
"Auntie....." Panggil Lita yang baru tersadar setelah tiga hari tak sadarkan diri. Saat itu Nindi yang sedang menunggui Lita.
"Alhamdulillaah... Puteri cantik Auntie sadar..." Nindi segera memeriksa kondisi tubuh Lita. "Alhamdulillaah..."
"Aku kenapa?" Tanya Lita masih sangat lemah.
Nindi tersenyum. Sambil membuka alat bantu pernafasan pada wajah Lita. Lita hanya pasrah saja. Lita baru sadar kalau dirinya ternyata tidak baik-baik saja.
"Apa yang Kamu ingat?" Tanya Nindi.
"Auntie... Aku haus...." Kata Lita.
Nindi menyodorkan air mineral dengan sedotan. Lita menyedotnya perlahan.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Lita.
Nindi melihat jam di dinding. "Jam dua dini hari, Sayang."
"Kok Auntie gak istirahat?" Tanya Lita masih lemah.
Nindi tersenyum. Nindi mengelus kepala Lita yang tertutup hijab dan mengecup kening Lita. "Kamu istirahat yah. Auntie sudah memberi Kamu obat. Biar besok pagi Kamu lebih baik." Pinta Nindi.
Lita hanya mengangguk. Lita sebenarnya juga merasa gak enak dengan Auntie nya. Ke Sumatera mau riset malah merepotkan Auntie dan Uncle nya.
"Auntie...." Panggil Lita.
"Ya Sayang?" Tanya Nindi.
"Auntie gak istirahat?" Tanya Lita.
Nindi mengangguk. "Kamu tidur lah. Auntie akan istirahat di brankar sebelah Kamu." Kata Nindi.
Lita mengedipkan mata. Nindi memang menaruh satu brankar di ruang perawatan Lita agar bisa untuk istirahat yang menjaga Lita. ( Maklum....Kan Rumah Sakit milik sendiri... Jadi suka-suka)
__________________________
Dua hari kemudian
"Aku baik-baik saja. Aku harus kembali riset." Lita mengrucutkan bibir nya. Jarum infus baru tadi pagi dilepas karena Lita yang bersikeras minta dilepas.
"Riset mu bisa nanti, Sayang...." Kata Lambok. "Atau Kamu cuti dulu tahun ini." Pinta Lambok.
Lita menggeleng. "Aku sengaja mengejar kurikulum yang bukan mata kuliah ku, agar bisa cepat lulus, Papa.... Aku gak mau lagi jauh-jauh sama Mama dan Papa." Lita merajuk.
"Lalu, kenapa Kamu senang sekali sakit?" Tanya Tia agak kesal. "Senang sekali Kamu membohongi Kami, membohongi Mama Fitri juga Auntie Nindi."
Lita menunduk. Lita memang sangat malu jika harus mengakui sedih dalam bercinta. Lita sering bilang kalau Dia gak mau pacaran karena akan membuat luka di hati. Lita gak mau jatuh cinta yang akan melukai hati. Tapi nyata nya cinta yang datang tak dapat dihalang, hati terluka tak dapat dihadang.
"Sudah Kak.... Jangan kesal gitu. Kasihan Lita. Lita itu seperti Aku dulu." Nindi membela Lita.
"Tuh kan... Auntie nya juga selalu memanjakan Lita." Tia masih kesal.
"Iiihhh Mama... Aku janji... Abis ini Aku gak akan menyembunyikan apa pun dari Kalian." Janji Lita.
"Bukannya Kamu sudah janji sama Mama dan Papa waktu di Negara J? Nyatanya?" Kata Tia lagi.
Lita hanya nyengir dan menggaruk hijab di kepala nya yang tak gatal.
"Maaf Dokter...." Tiba-tiba seorang perawat masuk dan mengabari sesuatu.
__ADS_1
"Ya suster, Ada apa?" Tanya Marcel dan Nindi bersamaan. Mereka memang sedang kumpul di ruang perawatan Lita setelah tadi pagi Nindi memberi kabar kalau Lita minta kembali riset. Padahal kondisi Lita masih lemas.
