
Marcel menepati janji. Satu jam sebelum jadwal Nindi pulang, dia sudah berada disana.
"Hallooo...." Marcel masuk ke ruangan Nindi sambil mengetuk pintu.
Nindi yang mendengar ketukan mendongak. "Oohh... Haaiii..." Nindi melihat jam tangannya. Nindi menghela nafas.
'Aku masih sejam loh disini? Kamu kecepatan." Canda Nindi.
"Abis Aku dah gak sabar ingin melihat wajahmu lagi." Goda Marcel.
"Hhuuuuhhh.... Bisa aja." Nindi mengrucutkan bibirnya dan itu membuat Marcel gemas.
"Aku selesaikan laporanku dulu ya." Pinta Nindi yang langsung fokus pada Laptopnya.
Tiba-tiba....
"Bu Dokter....!! Pasien yang ruang mawar kritis!!" Rini yang mengetuk pintu sambil setengah berteriak.
"Apa...?!" Nindi beranjak dari duduknya dan setengah berlari menuju ruang mawar tanpa menghiraukan Marcel yang terpaku.
"Begini kali ya rasanya kalau punya istri Dokter. Lagi santai, lagi apapun tiba-tiba harus melaksanakan tugas." Gumam Marcel.
Marcel membuka-buka ponselnya. Dia tersenyum membaca sebuah pesan. Marcel segera membalasnya. "Ok Bos..."
Satu jam kemudian.
Nindi kembali ke ruangannya sambil mengusap peluhnya. Nindi lupa kalau masih ada Marcel disana.
Nindi membuka blazer Dokternya. Marcel tersenyum melihat kedatangan Nindi.
"Hampir jadi batu Aku disini." Canda Marcel.
Nindi tersenyum. "Kamu bisa saja. Mungkin ini salah satu kenapa gak ada pria yang mau sama Aku." Canda Nindi.
"Hahahaha... Kamu bisa saja. Tapi Aku mau.... Sungguuuhh...." Marcel berdiri dan menghampiri Nindi yang sedang bersiap-siap.
Marcel membalikkan tubuh Nindi dan memegang kedua bahu Nindi. "Aku menyukaimu... Maaf... Mungkin ini terlalu cepat tapi dari semalam Aku gak bisa tidur memikirkanmu."
Nindi tersenyum sambil menepis tangan Marcel dari bahunya. "Kan sudah kubilang semalam, jangan memandangku nanti Kamu gak bisa tidur... Hehehehe..." Canda Nindi.
"Aku serius Nindi. Aku ingin lebih dekat denganmu. Boleh, kan?" Tanya Marcel lembut.
Nindi menghela nafas. Nindi berfikir Dia memang harus membuka hatinya untuk yang lain daripada nanti Ibu akan menjodohkannya dengan laki-laki yang dia tidak kenal.
"Ini kenal sebagai teman atau yang lebih serius lagi?" Nindi tak mau nanti dia kecewa lagi.
"Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu." Tegas Marcel.
"Lalu pemberitaan di luar sana tentang dirimu?" Nindi terlihat ragu.
"Kan sudah kubilang, itu hanya gosip. Kamu tahu kan duniaku." Kata Marcel.
"Tapi Aku gak mau jadi bahan gosip media." Kata Nindi.
Marcel menghela nafas. "Aku akan coba menghindarinya sebisa mungkin, tapi Aku gak janji. Tapi Kamu gak usah pikirkan gosip-gosip itu. Aku saja tak pernah menanggapinya. Aku pikir memang sudah resiko." Jelas Marcel.
Nindi menghela nafas kembali. "Baik... Kalau gitu Aku akan mencoba menjalaninya."
Marcel hendak memeluk Nindi tapi Nindi menolak. "Maaf... Aku gak terbiasa seperti itu." Kata Nindi.
"Baiklah..." Marcel menarik nafas dan membuangnya perlahan.
__ADS_1
"Gimana dengan lukamu?" Tanya Marcel.
"Lumayan banyak. Aku meronta sejadi-jadinya. Ternyata tubuhku banyak yang lecet. Tapi sudah dibantu obati oleh Rini. Kamu sendiri?" Jelas Nindi.
"Seperti yang Kamu lihat, Aku baik-baik saja. Tinggal ngilangin lebamnya saja." Kata Marcel.
"Kemarin sudah Aku kasih obat. Sebentar lagi juga akan hilang." Nindi tersenyum sambil meraih tas nya.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Marcel.
Nindi mengangguk. "Eh tapi... Kalau Aku ikut denganmu, bagaimana dengan motorku?" Tanya Nindi.
"Tenang saja, Nanti asistenku yang bawa." Kata Marcel.
Nindi mengangguk. "Baiklah."
"Kamu gak ganti baju?" Tanya Marcel.
Nindi menggeleng. "Celana jeansku sangat ketat, akan terasa sakit jika menyentuh lukaku." Kata Nindi.
Marcel mengangguk-angguk. Marcel menggandeng tangan Nindi dan membantu membawakan barang-barang milik Nindi.
Nindi ingin menepisnya tapi Marcel menggeleng dan memasang wajah memelas. "Please...."
Nindi menghela nafas. Dia memang tak biasa menerima perlakuan seperti itu apalagi dengan pria yang baru semalam Nindi kenal.
