
Friska merintih kesakitan. Dia akan segera melahirkan.
Fathir baru saja berpamitan karena ada pekerjaan yang tidak bisa Dia tinggalkan.
"Atala.....!" Teriak Friska.
Gery sudah siaga. Dia sudah mengambil cuti dari Kantornya selama 12 hari. Jatah tahunannya. Dia sengaja ambil cuti mendekati kelahiran anaknya.
Gery segera menghampiri Friska ke kamarnya. Gery melihat Friska yang kesakitan. Gery langsung menelpon Dokter yang biasa menangani Friska.
"Jangan mendekat..!! Aku gak mau melihatmu..!!!" Friska berteriak.
"Mama....!! Papa....!! Aacchh.... Huuuu..." Friska benar-benar kesakitan.
"Gak ada orang di rumah, Friska." Kata Gery sabar.
"Fathiiiirrr...!!" Teriak Friska.
"Fathir baru saja berangkat ke kantor." Kata Gery. Gery sudah membawakan perlengkapan Friska kedalam mobil. Tinggal menggendong Friska. Tapi Friska masih bersikeras menolak Gery.
"Aacchhh... Mama....!" Friska mengerang.
"Aku mohon Friska... Ijinkan Aku berbuat baik untukmu." Kata Gery memelas.
Friska makin kesakitan. Gery sudah tak tega melihatnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membopong tubuh Friska.
Friska sudah pasrah. Rasa sakitnya sudah tak tertahan. "Aaccchhh....!"
"Tahan Sayaaang....." Gery bergegas. Gery langsung mendudukan Friska di jok samping supir. Gery memasangkan seatbelt pada Friska. Setengah berlari Gery membuka pintu mobil untuknya sendiri.
Friska terus mengerang. Gery mempercepat laju kendaraannya.
15 menit kemudian mobil Gery tiba di depan loby Rumah Sakit A. Dia langsung berlari dan berteriak pada perawat untuk menyiapkan brankar. Perawat sudah bersiap karena instruksi Dokter.
Dokter juga sudah mempersiapkan perlengkapan untuk persalinan Friska.
Friska sudah ditangani Dokter. "Apa suami Friska tidak menemani?" Tanya Dokter.
Gery tampak ragu. Dia adalah Ayah biologisnya tapi Dia belum sah menjadi suami Friska.
"Dokter... Saya Ayah biologisnya anak yang dikandung Friska... Apa boleh Saya menemaninya?" Tanya Gery ragu.
Dokter mengerutkan keningnya. Dia bingung. "Haaahhh...? Loh kok bisa?" Dokter nampak bingung. "Maaf Pak... Suami sah nya Bu Friska mana? Pak Atala." Tanya Dokter.
Gery menggeleng. "Dia tidak disini. Saya Kakak nya Atala." Kata Gery.
"Maaf Pak, tetap tidak boleh." Kata Dokter yang langsung menutup ruang persalinan.
Gery masih sempat mendengar teriakan Friska yang begitu kesakitan.
__ADS_1
30 menit kemudiam Dokter keluar.
"Bagaimana Dok?" Brondong Gery panik yang melihat Dokter keluar.
"Maaf Pak... Bu Friska pingsan. Dia belum berhasil melahirkan anaknya." Jelas Dokter. "Kemungkinan Kita ambil tindakan Caesar. Saya butuh persetujuan dari pihak keluarga." Kata Dokter.
"Saya yang akan bertanggung jawab Dok." Kata Gery.
Sebelumnya Dokter sudah memberitahukan resiko kesehatan Friska pada seluruh keluarga. Gery pun sudah diberitahu oleh Atala.
Dan diam-diam Atala dan Gery sudah menyiapkan pengobatan Friska ke Negara T. Atala juga sudah menghubungi Tabib dan Papa Carlos disana. Buat jaga-jaga kalau ada yang tak diinginkan dari kesehatan Friska.
Atala dan Gery diam-diam karena Rafa yang kekeh tidak percaya dengan pengobatan tradisional.
Gery sudah mempersiapkan passport dan tiket pesawat untuk berangkat kesana.
Tak tanggung-tanggung tabungan Gery habis untuk menyewa pesawat khusus membawa Friska nanti.
Operasi caesar pun dilaksanakan.
Fathir, Diandra, Ustadz Joey, Rafa, Siska dan Atala sudah berkumpul disana. Wajah Mereka tampak tegang menunggu proses persalinan yang kondisi Friska nya tak wajar.
Satu jam sudah Dokter menangani Friska. Lampu ruang operasi sudah menyala. Dokter membuka pintu ruang operasi. Wajahnya terlihat lelah.
Terdengar suara tangisan bayi.
"Bagaimana dengan Puteri Saya, Dok." Tanya Rafa.
Dokter menghela nafas. "Maafkan Kami Pak... Kami sudah berusaha semampu Kami."
"Apa.!!?? Tidak mungkin!!" Rafa berteriak. Siska jatuh pingsan. Rafa langsung memeluknya.
"Dokter apa yang terjadi?" Tanya Atala yang masih bisa menangkap bahasa Dokter yang belum selesai.
