
Leo mendorong kursi roda Lita. Hari ini Lita akan di wisuda. Orangtua dan Saudara-saudara Lita juga hadir di sana. Fahri tidak bisa datang karena ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal setelah masa cuti nikah nya berakhir.
Leo membawa Lita dalam barisan Mahasiswa yang akan di wisuda. Mereka duduk sesuai dengan nomor urut absensi.
"Aku tinggal ya... Nanti temanmu yang dibelakang yang akan membawa mu." Kata Leo sambil berpesan pada peserta wisuda sebelah kanan Lita. "Aku ada surprise untuk Kamu." Bisik Leo pada Lita.
"Ya Dokter..." Kata Mahasiswa tersebut. Sedangkan Lita hanya mengangguk dan tersenyum penuh bahagia.
Keluarga Lita yang mengantar, duduk di bagian kursi undangan. Mereka dapat melihat prosesi wisuda.
Sedangkan Leo adalah salah satu Dosen yang akan memberikan piagam pada Mahasiswa yang di wisuda.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Satu per satu Nama-nama Mahasiswa dipanggil untuk maju ke depan. Lita pun turut ke arah depan dengan di dorong kursi roda nya oleh temannya.
Setelah semua sudah menerima piagam kelulusan, Rektor mengumumkan Mahasiswa lulusan terbaik tahun ini.
"DAN... YANG MENJADI LULUSAN TERBAIK TAHUN INI, ADALAH......" Rektor membuka amplop yang diserahkan oleh salah satu Dosen.
"LALITA PUTERI WIJAYA....!!! DENGAN PREDIKAT CUM LOAD..!!!"
Sontak hadirin berdiri memberi aplaus pada Lita. Demikian juga dengan Leo yang menyambut kedatangan Lita naik ke podium. Dibantu temannya, Lita sampai ke podium.
Lita berurai airmata bahagia. Lita tak menyangka kalau Dia menjadi mahasiswa lulusan terbaik tahun ini.
Leo menghampiri Lita dan memberikan serangkai bunga mawar beraneka warna dan mengecup kening Lita. "Selamat ya Sayang..."
"Terima kasih Dokter..." Kata Lita tersipu malu.
Rektor memberikan hadiah pada Lita. Dokter Oliver juga memberikan surat tugas resmi untuk Lita dan Lita bisa langsung terjun di Rumah Sakit.
Setelah Lita memberi sambutan dan rasa syukur nya, Temannya membawa Lita kembali turun dari podium.
Teman-teman yang lain langsung menyambut Lita dan mengerumungi nya.
Seseorang menguak kerumunan itu dan berdiri tepat dihadapan Lita.
Lita memdongak. "Bang Fahri..!!" Lita terlihat bahagia.
Orang yang disebut Lita dengan Bang Fahri, tanpa bicara langsung membawa kursi roda Lita meninggalkan gedung wisuda.
Keluarga Lita melihat dari jauh, namun masih terhalang oleh kerumunan Mahasiswa yang ingin memberi selamat pada Lita.
Selang lima menit, kerumunan itu sudah bubar, Leo yang memperhatikan dari tadi terperanjat kaget melihat Lita sudah tak berada disana.
Leo langsung berlari turun podium. Keluarga Lita juga kaget dan langsung berhambur ke arah Leo.
__ADS_1
"Litaaaaa!!!" Teriak Leo. "Kemana Lita?!!" Tanya Leo pada Para Mahasiswa.
"Lita tadi dibawa seseorang." Kata Salah seorang Mahasiswa.
"Siapa yang membawanya?!" Tanya Leo panik.
"Gak tahu Dokter, Kita juga baru melihatnya. Tadi Kita dengar Lita menyebutnya Bang Fahri." Kata Mahasiswa yang lain.
"Apaaa??!!" Atala terkejut. "Tapi tidak mungkin, Fahri sedang tugas ke Kalimantan." Atala langsung menghubungi ponsel Fahri.
"Nak... Jangan membuat Fahri khawatir." Pesan Lambok.
"Iya Pa..." Kata Atala dan langsung menjawab sapaan dari Fahri di seberang sana.
"Ada apa Kak?" Tanya Fahri.
"Kamu sedang apa? Apa Kamu sibuk?" Tanya Atala.
"Ya... Aku sedang di lapangan. Memantau pemasangan instalasi listrik." Kata Fahri.
"Oh baiklah... Maaf mengganggu, nanti Aku hubungi lagi." Jawab Atala.
"Bagaimana?" Tanya Leo.
"Lalu siapa yang membawa Lita?" Tanya Tia panik.
"Kenapa Lita memanggilnya Fahri?" Tanya Lambok.
