
"Ada apa??" Tanya Atala disela-sela makan siang nya bersama Fathir. Mereka sedang membahas proyek dari Mr. Alex.
"Maksud mu?" Tanya Fathir bingung.
Atala mengeluarkan sesuatu dari kantong jas nya. Dan menyerahkan pada Fathir.
"Apa ini?" Tanya Fathir bingung.
"Itu kado untuk Lita dari Dosen nya. Kamu yang pernah bertemu dengan nya. Lalu ada apa semalam? Biasanya Kamu biang rusuh, tapi semalam Kamu dan Joana diam saja. Apa ada yang tidak Aku ketahui?" Selidik Atala.
Fathir membuka kotak hadiah itu. Sebuah kalung emas putih dengan Liontin huruf L dengan dengan sebuah berlian kecil ditengah huruf L.
Fathir menghela nafas. "Aku bukan cuma sekali tapi dua kali. Dia memergoki ku dengan Joana, hampir saja Kita baku hantam kalau tak buru-buru Joana teriak." Kata Fathir.
"Benarkah? Tapi kenapa?!" Atala terlihat penasaran.
Fathir tersenyum. "Dia fikir Aku menyelingkuhi Joana dan menipu Lita. Tapi setelah kesalahpaham itu selesai, Dia mengatakan padaku kalau Dia mencintai Lita. Aku memberikannya syarat. Tapi sekarang ternyata Lita punya Arby." Fathir menghela nafas.
"Syarat apa?" Tanya Atala.
"Dia beda keyakinan dengan Kita. Aku katakan padanya jika Dia ingin menikah dengan Adikku, Dia harus mengikuti kepercayaan Kami." Jelas Fathir.
"Lalu apa Dia setuju?" Tanya Atala.
"Dia tak menjawab TIDAK, tidak juga menjawab IYA." Kata Fathir.
"Lalu apa masalah nya? Berarti Dia tak serius pada Adik Kita." Kata Atala.
"Aku melihat cinta di mata nya. Aku sudah menyelidiki semua tentang Dia. Kalau Lita ternyata lebih memilih Arby, kasihan juga dengan Leo." Jelas Fathir. Fathir juga menceritakan tentang silsilah Keluarga Leo.
"Tunggu... Jangan bilang Leo yang Kamu maksud, Putera nya Mr. Alex?" Atala sedikit khawatir.
Fathir mengangguk. "Dia memang Putera Mr. Alex."
"Tapi kata Lita, wajah nya Tua seperti om-om. Sedangkan Leo Puteranya Mr. Alex sangat tampan. Aku dua kali bertemu dengannya karena Mr. Alex memanggilku. Beliau ingin belajar Agama Islam." Cerita Atala.
"Massaaa???! Apa jangan-jangan Dia sudah mencukur bulu-bulu lebat itu?" Tanya Fathir tak percaya.
"Mungkin... Dia tampan sekali. Kamu saja kalah. Hahahaha..." Canda Atala.
"Serius?" Mata Fathir melotot.
Atala mengangguk. "Kamu lihat Mr. Alex? Dia tampan, begitu juga dengan Anak nya."
"Berarti kalau Mr. Alex mau muallaf, kemungkinan Leo juga." Kata Fathir.
__ADS_1
"Belum tahu. Mr. Alex bilang, Beliau menyesal tak pernah mengajari Agama pada Anak-anaknya. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa Dia dan istri nya menimpa anak-anaknya. Jadi Dia membebaskan anak-anak nya memilih." Kata Atala.
"Mudah-mudahan Lita tak tergoda dengan ketampanannya dan malah ikut kepercayaannya." Kata Fathir.
"Kenapa Kamu terlihat percaya Diri kalau Lita menyukainya? Atala heran. Kalau pun Lita suka, Dia tak akan menghianati kepercayaan Kita. Kamu ingat apa yang Dia lakukan pada Vero?! Lita tak akan mengorbankan kebahagiaan keluarga nya hanya demi cinta nya." Tegas Atala.
"Makanya Aku semalam hanya diam. Aku gak enak dengan Arby. Dia begitu menyayangi Adik Kita." Kata Fathir.
Atala memukul bahu Fathir, pelan. "Mudah-mudahan Lita cepat bertemu jodohnya."
"Aamiin...." Jawab Atala dan Fathir.
_______________________________
"Kamu mau kemana Lita?" Tanya Astrid.
"Kamu duluan saja, kasihan Kak Arby kalau Dia menunggu di luar Kampus, tanpa Kita." Pinta Lita.
"Ok... Jangan lama ya. Kak Arby tadi sudah mengirim pesan." Pinta Astrid.
"Siiipppp...." Kata Lita sambil mengacungkan jempol nya.
Lita dan Astrid berpisah. Lita hendak ke toilet. Dia juga sudah membaca pesan dari Leo. Sebenarnya Dia malas sekali tapi apa boleh buat, Lita fikir semua harus clear.
