
Seminggu Kemudian
"Kamu hati-hati ya, Sayang... Jangan merepotkan calon Suami mu." Canda Tia.
Tia, Lambok, Atala, Vita dan Tristan sedang mengantar Lita dan Leo ke Bandara. Mereka baru akan ke Negara J, 2 hari sebelum pelaksanaan wisuda. Karena Mereka mulai disibukan dengan persiapan pernikahan Lita dan Leo.
"Tante jangan khawatir, Aku akan menjaga calon Istri ku ini dengan baik." Goda Leo.
Wajah Lita bersemu merah.
"Jangan ambekan lagi. Kalau ada masalah, bicarakan langsung dengan Leo. Jangan membuat keputusan sendiri." Pinta Lambok.
"Ya Pa..." Kata Lita sambil menunduk.
Vita berjongkok didepan kursi roda Lita. Vita memeluk saudara kembarnya. "Aku akan merindukanmu kembali. Entah sampai kapan Kita akan terus berpisah." Kata Vita.
Tristan pun berbuat yang sama. "Kakak sudah janji sama Aku, kalau Kakak selesai kuliah, Kakak gak akan meninggalkan Aku lagi...." Tristan mengrucutkan bibirnya.
Lita menempelkan dahinya pada Tristan. "Insyaa Allah... Kita akan segera berkumpul. Bukan begitu, Pak Dokter?!" Canda Lita.
"Oh... Yaaa... Insyaa Allah... Aku juga sudah mulai mengurus kepindahanku ke Rumah Sakit SR agar Kita bisa tinggal di Jakarta." Leo mencoba menghibur Tristan.
Tristan berdiri dan langsung memeluk Leo. "Terima kasih Kak... Aku kira Kakak akan membawa pergi Kakakku setelah menikah..." Airmata Tristan tak dapat dibendung lagi.
Tia mengusap airmatanya. Lambok merangkul bahu Istrinya dan mengusapnya lembut.
Panggilan terakhir sudah terdengar.
"Ma... Pa... Aku akan segera pergi. Mama dan Papa jangan terlalu cape mengurus pernikahanku ya? Aku tidak ingin pernikahan yang meriah..." Pesan Lita.
"Insyaa Allah... Sayang. Saudara-saudaramu akan membantu semua nya. Papa dan Mama hanya memantau saja." Kata Lambok.
"Alhamdulillaah..." Kata Lita. "Terima kasih, Kak Atala, Vita. Dan Kamu Dek.... Jaga Mama dan Papa."
"Siap Kak...." Kata Tristan yang langsung mengecup pipi Lita.
"Ooohhh...." Leo merasa cemburu dan iri pada Tristan.
"Kakak gak boleh marah. Aku adalah Adiknya yang paling tampan...." Canda Tristan.
"Hahahaha...." Semua tertawa mendengar candaan Tristan.
"Om, Tante, Atala, Vita dan Tristan... Kami berangkat ya...." Pamit Leo yang langsung mencium punggung telapak tangan Lambok dan Tia. Lambok memeluk Leo, Tia mengusap kepala Leo. Atala dan Tristan juga memeluk Leo.
____________________________
"Untuk sementara Kamu tinggal disini yah..." Leo mendorong kursi roda Lita menuju unit apartemennya. "Nanti setelah Kamu sudah gak cape, Aku akan membawamu ke Negara bagian J." Jelas Leo.
"Terima kasih Dokter... Maaf, Aku selalu merepotkanmu..." Lita tertunduk.
Leo langsung berjongkok dihadapan Lita. Menaikan dagu Lita. "Jangan bicara seperti itu. Aku ini calon Suami mu... Apa Kamu lupa?" Goda Leo.
"Aku tidak lupa... Aku hanya merasa membebani mu... Saat sakit begini, baru Aku mau menerima lamaranmu." Airmata Lita mengalir ke pipi.
__ADS_1
"Sssttt... Jangan bicara seperti itu... Aku juga salah karena selalu ragu mengikuti syaratmu... Seandainya Aku langsung menyetujuinya...." Leo belum selesai bicara.
"Sudah Dokter... Semua sudah terjadi. Aku ikhlas dengan kondisiku saat ini..." Kata Lita.
Leo mengecup kening Lita. "Kamu istirahat ya..." Pinta Leo, kemudian membukakan pintu unit Apartemen Leo.
Lita mengangguk. Leo langsung membawa Lita ke kamar tidurnya.
"Aku akan mengabari Astrid, kalau Kita sudah sampai." Kata Leo.
"Ya Sayang.... Terima kasih...." Kata Lita yang tak menyadari panggilan Sayang kepada Leo.
Leo terperanjat. "Apa Kamu bilang? Coba ulangi lagi." Pinta Leo tak percaya dengan pendengarannya.
"Apa? Aku ngomong apa?" Lita nampak bingung.
"Itu tadi yang barusan. Kamu panggil Aku, apa?" Tanya Leo.
Lita nampak berfikir. "Astaghfirullaah...." Lita menutup mulut nya dengan sebelah tangannya.
"Kok Istighfar sih? Aku senang mendengarnya." Goda Leo.
"Maaf Dokter..." Kata Lita menunduk malu.
"Kenapa harus minta maaf? Aku suka mendengarnya. Kalau boleh Kamu panggil Aku seperti tadi, pleasee...." Leo memohon.
