CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Persyaratan??


__ADS_3

Joana melihat ketus ke arah Leo. Dia memeluk buah hatinya yang menangis melihat keributan yang hampir saja melukai sang Ayah.


"Leo... Kenalkan ini istriku Joana dan Puteri Kami." Kata Fathir mencoba menenangkan Leo.


"Lalu Lita?!" Leo masih kesal.


"Yaaang... Jadi Dia, Leo Asdosnya Lita?" Joana sedikit terkejut namun ada kelegaan di wajah nya.


Fathir mengangguk.


"Jadi Joana kenal dengan Lita?" Tanya Leo bingung.


"Bukan cuma kenal, Dia adik Cantik Kami." Joana masih ketus terhadap Leo.


Leo menghela nafas. "Tapi..... Jadi ini permainan Kalian?" Leo baru menyadari kesalah pahaman ini.


"Maaf Leo. Lita Adikku, sebagai Abang, Aku harus menjaganya. Aku gak mau Adikku kenapa-napa dan kenal dengan orang yang salah." Jelas Fathir.


"Kalau Lita sampai membuat sandiwara itu, berarti Lita benar-benar tidak menyukaiku...." Leo menunduk. Ada kekecewaan disana.


Fathir menghela nafas. Fathir melihat kearah Joana sambil tersenyum. "Leo... Apa Kamu sungguh-sungguh menyukai Adikku?" Tanya Fathir tiba-tiba.


Leo mengangkat wajahnya. "Aku bukan sekedar menyukainya tapi mungkin ini yang dibilang cinta pada pandangan pertama." Leo pun menceritakan awal pertemuan Mereka dalam pesawat.


Fathir dan Joana tersenyum. "Bagaimana Lita akan menyukaimu, kalau penampilan wajahmu seperti ini?" Joana mulai melunak.


Keluarga besar Lita memang sudah sepakat agar Lita bisa move on dari Vero. Karena Mereka sudah letih mendengar caci maki juga hinaan Bunda Dinda.


Leo menjelaskan bagaimana Dia memilih penampilan wajahnya yang sekarang.


"Waaahhh... Kamu PD sekali ternyata." Gurauan Fathir yang mengarah mengejek.


"Tapi itulah kenyataannya. Sejak Saya putus dengan kekasih Saya Lima tahun yang lalu, baru kali ini Saya merasakan cinta itu lagi. Walau banyak yang mengejar tapi Saya belum bisa membuka hati Saya. Tapi saat melihat Lita......" Leo tak meneruskan perkataannya.


"Apa Kamu serius? Atau hanya ingin berpacaran saja?" Selidik Fathir.


"Saya tak pernah main-main jika menjalin hubungan dengan Wanita. Dulu juga hampir Kami menikah, namun Dia meninggalkan Saya demi Laki-laki lain yang lebih segala-galanya dari Saya." Jelas Leo.


Fathir memandang Joana. Joana mengangguk. Mereka berdua memang punya kemistri yang sangat kuat. Hanya dengan tatapan mata, Mereka bisa saling memahami apa yang akan disampaikan.


Adzan Maghrib dari ponsel Joana berkumandang.


"Maaf Leo, sudah maghrib, Apa Kamu akan menyegerakan panggilan Allah?" Tanya Fathir yang memang kebetulan sekali pertanyaan yang akan Dia ajukan didukung dengan kumandang Adzan.


"Maaf... Aku bukan seorang Muslim. Silahkan jika Kalian ingin mengerjakannya. Aku akan menunggu disini." Kata Leo.


Fathir tersenyum dan mengangguk. Fathir menggenggam tangan Joana dan merangkulnya memegang kuat karena Joana yang menggendong buah hati Mereka.


_________________________________


"Bismillaah...." Ucap Lita yang sedang berdiri di depan cermin. Lita sedang mencoba memakai hijab.


"Subhanallaah.... Kamu cantik sekali Lita..!!" Tiba-tiba Astrid sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Astrid! Kamu kebiasaan deh kalau masuk gak ketuk pintu! Bikin kaget aja!" Lita mengrucutkan bibirnya.


"Hahahaha... Maaf... Aku buru-buru. Tunanganku sudah sampai. Dia ingin kenal Kamu." Kata Astrid.


"Oohhh... Tapi gak apa? Aku jadi gak enak. Nanti ganggu." Tanya Lita.


"Gak apa. Dia sudah tahu ada Kamu disini." Kata Astrid.


Lita pun mengangguk. Mereka bergegas ke ruang tamu dimana tunangan Astrid sedang menunggu.


"Sayaaang....!" Panggil Astrid. "Kenalkan ini Lita sahabatku." Astrid memperkenalkan Lita pada Arham.


Arham menangkupkan kedua telapak tangannya. "Assalamu alaikum Lita."


Lita pun melakukan hal yang sama. "Wa alaikumussalaam..." Jawab Lita.


"Astrid tak pernah cerita kalau Kamu berhijab." Kata Arham.


Lita tersenyum. Astrid menjawab: "Baru hari ini Yang... Dia memang sudah lama ingin berhijab." Jelas Astrid.


