
Ponsel Vero tiba-tiba berdering. Pak Satpam yang masih memegang ponsel Vero sedikit terkejut. "Astaghfirullaah..."
"Siapa..?" Tanya Dokter.
"Nama di layar Ponsel 'Papa', Dok." Kata Satpam.
"Cepat diangkat Pak. Kita harus segera mengambil tindakan dari persetujuan keluarganya." Pinta Dokter.
Pak Satpam pun langsung menggeser layar terima telpon.
"Vero....! Kamu dimana, Nak? Papa mencari Kamu." Suara diseberang sana.
"Halooo.... Maaf Pak." Pak Satpam menjawab.
Adrian yang menelpon Vero mengerutkan keningnya. "Kok bukan suara Vero? Apa Aku salah ya?" Batin Adrian.
Adrian mengecek panggilannya. "Bener kok, tapi siapa ya?" Adrian masih membatin.
"Pak.... Halooo...." Sapa Pak Satpam.
"Anda siapa? Mengapa ponsel Putera Saya ada sama Anda." Tanya Adrian.
"Saya Satpam Rumah Sakit Pak. Maaf Pak, jika Saya lancang menggunakan ponsel Putera Bapak, tapi ini darurat Pak. Putera Bapak sedang di Rumah Sakit SF, di ruang UGD, sekarang sedang ditangani Dokter. Tapi Dokter perlu persetujuan sebelum tindakan." Jelas Pak Satpam.
"Astaghfirullaah... Baik Pak, terima kasih. Saya akan segera ke Rumah Sakit." Kata Adrian yang segera mematikan ponselnya dan bergegas ke Rumah Sakit.
"Bagaimana Vero, Adrian? Apa ada kabar berita?" Tanya Ayah Burhan.
"Vero di Rumah Sakit SF, Ayah." Jelas Adrian.
"Apaaa??? Tapi kenapa?" Ayah Burhan sangat terkejut.
"Adrian juga belum tahu Ayah. Sebaiknya Kita segera kesana, karena Satpam bilang kalau Dokter meminta persetujuan dari keluarga untuk tindakan." Jelas Adrian.
"Kalian mau kemana?" Tanya Bunda yang melihat Ayah Burhan dan Adrian yang tergesa-gesa.
"Ke rumah sakit, Bun. Vero sakit." Kata Adrian.
"Papa.... Vera ikut ya." Kata Vera yang mendengar kegelisahan sang Papa.
"Bunda juga ikut." Bunda bergegas mengambil tas nya.
Dua Puluh menit kemudian, Mereka pun tiba di Rumah Sakit SF. Adrian setengah berlari menuju ruang UGD. Vera, Ayah Burhan dan Bunda Dinda menyusul di belakang.
"Vero....!!" Adrian langsung menghampiri Vero yang terbaring di brankar UGD.
"Maaf... Bapak?" Tanya Dokter.
"Saya Papa nya Vero, Dok. Saya yang telpon tadi." Jelas Adrian.
"Pak... Maaf... Ini barang-barang milik Vero. Maaf Saya terpaksa memeriksa saku Anak ini." Kata Pak Satpam.
"Ya Pak, gak apa-apa. Saya malah berterima kasih, berkat Bapak, Saya jadi tahu dimana Putera Saya." Kata Adrian.
__ADS_1
"Bagaimana Vero?" Tanya Ayah Burhan yang baru tiba di ruang UGD.
"Kami baru akan mengambil tindakan setelah ada ijin dari Keluarga." Kata Dokter.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk Putera Saya." Kata Adrian.
"Baiklah Pak. Silahkan urus Administrasinya dulu." Pinta Dokter.
Adrian bergegas ke bagian Administrasi. Ayah Burhan, Bunda Dinda dan Vera menemani Vero.
______________________________
"Jangan lupa.... Besok Kamu harus menemui Asdos." Bisik Astrid ditengah makan malam keluarga Lita.
"Apaan sih Kamu. Pakai diingetin. Aku malas tahu. Gak penting banget." Balas Lita.
Fathir memperhatikan gerak-gerik Lita dan Astrid. "Hhmmmm..." Fathir berdehem.
Lita melihat ke arah Fathir. Lita menunduk kembali fokus makan. Demikian pula dengan Astrid.
"Bagaimana kuliah Kamu, disini Dek." Tanya Atala pada Lita.
"Alhamdulillaah lancar Kak. Kakak sendiri dan Vita, bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda bakal ada keponakanku?" Goda Lita.
"Kita masih usaha." Canda Atala.
"Iya nih... Mama dan Papa sudah ingin menimang cucu." Canda Tia.
"Sudah Pa... Alhamdulillaah Kita baik-baik saja. Mungkin Allah belum berkenan mempercayai Kami." Kata Vita lembut.
Tia dan Lambok mengangguk.
"Mungkin Kalian biar puas dulu pacaran ya." Canda Fathir.
