
Lita tak membuang waktu. Setelah debat panjang dengan kedua orangtua nya juga saudara-saudara nya, akhirnya Lita dapat meyakinkan Keluarga nya untuk mengabdikan diri nya di Negara Bagian Negara J.
Walau pun begitu, Lita masih punya hutang janji dengan Orangtua nya. Kemauan Lambok dan Tia untuk menikahkan Lita dengan Pria pilihan Mereka. Tapi Lita tak mau dengan alasan Dia sudah bersusah payah Sekolah S2 di Negara J, walau belum ada tanda kelulusan.
Namun kesempatan tawaran dari Dokter Oliver tidak datang dua kali. Lita tak ingin melewatinya. Lita masih ingin mendalami ilmu nya sebagai calon Dokter dengan pengalaman yang akan Dia dapat nanti di Negara J.
"Ingat usia mu sudah akan 25 tahun, Sayang..." Kata Tia yang akhirnya mengalah dengan kekerasan hati Lita.
"Tapi Ma... Auntie saja menikah usia nya 30 tahun." Lita menampik beragumen.
"Ya Sayang, tapi kapan lagi Kamu akan mempunyai anak setelah menikah?" Lambok membela Tia. "Kami sudah Tua, ingin mempunyai cucu...." Lambok terlihat sedih manakala mengingat Vita yang belum juga memberi cucu setelah menikah 3 tahun dengan Atala.
"Mama juga melahirkan Aku dan Vita saat usia Mama kira-kira 29 tahun. Auntie langsung hamil saat baru menikah dengan Uncle." Lita benar-benar pintar menjawab.
Lambok dan Tia menghela nafas. Tak bisa memaksakan kehendak Mereka pada Lita.
"Aku janji, jika jodohku belum juga datang dua tahun ini, Aku akan menyerahkan pada Mama dan Papa." Akhir nya Lita berjanji. Lita tak ingin melihat mendung di wajah kedua orangtua nya.
_________________________
"Apa?! Tidak Bang... Aku tidak setuju.... Bang... ingat dong, Aku ini sudah lama berhubungan dengan Bang Fahri, masa tiba-tiba Abang mau menikahi Farah adiknya Bang Fahri." Vera sangat kesal manakala Veri mengungkapkan niatnya pada sang Kakek untuk meminang Farah.
"Apa salahnya, Dek? Sah-sah aja kan?" Veri mencoba menenangkan Vera yang sudah sangat emosi.
"Lalu... Masa Aku akan memanggil Farah Kakak Ipar, sedangkan Dia Adik Iparku... Gimana sih Abang?! Kayak gak ada perempuan lain saja!" Ketus Vera sambil mengrucutkan bibirnya.
Selama enam bulan ini Veri memang berhasil mendekati Farah dan Farah sudah mau menerima nya.
"Kenapa Abang gak sama Kak Lita saja, toh Kak Lita belum punya calon Suami, apalagi Kak Lita dulu mencintai Bang Vero." Ungkap Vera.
Veri menghela nafas. "Lita tak pernah mencintaiku. Jauh sebelum Aku bertemu Kalian, Aku sudah mencintai Lita. Tapi ternyata Lita gak mau bayang-bayang Vero selalu bersamaku...." Veri menunduk sedih. "Lagi pula Aku sudah tak ada rasa pada Lita, Aku mencintai Farah, tulus..."
"Kakek.... Tolong bilangin Abang... Abang gak ngerti banget perasaanku. Aku selama ini bersabar hingga Nenek merestui hubungan Kami. Tapi ternyata Nenek gak pernah mau merestui Kami. Sekarang Nenek sudah gak ada, Abang lagi yang jadi penghalang!!" Ketus Vera.
"Sudah... Sudah... Jangan bertengkar... Kalian boleh menikah dengan cucu-cucu Nia. Kakek merestui..." Kata Kakek Burhan.
"Tapi Kek... Aku gak mungkin mendahului Bang Veri. Dan Farah juga tak akan mau melangkahi Bang Fahri..." Vera makin mengrucutkan bibirnya.
"Sudah... Sudah... Nanti Kakek akan bicarakan hal ini pada Papa Adrian. Kakek juga akan membicarakan semua ini dengan anak-anak Nenek Nia. Kalian jangan ribut lagi. Kalian tidak kasihan sama Kakek? Kakek pusing mendengar Kalian ribut seperti ini...." Kakek Burhan memegang dada nya yang terasa nyeri.
__ADS_1
"Bang Veri tuh... Gak mau ngalah. Beda sama Bang Vero yang selalu menyayangiku..." Ketus Vera.
"Sudah.... Vera... Bisa berhenti gak?! Kakek mau istirahat. Dada Kakek sakit..." Kakek Burhan beranjak dari duduk nya. Vera langsung membantu sang Kakek, memapahnya ke kamar. Begitu juga dengan Veri, Dia membantu sang Kakek dari sisi yang berbeda dengan Vera.
______________________
"Gak masalah... Kalian saling ipar memanggil ipar..." Kata Adrian yang langsung datang setelah Sang Ayah menelponnya beberapa hari yang lalu.