"Pasien yang bernama Vero Anggada, tidak sadarkan diri." Kata Perawat itu.
"Astaghfirullaah...." Jawab Nindi dan Marcel. Juga yang ada di ruangan itu.
"Auntie... Aku ikut." Pinta Lita yang hendak turun dari brankar. Tapi kaki nya tak kuat menapak.
Lambok membantu Lita. Memindahkan Lita ke kursi roda. "Terima kasih, Papa. Ma... Ayah... Aku mau ikut Auntie melihat kondisi Vero." Lita berpamitan.
Marcel mendorong kursi roda Lita. Dengan setengah berlari. Sedangkan Nindi sudah berlalu terlebih dahulu.
Saat pintu ruang perawatan Vero dibuka. Vera sudah menangis. Vera sangat panik. Disisi nya berdiri Fahri, Adik nya Fathir mencoba menenangkan Vera.
"Apa yang terjadi, Vera?!" Tanya Nindi yang terlihat sangat cemas.
"Bang Vero gak mau makan. Dia melempar makannya. Bang Vero histeris dan mengamuk. Setelah itu tak sadarkan diri...." Jelas Fahri karena Vera tak bisa berkata karena terus menangis.
"Fahri... Kamu bawa keluar Vera. Biar Auntie dan Uncle menangani Vero." Pinta Nindi.
Fahri mengangguk dan merangkul bahu Vera. Meninggalkan ruang perawatan Vero. Lita sudah berada di samping brankar Vero. Memeriksa denyut nadi Vero dan juga memeriksa mata Vero.
Marcel langsung menyiapkan alat medis.
Satu jam kemudian, Vero sudah berada di ruang ICU. Sudah dalam penanganan Dokter termasuk Lita. Lita terlihat sangat khawatir.
"Auntie... Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi dengan Bang Vero? Sebelum Aku sakit, Bang Vero baik-baik saja." Tanya Lita.
Nindi menatap kearah Marcel. Marcel menatap Nindi seakan berbicara: "Jangan katakan kalau Vero mendengar igauannya."
Untung saja Lita tak melihat tatapan itu. Lita sedang terus fokus pada Vero.
"Ya Allah... Apa jadinya kalau Bang Vero tahu, Aku tak mencintainya lagi." Batin Lita.
"Kamu melamun? Melamun apa? Jangan sembunyikan apapun pada Auntie. Ingat, Kamu sudah janji.." Tegur Nindi yang melihat tiba-tiba Lita murung.
"Eh... Itu Auntie. Hhmmm... Aku hanya berfikir apa yang akan terjadi kalau Bang Vero sampai tahu, Aku tak mencintainya lagi." Lita berterus terang.
Nindi tersenyum getir. Pada kenyataannya sejak Vero mendengar igauan Lita, Vero sudah tak punya semangat hidup.
___________________________
Tiga hari kemudian
Belum ada perkembangan baik dari Vero. Vero kembali koma. Semua hal terbaik sudah dilakukan oleh Lita.
Sampai pada akhir nya....
"Bang.... Bangunlah... Apa Abang gak kangen sama Aku? Aku merindukan Abang. Aku kangen canda tawa Abang. Aku kangen cinta kasih Abang." Kata Lita sambil mengelus tangan Vero dengan lembut.
Hingga Lita tak menyadari seseorang mendengar perkataan Lita. Hatinya sangat hancur. Susah payah Dia ke Sumatera demi melihat kekasih nya. Dia mendengar pembicaraan Vita yang dalam sambungan telpon menanyakan kondisi Lita yang ternyata sempat di opname.
Makanya sesudah acara tahlilan tujuh hari Sang Romo, Leo berangkat ke Sumatera. Itu pun dengan debatan sengit dengan Eyang Puteri nya dan kedua orangtua nya.
Padahal Atala juga sudah melarangnya.
"Tidak... Aku sudah berjanji untuk menjaga Lita. Eyang sudah gak ada. Eyang sudah tenang disana. Tahlilan 40 hari Eyang, Insyaa Allah Leo akan kembali. Leo ingin menemani calon istri Leo." Tegas Leo.
