
"Kok cuma diaduk-aduk aja sih dari tadi." Astrid melihat Lita yang tak mau makan.
"Heeeehhh.... Lita menghela nafas. Jadi Bete Aku Strid." Kata Lita.
"Memang tadi Asdos ngapain?" Tanya Astrid penasaran.
"Dia mau mengajakku Dinner weekend ini. Tadi nya malam ini tapi Aku tolak. Dia malah ngancem kalo weekend ini dinner ditolak juga." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Cieee...cieeee....cieee... Benerkan Aku bilang, Dia suka sama Kamu." Goda Astrid.
"Gak lah... Aku gak mau." Lita menunduk. Ada guratan sedih di wajahnya. Lita menarik nafas lewat hidungnya tapi terdengar oleh Astrid seperti menangis.
"Lita.... Kamu nangis?" Tanya Astrid tak enak.
"Heh?" Lita mendongak dan mengambil tissue. "Aku gak nangis, hanya sedikit flu." Kata Lita beralasan.
"Apa Kita balik aja ke asrama?" Ajak Astrid.
"Loh... Kita kan belum ngeborong isi mall..." Canda Lita yang tak mau membuat suasana hati Astrid jadi tak enak.
"Hahahaha.... Kamu inget aja. Ya udah, Kamu makan yang benerlah. Dari tadi diaduk-aduk aja." Pinta Astrid.
Lita mrngangguk. Lita menuruti kemauan Astrid. Walau Mereka berdua baru saja berteman tapi keduanya sudah merasa nyaman.
"By the way.... Kamu terima saja ajakan Asdos. Toh kamu kan jomblo, apa salahnya menerima ajakannya." Pinta Astrid.
Lita mengelap mulutnya dengan tissue dan segera menelan makannya. Lita meneguk air. Lita menyentuh dada nya sendiri. "Hati ku belum bisa menerima, masih ada hati yang tersimpan disini. Aku juga masih takut terluka lagi." Kata Lita dengan lembut.
"Come on Lita, Kamu harus move on. Mungkin Vero bukan jodohmu... Ayoolaaahhh.... Jangan siksa batinmu." Pinta Astrid.
Lita memang sudah sangat terbuka dengan Astrid. Astrid pun sama selalu terbuka pada Lita. Mungkin ini yang dibilang sahabat sejati, baru kenal tapi sudah merasa saling memiliki dan memahami.
Ponsel Lita berdering. Lita langsung mengambilnya dari dalam tas.
"Mama ku Video call." Kata Lita terlihat senang.
"Angkat... Aku kangen sama Mama Kamu." Pinta Astrid antusias.
"Assalamu alaikum Ma...." Sapa Lita.
Astrid berdiri dibelakang Lita. "Haaaiii Tante... Assalamu alaikum..." Kata Astrid sambil melambaikan tangan.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Tia diseberang sana. "Kalian dimana? Kok ramai?" Tanya Tia.
"Aku dan Astrid sedang di Mall Ma... Refreshing dikit Ma..." Kata Lita yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Kok puteri Mama nangis sih?" Tanya Tia yang melihat mata Lita berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku kangen Ma.... hik...hik...hik...." Lita terisak. Astrid mengusap bahu Lita.
"Mama juga kangen. Papa mu apalagi." Hibur Tia.
"Papa dan Mama sehat kan?" Tanya Lita.
Tia mengangguk. "Alhamdulillaah Kami sehat. Ngomong-ngomong Kamu di Mall mana sayang?" Tanya Tia.
Lita baru tersadar kalau Mama nya sedang Video call tapi bukan di rumah. "Kok Aku kaya baru saja lewat tempat Mama berjalan...." Lita terlihat bingung.
Sedangkan Astrid dari tadi sudah meninggalkan Lita entah kemana. "Astrid....." Panggil Lita yang celingukan. Lita bangun dari duduknya dan memutar tubuhnya.
"Mama.....!!!" Lita seakan tak percaya. Dia langsung menghambur melihat kedua orang tua nya berada di Mall Negara J. Astrid sudah merangkul tangan Mama nya.
"Iihhh Astrid.. Kamu tega deh..." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Hahahaha.... Abis Kamu gak fokus gitu. Aku lihat Mama Kamu berjalan dekat toko assesoris yang baru saja Kita datangi tadi." Kata Astrid.
"Hhhmmm Mama.... Kok gak bilang-bilang sih mau kesini...." Lita memeluk manja.
Tia mengusap punggung Lita dengan lembut.
"Papa...." Lita menghambur pada Lambok.
Lambok menciumi pipi Lita dan juga kening Lita. "Kamu sehat-sehat saja kan?" Tanya Lambok.
"Kalian sedang makan apa?" Tanya Tia.
Lita melerai pelukannya dari Lambok. "Aku sedang makan spagetti Ma." Kata Lita.