"Tapi Pa... siapa yang akan menikah dahulu?" Tanya Vera.
Adrian tersenyum. "Kamu gak usah khawatir, menurut Papa, Kalau Kalian mau, Kalian bisa menikah pada hari dan waktu yang sama. Ditempat yang sama." Usul Adrian. "Nanti Papa akan membicarakan ini pada Kedua Orang Tua Farah dan Fahri."
"Iisshhh Papa... Ada-ada saja. Masa Aku nikah bareng sama Bang Veri?" Vera mengrucutkan bibirnya.
"Loh kenapa tidak? Kamu kan gak mau didahului Abangmu, Dan Fahri juga gak mungkin dilangkahi Farah, walau sebenarnya tidak masalah seorang Abang mendahulukan Adik perempuannya." Kata Adrian.
"Tuh denger Bang....!!" Ketus Vera.
Veri hanya menghela nafas. Percuma berdebat dengan Vera, Adik perempuannya.
Adrian menghubungi Ponsel Nindi.
"Auntie Nindi akan menyampaikan Niat Kita ke Mama Fitri dan Ayah Fahmi." Kata Adrian.
Satu jam kemudian, Adrian menerima pesan balasan dari Nindi.
🌷"Silahkan Bang... Kami akan menyambut kedatangan Abang dan Keluarga ke rumah. Kami akan bersiap menyambut Kalian."🌷
"Alhamdulillaah..." Kakek Burhan menengadah. "Keluarga Nia memang Orang baik-baik. Walau banyak sekali cercaan yang Mereka terima dari Nenek Kalian, Mereka masih bersikap baik pada Keluarga Kita."
Dua Hari Kemudian
"Maksud kedatangan Kami, ingin membicarakan hubungan Anak-anak Kami. Mungkin Dek Fitri dan Dek Fahmi sudah mengetahuinya." Adrian membuka bicara setelah dipersilahkan masuk oleh Keluarga Nenek Nia.
"Alhamdulillaah... Kami memang sudah mengetahuinya sejak lama. Sebenarnya Kami juga hendak melamar Vera untuk Fahri, mengingat hubungan Mereka sudah sejak lama terjalin." Jawab Fahmi.
"Maafkan atas kesalahan Bunda selama ini, yang selalu menghalangi niat baik Kita untuk menjalin Kekeluargaan..." Kakek Burhan ikut membuka suara.
"Sudahlah Bang... Semua sudah berlalu. Kami disini sudah melupakan semua. Kami berdoa semoga Kak Dinda tenang di alam baqa." Nenek Nia menyahut.
__ADS_1
"Aamiin...." Sahut semua orang yang ada disana.
"Sekarang ini masalahnya, Veri ingin meminang Farah. Tapi Saya juga tahu, Vera sudah lama menjalin hubungan dengan Fahri." Adrian kembali berbicara.
Fahmi hanya tersenyum. Demikian juga dengan Fitri dan Nenek Nia.
"Fahri...." Panggil Fahmi pada Putera nya.
"Ya Ayah...." Jawab Fahri.
"Apa Kamu sudah siap meminang Vera?" Tanya Fahmi.
"Insyaa Allah Fahri sudah siap Ayah." Kata Fahri.
"Kamu Veri, apa Kamu benar-benar mencintai Farah dengan setulus hati Kamu? Tidak ada lagi wanita lain dalam hatimu?" Fahmi bertanya pada Veri.
"Aku sangat mencintai Farah, Ayah... Aku tidak menyimpan wanita manapun dihati Aku." Kata Veri.
"Alhamdulillaah... Lalu apa Kamu sudah siap menikahi Farah?" Tanya Fahmi lagi.
"Insyaa Allah Veri siap lahir bathin, Ayah." Tegas Veri.
"Ayah Burhan.... Ayah sudah dengar sendiri ucapan cucu-cucu Ayah. Niat baik janganlah ditunda-tunda. Agar tidak ada saling merasa didahulukan atau dibelakangkan, bagaimana kalau pernikahan Mereka dibarengi saja." Usul Fahmi.
"Ayah... Sebagai Kakek sangat ingin melihat cucu-cucu Ayah, bahagia. Ayah setuju saja kalau memang itu jalan terbaik." Kata Ayah Burhan.
"Bagaimana dengan Bang Adrian?" Tanya Fahmi.
"Itu lebih baik dan jadi adil." Tegas Adrian.
"Nah Fahri, Veri... Bagaimana usul Ayah? Apa Kalian setuju?" Tanya Fahmi.
"Fahri terserah Ayah saja." Kata Fahri.
"Veri setuju Ayah." Kata Veri.
"Alhamdulillaah...." Jawab semua yang ada disana.
"Kalau begitu, tiga bulan dari sekarang, pernikahan Kalian akan dilaksanakan. Kita akan membuat Dua pelaminan juga dua penerimaan tamu. Kalian boleh mengundang teman-teman Kalian." Kata Fahmi lagi.
__ADS_1