Leo langsung berlari ke arah dimana teman-teman Lita menunjuk arah Orang yang membawa Lita pergi.
"Litaaaaa.....!!" Leo kembali berteriak. Leo tiba di gerbang Kampus, tapi tidak ada siapa pun, hanya kendaraan yang lalu lalang.
Leo menghampiri security. "Ada apa Dokter?" Tanya Security.
"Apa Bapak melihat Wanita pakai kursi roda?" Tanya Leo.
Security menggeleng. "Tapi Saya melihat mobil Dokter keluar dari parkiran." Kata Security. "Dan Saya lihat, Dokter yang keluar." Jelas Security.
"Apa?? Jadi penculik itu membawa mobil Saya?" Leo terkejut. "Kenapa Bapak tidak menghentikannya?" Leo nampak kesal.
"Maaf Dokter, tapi tadi Dokter melambaikan tangan pada Saya saat keluar." Jelas Security.
"Apaaa??!!!" Leo menepak jidad nya sendiri. "Ya Allaah...... Penculik itu sangat pandai. Dia bahkan memakai wajah ku dan juga Fahri."
"Bagaimana Leo?" Atala dengan nafas tersengal menghampiri Leo.
__ADS_1
"Penculiknya sangat lihay, Dia menggunakan wajah Ku dan Wajah Fahri." Kata Leo.
"Apa?! Jadi Lita diculik?" Tanya Fathir yang juga baru saja tiba di depan gerbang menyusul Atala.
"Tapi apa motif nya?" Tanya Atala. "Setahuku, Adikku gak punya musuh. Atau mungkin Kamu, Leo?" Tanya Atala.
Leo nampak berfikir. "Aku tidak tahu. Aku merasa tidak punya musuh. Aku ini seorang Dokter, bukan Pengusaha."
"Lalu, kenapa Lita diculik?" Fathir nampak khawatir.
Leo langsung menghubungi Kantor Polisi.
__________________________
"Bang.... Kita mau kemana? Kenapa Abang membawa Ku pergi? Disana ada Mama dan Papa!" Tanya Lita yang masih bingung. Apalagi melihat yang menyetir ternyata Leo.
"Dokter, acara belum selesai, apa ini kejutannya?" Lita masih berteka-teki. Para penculik itu dari tadi tidak bersuara.
Lita merasa curiga, karena dari tadi dua orang itu hanya diam saja. Lita memperhatikan postur Fahri. "Ya Allah.... Kamu bukan Abangku!!" Lita histeris. Lita melihat kulitnya putih layaknya orang bule.
"Dokter...!! Apa Kamu juga bukan Dokter Leo?!" Teriak Lita.
"Hahahahaha...." Mereka tertawa. Salah seorang dari mereka melepaskan topeng kulit yang sangat tipis dari wajah mereka.
Lita sangat tidak percaya dengan apa yang Dia lihat. "Ada apa ini? Kenapa Kalian membawaku pergi? Apa salahku?" Lita kembali histeris.
Lita ingin kabur dari dalam mobil namun apa daya tubuh nya sangat lemah. Lita hanya pasrah tanpa perlawanan.
"Sebaiknya Nona diam. Jangan melawan. Bos Kami ingin bertemu Nona." Kata salah seorang penculik itu.
"Siapa Bos Kalian? Apa Aku mengenalnya?" Tanya Lita.
"Nanti Nona akan tahu. Sebaiknya Nona diam saja, jangan melawan atau berteriak karena Kami tidak ingin menyakiti Nona. Apalagi kondisi Nona yang seperti itu." Ejek penculik itu.
"Astaghfirullaah... Ya Allah... Apa yang harus Aku lakukan?" Batin Lita. Lita tak henti memanjatkan doa. Lita tak bisa berbuat apa pun. Lita tak membawa apapun. Hanya Sertifikat kelulusannya yang masih Dia pegang. Sedang hadiah yang diberikan Rektor, entah ada dimana.
Lita hanya melihat dari kaca jendela jalan yang Dia lalui. Para penculik itu memang tidak menutup mata Lita. Karena Mereka fikir Lita tak bisa berbuat apa-apa.
"Ya Allah... Mereka akan membawaku kemana? Aku belum pernah kesini." Batin Lita.
Mobil yang Lita tumpangi memang tadi terlihat masuk TOL dengan kecepatan tinggi. Lita tak curiga karena Leo memang biasa membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Mobil sudah keluar dari TOL. Jalan yang terlihat hanya perkebunan. Rumah penduduk berjarak jauh-jauh. Nampak asri, kalau kondisi nya bukan diculik, mungkin Lita akan menikmati pemandangan ini.
Tak henti-henti nya Lita memanjatkan Doa, memohon pertolongan pada Allah SWT.
__ADS_1