CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Makan Bersama Tante Dewi Dan Diandra


__ADS_3

Diandra masuk kedalam rumah mengambil kaos ganti untuk Atala. Tak lama.


"Nih ganti dulu, nanti Kamu masuk angin." Kata Diandra penuh perhatian.


Atala hendak masuk ke dalam rumah. "Kamu mau kemana?" Tanya Diandra.


"Aku mau ganti kaos Ma." Kata Atala.


"Malu ya kalau ganti disini?" Goda Diandra.


"Hehehe... Aurat laki-laki sih dari pinggang sampai lutut Ma..." Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Nah itu Kamu tahu. Kenapa harus malu. Masa sama Mama sendiri malu." Canda Diandra.


"Nanti Fathir isengin Aku lagi, Ma." Kata Atala.


"Ya sudah, Kamu ganti disana biar Mama yang jagain. Kalau Fathir iseng, Mama jewer kupingnya." Canda Diandra.


"Adaaawww.... Sakiiit...." Tiba-tiba Fathir mengaduh.


"Kamu kenapa?" Diandra panik.


"Hehehehe... Gak apa Ma... Kan kuping Aku dijewer Mama Diandra." Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kamu memang iseng ya." Canda Diandra.


Oma Dewi menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Fathir yang menggemaskan dan kepolosan Atala.


"Oma bakalan awet muda kalau Kalian ada disini." Canda Oma Dewi.


Atala telah membuka kaosnya yang basah. "Ma... Kaos ganti Atala." Pinta Atala pelan yang menutupi dadanya.


Diandra terkekeh melihat Atala yang sangat pemalu. Diandra memberikan kaos ganti pada Atala. Atala bergegas memakai kaosnya.


Tak sengaja mata Diandra melihat sesuatu di pinggang kiri Atala. "Atala... Pinggang Kamu kenapa?" Tanya Diandra.


"Mana Ma? Oh ini?" Tanya Atala.


Diandra mengangguk.


"Ini tanda lahir Ma...Dulu Atala sempat kesal karena Atala kira kulit Atala kotor, tapi kata Mama Atala, Atala memilikinya sejak lahir." Jelas Atala.


"Oohh..." Diandra mengangguk. "Kenapa bisa sama ya dengan tanda lahir Putraku?" Batin Diandra.


"Tapi masa iya Atala Putraku dan selama ini bersama Lambok? Dan Lambok tak pernah cerita apa-apa padaku." Diandra masih membatin.


"Sudah Ma...." Atala memanggil Diandra tapi Diandra tak mendengarnya. "Ma..." Atala mengibaskan telapak tangannya ke depan wajah Diandra.


"Oh... eh iya... Ada apa Sayang?" Diandra tersadar dari lamunannya.


"Kok Mama melamun? Ada apa? Apa ada perkataan Atala yang menyinggung perasaan Mama?" Tanya Atala. Atala memang perasa.


"Gak ada Sayang. Mama cuma memikirkan tanda lahir Kamu. Sama dengan tanda lahir Putra Mama." Kata Diandra.

__ADS_1


"Oohh... Bisa sama ya Ma?" Tanya Atala. Atala berfikir sama dengan Putra Diandra yang sudah almarhum.


Diandra mengangguk.


"Ma... Aku terusin menyapu ya." Kata Atala.


"Iya Sayang." Diandra masih terpaku.


"Apa Atala anak angkat Lambok dan Tia? Tapi Atala sangat mirip dengan Lambok dan perasa juga pemalu seperti Tia. Aaahhh... Aku masih menunggu berita dari Pak Rahman. Mudah-mudahan Beliau cepat mendapat berita tentang Putraku." Batin Diandra.


"Ada apa Diandra? Kenapa Kamu terlihat resah?" Tanya Oma Dewi.


"Gak apa Ma... Aku cuma lagi banyak kerjaan di Kantor. Ada Fathir dan Atala, Aku jadi malas mengerjakan kerjaan Kantor. Aku lebih senang bermain dengan mereka." Kata Diandra.


"Ya... Mama juga senang Mereka ada disini. Mereka memang anak-anak yang istimewa." Puji Oma- Dewi.


___________________


Jam menunjukkan pukul 9.30 pagi. Fathir dan Atala sedang bercengkrama dengan Diandra dan Oma Dewi di ruang tengah.


Sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah Oma Dewi.


"Siapa tuh?" Tanya Oma Dewi.


"Kaya suara mobil Papa." Kata Atala. Atala bergegas keluar dan melihat siapa yang datang.


"Mama...." Atala langsung memeluk tubuh Tia yang baru keluar dari dalam mobil.


"Iiihhh Kak Atala segitunya ketemu Mama..." Lita mengejek Atala.


"Ngapain mesti iri. Ini Mama ku juga." Canda Lita.


"Sudaaah... Kalian ini kalau sudah ketemu." Tia mengusap kepala Atala.


"Atala kangen sama Mama." Kata Atala manja.


