
Airmata Lita terus mengalir. Lita benar-benar tak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
Lita tak menginginkan perjodohan ini, apalagi Mama nya bilang, pernikahan akan segera dilaksanakan. Tanpa Lita tahu siapa calon Suami nya.
"Apakah Orangtua ku benar-benar tak mengerti dengan perasaanku? Hik... hik... hik...." Batin Lita.
"Ssttt... Sudah dong Lita, jangan nangis terus. Ini make up nya dari tadi gak bisa nempel.... Cckkk.... Sebentar lagi Mereka datang, dan Kamu belum juga siap..." Gerutu Vita yang terlihat jadi gak sabaran.
"Kamu tega Vit... Tidak membela Aku.... Aku gak mau menikah dengan orang yang sama sekali Aku gak tahu... Hik... hik... hik..." Tangisan Lita.
"Nanti kan Kamu juga tahu orangnya.... Lagi pula Aku sudah mencoba membujuk Mama dan Papa dari kemarin untuk meminta persetujuan Kamu terlebih dahulu... Tapi Aku gak bisa berbuat apa-apa, Mama dan Papa tetap dengan pendirian Mereka..." Vita menghela nafas sambil melihat riasan diwajah Lita.
"Aacchh... Mata mu jadi jelek, sembab gini... Kamu nangis terus sih..." Vita nampak kecewa.
"Biarin... Buat Aku jelek... Biar Mereka gak mau menerimaku..." Gerutu Lita. "Enak saja main lamar orang tanpa kenalan dulu...!" Lita benar-benar kesal.
"Aku merasa Mama dan Papa sudah berubah... Mereka sudah gak sayang lagi sama Aku... hik... hik... hik..." Lita masih menangis.
"Iisshhh... Kok gitu sih ngomongnya? Mama dan Papa sangat menyayangi Kita sampai akhir hayat Mereka..." Vita membela kedua orangtua nya.
"Kalau Mereka sayang Aku Mereka gak akan memaksaku menikah sekarang.... hik... hik... hik..." Lita terus tak terima.
"Karena ini yang terbaik untuk Kamu, Sayang...." Vita mencoba tersenyum pada Lita tapi Lita tak menanggapi senyuman kembarannya.
"Kak.... Tamu nya sudah datang..." Tiba-tiba Tristan sudah berdiri di ambang pintu kamar Lita. "Kak Lita dan Kak Vita segera turun ke bawah yah... Mama yang meminta..." Kata Tristan lagi.
"Ya Allah..." Jantung Lita berdegub kencang. Kepala nya menggeleng kuat-kuat. "Aku gak mau...." Lita memundurkan tubuhnya. Wajahnya nampak kacau.
"Lita... temui dulu... Nanti baru Kamu bisa kasih keputusan..." Pinta Vita lembut.
Lita terus mundur sambil menggelengkan kepala. Airmata nya terus mencelos ke pipi. "Aku gak mau...!! Tolong jangan paksa Aku...! Ya Allah... Tolong Lita.... Tristan..!! Tolong Kakak... Bawa Kakak pergi dari sini." Tatapan mata Lita terlihat nyalang.
"Kak...." Tristan menghampiri Lita. "Kalau Kakak gak mau nanti Aku bujuk Mama dan Papa... Tapi Kakak jangan seperti ini...." Tristan terlihat khawatir melihat tatapan mata Lita yang tiba-tiba kosong dan bukan Lita yang berada dihadapan Mereka.
"Aku gak mau...!!! Pergi..!! Pergi..!! Kalian Semuaaaa!!" Lita histeris.
"Astaghfirullaah..!! Lita..!! Istighfar!!" Vita terlihat panik. "Mama...!! Papa..!!" Teriak Vita. "Dek panggil Kak Atala, cepat!!"
"Kalian semua jahat!! Aku benci Kalian!!!" Lita makin histeris. Lita melempar apa saja yang ada di dekatnya kala Vita mencoba mendekati nya.
__ADS_1
"Maaf... Mama... Papa... Kak Lita...!" Teriak Tristan.
"Ada apa Dek?" Tanya Atala yang langsung berlari ke atas tanpa menunggu jawaban Tristan.
"Kenapa Nak? Ada apa dengan Kakak mu?" Lambok nampak panik.
"Kak Lita ngamuk...! Aku juga gak tahu..!" Kata Tristan.
Sontak saja semua orang yang berada di ruang tamu naik keatas termasuk tamu Mereka.
"Astghfirullaah..." Ustadz Joey melihat kamar Lita yang sudah seperti kapal pecah. Atala sedang menenangkan Vita yang menangis melihat kembarannya.
Atala juga tak luput mendapat lemparan parfum dari Lita. Lita sudah tak sadar. Jiwa nya entah dimana.
"Lita...!!" Tia melihat Puteri nya yang sudah berantakan dan bringas, pingsan dibuatnya. Mau tak mau Lambok membopong istri nya ke kamar Mereka.
Ustadz Joey merasa ada yang aneh dengan Lita. Dia meminta semua orang keluar. Hanya Atala dan Tristan yang menemani Ustadz Joey di dalam kamar Lita.