"Hahahahaha...." Yang mendengar Celotehan Fathir jadi tertawa.
"Kamu ini... Sudah jadi Ayah, masih saja suka becanda." Kata Atala.
"Loh... Perlu itu. Biar awet muda. Iya kan Sayang." Kata Fathir sambil mengedipkan mata nya genit ke arah Joana. Joana hanya tersipu malu sambil mencubit kecil lengan Fathir.
"Aauuuwww... Kamu seneng banget sih Yang nyubit-nyubit Aku...." Fathir meringis.
"Hahahaha...." Semua kembali tertawa. Setelah makan malam, Mereka masih bersantai di resto. Sekedar sapa dan bersenda gurau.
"Tadi Abang denger ada yang bisik-bisik mau kencan, besok." Kata Fathir menyelidik.
"Uhuk... Uhuk.... Uhuk..." Lita terbatuk ketika Dia sedang melahap hidangan penutup.
"Pelan-pelan dong Sayang." Tia mengusap punggung Lita.
"Nah... Ketahuan orangnya yang ada kencan besok." Canda Fathir lagi.
"Apaan sih Bang Fathir. Sakit tahu gak tenggorokan Aku." Lita mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Lambok tersenyum. "Siapa Dia, Sayang. Kenalin sama Kita dong. Mumpung Kita ada disini. Alhamdulillaah Kamu sudah bisa move on." Goda Lambok yang menganggap Lita sudah move on dari Vero.
"Iiihhh Papa juga nih.... Apaan siihhh.... Pake move on move on segala. Mang Lita parah hati?!" Lita makin mengrucutkan bibirnya.
Tia menatap ke arah Astrid. "Astrid......" Tia meminta penjelasan Astrid.
"Aa... Anu... Ma.... Aku gak tahu." Astrid merasa ditatap tajam oleh Lita jadi terlihat gugup.
"Dek... Jujur saja sama Kita. Mungkin Kita bisa membantu." Kata Atala.
Lita memandang satu persatu anggota keluarganya.
"Aku bukan kencan, tapi Asdos itu memaksa Aku menemani nya makan malam, besok. Kalau Aku gak mau, Dia akan mempersulit nilaiku." Lita mengerucutkan bibirnya.
"Hhmmmm...." Fathir menjentikan telunjuknya di dagu. "Kurang ajar sekali Dia, berani-beraninya mengancam Adik kesayanganku." Kata Fathir.
"Jadi Lita Adik kesayangan? Aku dan Tristan, bukan?" Vita mengerucutkan bibirnya.
"Duuuhhh... Kamu itu kan sudah menjadi kesayangan nya Atala, masih iri saja sama Lita. Tristan masih Adikku yang paling tampan." Canda Fathir.
Yang lain tertawa melihat tingkah Fathir.
"Besok Kamu makan malam jam berapa, Sayang? Kita kerjai itu Asdos. Seenaknya saja minta temani makan malam tanpa ijin. Oh ya, apa Dia tampan seperti Abangmu ini?" Fathir kepedean.
"Tampan apanya? Orang brewokan gitu, kumisan. Kaya Om-om genit." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Whats?!!?" Fathir melotot, biji matanya hampir tersembul keluar. Lebay iiihhh....😅😅
"Sebenarnya Asdos masih muda, Bang. Cuma karena penampilannya seperti itu, jadi terlihat sangat tua, beda jauh dengan umurnya yang sebenarnya." Jelas Astrid.
"Kok Kamu tahu?" Tanya Fathir lagi.
"Aku sempat mencari-cari info tentang profilnya, pas Lita bilang kalau Dia mengajak Lita makan malam." Jelas Astrid.
"Hhhmmm.... Apa Dia sengaja seperti itu?" Fathir masih menjentikan telunjuknya di dagu.
"Kamu apaan sih Sayang??? Dah kaya detektif aja." Canda Joana.
"Tau nih Bang Fathir." Sahut Lita.
"Loh... Jadi Kamu senang dengan Asdos itu? Kalau Kamu senang, Abang akan mencari tahu tentangnya lebih rinci." Canda Fathir.
"Iihhh amit-amit... Gak banget deh. Aku geli ngeliat brewok dan kumis nya itu." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Sudah-sudah..." Lambok melerai. "Jadi apa rencana Kamu, Fathir?" Lambok to the poin.
"Aku akan menemani Lita, besok. Kalau perlu, Kita semua makan malam di resto yang Dia pesan untuk makan malam dengan Lita." Jelas Fathir.
"Ide bagus." Kata Atala. "Aku juga penasaran, seperti apa sih Dia, kok berani-beraninya menggoda Adikku."
"Kalau begitu, Kamu booking resto itu, sekarang. Biar Kita tidak kehabisan tempat. Karena besok malam minggu, pasti ramai pengunjung." Pinta Lambok.
"Baik Pa." Kata Atala yang langsung membuka ponselnya dan melakukan reservasi.
__ADS_1