CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Pesawat Delay


__ADS_3

Di Negara S. Marcel sudah transit 2 jam yang lalu. Penerbangannya tertunda karena pesawat yang ditumpanginya mengalami sedikit gangguan.


Marcel nampak resah. Perasaannya tak menentu. Dia teringat terus akan istrinya yang sedang mengandung besar.


"Ya Allah... Lindungilah istri dan calon anakku. Aku mohon Ya Allah..." Batin Marcel yang coba menenangkan dirinya dengan membaca doa-doa.


Marcel mengambil ponselnya dari dalam tas. "MasyaaAllah..! Ponselku lowbet... Pantes saja tak ada berita dari istriku." Marcel bergegas mencari tempat untuk mengecas.


Marcel mendapatkannya dan segera menyambung cargernya. Marcel duduk sambil menunggu ponselnya terisi.


"Ya Allah... Sampai kapan pesawatku delay?" Marcel sudah mencoba membeli tiket pesawat dari Negara S ke Jakarta tapi jadwal penerbangannya baru ada selepas Dzuhur nanti, tapi Marcel sudah membookingnya.


30 menit kemudian, ponsel Marcel sudah terisi beberapa persen batrenya. Dia segera menekan tombol on menghidupkan ponselnya.


Tak lama banyak notifikasi masuk. Panggilan tak terjawab dari Nindi sudah belasan kali. Juga ada beberapa pesan masuk.


"Sayaaang... Kok belum sampe? Aku gak bisa tidur. Aku memikirkanmu terus." Pesan dari Nindi jam 1 dini hari.


"Astaghfirullaah.. Sayaaang... Maafkan Aku..." Marcel menjambak rambutnya.


"Marcel... Kamu dimana Dek? Kakak sedang membawa Nindi ke Rumah Sakit, sepertinya Nindi akan segera melahirkan, air ketubannya sudah keluar." Pesan dari Fitri jam 4.50 tadi pagi.


"Ya Allah... Istriku mau melahirkan, apa sudah yah?" Marcel mendial nomor ponsel Nindi.


Tersambung......


"Assalamu alaikum..." Salam disana.


"Wa alaikumussalaam... Kak Fitri? Kok Kakak yang angkat?" Tanya Marcel.


"Maaf Dek, tadi Nindi panik, jadi ponselnya tergeletak gitu saja, jadi Kakak bawa. Kamu dimana? Istrimu menanyakan Kamu terus. Nindi gak mau melahirkan kalau tidak ada Kamu." Canda Fitri.


"Maaf Kak. Pesawatku dari Negara A delay. Sekarang Aku sudah transit di Negara S, delay lagi Kak. Seharusnya Aku tiba disana kemarin sore. Ponselku batrenya lobet. Ya Allah... Cobaan datang tak berhenti, Kak." Jelas Marcel.


"Sabar ya Dek. Ini Kakak mau balik lagi ke rumah sakit, tadi Kakak pulang dulu ngurus Kak Fahmi dan anak-anak mau berangkat." Kata Fitri.


"Oohh....Bagaimana keadaan istriku, Kak? Apa dia baik-baik saja? Sudah melahirkan, belum?" Marcel bertubi-tubi bertanya.


"Nindi baik-baik saja, Marcel. Tadi baru pembukaan 2, anak Kalian belum lahir. Dek.. Kalau Kamu sudah di Negara S, kenapa gak ke imigrasi saja, minta tolong ijin naik speedboat ke Sumatera, kan sudah dekat kesini." Kata Fitri.


"Astaghfirullaah... Kenapa gak kepikiran olehku, Kak. Aku malah booking tiket pesawat lagi. Kak kalau begitu, Aku mau coba ke imigrasi yah. Tolong jaga istriku, Kak. Nanti Aku kabari lagi. Assalamu alaikum." Pamit Marcel.


"Wa alaikumussalaam... Hati-hati Dek." Kata Fitri. Fitri bergegas naik taxi yang sudah menunggunya di depan rumah sambil menggendong Farah dan membawa bekal makan siang untuk Ibu.


___________________


Di Rumah Sakit.


"Bu... Apa Nindi lari-lari kecil saja yah, biar cepat pembukaannya." Kata Nindi.


"Jangan Sayang, nanti Kamu kecapean malah gak kuat nanti mengeluarkan bayi Kamu. Kamu mau lahiran normal kan?" Tanya Ibu.


"Iya Bu..." Nindi nampak sedih. Dia melihat jam sudah menunjukan pukul 10 pagi, tapi berita dari Marcel belum juga iya dapatkan.

__ADS_1


"Assalamu alaikum..." Fitri mengucap salam.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Ibu dan Nindi.


"Kak.... Apa sudah ada kabar dari Suamiku." Nindi mengharap.


Fitri tersenyum. "Alhamdulillaah sudah." Fitri menceritakan perihal Marcel yang terlambat pulang ke Sumatera dan ponselnya yang lowbet.


"Ya Allah... Ada-ada saja cobaannya." Kata Nindi pelan.


"Kak, Aku mau telpon Suamiku. Aku kasihan dengannya. Dia pasti sangat kebingungan." Pinta Nindi.


"Gak usah Dek, takutnya mengganggu Dia sedang urus ijin naik speedboat. Nanti kalau urusannya sudah selesai, Dia akan menghubungimu." Kata Fitri.


Nindi mengangguk. "Kak Fitri ada benarnya." Batin Nindi.


Satu Jam Kemudian.


Ponsel Nindi berdering.


