
Ponsel Lita berdering. "Diah...." Gumam Lita seraya merespon panggilan itu.
"Assalamu alaikum Diah..." Sapa Lita.
"Wa alaikumussalaam Lita. Kamu dimana? Kata Mama Mu, Kamu di Sumatera?" Tanya Diah.
"Ya Diah... Aku lagi pulang Kampung. Kangen sama Nenekku." Kata Lita.
"Ketemuan yuuukkk.... Aku juga di Sumatera. Papa ku mendadak pindah tugas ke Sumatera. Aku sudah dua hari disini." Celoteh Diah.
"Baiklah... Kita bertemu di Mall B. Aku menginap di apartemen Mall B." Kata Lita.
"Ok... Aku kesana sekarang yah. Nanti Kamu tunggu Aku di Lobby Mall ya." Pinta Diah.
"Baiklah. Aku bersiap yah." Kata Lita ramah.
Sebenarnya Lita agak cemas mendengar Diah mengajaknya bertemu. Diah memang sahabatnya tapi selama ini Diah tak pernah protes dengan hubungannya dengan Vero. Atau memang Diah yang belum tahu.
Lita mengginggit bibir bawahnya. Ponselnya kembali berdering. "Bang Vero..!!" Seru Lita sangat senang. Lita sangat merindukan kekasihnya tapi karena halangan Mereka untuk segera menikah, Lita menjaga jarak.
Lita ragu menjawab panggilan itu. "Apa yang harus Aku katakan?" Batin Lita.
Deringan berhenti. Sebuah pesan masuk. Lita segera membacanya.
"Sayaaang... Kamu dimana? Aku begitu merindukanmu... Aku merasa Kamu menjauhiku..."
Lita menghela nafas membaca pesan dari Vero. Ponselnya kembali berdering. Tapi Lita masih enggan menjawabnya.
Sebuah pesan kembali masuk.
"Kenapa pesanku Kamu baca, tapi tak Kamu balas? Panggilan telponku tak Kamu angkat. Ada apa?"
"Uuppsss..." Lita menutup mulutnya. Lita juga menepuk jidadnya. "Bodohnya Aku.... Bang Vero pasti memancingku. Aaahhh Aku ceroboh sekali." Lita mengumpat dirinya sendiri.
Ponsel Lita kembali berdering. Mau tak mau Lita mengangkatnya.
"Assalamu alaikum Bang." Sapa Lita terdengar gugup.
"Wa alaikumussalaam Sayang... Aku mau videocall Kamu." Vero langsung mengubah panggilannya.
Lita menerima panggilan video dari Vero.
"Abang...." Sapa Lita tersenyum getir.
__ADS_1
"Kamu dimana Sayang? Kata Auntie Nindi, Kamu tadi dari rumah sakit menjenguk Nenek?" Tanya Vero. Terlihat wajahnya yang begitu memendam kerinduan pada kekasihnya.
"Aku sedang di Apartement Auntie. Aku sedang menunggu Diah." Kata Lita.
"Diaaahh??? Kenapa dengan Diah?" Vero sedikit terkejut.
"Ya Bang... Diah ada disini. Diah bilang Papa nya mendadak pindah tugas. Abang kapan datang?" Tanya Lita.
"Baru saja. Aku langsung ke rumah sakit, ternyata ini Rumah Sakit Auntie dan Uncle mu." Vero tersenyum.
Lita balas tersenyum. "Vera mana Bang?"
"Vera sedang di kamar Nenek. Aku sudah mendengar cerita Auntie tentang rencana Nenekmu. Aku senang... Nenekku dari tadi membicarakanmu. Awalnya Aku tak suka karena Aku gak tahu siapa yang Nenek maksud. Tapi setelah Aku bertemu dengan Auntie Nindi, Aku baru paham. Sayaaang... Aku merindukanmu... Bolehkah Kita bertemu?" Vero mengharap.
Lita menghela nafas. "Abang istirahat dulu ya. Abang pasti lelah. Aku masih lama di Sumatera ini." Kata Lita.
"Tapi kapan Kita bertemu?" Vero masih mengharap.
"Secepatnya Bang. Aku juga merindukan Abang." Akhirnya Lita tak dapat lagi menyembunyikan perasaannya.
Vero tersenyum. "Nanti malam Kita makan malam berdua di Mall B. Resto D." Kata Vero.
"Iya Bang." Lita mengangguk senang. "Bang sudah dulu yah. Sepertinya Diah menelponku." Pamit Lita.
"Baiklah Sayang... Jaga dirimu baik-baik. Love You." Kata Vero sambil mengecup ponselnya sendiri.
