CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Atala Tak Mengakui Teguh?


__ADS_3

Diandra terperanjat, tamu yang datang adalah mantan suaminya, Teguh.


Tapi sebisa mungkin Diandra menyembunyikan rasa kagetnya.


Teguh pun terkejut melihat Diandra yang berhijab kini.


Diandra menangkupkan telapak tangannya ke dada. Teguh tambah terkejut karena Diandra tak membalas jabatan tangannya.


Diandra membuang muka menoleh pada Suaminya.


"Sayang... Apa Kamu mengenalnya?" Bisik Diandra. ( Dalam bahasa Inggris)


"Siapa?" Tanya Ustadz Joey.


"Yang barusan." Kata Diandra.


"Oh Mr. Teguh? Ya, Dia asistennya Mr. Tommy. Mungkin Mr. Tommy berhalangan." Jelas Ustadz Joey.


"Kenapa? Kamu mengenalnya? Atau Dia Teguh mantanmu?" Tanya Joey.


Diandra mengangguk. Wajahnya terlihat sedih.


"Sabar yah." Ustadz Joey memeluk pinggang Diandra dan mencium kening Diandra, dan itu terlihat oleh Teguh.


"Diandra tambah Cantik dan Segar. Walau Usia nya tak muda lagi." Batin Teguh. Ada penyesalan disana.


Lambok melihat Teguh. Lambok memanggil Atala. Lambok mengajak Atala menghampiri Teguh.


"Assalamu alaikum Mas Teguh..." Sapa Lambok.


"Wa alaikumussalaam... Lambok?" Tanya Teguh. Teguh tak percaya ternyata Lambok sudah mualaf.


Atala mencium punggung telapak tangan Teguh. Atala tahu itu Ayah kandungnya. Tapi Atala tak mengenalkan diri sebagai Puteranya.


"Ini Anakmu?" Tanya Teguh.


Lambok hendak menjawab. Tapi Atala buru-buru menjawab. "Ya Om... Saya Putera Papa Lambok dan Mama ku, Mama Tia." Kata Atala. "Juga Mama Diandra." Batin Atala.


Lambok terdiam. Lambok tersenyum pada Atala dan Teguh.


"Tampan sekali, persis seperti Papa nya." Puji Teguh.


Ponsel Atala berdering. Atala melihat Mama Diandra menelponnya. "Pa... Aku angkat telpon dulu, mari Om." Pamit Atala.


Lambok dan Teguh mengangguk.


"Ya Ma... Ada apa?" Tanya Atala.


"Apa Dia tahu Kamu Puteranya?" Tanya Diandra cemas.


"Tidak Ma. Aku bilang, Aku anak Papa Lambok dan Mama Tia." Jawab Atala.


"Kenapa Kamu tak jujur, Sayang?" Tanya Diandra lembut.


"Aku belum siap Ma, memiliki Ayah yang pernah menyakiti Mama. Dia juga menganggapku tiada." Kata Atala.

__ADS_1


Diandra menghela nafas.


"Ma... Aku lebih baik ke Mama Tia saja, ya." Ijin Atala.


"Ya Sayang. I Love You." Kata Diandra.


"Love You too Ma..." Balas Atala yang mencium ponselnya.


"Kamu telpon siapa, Sayang?" Tanya Joey.


"Aku telpon Atala, Dia ngobrol dengan Teguh." Kata Diandra.


"Apa Kamu tak suka Atala dekat dengannya?" Tanya Joey.


"Aku belum siap, Sayang. Atala pun demikian. Aku takut, Dia akan merebut Atala dariku. Biarkan semua seperti semula. Atala Putera Tia dan Lambok." Jelas Diandra.


"Tapi Kamu berdosa kalau Atala tak mengakui mahjab Ayahnya." Kata Ustad Joey lembut.


Diandra menunduk." Biarkan Atala yang akan memberitahukannya, Sayang.."


Ustadz Joey merengkuh bahu Diandra dan mengusapnya. "Aku akan membantumu kalau Teguh mencoba merebut Atala. Tapi walau bagaimanapun, Teguh harus tahu kalau Atala, Puteranya." Joey menasehati Diandra.


__________________


"Ada apa Sayang?" Tanya Tia pada Atala yang langsung memeluknya.


"Aku gak mau Dia tahu, Aku puteranya." Kata Atala.


"Siapa Sayang?" Tia bingung.


"Om Teguh. Aku bertemu dengannya." Jelas Atala.


"Papa tadi mengajakku menemui seseorang. Pas Aku lihat gak tahunya Om Teguh." Atala terlihat tak suka.


"Kamu gak boleh begitu, Sayang. Walau bagaimana pun, Dia Ayahmu." Kata Tia lembut.


"Atala belum siap Ma, mendengar cerita Mama Diandra saja, Atala sakit hati." Atala terlihat sedih.


Tia mengusap punggung Atala. Kamu yang sabar ya.


Atala memang dikasih lihat foto Ayah kandungnya, Teguh oleh Diandra. Makanya Atala tahu pas dikenalkan oleh Lambok.


