CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Perpisahan Nindi-Marcel


__ADS_3

Marcel terus menghubungi Nindi namun tak juga diangkat. Marcel mengirimnya pesan tapi tak juga dibaca.


Marcel nampak kesal. Akhirnya Marcel bergegas ke rumah Lambok.


Tiga puluh menit kemudian.


"Maaf Tuan, Nona Nindi dan Seluruh keluarga sudah berangkat ke bandara satu jam yang lalu." Kata Jeny.


Jeny memang diperintah oleh Lambok untuk mengurus rumah Mereka selama Mereka tidak ada.


"Maaf Tuan, ini ada pesan dari Tuan Lambok." Jeny menyerahkan sepucuk surat pada Marcel. Marcel menerimanya tapi tak langsung membacanya.


Marcel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Marcel berharap masih bisa mengejar Nindi sebelum pesawatnya take off.


Hanya butuh waktu 30 menit Marcel sudah memarkirkan mobilnya di bandara. "Lima belas menit lagi. Ya Tuhan tolong pertemukan Aku dengan kekasihku."


Marcel berlari. Dia mencari kesana kemari. "Maaf Pak, pesawat yang ke Indonesia apa sudah berangkat?" Tanya Marcel pada petugas Bandara.


"Sebentar lagi berangkat Tuan. Sudah ditutup boarding pass nya."


"Ya Tuhan..." Marcel menjambak rambutnya. "Nindiiiiii.....!! I Love Youuuu.....!!!" Marcel yang bertumpu pada lututnya berteriak dan itu membuat orang-orang yang ada di bandara menoleh semua kepada nya.


Nindi yang sudah bersiap di dalam pesawat terhentak. Jantungnya berdebar. "Astaghfirullaah... Ada apa ini?"


"Ada apa Auntie? "Tanya Atala yang melihat Nindi resah.


"Gak ada apa-apa, Sayaaang...." Nindi tersenyum. "Ya Allah... Lindungilah Kami dimana saja Kami berada." Batin Nindi sambil mengusap wajahnya.


__________________


Beberapa bulan kemudian.


"Fathir.... Dimana Auntie mu?" Tanya Ibu pada Fathir.


"Biasa Nek, Miss Dokter lagi mancing ikan." Kata Fathir.


"Kok Kamu gak ikuti Auntie mu. Nanti dia gak pulang." Tanya Ibu lagi.


"Malas ah Nek.. Miss Dokter melamun terus. Ikan sudah dapat dilepas lagi." Fathir ngegrutu.


Ibu menghela nafas. "Ya Allah.... Permudahkanlah putri ku melupakan kekasihnya. Bukakan hatinya untuk yang lain." Batin Ibu.


Fathir memang memanggil Nindi dengan sebutan Miss Dokter, karena Fathir pernah bercanda memanggilnya Bu Dokter, Nindi marah karena dia belum ibu-ibu.


Nindi lebih suka menghabiskan hari nya di sungai tempatnya dulu sering menangkap ikan. Dia akan betah seharian disana dikala sedang tidak bertugas di Rumah Sakit.


Nindi langsung di terima di Rumah Sakit B di Sumatera. Nindi memang memutuskan pulang kampung. Dia kangen sama Ibu dan sungainya.


Nindi selalu membawa perbekalan dan juga alat shalat. Menjelang maghrib Nindi baru akan beranjak dari tempat itu.

__ADS_1


___________________


"Ma.... Kita jadi kan liburan ke rumah Nenek?" Tanya Lita disela-sela makan malam Mereka.


"InsyaAllah jadi, Sayang. Papa sudah booking tiketnya. Nanti sehabis ambil raport, Sorenya kita berangkat." Kata Tia.


"Asyiiikkk.... Kita ketemu lagi sama Auntie. Aku kangen sama Auntie." Kata Vita.


"Ya dek, Kak Atala juga kangen sama Auntie."


Tia dan Lambok tersenyum melihat anak-anak mereka bahagia.


"Sama Grandma dan Grandpa gak kangen nih?" Tiba-tiba Mama dan Papa Lambok sudah berada di ruang makan.


"Grandma.... Grandpa..." Atala dan Twins langsung berhambur menyambut Mama Papa Lambok.


"Loh Ma... Kapan datang? Kok gak kasih kabar?" Tanya Lambok yang kaget orangtuanya ada di Jakarta.


"Baru saja... Sengaja gak kasih tahu biar surprise. Kita langsung kesini dari bandara." Kata Mama.


"Ma... Pa... Sekalian makan ya." Pinta Tia setelah Tia mencium punggung telapak tangan Mertuanya.


"Terima kasih sayaang. Kebetulan Kita juga belum makan." Canda Mama.


Papa tersenyum. "Bagaimana keadaanmu, Sayaaang?" Tanya Papa pada Tia.