Tak ada yang bisa menghalangi kekerasan hati Leo. Akhirnya Leo terbang ke Sumatera.
__ADS_1
Di Suatu Tempat
"Nenek... Vero sangat merindukan Nenek." Vero sedang bersimpuh dihadapan sang Nenek. Dalam koma nya Arwah Vero menerawang jauh kesana.
Sang Nenek hanya tersenyum. Tiba-tiba terdengar panggilan dari Lita.
"Bang.... Bangunlah... Apa Abang gak kangen sama Aku? Aku merindukan Abang. Aku kangen canda tawa Abang. Aku rindu cinta kasih Abang."
Vero mendongak. Mencari suara yang sangat Dia kenal. Vero menatap wajah sang Nenek. Sang Nenek mengangguk sambil tersenyum.
Vero berjalan mencari Lita. Vero memanggil Lita hingga di suatu tempat, Vero melihat Lita sedang tersenyum manja dengan seorang Pria. Pria itu membelakangi Vero. Lita bergelayut manja dengan laki-laki itu.
Vero sangat marah. Vero ingin berteriak. Ingin sekali Vero menghajar laki-laki itu.
Tiiiiit....tiiiittt...tiiitttt....tiiiitttt...
Tiba-tiba alat pendeteksi jantung Vero berdecit sangat cepat. Tubuh Vero nampak kejang.
Lita buru-buru bangun. Memberikan tindakan pada Vero. "Astaghfirullaah... Bang... Abang kenapa?!" Namun Lita dengan tenang mengatasinya. Menyuntikan obat pada infusan Vero.
Tak lama, decitan alat pendeteksi kembali normal. Lita menghela nafas lega.
"Lita...... Sayaaang...." Beberapa saat kemudian Vero tersadar.
"Abang...?" Lita nampak senang. Senyum tulus nya terpancar untuk Vero.
"Pergilaahh.... Aku... tak... akan... menghalangimu....lagi...."
"Aku.... sudah.... ditunggu.... nenek..."
Suara Vero terdengar lemah dan terbata-bata.
"Maksud Abang?" Lita tercekat. Lita tak menyangka kalau Vero akan berpamitan padanya.
"Abang.... tahu... Kamu... tak... mencintai... Abang... lagi... Abang... gak... akan... marah... sama.... Lita..."
Lita tercengang. "Abang, jangan bicara seperti itu... Katanya Abang ingin menikah denganku...? Kita akan menikah dan punya banyak anak... Itu kan cita-cita Kita dahulu?" Lita masih berusaha menghibur walau hatinya terasa sakit menahan sesak di dada.
"Kamu.... pulang... mau... menyelesaikan... kisah...cinta... kita... yang... belum... selesai...?? Sekarang.... Abang.... akan... selesaikan... sampai... disini... Abang... minta... Kamu... harus... bahagia...." Vero tak dapat dicegah untuk mengucapkan salam perpisahannya.
Airmata Lita sudah menetes. Lita tak menyangka akan mendengar kata-kata ini dari mulut Vero.
"Kamu.... harus... janji...." Pinta Vero lagi.
Lita mengangguk. Airmatanya makin deras mengalir ke pipi nya. Mengenai lengan Vero.
Tangan Vero terangkat dengan berat. Lita membantunya mendekatkan pada wajahnya.
"Jangan.... menangis... sesudah... ini... Abang.... gak... akan... merasa... sakit... lagi.... I L O V E U....." Vero mengusap airmata Lita dan kemudian terkulai lemah.
Tiiiiiiiiiiitttt..... Alat pendeteksi jantung terlihat garis lurus tak putus.
Lita terpaku. Seakan tenggorokannya tercekat.
"Astaghfirullaah..." Marcel dan Nindi baru saja kembali ke ruang ICU. Mereka langsung mengambil tindakan. Memicu dada Vero.
"Lita...! Kenapa Kamu diam saja!" Nindi tak habis fikir.
Lita hanya menggeleng pasrah. Airmatanya tak terbendung lagi...
__ADS_1
Tiiiiiiiiiittttttt.......