan Twins, biar bagaimana pun perasaan Kita gak akan terpisah." Canda Lita.
Vita terkekeh. "Kamu benar. Tolong selalu jaga perasaanmu untukku..." Canda Vita.
"Hahahaha... Kamu ada-ada saja Vita." Lita tertawa. Fitri tersenyum.
Tia, Lambok dan Tristan pun tertawa.
"Ya sudah ya Ma, Pa.. Dek.. Vita... Aku pamit. Disini sudah malam sekali." Kata Lita. "Assalamu alaikum."
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Mereka di Mesir.
__________________________
Ternyata Puteri-puteri Kita sudah mulai tumbuh jadi gadis yang Dewasa, ya Yang." Kata Tia.
Lambok memiringkan tubuhnya menghadap Istrinya. "Iya Sayang... Sebentar lagi Kita akan punya menantu dan cucu. Kita tambah Tua, Sayang." Kata Lambok.
"Tapi cinta dan sayang ku padamu tak pernah Tua, Sayang." Kata Tia.
Tia memeluk Lambok. Lambok pun membalas pelukan Tia.
Tok... tok... tok... Pintu kamar diketuk dari luar.
Tia dan Lambok melerai pelukannya. "Siapa Yang?" Tanya Tia.
Lambok pun turun dari ranjang. Tia juga mengikutinya.
"Vita...? Ada apa malam-malam begini, Kamu belum tidur, Sayang?" Tanya Lambok.
Vita langsung memeluk tubuh Papa nya. Dia menangis. "Papa.. Huk... huk... huk...."
Lambok bingung, Tia pun tak kalah terkejutnya. "Ada apa Sayang?" Tanya Tia.
Lambok membawa Vita ke ruang tengah. Tia mengambil air minum untuk Vita.
Lambok mendudukan Vita, masih merangkulnya. "Ada apa, Sayang?" Tanya Lambok.
"Kak Atala.... Huk... huk... huk..." Vita terbata-bata.
"Ada apa dengan Atala, Sayang?" Tia terlihat khawatir.
__ADS_1
"Kak Friska.... Kak Friska hamil Ma... Huk... huk... huk..." Vita tak dapat lagi menahan rasa sedihnya.
Lambok menghela nafas. Tia menyodorkan air minum pada Vita. "Minumlah Sayang... Tenangkan hatimu." Pinta Tia.
"Kak Atala jahat Ma... Kak Atala... Huk... huk... huk..." Vita tak dapat meneruskan kata-katanya.
"Sayang... Dari awal Mama tak percaya kalau Kakakmu yang menodai Friska. Mungkin kalau Friska sekarang hamil, itu bukan Anak Atala." Tia mencoba menenangkan Vita.
Lambok memeluk tubuh Vita dan mengelus punggungnya. "Istighfar Sayang.... Jangan Kamu turuti emosimu. Ikhlaskan semua, Sayang... Agar langkahmu terasa ringan." Pinta Lambok.
"Astaghfirullaah... Astaghfirullaah.... Astaghfirullaah..." Vita beristighfar. Papa nya benar, Vita masih belum bisa mengikhlaskan Atala. Lukanya masih baru, masih terasa sakit sekali. Ditambah lagi berita yang membuatnya tambah terluka. Tambah sulit baginya untuk kembali lagi pada Atala.
"Sayang... Mulai sekarang hapus Akun sosmedmu yang lama. Buat Akun yang baru. Tinggalkan semua yang pernah ada disana." Kata Tia tegas. Akhirnya Tia tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dia tak mau melihat Puterinya tambah terluka.
Cukup sudah satu orang Puteranya terluka. Jangan menyiksa Puterinya dengan pemberitaan atau status-status di sosmed.
"Tapi Ma..." Kata Vita.
"Sayang... Ini semua demi kebaikan Kamu. Masa depanmu masih panjang. Usia mu juga masih muda. Jangan siksa hatimu dengan luka yang tak seharusnya Kamu terima." Kata Tia.
"Mama mu benar, Sayang. Papa setuju dengan usulan Mama. Mama dan Papa tidak ingin melihatmu sedih terus. Derita akan berakhir, Nak. Asal Kamu ikhlas menerima semua yang telah terjadi." Kata Lambok.
Vita melerai pelukan Papa nya. Vita memandang wajah Mama dan Papa nya. Mereka mengangguk dan tersenyum.
Vita kembali memeluk Papa nya. "Terima kasih Pa..." Vita melihat kearah Tia. "Terima kasih Ma... Vita beruntung memiliki orangtua seperti Mama dan Papa. Juga saudara-saudara Vita."
Tia mengusap airmata nya. "Alhamdulillaah... Ya Allah... Berikanlah kemudahan bagi Puteri Hamba untuk melalui ini semua." Batin Tia.
"Kamu yakin sudah tenang?" Tanya Lambok.
Vita mengangguk. "Baiklah.... Papa antar Kamu ke kamar." Kata Lambok.
"Sayaaang...." sapa Lambok pada istrinya.
"Hhmmm...." Tia bergumam. Tia masih belum bisa menghilangkan kesedihannya karena melihat Puterinya menderita.
"Aku antar Vita ke kamar nya dulu. Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Lambok. Lambok sangat mengerti akan perasaan istrinya. Tia tak akan rela melihat anak-anaknya menderita.
Tia mengangguk. "Aku ke dapur dulu mau ambil air minum." Kata Tia.
Lambok tersenyum. "Ayo Sayang, Kamu harus istirahat. Besok Kamu mulai masuk kuliah kan?" Kata Lambok sambil merangkul bahu Vita.
Tia membuatkan lemontea plus madu untuk Vita. Kemudian Dia membawanya ke kamar Vita.
Vita sedang duduk dipinggir ranjang. Lambok menutup jendela kamar Vita. Tia masuk ke kamar dengan secangkir lemonte hangat untuk Vita.
"Minumlah Sayang..." Pinta Tia sambil menyodorkan cangkir pada Vita.
__ADS_1
"Terima kasih Ma..." Vita menerimanya dan meminumnya perlahan. Dia mulai menyukai Lemontea atau lemon hangat plus madu.