"Alhamdulillaah Pa, jauh lebih baik. Walau masih ada yang Tia lupa." Tia tersipu malu.


"Iya Pa." Tia menyendokan nasi ke piring Mama dan Papa.


"Terima kasih, Sayaaang..." Kata Mama.


Setelah Makan mereka meneruskan perbincangannya di ruang tengah.


"Padahal Mama dan Papa kesini mau liburan sama cucu-cucu Mama, eh kalian malah mau pulang kampung." Canda Mama yang mengrucutkan bibirnya.


"Grandma gak bilang sih kalau mau kesini. Ya Kita juga kangen sama Nenek. Kalau sama grandma kan sering ketemu." Canda Vita.


"Duuuhhh... Cucu grandma pinter sekali." Puji Mama.


Tia menyediakan minuman hangat dan cemilan. "Diminum Ma, Pa... Sayaaang... ini untuk kamu." Kata Tia pada suaminya.


"Tidak pake garam kan?" Goda Lambok.


"Haaaahhh...??!!" Mama dan Papa melongo. "Kok pake garam."


Lambok menceritakan dulu Tia kesal karena hidungnya yang mungil selalu ditarik Lambok karena gemas. "Jadi Aku dikasih lemontea rasa asin Ma..."


"Hahahahaha...." Mereka yang mendengar tertawa.

__ADS_1


Tia yang disebelah Lambok mencubit pinggang Lambok. "Kamu buka rahasia aja iiih." Tia tersipu malu.


"Mama dan Papa mau ikut gak ke Sumatera. Nanti Lambok pesanin tiketnya?" Tanya Lambok yang masih terkekeh.


"Gak usah Sayaang... Mama dan Papa rencana mau mengunjungi Tante Dewi dan Om hendra mu. Sudah lama Kita tak berkunjung sejak kejadian itu." Mama terlihat sedih.


Mama dan Papa kesal karena Tante Dewi dan Om hendra yang ikut campur menghalangi Mereka membawa Lambok ke Negara A, meninggalkan Tia yang sedang koma.


Padahal Tia yang telah mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Lambok. Tapi Mama dan Papa malah menyuruh Cecil yang mengakuinya.


Tante Dewi sangat kecewa pada adik-adiknya hingga Dia tak sadar menyumpahi Adik nya sendiri. "Suatu saat nanti, Kamu pasti kena batunya!"


Itulah ucapan Tante Dewi yang membuat Mama dan Papa tambah kesal dan memutuskan hubungan persaudaraan mereka.


Lambok menghela nafas. "Mudah-mudahan Tante Dewi dan Om Hendra sudah tak marah lagi pada Kita."


Sewaktu Lambok mau menikah dengan Tia, Lambok memang mengundang Tante Dewi dan Om Hendra juga Diandra.


Cuma karena saat itu Mereka sedang sibuk mengurus Usaha nya di luar Kota, jadi tak sempat menghadiri pernikahan Lambok dan Tia.


Tapi Lambok mengerti, Tante Dewi pasti lebih mendahulukan Lambok ketimbang Usahanya, hanya saja Mereka memang tidak mau bertemu Mama dan Papa.


"Ya Ma, Pa... Kita yang lebih muda harusnya mendatangi yang lebih Tua." Kata Lambok bijak.


"Ya Nak. Mama tahu betul Tante mu. Dia sangat menyayangimu. Gak mungkin Dia tak menghadiri pernikahan kalian kalau bukan karena Mama dan Papa punya salah dengannya."


"Mama sadar, tak seharusnya Mama mendiamkan Kakak Mama, semua memang salah Mama." Mama terlihat sedih.


Papa mengusap bahu Mama. "Sudah ya Sayang... Semua sudah berlalu, Mudah-mudahan Mbak Dewi mau memaafkan Kita." Hibur Papa.


"Aamiin...." Jawab Mereka kompak.


Lita terlihat menguap. "Tuuuhhh cucu grandpa sudah ngantuk." Kata Papa.


Tia beranjak dari duduknya. "Aku temani anak-anak tidur dulu ya Sayaang." Pamit Tia pada Lambok.


Lambok mengangguk dan mencium kening anak-anaknya. "Jangan lupa berdoa ya." Kata Lambok


"Iya Pa..." Jawab Atala dan Twins.


"Mama.. Papa... Tia keatas dulu ya." Pamit Tia.


"Grandpa... Grandma... Kita bobo duluan ya." Pamit Mereka.


"Ya Sayaaang.... Selamat mimpi indah yah." Kata Mama dan Papa yang menciumi pipi cucu-cucunya.


Papa dan Mama tersenyum melihat kebahagiaan keluarga Putranya.


"Semoga setelah ini, Kalian bahagia selalu ya Nak." Kata Papa.

__ADS_1


"Aamiin... Terima kasih Pa." Kata Lambok.


__ADS_2