CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kandas Sebelum Berkembang


__ADS_3

"Sampai segitu nya Bunda dendam sama keluarga Kita. Padahal kan itu semua urusannya sama Ibu." Fitri sangat kesal.


"Karakter orang berbeda-beda Sayaaang..." Fahmi menengahi.


"Iya sih Yah, tapi kan kasihan anak-anak... Semua ikut dimusuhi." Kata Fitri.


Ibu tersenyum. "Mau diapain lagi Fitri... Sudah sifatnya seperti itu. Itu semua juga salah Ayah Burhan yang gak bisa tegas mendidik Bunda." Kata Ibu.


"Kayak nya Ayah Burhan nyerah Bu sama Bunda... Ayah Burhan banyak mengalah." Kata Fitri.


"Iya... Ayah Burhan memang penyabar, atau mungkin takut sama Istri...?" Ibu tersenyum. "Kalau Ayah Kalian sangat tegas." Puji Ibu.


"Kok Ibu bisa tahu kalau Bunda ngajak Ayah kawin lari?" Fitri penasaran.


"Waktu itu Ibu berniat mengunjungi Ayah mu sambil membawakan makan siang. Kami sepakat akan selalu menyayangi dan mulai mempersiapkan pernikahan. Ibu melihat Bunda yang memeluk tubuh Ayah, tapi Ayah langsung menepisnya dan memaki Bunda. Awalnya Ayah melarang dengan pelan tapi karena Bunda yang seakan memaksakan kehendaknya, maka Ayah bersikap tegas." Cerita Ibu.


Fitri dan Fahmi mengangguk. Beda dengan Lita yang menunduk. Lita merasa putus asa. Cinta nya dengan Vero seakan kandas sebelum berkembang.


"Sayaaang.... Kamu jangan sedih... Kalau Vero adalah Jodoh yang terbaik untuk Kamu, Allah akan mempermudah semuanya..." Kata Fahmi menghibur Lita.


Fitri langsung berdiri dan memeluk tubuh Lita. Lita menangis.


Fitri mengusap rambut panjang Lita dengan lembut.


"Kamu harus sabar, Dek... Masih banyak laki-laki diluar sana yang pasti mencintaimu dengan tulus dengan keluarga Mereka yang hatinya juga tulus." Kata Fahri.


Lita mendongak, Dia mengusap airmatanya. "Iya Abang Fahri benar...."


"Tapi Sayang... Memang Kamu tak mencintai Vero? Kok Kamu gampang sekali menyerah?" Fitri terlihat heran.


"Ma... Mama ku saja sama Papa, harus melalui banyak rintangan dan cobaan. Papa harus menikah dengan wanita lain, Mama juga begitu. Mungkin Lita mengikuti jejak Mama dan Papa..." Kata Lita murung.


"Sayaaang... Kamu jangan berfikiran seperti itu. Kondisi nya berbeda. Papa mu dijebak. Dan Mama mu menuruti keinginan Buyut Kamu, Nenek Mama." Jelas Fitri.


"Dek... Jangan berfikir menikah lebih dari satu kali... tidak baik." Kata Fahri.


"Iya Bang... Maaf..." Lita menunduk.


Fahri menarik tangan Lita dari kursi meja makan. "Yuk ah Kita ke sungai saja."


Fitri menggeleng melihat tingkah Fahri yang tanpa basa-basi.


"Fahriii...." Panggil Fahmi.


"Ya Yah..." Sahut Fahri.


"Jaga Adiknya." Pesan Fahmi.


"Ya Ayah. Farah mau ikut gak?" Tanya Fahri.


"Gak Bang... Farah lagi gak bisa berenang." Kata Farah.

__ADS_1


"Ya Kamu nunggu di atas lah..." Pinta Fahri.


"Aku malas Bang. Capek turun naik. Perutku juga sakit." Kata Farah yang memang sedang datang bulan.


"Sudah Fahri, Adiknya jangan dipaksa ikut kalau gak mau." Kata Ibu.


"Ya Nek." Kata Fahri.


"Nih bawa bekal. Jangan kesorean pulangnya." Kata Fitri yang menyodorkan rantang dan termos pada Fahri dan Lita.


"Terima kasih Ma..." Kata Lita.


Fahri menggandeng tangan Lita. Lita terlihat senang.


"Coba saja Anakku boleh menikah dengan Lita. Pasti sudah kulamar." Kata Fahmi.


"Iihh Ayah... Kalau boleh sudah dinikahi Fathir duluan." Canda Fitri. Fahmi tertawa.


"Kalian ini ada-ada saja..." Kata Ibu yang menggelengkan kepala dan langsung masuk kamar.


Farah sudah merapihkan Meja makan dan mencuci piring kotor. Tak lama Dia pun masuk kamar.


