
Friska tak sadarkan diri. Siska histeris. "Raisaaaa.... Telpon Papa dan Kak Atala....!!" Teriak Siska memanggil Adiknya Friska.
"Ya Maaaa....!" Raisa bergegas menghubungi Papa dan Kakak iparnya.
Raisa segera masuk ke kamar Friska setelah memberi kabar pada Sang Papa dan Atala.
"Kak Friska kenapa Ma..?!" Raisa terlihat panik juga melihat Siska menangis disisi tubuh Friska yang memucat dingin. Cairan hitam keluar dari telinganya.
Atala yang mendapat kabar dari Raisa langsung menghubungi Gery. "Maaass... Friska pingsan.. Tapi Aku belum tahu persis. Tadi Raisa yang memberitahuku..." Kata Atala.
"Aku akan menghubungi Tabib. Aku dengar Tabib sedang ada di Indonesia." Kata Gery bergegas.
Gery bergegas menghubungi Tabib. Dan langsung membooking pesawat penerbangan tercepat untuk Tabib. Tabib sedang berada di Surabaya.
Gery langsung melesat ke Bandara menjemput Tabib.
Atala dan Rafa sudah berada di rumah.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Puteriku... Tanggung akibatnya!" Geram Rafa.
"Maksud Om apa? Apa selama ini kondisi Friska tak lebih baik setelah berobat ke Negara T?!" Atala sangat kesal karena selalu menjadi kambing hitam mertuanya.
"Maaasss... Lepaskan..." Siska melerai tangan Rafa yang sudah menarik kerah kemeja Atala.
"Kenapa sih Tante, selalu Atala yang disalahkan?! Sekarang sudah jelas Friska hamil bukan sama Atala...!! Udah terbukti Atala tak bersalah. Sekarang, Friska pingsan, Atala lagi yang kena marah!!" Atala mendengus kesal. Dia tak menganggap Rafa. Bisa dengan satu tarikan kuat Atala, Rafa terjengkang.
"Maafkan Suami Tante, Atala." Siska memegang tangan suaminya agar melepas cengkramannya.
"Tahu kayak gini, Aku biarkan saja Friska mati waktu melahirkan!" Atala sangat kesal. Dia sudah tak menganggap keluarga Friska lagi. "Kalau bukan karena Tante yang memohon, Aku gak sudi menikahi Friska! Keluarga ini keluarga tak beradab."
"Apa..!!!" Tangan Rafa sudah hendak melayang ke wajah Atala. Tapi Atala menangkapnya cepat dan memutarnya hingga melintir ke belakang pinggang Rafa.
Rafa meringis kesakitan. "Atala... Tante mohon....Lepaskan Papa nya Friska." Siska memohon.
Atala melepas plintirannya sambil sedikit mendorong tubuh Rafa. "Sudah Tua bukannya tobat malah tambah jahat!" Geritu Atala. Atala meninggalkan kamar Friska.
Dia masuk kedalam mobilnya dan memukul stir mobilnya keras. "Aaacchhh...!!! Aku benci dengan semua ini!!!"
Ponsel Atala berdering. Gery menelponnya.
"Dek... Gimana dengan Friska?" Tanya Gery tanpa basa-basi.
"Dia sudah pucat membiru. Keluar darah kehitaman dari telinganya. Apa Tabib sudah bersama Mas?" Tanya Atala.
"Ya... Baru saja landing pesawatnya. Aku segera kesana!" Kata Gery.
__ADS_1
"Mas... Aku pergi dari sini saja ya... Aku muak disalahkan terus." Kata Atala.
Gery menoleh kearah Tabib. Tabib mengangguk. "Iya Dek... Gak apa." Kata Gery.
Gery pun memutus hubungan telponnya. Atala langsung tancap gas mobilnya.
"Bagaimana bisa Dia meninggalkan Friska yang sedang tak sadarkan diri?" Rafa terlihat kesal melihat mobil Atala meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Kamu juga sih, Mas. Gak mau lembut sedikit pada Atala. Bagaimana pun Atala sudah banyak berjasa pada Puteri Kita." Siska mengrucutkan bibirnya.
"Aku kesal Sayang... Kenapa Anak itu bukan Anak Atala, tapi Anak Gery..." Kata Rafa.
"Lalu...?! Apa Kamu akan terus memaksa Atala rumah tangga dengan Friska? Jelas-jelas Friska mencintai Gery!" Siska jadi kesal.
"Aku akan menjodohkan Atala dengan Raisa, setelah Friska sadar." Kata Rafa.
"Mas...!!!! Kamu benar-benar sudah gak waras!! Cukup Mas...! Aku sudah gak tahan lagi. Kalau Mas masih terus memaksakan kehendak Mas, Aku akan pergi meninggalkan Kamu!" Ancam Siska.
Rafa terlonjak dengan perkataan Siska. "Kenapa Kamu malah mengancamku? Harusnya Kamu mendukung keinginanku!"
