CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kepergian Lita


__ADS_3

Lita menangis. Lita belum bisa melupakan Vero. Hati nya terlanjur terpaut pada Vero.


Lita sengaja meninggalkan Vero dan Diah, hanya senyuman yang dia berikan dan lambaian tangan. Lita gak sanggup menatap wajah Vero yang begitu Lita cintai.


Panggilan Vero terdengar sangat menyayat hatinya. Ingin rasanya Lita berlari dan memeluk erat Vero, namun semua Lita tahan demi kebahagiaan sahabatnya.


Mama dan Papa nya juga sudah memberinya saran agar tidak merusak hubungan Vero dan Diah apalagi mengingat perangai Sang Nenek Vero yang arogan. Tia gak mau Puteri nya tersakiti akan sikap Bunda Dinda nanti nya jika Lita bersama Vero.


Tia gak mau kejadian yang pernah menimpa dirinya, harus dirasakan Puteri kesayangannya.


Lita pun menuruti kata-kata orangtua nya. Juga adik kesayangannya yang tak mau sang Kakak nanti nya diperlakukan tidak baik.


"Maafkan Aku, Bang Vero. Aku juga sangat mencintaimu. Tapi Aku gak mau berbahagia diatas penderitaan Sahabat baikku...hik...hik...hik..." Lita terisak.


"Nona....." Panggil seseorang.


Lita mendongak dan segera mengusap airmata nya.


"Maaf... Apa Aku boleh duduk disini? Ini nomor kursi ku." Tanya Seorang pemuda.


Lita memeriksa tiket nya. "Maaf..." Kata Lita sambil menggeser duduknya ke pojok dekat jendela pesawat. Lita membuang wajahnya, menatap keluar melihat pemandangan dari atas.


Pesawat memang sudah take off beberapa saat lalu. Lita tak menyadari karena terlalu sibuk dengan hatinya.


"Apa Anda menangis, Nona?" Tanya pemuda itu lagi. Dia duduk berjarak 1 kursi dengan Lita. Kursi tengah kosong.


"Hhmmmm.... Tidak... Aku.... Aku hanya sedih berpisah dengan keluargaku..." Lita berbohong.


"Ooww... Hendak sekolah?" Tanya nya lagi.


Lita mengangguk. "Aku diterima di Universitas Negeri negara J." Jelas Lita.


"Great..! Hebat Kamu ya." Puji pemuda itu.


"Terima kasih." Lita tertunduk malu.


Pemuda itu menyodorkan tangannya. "Nama ku Leo, Leo Adi Putera." Katanya.


Lita menatap tangan itu. Ragu-ragu Lita menyambutnya. "Lita..." Katanya singkat.


"Hanya itu?" Tanya Leo.


"Lalita Puteri." Kata Lita, dia tak ingin Leo tahu nama keluarga Wijaya yang sangat terkenal.


"Kamu Puteri, Aku Putera.... Hhmmmm... Jodoh ya Kita?" Canda Leo.


Lita hanya terdiam. "Maaf... Aku mengantuk." Kata Lita sedikit ketus. "Orang lagi galau ada aja yang kepedean kenalan." Batin Lita kesal sambil memejamkan matanya.


"Maaf...." Leo mengatakan satu kata. Tapi Lita tak menjawab. Lita enggan berurusan dengan laki-laki lain. Hati nya hanya ada Vero.


_________________________


"Kamu itu... Gak pernah mendengar apa yang Nenek minta...!" Bunda Dinda sangat kesal pada sang cucu.

__ADS_1


"Maaf Nek. Vero cape...." Vero langsung keluar dari ruang perawatan sang Nenek. Perkataan sang Nenek malah tambah membuat kepalanya tambah sakit.


Vero duduk di depan kamar perawatan Bunda Dinda. Pikirannya terus pada Lita. Vero menjambak rambutnya frustasi. Kepala nya serasa berdenyut. Sakit sekali.


"Bang...." Panggil Vera.


Vero tak menjawab. Dia menahan sakit hatinya dan juga kepala nya.


Vera mendekat dan duduk di samping Vero. Vera mengelus punggung Vero. "Abang pasti cape. Abang istirahat saja di rumah. Biar Aku yang jaga Nenek." Pinta Vera.


Vero mengangkat kepalanya. "Kamu gak apa sendirian?" Tanya Vero tak tega.


Vera mengangguk sambil tersenyum. "Aku gak apa Bang. Nenek juga sudah sangat baik. Mungkin besok atau lusa, Nenek sudah boleh pulang." Jelas Vera.


"Pulanglah Sayang...." Nindi menghampiri Vero. Nindi melihat Vero yang sedang duduk. Dari kejauhan menjambaki rambutnya. "Biar nanti Vera, Auntie yang temani." Kata Nindi.


Vero memeluk tubuh Nindi. "Auntie... Vero sangat menyayangi Lita. Lita salah paham. Hati Vero hanya buat Lita. Tidak ada lagi Diah." Vero terisak.