"Kita ke kamar juga ya Yang..." Goda Fahmi.


"Iihh Ayah... Mau ngapain?" Bisik Fitri.


"Olahraga siang." Kata Fahmi yang sudah mengecup bibir Fitri.


"Gak enak ada Ibu dan Farah." Kata Fitri.


"Iiihhh Ayah..." Fitri tersipu malu. Fahmi langsung menggendong tubuh Fitri dan membawanya ke kamar. Fitri melingkarkan tangannya dileher Fahmi.


__________________________


"Kamu sedang apa, Sayang?" Vero menatap keluar kamarnya.


Vera masuk kedalam kamar Vero. "Bang... Kok melamun sih? Mikirin Kak Lita ya?" Tanya Vera.


Vero menoleh dan mengangguk. "Aku begitu merindukannya. Sejak Dia masuk SMA dulu, Aku sudah sangat menyukainya tapi Aku malah memilih Diah." Vero menunduk.


"Kok bisa sih Bang?" Tanya Vera tak mengerti.


"Lita dan Vita tak seperti gadis-gadis lain di sekolah. Kedua nya tak mau dekat dengan laki-laki. Apalagi pulang sekolah dijemput Kak Atala." Cerita Vero.


"Waktu itu Aku dekat dengan Diah hanya ingin bisa kenal dengan Lita dan Vita. Makanya pas Diah minta putus, Aku sangat bersyukur, itu kemauan Dia dan bukan Aku yang menyakiti." Jelas Vero.


"Tapi waktu itu Bang Vero bukannya dekat sama Vita yah?" Tanya Vera heran.


"Ya... Gak sengaja Kita jadi dekat karena kegiatan Rohani Islam di sekolah. Ternyata kedua twins itu memiliki kelebihan masing-masing. Vita sudah punya Atala, gak ada kesempatan bagi Abang untuk Vita. Abang juga bukan tipe orang yang suka mengambil hak orang lain." Kata Vero.


"Kamu memang seperti Ayah mu, Nak..." Tiba-tiba Adrian sudah berada di kamar Vero.

__ADS_1


"Papa...??!!!' Vera dan Vero berhambur memeluk Adrian. "Mana Mama?" Tanya Vera.


"Mama ada langsung ke kamar, Adik kalian tidur." Kata Adrian.


"Kok Papa dan Mama pulang gak kasih kabar sih?" Tanya Vero.


"Sengaja... Biar surprise." Kata Adrian.


"Bagaimana keadaan Kalian?" Tanya Adrian.


"Kami baik-baik saja, Pa." Kata Vero.


"Bang... Pa... Aku mau ke Mama dulu." Ijin Vera.


"Ya Sayang." Kata Adrian.


Vera pun berlalu ke kamar Mama Dita.


"Bagaimana Pa? Apa Nenek bisa dibujuk?" Tanya Vero tak sabar.


"Nenek mu sangat keras kepala." Adrian menghela nafas.


Vero duduk lemas di kasur nya. Adrian ikut duduk di sampingnya. Adrian mengelus kepala Vero. Vero memeluk Adrian.


"Andai Mama dan Papa masih ada..." Vero menangis.


"Sssttt... Kok malah cengeng?" Adrian melerai pelukan Vero.


"Anak laki gak boleh cengeng. Kamu harus kuat. Minta sama Allah agar dibukakan pintu hati Nenek. Berdoa sama Allah agar Mama dan Papa bahagia di sana." Kata Adrian.


Vero kembali memeluk Adrian. "Aku kangen sama Mama dan Papa..."


Adrian mengelus punggung Vero. "Adik kembar ku memang lebih penyabar dan penyayang. Tapi Aku juga sangat menyayangi Kalian." Batin Adrian.


"Pa...." Panggil Vera.


"Ya Sayang..." Adrian melerai pelukannya pada Vero.


"Minum dulu Pa... Papa pasti capek dan haus." Kata Vera.


"Mama mu lagi apa?" Tanya Adrian.


"Mandi Pa, setelah mengelap badan Dede." Kata Vera.


"Kalian sudah makan, belum?" Tanya Adrian sambil menyeruput teh hangat buatan Vera.


"Belum Pa... Tadi rencananya mau pesan makanan lewat aplikasi online." Kata Vero.


"Ya sudah... Kalian pesan ya... Papa mau mandi juga. Gak enak gerah." Kata Adrian.


"Papa mau makan apa?" Tanya Vera.

__ADS_1


"Apa saja... Yang pedas yah. Mama mu pasti ikan. Samakan saja dengan Mama." Kata Adrian.


"Ya Pa." Vera bergegas mengambil ponselnya dan langsung mencari menu makanan yang dipesan Papa nya. Dia juga memesan menu makanan untuknya dan Vero.


__ADS_2