CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Airmata Semua Orang


__ADS_3

Lita berkeras mengikuti Tristan ke Negara I. Dia ingin melupakan kenangan pahit di Indonesia dan Singapura.


Keluarga Lita mau tidak mau menuruti kemauan Lita. Bagi Mereka, kebahagiaan dan kenyamanan Lita yang paling utama.


Atala sudah mengurus kepindahan Lita dan sekolah Caca. Caca ikut serta kemana pun Lita pergi.


Lita tak dapat menahan diri sesaat saja. Padahal tahlilan hari ke-40 bagi Krisna tinggal dua hari lagi. Namun Lita tak ingin menghadirinya. Hati nya semakin sedih mengingat kesalahannya pada Krisna.


Lita, Tristan dan Caca tiba di Negara I. Lambok langsung menghubungi kolega nya di Negara itu. Beruntung sekali koleganya mempunya apartemen yang kebetulan kosong. Dia tak keberatan jika Lita, Tristan dan Caca menempatinya.


Hari ini hari ke-40 sejak wafatnya Krisna. Lita menangis sesaat membaca surat Yasin untuk mendiang Suami nya. "Maafkan Aku, Ayang... hik... hik... hik...."


Sedangkan Tristan sedang berada di Kampus, Caca tertidur di ranjang Lita. Dia lelah karena perjalanan udara yang cukup lama.


Lita mengaji dengan terbata-bata. Airmata nya terus mengalir. Dia teringat akan ketulusan Krisna selama ini. Krisna tak pernah berlaku kurang ajar saat Lita, Dia temukan di pinggir laut. Krisna tak pernah sekalipun berkata kasar pada dirinya walau Lita sering membuatnya jengkel.


"Aku mencintai Mu, Ayang....Mengapa Ayang begitu cepat meninggalkan Aku... Hik... hik... hik... Maaf jika Aku begitu lama membalas kasih sayang Mu...." Lita terus menangis hingga Dia terlelap di sajadah.


____________________________


"Sayang... Bangunlah..." Sebuah tangan mengusap bahu Lita yang terlelap di sajadah.


Lita mengerjabkan mata nya. Lita terkejut manakala mendapati siapa yang sedang duduk di sebelah tubuhnya yang masih memakai mukena.


"Ayang... Hik... hik.. hik..." Lita langsung memeluk tubuh Krisna.


Krisna membalas pelukan Lita. Mengelus punggung Lita dengan lembut. "Jangan bersedih sayang... Aku mohon, biarkan Aku pergi dengan tenang..."


Lita melerai pelukan Krisna. Lita menggeleng. "Gak... Ayang gak boleh pergi lagi... Aku dan Caca membutuhkan Ayang..." Lita kembali menangis.


"Tidak Sayang... tugas Ku sudah selesai. Kamu harus bangkit... Jangan seperti ini. Lihatlah... tubuh Mu semakin ringkih... Aku mohon, Caca sangat membutuhkan Mu... Dia tersiksa melihat Mu terus bersedih. Caca hanya punya Kamu dan Tristan, Sayaaang..." Krisna menangkup kedua pipi Lita.


"Harus nya Aku jujur pada Ayang... hik... hik... hik... Maafkan Aku, Ayang...." Lita kembali menangis.


"Tidak Sayang.... Jangan salahkan diri Mu. Ini kecerobohan Ku..." Krisna mengusap air mata Lita. "Aku begitu terharu, karena Allah mengirimkan pada Ku seorang Istri berhati Mulia... Ikhlaslah Sayang... Masa depan Mu dan Caca masih panjang. Raihlah kebahagiaan Mu bersama Orang yang Kau Cintai.... Sudah waktu Ku untuk pergi, Sayaang.. Aku mencintai Mu..." Krisna mengecup kening Lita.


"Kak... Jangan pergi... Tetaplah disini bersama Ku disini... Hik... hik.. hik... Aku membutuhkan Mu..." Dipeluknya erat tubuh Krisna namun Lita kalut saat bayangan Krisna lama-lama menghilang. "Kak.... Kak Krisna! Jangan tinggalkan Aku! Huk.. huk.. huk..." Lita histeris memanggil Krisna sambil menangis.

__ADS_1


"Kak.... Bangun Kak... Astagfirullaah..." Tristan mengguncang tubuh Lita.


Caca sudah menangis di samping tubuh Lita yang terbaring di sajadah. "Ibu... huk... huk... huk..."


Tristan baru saja pulang dari kampus, Dia kaget mendengar Caca yang menangis dan mendengar Lita berteriak. Tristan langsung berlari menuju kamar Sang Kakak.


Tristan menepuk-nepuk pipi Lita dengan lembut hingga sedikit kasar manakala Lita tak juga terbangun.


"Astaghfirullaah...! Hik.. hik.. hik..." Lita mengerjab sambil masih terisak.


"Ada apa Kak? Kakak membuat Caca panik." Tanya Tristan bingung.


Lita bangun dan melihat ke arah Caca. Lita langsung memeluk Puteri nya. "Maafkan Ibu, Sayang.... Maafkan Ibu...."


"Apa Ibu bertemu Ayah?" Tanya Caca yang melerai pelukan Lita dan mengusap airmata Lita.


Lita mengangguk sedih. "Ya Sayang...."