Nindi mengelus punggung Vero. Nindi sangat menyayangi Vero. Terakhir bertemu Bang Adnan dan Kak Anggita, Nindi mendapat amanah dari Adnan agar menjaga Putera Puteri nya. Saat itu Nindi bercanda pada Adnan, seperti orang yang tak akan bertemu kembali.


Ternyata pesan itu firasat. Tak lama Adnan dan Anggita berpamitan, beberapa hari kemudian kabar kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpang dan awaknya terdengar oleh Nindi. Nindi terkulai lemas saat itu.


"Auntie...." Panggil Vera.


Nindi mengusap airmatanya buru-buru. Dia menghela nafas.


"Ya Sayang?" Tanya Nindi.


"Kenapa Auntie melamun?" Tanya Vera.


Nindi langsung memeluk Vero dan Vera. "Orangtua Kalian sudah tenang disana, Sayang. Kalian jangan lagi bersedih. Kalian harus berbahagia." Hibur Nindi.


"Tapi Lita....." Belum sempat Vero meneruskan bicaranya, Nindi sudah memotongnya.


"Lita akan menjadi saudaramu. Sampai kapanpun Kita akan selalu menjadi saudara." Tegas Nindi.


Vero menunduk. Airmata nya kembali mencelos.


"Ikhlaskan Lita... Biarkan Lita meneruskan sekolah nya. Raih lah kebahagiaan Kamu dengan Diah. Diah gadis yang sangat baik." Hibur Nindi.


Vero kembali menjambak rambutnya. Rasa nyeri itu kembali lagi.


"Pulanglah... Uncle Marcel juga akan pulang. Kamu bareng Uncle ya." Pinta Nindi.


Vero mengangguk. Dia memang butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Dan mengistirahatkan tubuhnya.


Vero berjalan gontai setelah berpamitan. Uncle Marcel sudah menunggu nya. Melihat dari kejauhan.


"Hai... Jadi laki-laki itu harus kuat." Canda Marcel setelah Vero mendekat pada nya.


Vero tersenyum getir. Hati nya sangat sakit ditinggal Lita.


"Ayo masuk. Apa Kamu masih akan berdiri disini?" Marcel kembali menggoda Vero.

__ADS_1


"Ya Uncle, terima kasih." Kata Vero yang segera membuka pintu mobil samping.


Marcel segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Uncle...." Panggil Vero.


"Yup." Jawab Marcel singkat sambil fokus ke jalan.


"Apa Uncle dulu dengan mudah mendapatkan Auntie Nindi?" Tanya Vero.


Marcel tersenyum. Akhirnya Dia pun tertawa mengingat bagaimana dulu perjuangannya mendapatkan Nindi.


"Kok Uncle malah tertawa?" Vero terlihat bingung.


Marcel pun menceritakan kisah cinta nya dengan Nindi yang tak semulus jalan raya yang mereka lalui. Hari sudah gelap. Jalanan sudah mulai lengang.


Hingga Mereka tiba di depan rumah Ayah Burhan.


"Lalu bagaimana kelanjutannya, Uncle?" Vero penasaran.


"Yang pasti sekarang Uncle sudah hidup bahagia dengan Auntie Nindi sampai saat ini." Canda Marcel.


Vero menghela nafas. Belum selesai cerita Marcel tentang kisah cintanya dengan Nindi.


"Lain kali, Uncle sambung lagi ceritanya, yah. Tuh... Kakek mu keluar." Tunjuk Marcel.


"Baiklah... Terima kasih Uncle." Kata Vero.


"Tetap semangat ya. Jalanmu masih panjang." Kata Marcel.


Vero mengangguk.


"Dokter Marcel?" Ayah Burhan menegaskan penglihatannya.


Marcel mendongakkan kepala nya dari jendela mobil. "Ya Pak Burhan. Saya hanya mengantar Vero. Kelihatannya Vero letih sekali." Kata Marcel sedikit berteriak.


"Gak mampir dulu?" Tanya Ayah Burhan.


"Terima kasih Pak. Lain kali saja. Sudah malam. Anak-anak sudah rewel dari tadi Mommy dan Daddy nya belum pulang." Kata Marcel.


"Baiklah.... Terima kasih banyak." Kata Ayah Burhan.


"Gak apa Pak Burhan. Enak ada teman diperjalanan. Vero, Uncle pulang ya." Pamit Marcel.


"Ya Uncle, terima kasih. Hati-hati Uncle." Pesan Vero.


Marcel tersenyum sambil mengangguk. Setelah memberi salam, Marcel pun meninggalkan kediaman Ayah Burhan.


"Kamu baik-baik saja, Nak?" Tanya Ayah Burhan cemas melihat wajah Vero yang pucat.


"Kepala Vero sakit sekali Kek." Kata Vero.


"Kenapa tidak sekalian periksa tadi di Rumah sakit?" Tanya Ayah Burhan sambil merangkul bahu Vero.

__ADS_1


"Vero hanya butuh istirahat saja, Kek." Kata Vero.


Ayah Burhan mengangguk. "Istirahatlah...." Ayah Burhan mengunci pintu rumah.


__ADS_2