Tapi Nindi menuruti permintaan Marcel. Nindi berharap Marcel tak akan mengecewakannya.
__________________
Satu jam kemudian. Nindi dan Marcel sudah tiba di pekarangan rumah Ibu.
Marcel turun dan membukakan pintu mobil untuk Nindi. "Terima kasih." Kata Nindi.
"Auntie...." Panggil Atala yang lansung merangkul bahu Nindi dan membawakan barang-barang Nindi.
"Assalamu alaikum..." Salam Nindi.
"Wa alaikumussalam..." Jawab Mereka yang ada di rumah.
"Loh Nak, kaki Kamu kenapa?" Ibu terlihat khawatir melihat Nindi yang berjalan terpincang.
Atala membantu Nindi. Atala mendudukan Nindi di sofa.
"Silahkan duduk." Pinta Tia pada Marcel. Marcel mengangguk.
Ibu memperhatikan tubuh Nindi dari atas sampe bawah. Ada lecet di leher Nindi, keningnya juga lengannya.
Fitri keluar membawakan minum untuk Nindi dan Marcel.
"Minum dulu ya. Baru cerita." Kata Fitri.
"Terima kasih, Kak." Kata Nindi.
Fitri melihat Marcel. "Ini kan...." Fitri terlihat heran.
"Iya Kak." Kata Nindi.
"Kok bisa kenal dengan Kamu?" Tanya Fitri.
"Marcel... Minum dulu." Pinta Nindi.
__ADS_1
"Iya, terima kasih." Marcel meneguk cangkirnya.
"Jadi begini, Bu." Kata Marcel. Kemudian Marcel menceritakan semuanya kejadian semalam.
"Astaghfirullaaah.... Kata Ibu, Tia dan Fitri. Atala langsung menghampiri Nindi.
"Auntie gak apa-apa kan, sekarang?" Tanya Atala khawatir.
"Nindi baik-baik saja, Anak tampan. Bu nanti sore anterin Nindi ke rumah Mak Elo. Badan Nindi ngilu semua." Kata Nindi.
"Gak usah, Nak. Nanti biar Mak Elo yang kesini. Dia sekaliam mau urut Kak Tia." Kata Ibu.
"Memang Kak Tia kenapa?" Tanya Nindi cemas.
"Kakak gak apa Dek. Cuma kepengen diurut saja, mumpung lagi disini." Kata Nindi.
"Oh..." Nindi mengangguk.
"Oh ya Marcel. Maaf dicuekin. Kalau sudah dirumah ya begini. Rame.... Hehehe... Ini Kakakku yang nomor dua, Kak Tia. Yang itu Kak Fitri. Itu Twins dan Atala anak-anak Kak Tia. Dan yang disana Fathir dan Fahri, Anak-anak Kak Fitri." Nindi memperkenalkan keluarganya.
"Banyak ya yang tinggal disini." Canda Marcel.
"Ya... Kak Tia lagi liburan disini." Kata Nindi.
"Ooohhh..." Marcel mengangguk-angguk.
"Kak... Kak Lambok mana?" Tanya Nindi pada Tia.
"Kakak lagi keluar sama Fahmi. Mau lihat tanah katanya." Kata Tia.
"Memang jadi Kak, mau beli tanah itu?" Tanya Nindi.
"Insya Allah.. Makanya Kakakmu mau memastikan lagi." Jelas Tia.
"Nak Marcel tinggal dimana?" Tanya Ibu tiba-tiba.
"Saya tinggal di apartemen Mall B, Bu." Kata Marcel lembut.
"Sama siapa?" Tanya Ibu lagi.
"Sendiri Bu. Orangtua Saya sudah tidak ada. Mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat dua tahun yang lalu." Jelas Marcel.
"Maaf ya Nak." Kata Ibu.
"Gak apa, Bu. Saya sudah tidak sedih lagi." Kata Marcel.
"Lalu... Kamu punya saudara?" Tanya Ibu lagi.
"Aku punya Kakak perempuan. Tapi saat ini Kakak tinggal di Negara B mengikuti suaminya. Dan Adik perempuan yang tinggal di Negara S, mengikuti Suaminya juga. Jelas Marcel.
Ibu mengangguk. "Jangan sungkan main kesini. Cuma ya keadaannya begini." Kata Ibu.
"Ya Bu, gak apa. Saya senang melihat keluarga ini. Bersahabat. Kalau Ibu mengijinkan, Aku ingin lebih dekat dengan Nindi. Aku mau serius Bu." Kata Marcel.
Nindi terlonjak kaget, tak menyangka Marcel secepat ini mengutarakan isi hatinya pada keluarganya.
Ibu, Fitri dan Tia tersenyum. "Ibu terserah Nindi saja, Nak. Yang menjalani kan Nindi dan Kamu." Kata Ibu.
"Terima kasih Bu." Marcel tersenyum. Marcel melihat Nindi yang mengrucutkan bibirnya.
"Apa-apaan sih Kamu?" Bisik Nindi kesal.
__ADS_1
"Itu tandanya Aku benar-benar serius dengan Kamu." Bisik Marcel lagi.
Tia dan Fitri menggeleng melihat kelakuan sang Adik yang tak bisa baik dengan laki-laki.