"Ma... Pa... Ade mana? Kok gak ikut?" Tanya Lita.
"Adikmu sedang menemani Atala dan Fathir meeting. Lambok melihat pergelangan tangannya. 2 jam lagi mungkin selesai." Kata Lambok.
"Maksud Papa, Kak Atala dan Bang Fathir meeting di Negara ini?" Lita membulatkan matanya.
Lambok mengangguk.
"OMG.... Papa dan Mama mau kasih kejutan sama Aku ya?" Lita kembali memeluk lengan Lambok.
"Kita juga gak ada rencana kesini, Sayang. Baru dua hari yang lalu Adikmu menyampaikan pesan dari Atala kalau kerjasama perusahaan Kita dan Perusahaan XT menghasilkan kata sepakat." Jelas Lambok.
"Dan Papa juga gak percaya ternyata kedua Abangmu sudah membooking tiket juga mengurus passport Kita. Yaahhh Kita tinggal berangkat." Kata Lambok lagi dengan senyumnya yang menawan.
"Berarti Vita dan Kak Joana ada disini dong? Mana Mereka?" Lita celingukan.
Vita dan Joana melambaikan tangan. "Ya Allah... Terima kasih... Engkau mengumpulkan Kami disini..." Batin Lita, airmatanya tak terbendung lagi.
__ADS_1
"Litaaaa...." Vita menghambur pada saudara kembarnya.
"Bagaimana bulan madu kalian? Apa ada bakal keponakanku?" Canda Lita.
"Bulan madu apalagi?" Vita mencubit hidung Lita.
"Iiihhh Vita kebiasaan deh. Aku lagi flu tau...." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Hahahaha...." Semua tertawa.
"Hhmm..hhmmm..." Astrid berdehem.
"Astaghfirullaah... sampai lupa Aku. Maaf ya strid. Biasa kalo udah ngumpul suka lupa." Lita menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Astrid kenalin nih... Ini Vita kembaranku. Ini Kak Joana istri Abangku, Fathir. Ini Papa... Kalau Mama, Kamu sudah kenal kan? Hehehe... Canda Lita. Nanti ada dua abangku dan satu adikku yang tampan." Kata Lita lagi.
"Jadi abang-abangmu gak tampan, heh?" Joana mengrucutkan bibirnya.
"Hahahaha... Kak Joan bisa aja. Mana mau Kak Joan sama Bang Fathir kalo Bang Fathir gak tampan...." Canda Lita.
Sontak semua yang mendengar tertawa.
"Ayoooo Kita makan dulu." Pinta Tia yang sudah memesan menu makan siang. Dan pesanan sudah datang.
Mereka pun makan bersama. Astrid sangat terharu melihat kedekatan keluarga Lita. "Alangkah beruntungnya Lita. Tidak seperti Aku." Astrid menunduk.
"Astrid.... Kamu boleh kok menganggap Keluargaku, keluargamu juga... Ya kan Ma... Pa...." Kata Lita yang seakan tahu kesedihan temannya.
Tia tersenyum. Dia yang duduk tak jauh dari Astrid mengelus tangan Astrid. "Panggil saja Mama dan Papa... sama seperti Lita memanggil Kami." Kata Tia lembut.
Astrid tersenyum. Airmatanya sudah mengalir deras. Astrid bangun dari duduknya dan berhambur pada Tia. "Terima kasih Tante... Hhmmmm Mama...." Kata Astrid.
Tia mengusap punggung Astrid lembut. Astrid sudah lama tak merasakan belaian seorang Mama setelah Mama nya meninggal dunia dan Papa nya menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda. Mungkin lebih pantas menjadi Kakaknya Astrid.
Astrid juga sudah menceritakan semua tentang kehidupannya pada Lita. Lita juga sudah bercerita pada Tia, Mama nya.
Kekayaan Papa Astrid dikuasai seluruh nya oleh Ibu Tiri Astrid. Astrid hanya berhasil menyelamatkan peninggalan Mama nya yang sebelum menghembuskan nafas terakhir sudah mewariskan semua hartanya untuk Astrid, Puteri semata wayangnya.
"Sudah.... Sekarang dilanjut lagi makannya. Nanti Kita ngobrol lagi." Lambok menyela adegan haru biru itu.
"Nanti Kalian menginap di hotel, mau kan? Tadi Papa sudah komfirmasi dengan pihak asrama untuk mengijinkan Kalian meninggalkan asrama beberapa hari ini." Jelas Lambok.
Lita membulatkan matanya tak percaya. "Papa serius??? Bisa Pa???"
Lambok tersenyum sambil mengangguk.
"Uncle Marcel mu yang menghubungi pihak Kampus. Ternyata Kampus mu sekarang, banyak Dokter pengajar adalah teman baik dari Uncle mu." Jelas Lambok.
__ADS_1
"Ya Allah.... Alhamdulillaah...." Lita menengadah.