
Vita menangis tersedu-sedu. Cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan. "Mungkin Kak Atala benar, Aku adalah adiknya. Gak mungkin Dia menyukaiku lebih. Aku nya saja yang tak bisa memendam perasaanku." Batin Vita.
"Ya Allah... ampuni Aku yang telah berani mencintai Kakakku sendiri." Vita menengadah.
Vita bertekad akan melupakan cintanya pada Atala. Dia ingin fokus belajar. Sebentar lagi Dia akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
Atala mengantarkan Friska setelah berpamitan pada Mama Tia.
"Kenapa Kamu jadi cemburu melihat kedekatanku dengan Vita?" Selidik Atala pada Friska.
Mobil Atala sudah berbaur dengan ramainya kemacetan Jakarta.
"Loh Aku kan mencoba agar actingnya seperti beneran. Menjiwai kalau kata aktris." Friska terkekeh.
Atala menghela nafas lega. "Aku kira Kamu beneran menyukaiku." Kata Atala.
Friska terlihat murung. Ingin rasanya Dia mengatakan yang sebenarnya pada Atala kalau dirinya sangat mencintai Atala.
Tapi Friska membungkam mulutnya. Dia tak mau Atala akan menjauhinya setelah tahu isi hatinya yang sebenarnya.
_________________
Rafa makin gencar mengompori Friska agar terus mendekati Atala. Walau beberapa kali Friska mencoba memberikan pengertian pada Sang Papa.
"Atala mencintai adiknya, Pa." Kata Friska.
"Gak mungkinlah....Tia dan Lambok pasti tak akan merestui. Walau Atala bukan anak kandung Mereka, tapi Atala sudah seperti anak kandung Tia dan Lambok." Kata Rafa yang selalu memberi semangat pada Friska.
Friska menghela nafas. "Huuuuhhh Papa.... Lagi pula Friska lebih tua dari Atala. Mana mau Atala sama Friska? Walau Friska juga heran, Kenapa Atala mencintai Vita yang biasa-biasa saja." Friska mengrucutkan bibirnya.
"Kamu gak boleh menyerah, Sayang. Papa yakin, lambat laun Atala pasti akan membuka hatinya untuk Kamu." Rafa optimis.
"Terserah Papa deh... Aku cape... Mo mandi dulu." Friska bergegas masuk kamar.
_____________________
Semakin hari Vita terus menghindari Atala. Vita meminta Sang Papa memberikan sepeda motor.
"Kasihan Kak Atala, Pa... Akhir-akhir ini Aku dan Lita sibuk menghadapi Ujian. Kak Atala juga sedang sibuk mengurus skripsinya." Vita mengrucutkan bibirnya.
"Atala gak masalah kok Pa...."Tiba-tiba Atala sudah berada ditengah-tengah Mereka dengan menggandeng tangan Friska mesra.
Fathir yang mengekor dibelakang Mereka memutar bola matanya kesal melihat tingkah Atala dan Friska.
"Kalau cinta bilang saja cinta... Pake teka teki silang segala." Gerutu Fathir.
__ADS_1
Atala membulatkan matanya. Friska mencibirkan bibirnya.
Fathir pura-pura tak melihat itu. Dia langsung menghampiri Tristan dan merangkulnya. "Adik Bang Fathir yang tampan... Nanti kalau sudah besar jangan kaya Kak Atala ya.. Gak gentle." Canda Fathir.
Lita terkekeh mendengar perkataan Fathir. "Abangku yang ganteng ini kenapa sih?? Kok kaya aki-aki kehilangan gigi? ngegrutu aja dari tadi." Canda Lita.
"Gara-gara ada orang yang jatuh cinta tapi gak tahu rasanya... Asin...asem.. manis... pedes... Kaya rujak... Hhhmmm... Enak kali ya... segeeerrrr..." Goda Fathir.
Lita merangkul bahu Fathir. "Kalau Bang Fathir akan terus terang jika suka?" Sindir Lita.
"Loh... iya dong... Buktinya Kamu tahu kan, Abang menyukaimu dulu.. tapi karena Kita kakak beradik... pupuslah harapan Abangmu ini meminangmu." Canda Fathir yang langsung mengecup puncak kepala Lita.
"Hahahaha...." Lambok tertawa mendengar celotehan Fathir dan Lita. Tia hanya geleng-geleng kepala.
"Tapi setidaknya Abang sudah gentle mengutarakan isi hati Abang... Gak main teka teki silang... Plooong rasanya jika isi hati telah terucap." Fathir kembali mengoceh.
"Kamu persis Papa Lambok..." Kata Tia pada Fathir. Lambok langsung merengkuh bahu Tia dan mengecup puncak kepalanya.
"Papa Lambok dulu juga langsung mengutarakan isi hatinya. Walau beberapa kali Mama menolaknya. Karena Mama gak percaya Papa mu mencintai Mama yang biasa-biasa saja." Sindir Tia.
"Tapi sekarang Kamu lihat... Aku begitu mencintaimu... Gak ada wanita lain dihati ku selain Kamu sampai saat ini." Goda Lambok.
