
"Mariaaa.....! Papa kangen sama Kamu, Sayaaang..." Papa Carlos merentangkan tangannya senang menyambut kedatangan Putrinya.
Tia langsung bersembunyi di belakang tubuh Lambok.
Mereka baru saja tiba di kediaman Papa Carlos. Papa Carlos yang sudah tahu akan kedatangan Putrinya mengadakan penyambutan yang meriah.
Papa Carlos menyangka Maria sudah sah menjadi Biarawati.
Papa Carlos mengerutkan keningnya melihat Maria yang bersembunyi di belakang tubuh Lambok.
"Ada apa ini? Maria..? Kamu tidak kangen sama Papa?"
Tia menggeleng. "Kamu bukan Papa ku." Kata Tia agak takut.
"Apa ini?!" Papa Carlos menatap Pastor. "Ada apa Pastor, kenapa Putri kesayanganku berubah? Daaann.... Mereka siapa?" Tanya Papa Carlos yang satu persatu melihat Lambok, Marcel, Nindi, Atala dan Twins serta 2 orang teman Lambok, dari kepolisian.
Papa Carlos juga melihat penampilan Maria yang berubah, Dia tak memakai jubah Biarawati tapi memakai pakaian Muslim.
"Sebaiknya Kita duduk Papa Carlos. Ada yang harus saya tanyakan dan Anda jelaskan." Tegas Pastor.
Papa Carlos tambah bingung tapi mempersilahkan Mereka untuk duduk.
"Dia bukan Maria, Putri Anda. Tapi Dia adalah Tia, istri dari Tuan Lambok dan Mama mereka." Kata Pastor sambil menunjuk ke arah Lambok dan keluarganya.
"Omong kosong apa ini?! Kamu jangan mengada-ada Pastor!" Papa Carlos terlihat tak terima.
"Aku mengirim anakku ke Biara mu, supaya Anakku menjadi seorang Biarawati, tapi kenapa Kamu malah menyerahkan Putriku pada Mereka!?" Hardik Papa Carlos.
"Tapi dia bukan Putri Anda, Papa Carlos." Tegas Pastor.
Papa Carlos berdiri dan hendak menarik tangan Tia. "Kamuu...!!"
Tapi Lambok segera menghalangi Papa Carlos.
"Maaf Pak, tolong jaga sikap Bapak. Saya kemari dengan tujuan baik-baik. Saya ingin semuanya menjadi jelas. Saya kesini juga karena permintaan Pastor agar tidak ada salah paham." Kata Lambok tegas.
"Berani-beraninya Kalian! Apa bukti Kalian kalau Dia bukan Putriku tapi Istrimu?!" Tantang Papa Carlos.
Pengacara Lambok menyerahkan semua bukti pada Papa Carlos. Hasil test DNA, Surat Nikah, Akte kelahiran Tia, dan document lainnya. "Ini Pak."
Papa Carlos mengambilnya setengah merampas. Anak buah Papa Carlos sudah bersiap dari tadi Mereka datang dan mendengar keributan.
Papa Carlos membanting semua berkas ke atas meja. "Tidaaakkk.... Kalian semua pembohong..!! Mariaaa... Ini Papamu, Nak... Mereka mencoba mengelabuimu." Papa Carlos memelas pada Tia.
"Tidak Pa... Tapi Saya memang benar Istri Kak Lambok. Dan ini anak-anak Tia." Tia mulai mengingatnya. Kata Tia menepis perkataan Papa Carlos.
"Kamu kasih apa anakku, hingga Dia melupakanku!?" Tiba-tiba Papa Carlos menarik kerah kemeja Lambok.
Lambok dengan tenang mengangkat tangan. "Justru Saya yang mau bertanya, Anda kasih obat apa istri Saya sampai dia melupakan dirinya sendiri."
"Banyak omong Kamu.!" Papa Carlos memukul Lambok tapi Lambok menangkisnya. Akhirnya perkelahian pun terjadi.
Anak buah Papa Carlos ikut menghantam tamu Mereka.
Nindi dan Tia menyingkir membawa anak-anak Mereka. "Papaaa...." Panggil Atala dan Twins. Mereka menangis.
__ADS_1
Mereka sudah baku hantam. Marcel sudah babak belur karena kekuatan yang tak seimbang. Marcel pun tumbang.
"Sayaaaang..." Nindi berteriak.
Tiba-tiba.... Dooorr... dor... dor...
Suara letusan pistol terdengar di udara.
"Cukuuup....!! Cukuuuppp...!!" Teriak seseorang.
Seketika mereka menghentikan aksinya.
Nindi berlari menghampiri Marcel. Marcel sudah tak berdaya. Nindi memangku tubuh Marcel. "Sayaaang.... Banguuunn..." Nindi menangis.
Marcel membuka matanya dan tersenyum. "Maafkan Aku....." Marcel menutup mata.
Nindi mengguncang tubuh Marcel. "Sayaaaang... banguunn..." Nindi memeriksa urat nadi Marcel. "Tolooong...!!" Nindi berteriak.
"Cepat tolong dia!" Kata Pria itu pada anak buahnya yang ternyata adik kandung dari Papa Carlos, Kevin. Mereka membawa tubuh Marcel ke rumah tabib. Nindi mengikuti.
"Cukup Kak. Cukup sudah sandiwara ini!" Kata Kevin.
