CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Malaikat-Malaikat Kecil


__ADS_3

Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar.


Tia terlihat sedang berbicara dengan Tante Dewi dan Diandra.


"Bagaimana kabar Kamu, Sayaang?" Tanya Tante Dewi.


"Alhamdulillaah Tante... Tia dan keluarga baik-baik saja." Tia tersenyum.


Tia senang melihat Tante Dewi dan Diandra yang sudah berhijab.


"Mama...." Panggil Atala bersama Twins dan Fathir.


Atala langsung merangkul bahu Tia. Twins berebut minta dipeluk. "Anak-anak Mama... Darimana saja?" Tanya Tia.


"Aku abis main di kamar Fathir, Ma." Kata Atala.


"Salim dulu nih sama Oma Dewi dan Tante Diandra." Pinta Tia pada anak-anaknya.


Atala, Twins dan Fathir mencium telapak tangan Tante Dewi dan Diandra.


Diandra tak lepas memandang Fathir. "Kamu tampan sekali, Nak." Kata Diandra. Fathir mengingatkan Diandra pada Rasya, Putranya yang sudah almarhum.


"Terima kasih Tante." Kata Fathir ramah.


"Atala... Kamu mirip sekali dengan Papamu.... Dulu waktu Papamu seusiamu, wajahnya persis denganmu.." Puji Diandra.


"Ya dong Tante, Aku kan anak Papa dan Mama...." Kata Atala yang mencium pipi Tia manja.


Tia mengelus pipi Atala. Tante Dewi dan Diandra memang tidak tahu perihal Atala.


"Diandra...." Panggil Tante Dewi yang melihatnya sedih.


"Ya Ma...." Kata Diandra.


"Kamu kenapa? Kok sedih?" Tanya Tante Dewi.


"Fathir mengingatkan ku pada Rasya, Ma. Kalau Rasya masih ada, pasti sudah sebesar Fathir." Diandra menunduk.


"Tante jangan sedih... Anggap saja Aku, anak Tante." Kata Fathir yang mencoba menghibur Diandra.


Diandra merentangkan tangannya. "Boleh Tante peluk Kamu, Sayaang?" Pinta Diandra.


Fathir mengangguk dan bergegas kepelukan Diandra.


Diandra tak henti-hentinya mengelus kepala Fathir dan mencium pipinya.


Fitri melihat semuanya. Fitri bergegas menghampiri Tia.


"Tante, Kak Diandra... Ini Fitri, Adik Tia, Mamanya Fathir." Kata Tia.


"Fitri... Jangan marah ya, anakmu Aku peluk." Kata Diandra.


"Kata Kak Diandra, Fathir mengobati rindunya pada Rasya, putra Kak Diandra." Jelas Tia.


"Oohh... Gak apa Kak, Fathirnya juga gak keberatan, ya kan Nak?" Tanya Fitri pada Fathir.


"Ya Ma, kasihan Tante Diandra, Anaknya sudah meninggal." Kata Fathir.

__ADS_1


"Innalillaahi... Kenapa Kak?" Tanya Fitri yang tak tega.


"Kelainan jantung, Fitri. Kakak juga bingung, padahal waktu habis melahirkan, kata Dokter bayiku baik-baik saja. Tapi pas sampai di rumah, Dia sering sakit." Diandra mengusap airmatanya mengingat penderitaan anaknya.


"Kakak yang sabar, yah. Allah sangat menyayangi Rasya. Makanya Allah memanggil Rasya kembali." Kata Tia.


"Ya Tia, terima kasih. Tante juga makasih sama Fathir, mau mengobati rasa rindu Tante." Kata Diandra.


"Kalau boleh, Fathir mau manggil Tante, Mama. Gak apa-apa kan, Ma?" Tanya Fathir pada Fitri.


"Gak apa Sayang. Tante Diandra kan, kakaknya Papa Lambok, jadi Tante Diandra, Mama kamu juga." Kata Fitri.


"Ya Allah... Mulia sekali hatimu, Nak." Kata Diandra. Diandra kembali memeluk Fathir.


Fitri mengusap airmatanya terharu melihat Diandra. "Kasihan Kak Diandra." Batinnya.


Atala merangkul Diandra. "Tante juga boleh nganggap Atala anak Tante." Hibur Atala.


"Terima kasih, Sayang. Sekarang Mama Andra gak sedih lagi, karena punya Kalian." Kata Diandra.


"Tante... Lita dan Vita juga sayang tante." Kata Twins.


"Tia, Fitri... Anak-anak kalian memang Malaikat-malaikat kecil. Ya Allah... Bahagia sekali memiliki Kalian." Kata Diandra.


"Mama Andra, boleh yah sering-sering main ke rumah Kalian di jakarta dan disini?" Canda Diandra.


"Boleh dong Mama Andra." Serempak Mereka menjawab.


Tante Dewi yang melihat dari tadi, mengusap airmatanya. "Ya Allah... Semoga Diandra mempunyai semangat lagi karena Malaikat-malaikat kecil ini."