Wajah Tia bersemu... Dia tersenyum pada Lambok dengan tatapan penuh cinta. Lambok langsung mengecup bibir Tia.
Fathir langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mulai daaahhh..." Fathir menutup wajahnya dengan telapak tangannya tapi dengan jari-jari merenggang😂
"Ada Pa... Makanya Aku sedang mengadakan riset tentang cinta. Ini proyek terbesar yang gak boleh sampai gagal... Salah perhitungan bisa ambruk pondasinya..." Kata Fathir dengan mimik wajah dibuat serius.
Atala menimpuk Fathir dengan bantal sofa. "Ada-ada saja Kamu... Hati kok pake rumus? Pake perasaan..." Atala sewot.
"Mang Kamu punya perasaan?" Ketus Fathir pada Atala.
"Hah... eh.. anu... Ya punya lah....kalau gak mana mungkin Aku membawanya tiap hari kesana kemari dah kaya lem besi nempel terus gak bisa lepas." Canda Atala menyindir Friska.
Friska mencubit pinggang Atala. Friska tersipu malu.
Vita menghela nafas meredam gejolak hatinya. Tapi wajahnya dia buat sebiasa mungkin.
Atala memperhatikan Vita. Atala sangat gemas dengan Vita yang tak memberikan reaksi apa-apa. Ingin sekali Atala memeluknya dan membisikkan kata-kata Cinta ke telinga Vita.
"Pa... Ini kok jadi ngomongin cinta aja sih? Abang Fathir nih... jadi kompor. Aku lagi merayu Papa buat beli motor." Vita mengrucutkan bibirnya.
"Jangan Pa... Atala mohon. Papa jangan mengabulkan permintaan Vita." Kata Atala.
Vita mengrucutkan bibirnya. Tia tersenyum melihat perhatian Atala pada Vita walau belum berani Atala mengungkap perasaannya.
__ADS_1
"Nanti Papa pikirkan lagi ya, Sayang. Sebentar lagi Kamu dan Lita lulus SMA, Jika kalian mau Papa akan membelikan mobil untuk Kalian." Kata Lambok.
Tia mengusap punggung Lambok. Lita terlihat senang. Tapi tidak dengan Vita. Vita sudah memutuskan untuk melanjutkan study nya ke luar negeri. Vita sudah mulai mencari informasi tentang Universitas di luar negeri.
"Yeeeiii... Terima kasih Papa..." Lita langsung berhambur pada Lambok dan memeluknya.
Lambok mencium pucuk kepala Lita. Tapi Lambok mengerutkan keningnya melihat Vita yang tidak bahagia.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Lambok pada Vita.
"Aku gak apa Pa....Aku baru ingat, ada tugas Fisika yang belum Aku kerjakan. Aku ke atas dulu ya Ma....Pa..." Pamit Vita.
Tia mengangguk. Dia mengerti dengan perasaan Vita yang kecewa keinginannya masih dipertimbangkan Sang Papa.
"Kamu gak ada tugas, Sayang?" Tanya Lambok.
Lita menggeleng. "Aku santai Pa....Aku saja bingung, Vita sibuk banget." Kata Lita.
Lambok menatap Tia meminta jawaban.
"Vita sekarang sibuk pada kegiatan Masjid di Sekolahnya. Dia sering ikut acara-acara Islam. Jadi mungkin agak sibuk." Kata Tia yang mengerti dengan kebingungan Suaminya.
Lambok mengangguk. "Ooohhh... Itu makanya Dia minta sepeda motor?" Tanya Lambok.
Tia mengangguk. "Dia gak mau merepotkan Atala. Apalagi Atala sekarang sedang sibuk membuat Skripsi." Jelas Tia.
"Gak Pa... Atala gak terlalu sibuk kok. Atala senang bisa mengantar jemput Vita." Kata Atala.
"Ya tapi gak senang meng..." belum juga Fathir meneruskan perkataannya Atala sudah melemparnya dengan bantal sofa lagi.
"Atala...!" Tegur Tia.
Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Fathir kebanyakan ngomong Ma... Berisik tahu!" Hardik Atala.
"Berisik juga tapi Aku gentle gak kaya Kamu...!" Fathir mencibirkan bibirnya pada Atala.
"Sudahhh... sudaah... Kalian ini kalau sudah dekat, selalu rame." Canda Lambok.
"Fathir tuh Pa... Jadi Cowok cerewet banget." Kata Atala.
"Biariiiinn... Bibir bibir Aku... mulut mulut Aku... Yang penting Aku gak punya gantungan baju." Sindir Fathir.
"Hahahaha..." Lambok tertawa mendengar kelakar Fathir yang selalu bisa saja ngeles kaya bajaj. "Fathir ini seperti siapa ya Ma? Cerewet banget? Fahmi pendiam, Fitri sesekali saja ketus kalau sudah kesal." Canda Lambok.
"Kaya Nindi....Dia kan dekat sekali dengan Nindi." Kata Tia.
__ADS_1
"Hahahaha... Iya... ya... Jadi kangen sama adik bungsuku..." Kata Lambok lagi.
Fathir terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.