"Apa...?!" Papa Carlos terkejut. "Apa yang mau Kamu buat?!" Papa Carlos terlihat khawatir.
"Kak... Maria Putri Kakak sudah tiada...! Kakak harus terima dengan ikhlas. Dia bukan Maria Kak." Kevin memohon pada Carlos.
"Sayaaang.... Putri Kita Maria sudah tiada... Huk... huk... huk..." Istri Papa Carlos menghampiri suaminya dan memeluknya.
Papa Carlos masih bersih keras.
Twins masih menangis karena takut. Tia terlihat gemetar dan lemas. Tia memegang kepalanya.
Lambok mendekat pada istri dan anaknya. Lambok membawa Tia dan anak-anaknya untuk duduk. Lambok melihat Tia yang memegang kepalanya.
"Kenapa Sayaaang..?" Tanya Lambok khawatir.
Tia menggeleng. "Aku...." Tiba-tiba Tia lunglai dan pingsan.
"Sayaaang....!!" Panggil Lambok.
"Mama....!!" Panggil Atala dan Twins.
Terlihat darah menempel pada hijab Tia dibagian telinga. Tia tadi sempat terkena hantaman keras dari salah seorang anak buah Carlos.
"Mariaaa...!" Panggil Carlos.
"Cukup Kak... Dia bukan Maria..!" Kevin memegang tangan Kakaknya menghalanginya untuk menggapai Tia.
"Kalian...! Tolong bantu mereka." Perintah Kevin kembali.
_________________
Di Rumah Tabib.
"Aku sudah mengobati lukanya. Dan sudah memberinya ramuan untuk luka dalamnya." Kata Tabib yang dulu mengobati penyakit kanker otak Tia.
__ADS_1
Lambok menggendong tubuh Tia ke rumah Tabib.
"Kak Tia kenapa, Kak?" Nindi terkejut melihat Lambok menggendong Tia.
"Tia terkena pukul anak buah Papa Carlos." Kata Lambok.
"Letakkan disana Nak." Pinta Tabib.
Lambok menuruti. Tabib bergegas memeriksa kondisi Tia. "Mohon maaf, Saya harus membuka penutup kepalanya." Kata Tabib.
Tabib menutup tirai ruangan untuk Tia. Dia tahu, Tia seorang muslimah yang tak boleh terlihat auratnya.
Lambok mengijinkan karena keadaan darurat. Lambok membantu tabib membuka hijab Tia.
Tabib melihat darah yang keluar dari telinga Tia. Tabib mengambil sample darah itu dan mencampurnya dengan cairan lain.
Tabib tersenyum. Lambok bingung.
"Kamu tenang, Nak. Istrimu baik-baik saja. Obat-obatan yang dikonsumsi istrimu selama 4 tahun ini keluar bersama darah di telinga istrimu. Mudah-mudahan Istrimu segera ingat siapa dirinya." Kata Tabib.
"Jadi Tabib tahu selama ini?" Tanya Lambok.
Tabib mengangguk. "Saya sudah melarang Carlos melakukan itu. Tapi obsesi nya yang ingin memiliki istri Kamu, begitu besar. Saya tak bisa berbuat apa-apa karena Saya diancam." Jelas tabib.
Nindi yang tadi menemani Lambok, melihat cairan darah itu berubah menjadi hitam. Nindi menghela nafas. "Iya Kak... Racunnya ikut dengan darah."
"Bawalah Kakak Kamu ke tempat kenangan indah nya. Agar Dia segera teringat akan dirinya." Pinta Tabib.
"Iya Tabib. Memang rencananya setelah menemui Papa Carlos, Kami akan kembali ke Indonesia." Kata Lambok.
"Oohhh jadi Kalian orang Indonesia? Pantes saja, Istrimu terlihat seperti orang Asia." Tabib mengambil Foto Maria yang memang ada di kamar itu.
"Ini foto Maria.... Mereka mirip. Makanya Carlos terobsesi dengan Istrimu." Kata Tabib.
"Subhanallaah... Mereka memang mirip. Hanya saja Maria berhidung mancung dengan manik mata coklat dan berkulit kuning langsat. Cantik." Kata Nindi.
Lambok juga terkejut. Lambok juga tak menyangka.
"Dan Maria sedikit lebih tinggi dari Istri Kamu." Kata Tabib.
"Carlos sangat menyayangi Putri nya. Dia ingin Maria menjadi seorang Dokter. Maria juga menyetujuinya. Maria dari kecil senang membantu Saya mengobati orang lain. Makanya Carlos meluluskan keinginan Putrinya."
"Tapi....." Tabib terlihat sedih.
"Kenapa Tabib?" Tanya Nindi yang masih setia mendengar cerita Tabib.
"Maria meninggal dunia setelah diperkosa brandal-brandal itu secara bergantian." Jelas Tabib.
"Innalillaahi...." Kata Lambok. "Lalu mengapa Istriku dijadikan Biarawati?" Tanya Lambok.
"Karena Aku tidak mau Maria ku meninggalkan ku lagi." Tiba-tiba Papa Carlos sudah berada di rumah Tabib bersama Kevin dan Istri Carlos.
"Aku tidak mau, laki-laki brengsek diluar sana menyakiti Putriku lagi." Carlos menangis. "Mariaaaa...."
Lambok berdiri dan memeluk tubuh Papa Carlos
__ADS_1