"Mama juga kangen sama Kamu." Kata Tia sambil mengusap pipi Atala.


"Duuuuhhh anak Mama... Papa nya gak dikangenin nih?" Canda Lambok.


"Kangen sama Papa, tapi Aku mau peluk Mama dulu." Atala sangat manja seperti tak bertemu Tia selama bertahun-tahun.


Diandra melihat itu semua. "Gak mungkin kalau Atala adalah Putraku. Atala begitu dekat dengan Tia. Baru menginap semalam disini sudah seperti tak bertemu bertahun-tahun." Batin Diandra.


"Assalamu alaikum..." Salam Lambok, Tia dan Twins. Tristan digandeng oleh Vita.


"Wa alaikumussalaam..." Sahut Oma Dewi, Diandra dan Fathir.


"Aduuuhh cucu-cucu Oma, tambah besar. Twins sangat cantik. Dan ini yang kecil, tampan seperti Atala." Puji Oma Dewi.


Twins mencium punggung telapak tangan Oma Dewi dan Mama Diandra. Tristan meniru apa yang dilakukan Kakak-kakaknya.


"Pinter ya Tristan." Puji Diandra.

__ADS_1


"Ya dong Ma... Siapa dulu Kakaknya? Twins...." Kata Lita. Diandra tersenyum.


"Tante gimana kabarnya?" Tanya Tia dan Lambok. Mereka juga mencium punggung telapak tangan Tante Dewi.


"Alhamdulillaah... Tante sehat. Cuma kesepian saja dirumah." Canda Tante Dewi.


"Makanya Kak Diandra cepat-cepat menikah lagi, biar rame lagi ini rumah." Goda Lambok.


"Apaan sih Kamu..." Diandra tersipu malu.


"Aku serius Kak, Ustadz Joey nanyain Kakak terus. Kalau Kakak sudah siap, Ustadz Joey langsung menikahi Kak Diandra." Kata Lambok dengan wajah serius.


"Kakak masih banyak urusan." Kata Diandra.


"Urusan apa sih Kak? Kalau masalah materi, Ustadz Joey kurang apa coba, pemilik perusahaan." Lambok terus mempromosikan Ustadz Joey.


"Kakak tidak memikirkan materi Dek. Bagi Kakak materi nomor sekian. Kakak cuma gak mau nanti ditinggal lagi, patah hati lagi. Apalagi Ustadz Joey orang luar Negeri." Kata Diandra.


"Semua bisa diatur. Buktinya, Nindi Adik Tia, Adem ayem saja dengan Marcel. Sudah dua anak mereka. Dan Marcel menetap disini." Kata Lambok.


"Ayooo masuk dulu. Ngobrolnya didalam saja." Ajak Oma Diandra.


"Iyaaa... sampai lupa... keasikan ngobrol. Kamu sih Dek..." Diandra masih tersipu malu.


"Atala... Fathir... Tolong turunkan makanan yang Mama bawa dari rumah di dalam mobil. Sampe lupa Mama." Kata Tia.


"Ya Ma..." Kata Atala dan Fathir.


"Kamu kok repot-repot sih Tia..." Kata Tante Dewi.


"Gak repot kok Tante. Kita kesini kan gak bilang-bilang sama Tante. Tadi Twins ngajak makan bareng sama Oma, jadi Tia bawa saja masakan dari rumah. Kita makan sama-sama. Sudah lama sekali Kita tak pernah makan bersama, ya kan Tante." Kata Tia.


Tante Dewi merangkul bahu Tia. "Kamu tuh dari dulu gak pernah berubah, selalu tak mau merepotkan orang lain. Mereka kan cucu-cucu Tante juga." Kata Tante Dewi.


Tia tersenyum. Lambok sibuk menggoda Diandra.


"Kalau Mama Diandra menikah lagi, Kita gak akan dikangeni Mama Diandra lagi." Canda Fathir.


"Gak dong Fathir. Kamu, Atala tetap jadi anak tampan Mama Diandra." Kata Diandra.


"Twins dan Tristan kok gak disebut sih Ma..." Lita mengrucutkan bibirnya.


Diandra terkekeh. "Pasti dong... Twins dan Tristan juga anak-anak Mama Diandra."


Tia dan Lambok tersenyum melihat anak-anak Mereka.


Tia bergegas membantu Oma Dewi menyiapkan makan untuk seluruh keluarga. "Om Hendra gak kelihatan Tante?" Tanya Tia.


"Om mu lagi ada kerjaan di luar Kota. Seminggu lagi baru pulang. Makanya Tante kesepian. Untung Atala dan Fathir menginap disini. Jadi Tante ada temannya." Canda Oma Dewi.


"Ayooo... Kita makan dulu. Ini bukan sarapan juga bukan makan siang... Tapi apa ya?" Oma Dewi berfikir.


"Apa saja Oma yang penting kenyang." Celetuk Fathir.

__ADS_1


"Hahahaha....!" Semua tertawa mendengar celotehan Fathir yang asal.


__ADS_2