"Nih Dek, suamimu telpon." Fitri menyerahkan ponsel Nindi pada Nindi sambil tersenyum.


"Assalamu alaikum Sayaaang..." Sapa Nindi.


"Wa alaikumussalaam Sayaaang.. Bagaimana kabarmu? Apa Anak Kita sudah lahir?" Tanya Marcel.


"Belum Yang, sepertinya Dia menunggumu." Kata Nindi yang mengusap lembut perutnya.


Tak lama. Nindi sangat senang melihat wajah Suaminya lagi. Demikian juga dengan Marcel.


"Yaaang... Cepetan pulang. Anak Kita sudah tak sabar." Pinta Nindi manja.


"Ya Sayaaaang.... Aku sudah mendapatkan ijin. Nih Aku masih di ruang imigrasi sedang menunggu suratnya selesai." Marcel memperlihatkan cameranya pada Kantor imigrasi.


"Alhamdulillaah.... Hati-hati Yang." Kata Nindi.


"Ya Sayaaang... Kamu sabar yah. Sebentar lagi Aku berangkat sambil Aku menunggu cargo ku dari pesawat." Kata Marcel.


"Sudah dulu ya, Sayaaaang... Kamu istirahat yah. Jangan banyak pikiran. Aku akan baik-baik saja." Kata Marcel.


Nindi mengangguk. Nindi memonyongkan bibirnya untuk mencium suaminya lewat ponsel.


Marcel tertawa melihat tingkah Nindi. Tapi Marcel membalas perlakuan istrinya. Dia tak mau Nindi kecewa.


Orang Kantor Imigrasi tersenyum melihat kelakuan Marcel sambil geleng-geleng kepala.


"Apa anak pertama, Pak?" Tanya salah seorang staf disana.


"Ya Bu. Makanya Saya sangat ingin segera tiba di Sumatera." Kata Marcel.


"Baik Pak. Ini suratnya. Anda bisa langsung ke cargo mengambil barang-barang Anda. Staf Kami sedang mempersiapkan Speedboat untuk Anda." Kata Ibu itu.


"Terima kasih banyak Bu, atas bantuannya." Kata Marcel dan segera berlalu ke Cargo.

__ADS_1


_________________


Adzan Dzuhur berkumandang di ponsel milik Marcel. Keberadaannya sekarang sudah diatas speedboat.


"Ya Allah... Ampuni hamba-Mu. Aku akan menjama' Dzuhurku dengan Ashar nanti kalau tak keburu Aku tiba didaratan." Batin Marcel.


Satu Jam Setengah Marcel tiba di pelabuhan Sumatera. Marcel dibantu awak kapal menurunkan barang-barang bawaannya. Setelah Marcel mengucapkan terima kasih, Dia segera berlalu.


Dia menyetel kembali jam waktu Indonesia Barat. "Alhamdulillaah....masih ada waktu untuk shalat Dzuhur." Batinnya.


Marcel bergegas masuk kedalam pelabuhan dan mencari Musholah. Seseorang menunjukan arah tempat Musholah.


Marcel menitipkan barang bawaannya pada petugas penjaga Musholah.


20 menit kemudian Marcel telah selesai shalat dan bergegas keluar dari pelabuhan. Dia menyetop sebuah taxi.


Marcel masuk kedalam taxi setelah memasukan barang bawaannya ke dalam bagasi taxi. Marcel memberikan alamat Rumah Sakit dimana Nindi akan melahirkan kepada supir taxi.


Tepat Adzan ashar Marcel tiba di Rumah Sakit. Dia langsung ke ruang informasi meminta petunjuk ruang persalinan istrinya.


Setelahnya Dia bergegas ke ruang perawatan Nindi. "Assalamu alaikum." Salam Marcel.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Ibu, Nindi dan Fitri.


"Sayaaang..." Panggil Nindi.


Marcel langsung berhambur pada istrinya dan segera memeluknya. Marcel menciumi wajah Nindi. "Maafkan Aku, Sayang. Aku sangat telat." Kata Marcel.


Nindi mengangguk. "Gak apa Sayang. Yang penting Kamu tiba dengan selamat." Kata Nindi.


Marcel mengusap airmata Nindi dengan lembut. "Aku sudah disini, Sayang. Jangan sedih lagi."


"Aku menangis bahagia, Sayang." Kata Nindi.


Marcel tersenyum. "Aku shalat ashar dulu yah." Pamit Marcel.


Nindi mengangguk. Baru saja Marcel melangkahkan kakinya dua langkah, Nindi kembali mengerang kesakitan. Marcel berbalik menghampiri Nindi.


"Sakit sekali Kak." Keluh Nindi.


"Mungkin sudah waktunya. Aku panggil Dokter dulu." Kata Fitri setengah berlari memberikan Farah pada Ibu.


Marcel menggenggam tangan Nindi kuat. "Tarik nafas Sayang. Lalu Buang." Marcel menginstruksi Nindi. Sedikit banyak, Marcel tahu tentang persalinan.


Nindi mengikuti arahan Marcel.


Tak lama Dokter dan seorang perawat masuk. "Maaf... Yang didalam Suami Nindi saja, ya Bu." Pinta Dokter Ramah.


Ibu dan Fitri yang menggendong Farah langsung keluar ruang persalinan.


Dokter tersenyum. "Bagus Dokter Marcel. Walau Anda bukan Dokter Kandungan." Puji Dokter Tita sambil memakai sarung tangannya.


Marcel tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2