Tristan menghela nafas. "Hari ini 40 hari kepergian Kakak.... Kakak ingin berpamitan pada Kak Lita. Kak Krisna pasti sangat sedih melihat keadaan Kak Lita seperti ini..." Kata Tristan.


"Ayang... Aku janji, sejak saat ini Aku akan bangkit... Aku ikhlas Ayang tinggalkan... Bahagialah Ayang. Ya Allah... Ampunilah dosa-dosa Suami Hamba... Terimalah Dia disisi-Mu..." Doa Lita.


"Aamiin..." Ucap Tristan dan Caca berbarengan. Tristan memeluk tubuh Lita dan Caca.


____________________________


Dua Bulan Kemudian


"Assalamu alaikum....." Salam seseorang.


"Wa alaikumussalaam... Jawab Vita seraya membuka pintu. Pak Dokter? Mari silahkan masuk..." Ajak Vita.


"Terima kasih... Aku kemari mau bertemu Lita..." Kata Leo to the point.


Vita mengalihkan pembicaraan. "Duduk dulu Dokter... Aku panggilkan Papa dan Mama yah..." Vita tersenyum. Vita dan Atala sekarang tinggal bersama Lambok dan Tia karena Tristan sudah tak bersama Mereka. Apalagi Orang Tua Mereka yang sudah berumur.


Leo mengangguk. Perasaannya tak enak. Leo duduk di sofa ruang tamu. Vita beranjak ke dalam. Memanggil kedua Orang Tua nya.

__ADS_1


Tak lama Lambok dan Tia keluar bersama Vita.


"Assalamu alaikum Nak Leo..." Sapa Lambok dan Tia.


Leo berdiri sambil membalas salam Lambok dan Tia. "Wa alaikumussalaam Pa... Ma... Bagaimana kabar Mama dan Papa? Sehat-sehat saja kan?" Leo mencium punggung telapak tangan Lambok dan Tia.


"Ya beginilah Nak... Namanya juga Orang sudah Tua." Canda Lambok. Mereka kembali duduk.


Vita dan seorang asisten rumah tangga membawakan nampan yang berisi minuman dan beberapa toples cemilan kue kering.


"Jangan repot-repot Vita." Senyum Leo. "Aku kesini hanya ingin menanyakan kabar Lita."


Lambok dan Tia saling menatap. Mereka menunduk dengan wajah sedih.


"Gak repot Dokter. Ayo diminum dulu. Ini cobain kue buatan Caca Puteri nya Lita." Vita mengalihkan pembicaraan Leo sesaat. Vita memang senang sekali membuat kue untuk Caca, dan Caca membantunya saat Vita mengajarinya.


"Terima kasih Vita." Leo menghargai penawaran Vita. Dia meminum lemon tea dan mencomot beberapa cemilan dan mencoba nya. "Hhhmmmm... Enak... Dimana Caca?" Leo celingak-celinguk.


"Maafkan Papa, Nak Leo. Papa dan Mama tidak bisa menahan Lita dan Caca lebih lama disini. Oh ya, Kami juga turut berduka atas wafatnya Eyang... Mohon maaf Kami tak bisa datang, karena Kami juga sedang berduka. Terima kasih juga karena Kamu segera mengabari Atala tentang kecelakaan Krisna." Mata Lambok berkaca-kaca. Sedangkan Tia sudah terisak dalam dekapan Vita.


"Gak apa Pa, Leo dan Keluarga juga mengerti. Kita semua sedang berduka. Maksud Papa, Lita dan Caca pergi? Pergi kemana?" Tanya Leo.


Leo juga menyimpan rasa bersalah karena Dia tak mau membantu Krisna saat Krisna masih sehat bugar. Itu yang membuat Leo tak berani menemui Lita. Leo benar-benar merasa bersalah. Namum nasehat Ustadz Joey agar Leo melaksanakan amanah dari Almarhum Krisna untuk menjaga Lita dan Caca dan membahagiakan Mereka.


"Lita dan Caca pergi mengikuti Tristan ke Negara I, Dokter." Kata Vita karena kedua Orang Tua nya yang bungkam.


Leo mengangguk. "Maksud kedatangan Leo kesini, Leo ingin meminta restu Papa dan Mama, Leo masih ingin melanjutkan pernikahan Kami yang tertunda." Kata Leo tanpa basa-basi.


"Tapi Nak... Lita tidak sempurna sebagai seorang wanita..." Tia membuka bicara masih dengan isakannya.


"Aku sudah tahu, Ma. Almarhum Krisna memberitahu Leo sesaat sebelum Dia menghembuskan nafasnya." Kata Leo terlihat sedih mengingat moment itu. "Leo juga menyesalkan kenapa Lita menyembunyikan ini semua dari Leo? Leo sangat mencintai Lita, apapun kekurangan Lita, Leo ikhlas menerimanya." Airmata Leo sudah jatuh ke pipi nya.


"Maafkan Puteri Kami, Leo. Lita melakukannya juga menjaga perasaan semua Orang. Dia tak ingin membuat Keluarga besar Mu kecewa karena kekurangannya." Kata Lambok. "Lita sangat bahagia memiliki Caca."


"Leo sudah membicarakan ini sama Mama dan Papa juga Eyang, sebelum Eyang berpulang. Mereka mau terima Lita apa adanya dengan apa ada nya Lita." Kata Leo.


Lambok bangkit dan memeluk tubuh Leo. Lambok menangis dalam pelukan Leo. Tia dan Vita juga menangis sambil berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2