"Dimana Adik-adikmu?" Tanya Tia.


Twins sedang menemani Fathir. "Joana menyukai Fathir, Ma?" Kata Atala.


"Apa? Serius?" Tia terperanjat.


Atala mengangguk yang sudah melerai pelukannya. "Tadi Joana menghampiri Atala, Ma. Dia minta dikenalkan sama Fathir. Aku bilang, Fathir lebih cocok jadi Adikmu. Tapi Joan tak peduli Ma." Jelas Atala.


Tia tersenyum. "Ada-ada saja. Biarkan saja, Sayang. Fathir sudah besar. Dia bisa memilih yang terbaik untuknya." Kata Tia.


"Kayanya Fathir juga suka, Ma. Joan kan cantik." Canda Atala.


"Kalau Kamu suka sama siapa?" Goda Tia.

__ADS_1


Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal." Atala tak berani jujur pada Tia.


Tia tahu Atala menyembunyikan sesuatu darinya. "Apa Kamu menyukai Adikmu, Vita." Tia langsung menembak Atala.


Atala menunduk. Dia tak berani menatap Tia.


"Sejak kapan?" Tanya Tia lagi.


"Sudah lama, Ma. Sebelum Aku tahu statusku. Tapi saat itu Aku selalu menampiknya karena Dia adik kandungku. Tapi kini, Aku tahu bisa menikahi Vita." Jelas Atala.


Tia tersenyum. Tia mengusap kepala Atala lembut. "Jodoh, Rejeki dan Mati, Allah yang punya Kuasa, Sayang. Manusia hanya berusaha. Mama tak akan menolak kalau Kamu memang menyukai Vita. Tapi tidak sekarang. Adikmu masih sekolah." Kata Tia.


Atala memeluk tubuh Tia. "Terima kasih Ma. Tapi Atala minta, Mama jangan kasih tahu Papa dan juga Twins. Atala mau, kalau Kita sudah sama-sama dewasa." Kata Atala.


Tia mengangguk. "Ya Sayang... Mama doakan Kamu berjodoh dengan Vita."


Tia melerai pelukan Atala dan mengecup kening Atala. "Ini secara tak langsung, Kamu meminang Vita pada Mama...." Canda Tia.


Atala tersipu malu. "Atala gak mau, Vita dengan laki-laki lain Ma." Kata Atala.


"Kamu persis Papa mu, Papa Lambok." Kata Tia.


"Aku kan Anak Papa dan Mama." Kata Atala. Mereka pun tertawa bahagia.


____________________


Satu Bulan Kemudian.


"Ma... Atala akan merindukan Mama." Atala memeluk Diandra. Semenjak Diandra menikah, Atala memang tinggal dengan Diandra. Tapi Atala tak lupa selalu ke rumah Lambok.


Atala juga tetap mengantar jemput Twins jika hari sekolah.


"Atala pasti kesepian disini berdua sama Oma." Rengek Atala.


"Habis bagaimana, Sayang. Daddy mu mengajak Mama ke Negara A. Mama harus mengikuti kemana pun Suami Mama, pergi." Diandra mencoba memberi pengertian pada Atala.


Di ruang tamu, Joana juga sedang merengek pada Daddynya untuk menetap lebih lama lagi. Dia ingin selalu dekat dengan Fathir.


"Tidak Sayang... Fathir itu pemuda baik-baik. Dan Dia seorang Muslim. Apa Kamu mau mengikuti kepercayaannya?" Goda Ustadz Joey. Ustadz Joey sangat menginginkan anak-anaknya mengikuti kepercayaannya.


"Apa harus ya Daddy?" Tanya Joana.


"Wajib." Kata Ustadz Joey.


"Apakah susah?" Tanya Joana.


"Tidak Sayang. Tapi Daddy gak mau Kamu mualaf karena Fathir. Daddy mau Kamu tulus dan melakukannya karea Allah Ta'ala." Nasehat Ustadz Joey.


Joana menunduk sedih. Dia juga belum yakin dengan hatinya. Saat ini Dia hanya mengikuti hasratnya saja.


"Daddy... Kalau Aku tinggal disini, setidaknya Atala atau Mama Tia, bisa mengajariku. Tapi kalau Aku balik ke Negara A, Mommy akan terus memaksaku pergi beribadah. Bagaimana Aku akan mengenal Islam?" Keluh Joana.


Ustadz Joey menghela nafas. "Ada benarnya juga apa yang dikatakan Joana." Batin Ustadz Joey.


"Baiklah... Daddy akan minta tolong sama Papa Lambok untuk mengurus Visa mu agar, Kamu bisa tinggal disini lebih lama. Tapi Kamu harus janji, gak boleh macam-macam. Turuti apa yang Mama Tia katakan dan Papa Lambok." Pinta Ustadz Joey.

__ADS_1


Joana sangat senang. "Dia memeluk tubuh Daddy nya. Terima kasih, Daddy. I Love You."


Ustadz Joey tersenyum. "Ya Allah... Berikanlah hidayah pada Putera puteri hamba."Batin Ustadz Joey.


__ADS_2