"Lalu Kamu kapan, Sayang??" Goda Arham.


Sontak Astrid terkejut. "Boleeehh...!!???"


Arham mengangguk. "Aku akan tambah sayang jika Kamu menutup auratmu, Sayang." Kata Arham senang.


Astrid langsung berhambur memeluk Arham. "Alhamdulillaah... Aku fikir Kamu akan melarangku....Sudah lama sekali Aku ingin memakainya." Mata Astrid berkaca-kaca.


Arham mengelus rambut Astrid dengan lembut. "Kenapa Kamu tak pernah mengatakan keinginanmu padaku?"


"Hhmmm... hhmmm... hhmmm..." Lita berdehem. "Kaya nya Aku jadi obat nyamuk." Canda Lita.


Astrid dan Arham melerai pelukan Mereka. "Maaf..." Kata Mereka berbarengan.


"Hahahahaha...." Mereka bertiga tertawa.


"Senang berkenalan denganmu, Lita." Puji Arham.


Lita hanya tersenyum. "Semoga Kalian segera ke pelaminan.... Aamiin..." Doa Lita.


"Aamiin...." Jawab Arham dan Astrid.


"Sebenarnya semua sudah siap. Tapi Astrid masih mau kuliah." Canda Arham.


Astrid mengrucutkan bibirnya. "Sayaaang.... Kamu kan tahu...."


"Iya Sayaaaang.... Aku akan menunggu." Kata Arham.


"Duuuhhhh senengnya yang punya Ayang Mbeb...." Canda Lita.


"Makanya Kamu move on doooong...." Astrid keceplosan. "Uuppsss... Sorry...." Astrid menutup mulutnya.


"Gak apa... Mungkin Kamu benar. Aku memang harus melupakannya semua." Kata Lita terlihat menutupi kesedihannya.

__ADS_1


Arham memandang ke arah Astrid. "Ada apa Sayang?"


"Kamu mau tahu aja siiihhh??!!" Canda Astrid.


Arham menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Astrid pun menceritakan perihal Lita yang putus dengan Vero karena ternyata Diah masih sangat mencintainya ditambah lagi dengan tidak ada persetujuan dari Neneknya Vero, Bunda Dinda.


"Kamu yang sabar ya Lita. Aku doakan Kamu akan bertemu kebahagiaanmu segera." Kata Arham.


"Aamiin...." Kata Lita dan Arham.


"Sebenarnya sudah ada, Sayang... Cuma Lita nya tak suka." Canda Astrid.


Lita mengerutkan keningnya. "Siapa???"


"Oh yaaaa..." Kata Arham berbarengan dengan pertanyaan Lita.


"Hahahahaha...." Astrid tertawa lepas. "Satu-satu dong,... Masa Aku dikeroyok!?"


"Iiihhh Astrid apaan siihhh... Mang siapa?" Lita masih penasaran.


"Asdos." Kata Astrid singkat.


Sontak saja Lita membelalakan matanya. Lita melempar bantal sofa ke arah Astrid yang duduk disebelah Arham. Namun lemparan Lita mengenai Arham.


"Maaf.... Maaf... Iihhh Astrid apaan siihhh...!" Lita mengrucutkan bibirnya.


"Gak apa Lita. Aku senang melihat Astrid bisa tertawa lepas sejak berteman denganmu." Kata Arham yang melihat ketidak enakan Lita.


__________________________________


"Kalau Kamu serius dengan Adikku, Apa Kamu siap?" Tanya Fathir. Farhir dan Joana serta Puteri nya memang sudah kembali dari Musholah dan kembali ke resto.


"Aku sangat siap. Aku sudah punya segalanya." Kata Leo pasti.


Fathir tersenyum. "Aku percaya... Maaf... Tapi bukan itu maksudku. Aku gak mau nanti Cinta mu mendalam tapi ternyata Kamu belum siap ketika persyaratan utama tak bisa Kamu penuhi." Tegas Fathir.


"Maksud Anda?" Tanya Leo.


"Panggil saja Aku, Fathir. Sepertinya Kita seumur." Kata Fathir.


Leo mengangguk. "Ya Fathir, maksudnya?"


Fathir menghela nafas. Dia tahu ini akan berat. Karena pengalaman pada Auntie Nindi yang begitu lama menunggu kesiapan Marcel.


"Kamu tahu, Kami adalah Orang Muslim." Kata Fathir.


Leo mengerutkan keningnya. Dia masih bingung dengan perkataan Fathir. "Apa masalahnya jika Kalian Muslim? Disini banyak orang Muslim hidup bersama dengan yang berbeda keyakinan." Kata Leo.


"Istri ku Joana, Kamu lihat wajahnya? Dia bukan orang Indonesia, Dia Asli Negara A. Dan Dia bersedia mengikuti kepercayaan Kami." Kata Fathir.


"Lalu apa masalahnya?" Tanya Leo masih bingung.

__ADS_1


"Jika Kamu serius dengan Lita, bersediakah Kamu mengikuti Agama Kami?" Tanya Fathir.


Leo menganga tak percaya.


__ADS_2