Baru saja Lita keluar dari toilet. Sebuah tangan melingkar di leher Lita dari belakang. "Ikut Aku."
Leo melepaskannya. Lita masih membelakanginya. Lita membenarkan Jilbab nya yang miring akibat sedikit tertarik.
"Apa Kamu tak membaca pesanku?" Tanya Leo.
"Sudah... Aku sudah baca. Tapi kan Aku mau ke toilet dulu. Gak sabaran banget sih." Lita mengrucutkan bibirnya Dia masih membelakangi Leo.
Leo menggenggam tangan Lita dan menariknya.
"Aaacchhh..." Lita tersentak. "Pak..!! Jangan seperti ini." Lita hendak menepis tangan Leo, wajah nya mendongak ingin melotot pada Leo, tapi...
"Kaaauuu....?!" Lita terpana melihat wajah Leo. "Ya Allah... Jantungku..." Batin Lita sambil menyusupkan tangannya ke balik hijabnya meraba debaran jantungnya.
Leo menarik tangan Lita dengan lembut. Dia begitu merindukannya. Lita seperti terhipnotis, tanpa perlawanan mengikuti Leo.
Tiba di Taman Leo langsung memeluknya. "Aku sangat merindukanmu... Kenapa penampilan mu seperti ini?"
Lita yang tersadar akan kata-kata Leo, teringat akan dirinya yang telah berhijab.
Seseorang melihat pelukan penuh rindu itu. Lita pun seperti nya menikmati pelukan itu. "Dia sangat tampan dan pasti kaya. Lita memang cocok dengannya." Batin orang itu. Ada rasa sesak di dada nya. Secepatnya Dia meninggalkan tempatnya.
__ADS_1
Lita mendorong tubuh Leo dengan sekuat tenaga. Leo tersentak kaget. Lita menampar pipi Leo dengan keras. Leo terkesiap. Dia memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan itu.
Untung nya situasi taman sedang sepi, karena jam segini banyak yang memilih ke kantin untuk mengisi perut.
"Tidakkah Kamu bisa menghargai perempuan?!" Bentak Lita. "Jangan Kau fikir Aku segampang wanita-wanita yang mengejar-ngejarmu...!!" Lita sangat emosi. Kemarahannya meluap-luap.
"Tapi Aku tulus mencintaimu. Tapi mengapa Kamu mengubah penampilanmu?" Leo tak marah pada Lita, Dia sadar Dialah yang salah.
"Agama ku mewajibkan bagi wanita yang sudah aqil baliq menutup aurat nya." Lita masih kesal namun nada bicara sudah tak setinggi tadi. "Hanya suami ku yang berhak melihat tubuhku." Lita melembut. Jantung nya kembali berdebar. Namun airmata nya mencelos begitu saja.
Leo menghela nafas. Dia ingin mengusap airmata Lita tapi Lita tiba-tiba berbalik dan berlari.
"Litaaaa...!!!" Leo memanggilnya namun tak mencoba mengerjar Lita. Tubuh nya tersurut mundur dan terduduk di bangku taman.
Lita berlari ke toilet. Dia menangis. Menahan gejolak di hati nya. "Tidak... Aku gak boleh menangis. Aku tak mencintai nya. Dia berbeda denganku..." Lita menggelengkan kepala nya. Lita membasuh wajah nya. Mengusap nya dengan lembut hingga kering. Membubuhkan wajah nya dengan bedak agar tak terlihat abis menangis.
Lita buru-buru keluar dari toilet. Dia teringat oleh Arby yang pasti sudah menunggu nya.
Astrid terlihat cemas. Dia mondar-mandir kayak setrikaan.
"Ada apa Strid?" Tanya Lita dengan memasang senyum menutupi kesedihannya.
"Kak Arby hilang." Kata Astrid.
"Apaaa??!!! Kok bisa??!!" Lita tak percaya. "Sudah sampai?" Tanya Lita.
"Tadi Aku sudah ketemu Dia. Terus Dia bilang mau ke toilet lalu ku tunjuki arah ke toilet. Ehhh gak balik-balik." Jelas Astrid.
"Sudah ditelpon?" Tanya Lita yang segera mengambil ponsel dari dalam tas nya.
"Sudah... tapi gak diangkat. Duuuhhh... Kak Arby kemana siihh??" Astrid sangat cemas.
"Gak aktif." Kata Lita.
"Ya ampuuunnn...." Astrid cemas.
"Kita ke hotel saja. Mungkin Dia kembali kesana." Usul Lita.
"Ya tapi kenapa?" Astrid bingung.
"Aku juga gak tahu. Ya udah ayo coba kesana." Ajak Lita. Mereka pun bergegas ke hotel dimana Saudara-saudara Lita menginap juga Arby.
Di Taman
"Permisi..." Sapa seseorang pada Leo.
__ADS_1
Leo mendongak. "Siapa?"