"Cukup Mas! Aku gak mau dengar lagi! Kita sudah merenggut kebahagiaan Atala dengan memaksanya menikahi Friska! Seharusnya Kamu malu, Mas! Kamu yang sudah menjebloskan Atala kedalam penjara, padahal sekarang terbukti, anak itu Anak Gery, bukan Anak Atala!" Kali ini Siska tak mau lagi berdiam diri.
Gara-gara keegoisan Suaminya, Siska kehilangan sahabat terbaiknya, Tia.
______________________
"Apa permintaanku tadi sudah Kalian siapkan?" Tanya Tabib.
"Sudah Tabib, Ini..." Siska meletakan air panas dalam baskom diatas meja disisi ranjang Friska.
"Terima kasih." Tabib segera mengompres tubuh Friska yang mendingin dengan air hangat agak panas. Dia juga membersikan darah hitam yang mulai mengering.
"Nyonya... Saya minta bantuan Anda untuk mengelap seluruh tubuh Friska dengan air panas ini." Kata Tabib.
"Saya akan meracik ramuan lagi." Kata Tabib.
Siska mengangguk. Dia dibantu Raisa mengompres tubuh Friska dengan Air panas.
Rafa membawakan kembali air panas untuk mengganti air yang sudah adem untuk mengompres tubuh Friska.
"Bagaimana suhu tubuh, Friska?" Tanya Tabib Pada Rafa.
"Sudah mulai hangat." Kata Rafa.
"Puji Tuhan. Tolong ditutup tubuh Friska, Saya akan masuk kedalam." Pinta Tabib.
__ADS_1
Rafa mengangguk. Dan melaksanakan perintah Tabib.
"Rapatkan dan tambahkan lagi selimutnya." Pinta Tabib.
Siska mengeluarkan bedcover dari dalam lemari pakaian Friska dan membungkus tubuh Friska. Walau Dia sedikit bingung dengan pengobatan ini, tapi Siska tetap melaksanakan perintah Tabib.
Tabib mulai memasukan ramuannya kedalam botol, seperti botol infus. Ramuan itu masuk kedalam darah Friska.
Rafa memperhatikan apa yang Tabib lakukan. Gery masib berada di luar kamar Friska.
__________________________
Atala memarkirkan mobilnya dipinggir pantai. Dia keluar dan sedikit membanting pintu mobilnya kala menutup.
"Aaaaccchhhhh....!!!!" Atala berteriak sekencang mungkin. Melepaskan himpitan yang menyesakkan dadanya.
Hari sudah menjelang maghrib. Sudah tak ada pengunjung yang datang ke pantai itu.
Atala menendang-nendang pasir yang telah kering karena lautan sedang surut.
"Kenapa harus Akuuu!!! Kenapa?!!!" Atala terus berteriak.
Atala sudah menahan kesabarannya selama hampir dua tahun. Namun kebahagiaan belum juga berpihak padanya.
"Apa salah jika Aku berbahagia dengan Vita?!" Atala sangat kesal.
Dia menarik nafasnya dan membuangnya kasar. Terus... dan terus... hingga amarahnya meredam.
"Astaghfirullaah.... Apa karena Aku kurang baik, makanya Allah tak menjodohkanku dengan Vita." Gumam Atala.
Dia menjatuhkan dirinya ke pasir dengan bertumpu kedua lututnya. Dia menjambak rambutnya sendiri.
"Mama.... Andai saja Mama tahu kegalauanku.... Penderitaanku.... Hik... hik... hik...." Atala terisak.
Selama ini jika Atala sedang bersedih atau mendapatkan cobaan yang berat, Tia yang selalu menghiburnya dan mendampinginya.
Kini Tia tak lagi dekat dengannya. Selepas resepsi pernikahan Fathir, Tia, Lambok, Vita dan Tristan langsung kembali ke Mesir tanpa menginap atau beristirahat sebentar saja.
Atala tak punya kesempatan untuk bertemu keluarganya yang telah mengasuhnya dari bayi.
"Mama.... Mengapa Mama menjauhiku!? Kenapa Ma? Apa salahku? Mama percaya Aku tak melakukannya... Tapi kenapa Mama tak menungguku sebentar saja.... Aku rindu Ma.... Hik... hik... hik..." Atala menangis.
Ponsel Atala berdering terus dari tadi. Tapi Atala tak mendengarnya. Karena Dia meninggalkan ponselnya di dalam mobil.
Atala masih menunduk.... Dia mencoba merenungi... Kesalahan apa yang pernah Dia perbuat hingga harus menanggung kesalahan yang sama sekali tak pernah Dia perbuat.
__ADS_1
Hari makin gelap.... Adzan Maghrib pun berkumandang.... Sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Atala mendongak.... Dia mengusap airmatanya. Perlahan Dia beranjak meninggalkan pantai... Dia kembali kedalam mobilnya...