CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Adopsi


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian. Di Singapura.


"Selamat ya Strid, Kak Arham, Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah... Aamiin..." Ucap Lita pada sahabatnya.


Hari ini pernikahan Astrid dan Arham digelar dengan sangat mewah. Leo sedikit pun tak lepas menggenggam tangan Lita.


"Aamiin..." Jawab Astrid dan Arham.


"Terus kapan nih, Kalian nyusul?" Tanya Arham.


"Insyaa Allah... Doain aja yah." Kata Lita ikut bahagia.


"Pak Asdos, jangan kelamaan yah... Kasihan Lita tiap malam galau... Hehehehe...." Goda Astrid.


"Astrid..!! Apaan siihhh?!" Lita mengrucutkan bibirnya. Sedangkan Leo tersenyum saja melihat kelakuan kedua sahabat itu.


Pesta pernikahan yang digelar moment nya terbuka di sebuah taman yang luas dengan bunga-bunga warna warni yang bertebaran tumbuh disana. Terpasang banyak tenda sebagai pelindung bagi para undangan yang ingin duduk dan beristirahat sambil menyantap hidangan yang telah disediakan.


Kedua mempelai juga tidak duduk di pelaminan. Mereka menyambut para undangan dengan santai. Walau memang disediakan juga pelaminan untuk pengantin.


"Ayo... Kamu cicipi dulu hidangannya... Aku juga lapar nih." Ajak Astrid yang memakai gaun putih gading dengan hijab senada. Astrid memakai flatshoes agar nyaman. Namun demikian tidak mengurangi penampilan Astrid yang terlihat sangat cantik hari ini.


Astrid menggamit manja tangan Arham. Mereka juga ikut bergabung dengan para tamu yang sedang mencicipi hidangan.


Lita melayani Leo. Leo pun menyuapi Lita. Awal nya Lita menolak karena malu, karena banyak juga teman Kampus nya yang datang karena undangan dari Astrid. Namun karena Leo memaksa, Lita tak bisa menolaknya.


"Assalamu alaikum..." Sapa seseorang yang tak asing bagi Lita dan Leo.


"Wa alaikumussalam..." Jawab Lita. Leo terlihat tidak suka. Tapi Lita mencoba meredam kekesalan Leo.


"Kak Arby, apa kabar?" Tanya Lita ramah.


"Alhamdulillah Aku baik. Kamu sendiri, baik-baik saja, kan?" Tanya Arby merasa tak enak dengan tatapan Leo.


"Mau apa lagi, Kamu?!" Ketus Leo.


Lita mengusap lengan Leo. "Ini pernikahan Astrid, Sayang..." Kata Lita dengan lembut dan sengaja memanggil Leo dengan sebutan Sayang.


Arby terlihat kaget. Lita memanggil Leo, Sayang. "Aku mau minta maaf tentang kejadian tempo dulu." Arby mencoba tegar. Ada luka dihati nya. Walau bagaimana pun, Arby masih sangat mencintai Lita. Tapi kini, Lita sudah dengan mudah melupakannya.


"Lupakan saja, Kak. Aku sudah baikan. Aku dan Dokter akan segera menikah." Kata Lita lagi, yang melihat tatapan Arby masih ada cinta disana. Lita tak ingin Arby berharap. Lita juga gak mau bayang-bayang Vero terus mengganggu manakala melihat Arby.


"Yang... Suapi lagi." Pinta Lita manja.


Leo menuruti kemauan Lita. Leo sebenarnya senang dengan manja nya Lita. Tapi Leo merasa Lita sedang memanasi Arby. Namun Leo sangat tak berkeberatan membantu Lita untuk menyingkirkan Arby dari pikiran Lita.


"Maaf mengganggu Kalian. Sebenarnya....." Arby nampak ragu.

__ADS_1


Lita menghentikan makan nya. Leo juga seketika menatap tajam pada Arby. "Ada apa?!" Ketus Leo.


"Maaf Pak Leo, kalau boleh ijinkan Saya bicara berdua dengan Lita. Saya janji tidak akan menyakiti Lita lagi." Pinta Arby dengan memohon.


"Apa sepenting itu?" Tanya Leo.


"Ini sangat penting. Lebih tepat nya tentang masa lalu Aku dan masa depanku." Kata Arby masih memohon.


Leo menatap Lita. Lita nampak ragu. "Kalau Kamu tidak yakin, Aku gak akan mengijinkan." Kata Leo.


Akhirnya Lita mengangguk. Lita tak tega melihat wajah Arby yang penuh harap. "Baiklah. Tapi biarkan Dokter Leo berada tak jauh dari tempat Kita berbicara." Syarat Lita.


Arby mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih. Aku akan menunggu mu disana." Kata Arby sambil menunjuk sebuah saung kecil dekat kolam ikan. "Kamu selesaikan dulu makannya." Kata Arby seraya berpamitan.


Lita mengangguk. Leo merangkul bahu Lita. "Apa Kamu tahu apa yang akan Dia bicarakan?" Tanya Leo penasaran.


Lita menggeleng. "Aku tidak tahu."


"Apa Kamu masih mencintainya?" Tanya Leo.


"Aku gak pernah mencintainya. Waktu itu Aku hanya mencoba membuka hatiku untuk melupakan Bang Vero." Jelas Lita.


"Apa sekarang Kamu sudah bisa melupakan Vero dan mencintai Aku?" Selidik Leo.