"Bu Friska koma. Pendarahannya tak bisa dihentikan. Tapi Kami terus menyuplay darah untuk Bu Friska." Jelas Dokter.
Atala mengangguk pada Gery. Sebelumnya Atala dan Gery sudah membicarakan pada Dokter untuk alternatif lain jika ada kemungkinan yang tak diinginkan.
Atala meminta Mama nya untuk mengajak Rafa dan Siska ke ruang tindakan karena Mama Siska pingsan.
Dokter dan perawat bekerja cepat. Mereka membawa brankar Friska masuk ke dalam mobil ambulance yang memang sudah disiapkan.
Gery langsung mengumandangkan adzan ke telinga Puterinya. Friska melahirkan seorang puteri. Keadaannya sangat sehat tak kurang satu apa pun. Hanya kondisi Friska yang mengkhawatirkan.
Kemudian Gery memberikannya kembali pada perawat agar segera dibersihkan. Gery juga sempat berpesan pada Mama Diandra untuk menjaga Puterinya selama Dia membawa Friska berobat ke Negara T.
Mereka sudah bersiap berangkat ke bandara. Dokter yang menangani Friska pun ikut serta untuk memantau kondisi Friska agar tidak sampai lewat.
Gery terus berdoa. Tak henti-hentinya Dia melafalkan surat Al Quran yang Dia hapal. Dan beberapa Doa yang akhir-akhir ini diajarkan oleh Ustadz Joey.
__ADS_1
_______________________
Tabib, Papa Carlos dan beberapa anak buah Papa Carlos sudah bersiap menyambut kedatangan rombongan dari Jakarta.
Tabib juga sudah menyiapkan peralatan medis nya juga obat-obatan tradisional yang sudah Dia racik setelah mendapat informasi medis Friska dari Dokter yang menangani Friska.
Anak Buah Papa Carlos sudah membawa brankar Friska ke ruang praktek Tabib.
Tabib langsung menangani Friska. Gery masih setia menemani Friska.
"Nak... Kemungkinan Friska sembuh sangat tipis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Karena dari laporan medis Dokter, komplikasinya sudah sangat parah. Dan Friska baru saja menambah luka baru akibat Caesar." Jelas Tabib.
"Banyak-banyaklah berdoa pada Tuhan Yang Menciptakan Kita." Pesan Tabib.
Gery mengangguk. Dia kembali melafalkan ayat-ayat suci Al Quran. Tabib tersenyum mendengarkan bacaan Gery.
Dokter dan Perawat beristirahat sebentar karena perjalanan yang sangat melelahkan.
Papa Carlos menjamu Mereka dengan sangat baik. Dokter juga banyak sharing dengan Papa Carlos tentang pengobatan herbal.
"Ilmu Saya tidak ada apa-apa nya. Saya hanya tahu nama-nama bahan-bahan obat racikannya. Tapi kegunaannya untuk apa, Saya belum paham. Tabib yang lebih paham." Jelas Papa Carlos merendah.
Papa Carlos juga sudah menyiapkan tempat untuk Dokter dan Para perawat beristirahat.
Papa Carlos memang lumayan baik berbahasa Indonesia, jika Dia bingung, Dia akan mencampur bahasa nya dengan bahasa inggris.
Tabib masih fokus dengan Friska. Beberapa asistennya ikut membantunya. Karena memang pengobatan ini sangat kompleks.
_________________________
"Dimana Puteri ku?" Rafa baru sadar kalau Dia tak lagi mendapati Puterinya ada di Rumah Sakit A. Dia hanya mendapati Diandra yang sedang memberikan susu formula pada cucu nya.
"Sabar Pak Rafa.... Gery dan Atala sedang berusaha agar Puterimu mendapat penanganan yang terbaik." Kata Ustadz Joey.
"Maksudnya?" Rafa terlihat bingung.
"Dokter belum selesai bicara saat istri Anda pingsan. Keadaan Friska kritis. Nyawanya masih ada. Atala dan Gery juga Dokter sudah menyiapkan sesuatu yang Insyaa Allah akan membuahkan kebaikan." Kata Ustadz Joey lagi.
"Jadi maksud Ustadz, Friska dibawa ke pengobatan tradisional itu?!" Rafa tak percaya.
"Benar sekali Pak Rafa... Bantulah usaha Atala dan Gery dengan Doa... Rejeki, Jodoh dan maut semua ada di tangan Allah SWT. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Allah tak akan memberikan cobaan pada umatnya melebihi kemampuannya." Nasehat Ustadz Joey.
Rafa menghela nafas. Dia sadar, selama ini Dia tak lagi pernah bersujud pada Yang Maha Menciptakannya. Sejak Dia tak jadi menikah dengan Tia, tak ada yang mengingatkannya dengan tegas. Siska selalu mengingatkannya tapi tak setegas Tia. Jadi Rafa seenak dirinya saja.
"Ya Allah ampunilah Dosa-dosa Hamba. Mungkin ini teguran bagi Hamba, karena Hamba begitu sombong. Ampuni Hamba Ya Allah." Batin Rafa.
Ustadz Joey mengusap bahu Rafa. "Bertobatlah sebelum terlambat." Nasehat Ustadz Joey.
Rafa mengangguk. Dia meneteskan air mata.
__ADS_1