"Ii....iya... Sa... yang..." Lita gugup sambil menunduk.
"Aku juga mencintaimu." Balas Lita.
Leo mengangkat tubuh Lita dari kursi roda dan merebahkan ke tempat tidur. Leo menyelimuti Lita sampai ke dada. Kemudian Leo mengecup kening Lita. "Selamat istirahat. Kalau ada apa-apa, Kamu pencet bel ini yah yang ada di sebelah kiri ranjang Kamu." Pesan Leo.
"Terima kasih, Sayang...." Kata Lita sambil tersenyum tulus.
Leo balas tersenyum dan berlalu dalam kamar Lita. Leo menghela nafas sesaat menutup pintu kamar Lita.
_____________________________
Entah sudah berapa lama Leo terlelap. Tidur nya terganggu karena suara bel dari kamar Lita. "Astaghfirullaah... Jam berapa ini?" Leo mengintip ke jendela, ternyata hari sudah mulai gelap. Leo bergegas ke kamar Lita.
"Ya Sayang...??" Tanya Leo dengan wajah baru bangun tidur.
"Apa Aku mengganggu istirahatmu?" Tanya Lita.
"Tidak... Ini sudah gelap. Ya Allah... Aku ketiduran." Leo menepuk jidadnya sendiri.
Lita hanya tersenyum. "Aku lapar, apa ada sesuatu yang bisa Aku makan?" Tanya Lita.
Leo membantu mendudukkan Lita dan bersender di kepala ranjang.
"Aku lupa...." Leo nampak merasa bersalah.
"Seperti nya kemarin Mama membawakan rendang..." Kata Lita.
__ADS_1
"Ya... Kamu benar. Aku cari yah." Kata Leo hendak keluar kamar Lita.
"Sayang... Boleh kah Aku ikut keluar?" Teriak Lita.
Leo menahan langkahnya dan berbalik. "Kamu serius?"
Lita mengangguk. "Aku bosan di kamar, Aku ingin nonton tivi."
Leo bergegas ingin mengangkat tubuh Lita, tapi Lita melarangnya.
"Aku ingin berusaha sendiri, kalau gagal, Sayang boleh menggendongku." Kata Lita yakin.
"Baiklah..." Leo menuruti kemauan Lita.
"Aku merasakan tubuhku yang sebelah kanan yang tak ada respon." Lita menggerakkan kaki kiri nya hendak menuruni tempat tidur tapi saat Lita hendak menarik kaki nya yang kanan, Lita merasa tangannya kiri nya lemas. "Sayang... Kenapa kini tangan kiriku lemas?" Lita mulai panik.
Leo memegang tangan Lita yang kiri dan mencubitnya. Sontak Lita tertawa. "Hahahaha.... Kenapa jadi geli?"
"Hhhmmm....Tanganmu kebas atau apa istilahnya kalau di Jakarta?" Tanya Leo.
"Kesemutan... Ya kesemutan. Kamu benar, tanganku tadi Aku tindih dengan kepala ku." Lita merasa lega.
"Syukurlah..." Leo sedikit memijit lengan Lita yang kesemutan. Kemudian Leo menggendong tubuh Lita.
"Sayaaang...!" Lita menjerit.
"Kelamaan... Keburu laper... Sebentar lagi maghrib." Leo terkekeh.
Lita memegang bahu Leo dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya terkulai rasa tak bertulang.
Leo mendudukkan Lita di sofa ruang tamu. Dan memberikan remote tivi pada Lita. Leo bergegas ke dapur yang hanya terhalang oleh meja bar.
"Tidak ada nasi, Sayang. Apa Kamu mau menunggu? Atau Aku goreng kentang?" Kata Leo.
"Terserah Sayang aja." Kata Lita merasa tak enak.
"Aku goreng kentang ya? Biar perut Kamu terisi dahulu." Kata Leo.
Lita mengangguk. "Maafkan Aku... Aku tidak bisa melayanimu...." Lita menunduk sedih.
Leo melihat itu. Leo keluar dari dapur dengan menggunakan celemek. "Ssttt... Jangan sedih... Aku ikhlas... Sungguh." Leo mengambil tangan kanan Lita dan mengusapkan ke pipi Leo.
"Entah sampai kapan Aku akan membebani Kamu? Aku gak pantas merepotkan Kamu.... Hik... hik... hik...." Lita kembali terisak.
"Mungkin ini ujian buat Aku dari Allah... Apakah Aku bisa sabar dan ikhlas menghadapi ini semua. Kata Ustadz Joey, Allah gak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Allah tahu, Aku masih sanggup menghadapi ujian ini. Jadi Kamu jangan merasa membebani Aku.... Hitung-hitung Aku belajar jadi Suami SIAGA... Hehehehe..." Canda Leo.
Lita memukul lengan Leo. Leo memeluknya. "Kalau Kamu nangis terus, Aku kapan masaknya? Terus Kamu kapan makannya?"
"Eehhhmmm..." Lita merengek manja.
"Aduuuhhh... Calon Istriku ternyata manja ya?" Leo melerai pelukannya dan mengusap airmata Lita. "Jangan sedih lagi ya... Jangan punya pikiran Kamu merepotkan Aku..."
"He eehhmmm..." Lita mengangguk dengan wajah seperti anak kecil yang sedang dibujuk sang Ayah.
__ADS_1