A ' Uudzubillaahiminasysyaithaanirraajiiim.... Bismillaahirrahmaanirraaahiiimmm. Ustadz Joey memulai melafazkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Lita hanya tertawa histeris. "Kamu siapa? Ustadz? Kiyai?? Baca apa?? Aku juga bisa?? Hahahahaha...!!" Bukannya takut, Lita malah tertawa sambil ikut melantunkan ayat-ayat suci Al Quran yang dibaca Ustadz Joey.
"Lita... Sayang... Sadar Nak...!" Ustadz Joey mencoba melembut dan mendekat pada Lita yang sudah bersiap melempar kursi pada Mereka.
Lambok masuk kedalam kamar Lita. "Astaghfirullaah... Apa yang terjadi Ustadz?"
"Kak Lita terasuki Jin. Tapi Jin nya bisa mengaji Pa...." Kata Tristan sambil terus waspada.
"Bagaimana ini Ustadz? Apa yang harus Kita lakukan?" Tanya Atala. Atala sudah beberapa kali hendak meringkus Lita namun kekuatan tubuh Lita tak terduga, Atala nyaris terlempar.
"Sayaaang.... Ini Aku..." Tiba-tiba Leo ikut masuk ke kamar Lita karena mendengar kegaduhan yang tak berkesudahan.
Lita menatap wajah Leo penuh kebencian. "Kamu!! Kamu laki-laki brengsek! Penzina tukang selingkuh!! Tidak pantas Kamu bersanding dengan Lita!! Lita hanya pantas bersanding denganku!" Tubuh Lita melempar kursi ke arah Leo.
Leo menangkisnya. Leo mencoba mendekat. "Sayang... Ini Aku... Leo... Aku sangat mencintaimu... Aku sudah muallaaf dan hari ini Aku memenuhi keinginanmu... Sadarlah Sayang...."
"Berhenti Kau!! Jangan dekati Lita!! Dia calon istriku!!" Mulut Lita terus meracau.
"Astaghfirullaah... Tuan Lambok, apa yang paling tidak disukai oleh Lita?" Tanya Ustadz Joey. Semua ayat Al Quran yang Dia baca, diikuti oleh jin yang merasuki tubuh Lita. Ustadz Joey tak ada pilihan lain.
__ADS_1
Lambok menggeleng. "Lita tak suka dengan penghianatan..." Lambok nampak ragu.
"Bukan itu maksud Saya... Yang Lita tidak ingin memakannya atau menciumnya?" Tanya Ustadz Joey lagi.
Lambok menggeleng.
"Ustadz... Aku tahu..." Leo seketika mendapat ide. Leo bergegas berlari keluar rumah menuju mobilnya.
"Kamu mau kemana Nak?!" Teriak Lambok.
"Sebentar Om..." Teriakan Leo terdengar.
"Apa yang akan penghianat itu lakukan!? Hah!!" Tanya Lita yang beringas.
"Sayang.... Sadarlah Nak... Maafkan Papa... Papa hanya ingin Kamu bahagia... Leo ingin meminangmu... Papa gak bisa menolak Sayang... Papa tahu, Kamu sangat mencintai Leo..." Lambok mencoba merayu sisi lain dari tubuh Lita.
"Tidaaakkk!! Dia telah menghianatiku berulang kali...!! Aku membencinya!!" Teriak Lita dan satu lemparan parfum kembali Lita layangkan ke arah Lambok.
"Litaaa!! Jangan seperti itu!! Itu Papa mu!!" Geram Atala.
"Kak... Kakak gak kasian sama Aku? Aku sayang sama Kakak..." Tristan terlihat menangis tak kuasa melihat keadaan Kakak yang sangat Dia cintai.
Lita memandang Tristan Adik kesayangannya. Airmatnya mengalir. Ingin sekali Lita memeluk sang Adik dan mengusap airmatanya. Namun tubuhnya terasa berat.
"Teruskan Dek..." Bisik Atala yang melihat perubahan sikap Lita pada Adik kesayangannya.
Tristan mendekat. "Kak.. Kita sudah janji untuk selalu bersama... Kakak janji akan liburan sama Aku setelah Kakak lulus Kuliah... Kakak lupa? Atau Kakak sudah tak sayang lagi sama Aku? Hik... hik... hik..." Tristan terus menangis.
"Gak Dek... Kakak sayang sama Kamu... Tapi... Orang-orang ini jahat!! Ingin memisahkan Kita!! Aacchhh...." Lita histeris manakala dirinya mencium sesuatu.
"Apa yang Kamu lakukan, Dek!? Kamu mau meracuni Kakak??!!! Kamu gak sayang Kakak!!?? Kamu sama saja dengan Mereka..!!! Aaacchhhh... Pergi...!!!" Lita terus histeris.
Leo sudah kembali ke kamar dengan nafas tersengal. Di jemarinya sudah terpaut 4 batang rokok yang terus Leo hisab dan asapnya membuat Lita kesakitan.
"Pergiii... Uhuk... uhuk... Pargiii!!" Lita terlihat melemah.
Leo terus mengepulkan asap rokoknya sambil terus mendekat.
"Kau....! Laki-laki penghianat! Apa yang Kau lakukan!?? Hentikan!!" Sisi lain tubuh Lita berteriak tak menyukai bau rokok yang sangat menyengat. Tubuh Lita menerjang ke arah Leo, namun selanjutnya.......
__ADS_1