Om Hendra dan Lambok menghampiri Mereka. "Ada apa ini? Kok Mama dam Diandra nangis?" Tanya Om Hendra.


"Anak-anak Kalian memang luar biasa..." Puji Om Hendra.


"Pa... Nanti Diandra terima saja yah, tawaran penempatan kerja disini?" Pinta Diandra.


"Tapi Sayaaang...." Om Hendra terlihat ragu.


"Emang Kak Andra, kerja lagi?" Tanya Lambok.


Diandra mengangguk.


"Terus berapa lama penempatan di Sumatera?" Tanya Lambok lagi.


"2 Bulan dek." Kata Diandra.


"Ya sudah Om. Gak apa. Kak Diandra bisa tinggal di rumah Lambok atau di rumah Ibu. Jadi Kak Diandra gak kesepian. Lagi pula Kita disini sampai abis Hari Raya Idul Fitri." Kata Lambok.


Om Hendra menghela nafas. "Ya sudah kalau begitu, Papa ijinkan, tapi Diandra gak boleh sedih lagi, yaahh? Janji?"


"Ya Pa... Andra janji. Lagi pula Andra gak akan kesepian disini. Ada Lambok dan keluarga disini. Juga malaikat-malaikat kecil ini." Diandra tersenyum senang.


"Ya Papa percaya. Lambok dan Tia juga gak akan membiarkan Kamu bersedih." Kata Om Hendra.


"Ya Om. Siapa tahu disini Kak Andra mendapat jodoh." Canda Lambok.


Diandra terperanjat dan memukul lengan Lambok. "Kamu tuh yah, gak berubah... Masih senang godain Kakak." Kata Diandra.

__ADS_1


Lambok merangkul bahu Diandra. Om Hendra dan Tante Dewi bahagia melihat putri mereka bisa tertawa seperti dulu.


"Alhamdulillaah Ya Allah..." Batin Tante Dewi.


_________________


Acara resepsi pernikahan Nindi hanya sampai jam 5 sore. Dan telah berakhir.


Tamu undangan sudah mulai meninggalkan rumah Ibu Nia.


Papa Carlos, Mama Merry dan Tabib berpamitan pada Lambok dan keluarga.


"Kenapa tidak menginap? Saya sudah memesan kamar hotel untuk para tamu." Kata Lambok.


"Terima kasih Nak. Tapi Papa mau mampir ke rumah saudara Mama mu di bagian utara Sumatera." Jelas Papa Carlos.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan. Besok kalau mau berangkat ke Negara T, kabari ya Pa. Mampir kesini lagi." Pinta Lambok.


"Ya Nak. Mana anakku?" Tanya Papa Carlos yang menanyakan keberadaan Tia.


"Sebentar Pa. Atala.. Tolong panggil Mama. Bilang Grandpa mau pamit." Pinta Lambok pada Atala.


"Baik Pa. Tunggu ya Grandpa." Kata Atala.


Papa Carlos tersenyum dan mengangguk.


Tak lama Atala keluar bersama Tia dan Twins. "Maaf Pa, Ma....Ini Twins rewel minta susu." Kata Tia.


"Gak apa Nak. Kami juga mau pamit." Kata Mama Merry.


"Loh gak nginep? Kak Lambok sudah booking hotel loh." Kata Tia.


"Tidak Nak, Mama dan Papa juga Tabib akan ke Utara Sumatera." Kata Mama Merry lagi.


"Oh yaa sudah kalau begitu. Sering-sering kesini ya Ma, Pa..." Pinta Tia.


"Ya Nak... Nanti Kita mampir lagi." Kata Mama Merry.


Tia dan Lambok bersalaman pada Papa Carlos, Mama Merry dan Tabib. Demikian juga dengan Atala dan Twins.


"Cucu Grandpa belajar yang rajin ya. Nanti kalau libur sekolah lagi, minta sama Papa, liburan ke tempat GrandPa." Kata Papa Carlos.


Atala dan Twins mengangguk. "Ya Grandpa."


Marcel dan Nindi menghampiri Mereka membawakan oleh-oleh untuk Papa Carlos dan Tabib.


"Apa ini Nak? Kenapa repot-repot?" Tanya Papa Carlos.


"Mama Merry menyukai rendang dan gulai kepala kakap. Jadi Aku bungkus untuk Kalian." Canda Nindi.


"Kau ini Merry... Doyan makan tapi tak gemuk-gemuk." Canda Papa Carlos pada istrinya.


Mama Merry mencubit pinggang Papa Carlos. "Tuh lihat Papa mu. Sudah punya cucu masih saja genit sama Mama." Canda Mama Merry. Yang mendengar tertawa.


"Marcel... Selamat berjuang! Semoga langsung tokcer." Canda Papa Carlos.


"Hahahaha...!" Marcel tertawa. Nindi tersipu malu.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya berpamitan. Mereka diantar oleh Kru yang masih standby untuk mengantar para tamu dari jauh.


__ADS_2