Vero menghela nafas. "Mengapa Aku merasa, Kamu berubah, Sayaang??? Ya Allah... Permudahkanlah jalan Kami yang ingin menggapai keridhaan-Mu...." Vero mengusap wajahnya.
_________________________
"Aku sudah dengar semua tentang Kamu dan Vero." Diah menunduk, wajahnya terlihat murung.
Lita mengginggit bibir bawahnya. Lita tak menyangka jika Diah akan bersikap tidak ikhlas seperti ini.
"Tapi Diah... Kalian kan sudah putus lima tahun yang lalu. Bang Vero bilang, Kamu gak mau pacaran jarak jauh." Lita mencoba menjelaskan agar tidak salah paham.
Diah dan Lita adalah dua sahabat dari Mereka duduk di bangku SMA.
"Waktu itu Aku memang merasa tak akan sanggup berpisah dengan Vero, tapi Vero sudah bertekad kuliah di Kairo. Aku tak pernah minta putus, tapi sikap Vero tiba-tiba berubah." Diah menarik nafasnya dalam seakan hendak mengeluarkan sebuah himpitan yang membuat dada nya sesak.
"Aku dengar selentingan kalau Saudara kembarmu, Vita, Dia juga kuliah di Kairo dan Vero memang menyukai Vita sejak acara islami sekolah." Diah mencoba mengingat.
"Kenapa Kamu tak menegur Bang Vero, saat itu?" Lita terlihat bingung.
__ADS_1
"Aku sudah pernah menegurnya, tapi Vero menyangkal, Dia tak menyukai Vita, hanya sedang mengurus acara islami bersama Vita." Jelas Diah.
"Vero marah banget saat itu, Dia bilang Aku terlalu posesif dan selalu mengekangnya, padahal Aku tak seperti itu. Aku selalu mengalah." Diah menunduk, airmatanya mulai mengalir.
"Apa Kamu masih mencintai Bang Vero, Diah?" Lita tak tahan lagi melihat sahabatnya bersedih.
"Aku bahkan menunggu nya sampai Vero kembali ke Indonesia. Beberapa kali Aku menelponnya tapi Dia tak meresponku." Diah sudah terisak.
"Tapi Bang Vero bilang, Kalian sudah putus karena Kamu gak mau pacaran jarak jauh?!" Lita makin penasaran.
"Aku gak pernah minta putus. Lita, tatap Aku. Kita berteman sudah lama. Kamu lebih mengenalku ketimbang diriku mengenal diriku sendiri." Diah menunduk.
"Lalu maksudmu menemui ku kesini?" Lita nampak ragu.
"Aku gak bisa kehilangan Vero. Kamu tahu... Aku dan Vero pacaran sudah lama, saat pertama kali Aku duduk di bangku SMA." Kata Diah.
Lita menghela nafas. Dia sudah mengerti akan arah pembicaraan Diah. Diah tak ingin berpisah dengan Vero. Walaupun Lita juga ragu jika Vero nya bisa bersikap seperti itu pada wanita.
_________________________
"Sayaaang...." Panggil Vero begitu melihat Lita masuk kedalam Resto tempat Mereka akan makan malam.
Lita menoleh kearah suara yang memanggilnya. Lita tersenyum dipaksakan sambil melangkahkan kaki nya ke arah Vero.
"Abang sudah lama?" Tanya Lita sambil membuka sepatunya, Mereka makan mengambil tempat lesehan.
"Baru... Aku baru sampai." Kata Vero yang segera menggenggam jari jemari Lita yang lentik.
Lita rasa nya ingin mengibasnya, namun Dia urungkan. Lita sudah punya rencana sendiri bagaimana menghadapi Vero.
"Kamu pesan apa, Sayang?" Tanya Vero.
Lita membuka buku menu. Dia membacakan menu yang Dia inginkan dan segera dicatat oleh seorang waiter yang memang Vero memanggilnya.
"Mohon ditunggu..." Kata Waiter itu ramah.
Lita dan Vero mengangguk. "Terima kasih."
"Bagaimana kabar Kamu, Sayang? Kamu sehat-sehat saja, kan?" Tanya Vero yang masih menggenggam jemari Lita.
"Alhamdulillaah... Aku sehat." Kata Lita.
Vero hendak mengusap pipi Lita, tapi seorang waiter datang membawa baki berisi minuman yang telah Lita dan Vero pesan.
__ADS_1
"Silahkan...." Kata Waiter itu ramah.
"Terima kasih..." Kata Lita dan Vero berbarengan.