"Aku sangat mencintaimu. Benar Kata Papa, Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Bang Vero, agar tidak ada lagi salah paham. Aku ingin jika Kamu benar-benar menjadi pendamping hidupku, hanya Kamu saja yang ada di hatiku... Bukan yang lain." Jelas Lita.


"Sudah makannya?" Tanya Leo lembut.


Lita mengangguk. Leo mengusap bibir Lita dengan lembut. "Pergilah... Temui Arby. Aku tak akan jauh-jauh dari mu." Pinta Leo lembut.


Lita tersenyum. "Terima kasih, Sayang." Lita mengusap telapak tangan Leo dengan lembut. Lita melepas tangan Leo perlahan. Leo memberi kecupan jauh pada Lita. Wajah Lita bersemu merah.


_____________________


"Kak Arby dapat darimana berkas ini?!" Lita terlihat sangat terkejut membaca berkas yang Arby sodorkan padanya.


"Aku bermaksud pindah dari kota ini. Aku juga sudah menjual rumah peninggalan orangtua ku. Aku bermaksud membereskan barang-barang yang masih ada. Ternyata Aku menemukan ini di dalam sebuah peti berukir." Arby menjelaskan dengan nada sedih.


"Kamu ingat Aku pernah mengatakan kalau firasatku, Kamu akan membawaku mempunyai keluarga? Waktu itu Aku berharap Kamu dan Keluargamu akan menjadi Keluarga ku, ternyata Aku salah." Kata Arby lagi.


"Jadi maksud Kakak, Kakak yakin kalau ternyata Bang Vero saudara kembar Kak Arby?" Lita masih tak percaya.


Arby mengangguk. "Aku beberapa kali membuka sosmed milik Vero. Ulang tahun nya hampir sama dengan ku hanya beda tanggal. Sepertinya sengaja dibuat sedikit berbeda dengan tanggal lahir Vero."


"Tapi... Aku gak pernah dengar kalau Bang Vero punya kembaran. Papa Adrian juga gak pernah cerita." Jelas Lita.


Arby nampak sedih. Arby menemukan berkas adopsi dirinya. Selama ini Dia hanya tahu kalau kedua orangtua nya adalah orang Singapura. Terkadang Arby berfikir kenapa tidak ada kesamaan wajahnya dengan orangtua nya. Pernah Arby bertanya pada Abah nya tapi jawabannya masuk akal, kalau Dia mirip dengan mendiang kakek nya.

__ADS_1


"Siapa Papa Adrian?" Tanya Arby.


"Papa Adrian, Om nya Bang Vero. Sedangkan orangtua Bang Vero sudah meninggal Dunia saat Bang Vero masih duduk di bangku SMP." Jelas Lita.


"Kak Arby, kalau membicarakan ini, kenapa Dokter Leo tak boleh mendengarnya?" Lita heran.


"Aku tidak enak sama Leo." Kata Arby.


"Justru kalau seperti ini malah tambah gak enak." Kata Lita.


"Baiklah... Kamu boleh cerita sama Leo. Oh ya... Boleh Aku minta alamat Vero?" Pinta Arby.


"Alamat pasti nya Aku gak tahu. Aku hanya tahu rumah Papa Adrian satu komplek dengan orangtua ku. Sedangkan Kakek Bang Vero di Sumatera. Nanti Aku coba tanyakan pada Aunty ku yah untuk alamat jelas nya." Jelas Lita.


"Terima kasih banyak Lita. Sekali lagi Aku minta maaf karena pernah menyakiti hatimu. Tapi Kamu malah masih mau mengobrol denganku." Arby terlihat sangat menyesal.


Lita tersenyum. "Gak apa Kak. Aku sudah melupakannya."


"Apa boleh Aku bertanya satu lagi?" Arby nampak ragu.


Lita mengerutkan keningnya. "Ada apa?"


"Apa Kamu mencintai Leo? Lalu bagaimana dengan Vero?" Arby sangat hati-hati.


"Aku sangat mencintai Dokter Leo. Kalau Vero adalah masa lalu ku. Suatu hari nanti Aku akan menemui nya untuk menyelesaikan masalah diantara Kami." Jelas Lita lagi.


"Apa tak pernah sedikit pun Kamu mencintai ku?" Tanya Arby lagi.


Lita tersenyum. "Maaf Kak... Dari awal Aku takut Kakak hanya sebagai pelarianku pada Bang Vero." Lita menggeleng. "Aku gak pernah mencintai Kakak, maaf."


Arby menghela nafas. Rasanya sakit sekali mendengar kejujuran Lita.


"Sayaaang.... Sudah ngobrolnya?" Tiba-tiba Leo menghampiri Mereka.


"Sudah selesai kan Kak Arby?" Tanya Lita.


"Boleh Aku minta nomor ponsel mu? Atau Kamu simpan nomor ponsel ku, bila Kamu sudah mendapat alamat Vero, Kamu bisa mengabari Aku." Kali Arby serius.


Lita menatap wajah Leo. "Untuk apa, Sayang?" Leo penasaran.


"Nanti Aku ceritakan. Inti nya Kak Arby meminta ku untuk mencari kabar tentang Keluarga nya di Indonesia." Kata Lita.


"Baiklah...." Leo mengizinkan Lita memberi nomor ponsel nya pada Arby.


"Terima kasih Leo. Aku berharap Kalian segera menyusul Astrid dan Arham." Doa Arby.


"Aamiin...." Kata Lita dan Leo berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2