
Friska benar-benar bahagia hari ini. Untuk sesaat Dia dapat melupakan kesedihannya. Fathir benar-benar membuatnya senang. Sikap Fathir pun sangat baik pada Friska.
"Terima kasih ya Fathir.... Aku bahagia sekali hari ini." Kata Friska berbinar.
"Ya gak apa. Aku ikhlas kok. Apalagi kalau Kamu mau berkata yang sejujurnya. Aku pasti akan membantumu sebisa yang Aku bisa." Kata Fathir.
Friska menunduk. Ingin sekali Dia bercerita pada Fathir dan Atala. Tapi Dia takut, anaknya kelak tak punya Ayah.
"Kamu jangan khawatir. Kejujuranmu gak akan sia-sia. Aku dan Atala akan mencari solusi untuk kebahagian Kamu dan anakmu kelak." Fathir mencoba membuka hati Friska.
Tiba-tiba Friska menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Fathir yang tinggi besar dan kekar.
"Ada apa Friska?" Fathir dibuat bingung oleh kelakuan Friska yang seperti orang mengajak main petak umpet.
Sontak saja Fathir memutar menghadap Friska.
"Ssttt... Fathir Kamu jalan saja di depanku." Bisik Friska. Fathir mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan Friska? Seperti orang yang sedang bersembunyi? Tapi dari siapa?" Fathir masih bingung walau Dia menurut apa yang Friska minta. Mata Fathir mencari-cari siapa yang Friska hindari.
"Friska...!" Tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang tubuh Friska.
Friska memejamkan matanya. "Aduuuhhh... Ngeliat juga kan Dia."
Fathir menoleh menghadap ke arah Friska yang berada dibelakang tubuhnya. Fathir melihat Friska yang sepertinya enggan bertemu dengan orang itu.
"Friska... Dia dibelakangmu, apa Kamu mengenalnya?" Tanya Fathir menyelidik.
"Mau gak mau Friska menoleh kearah suara itu karena Fathir memintanya. Aku... Aku tak mengenalnya.... Kamu siapa?" Tanya Friska pura-pura.
Fathir mengerutkan keningnya. "Sepertinya Aku mengenalmu." Kata Fathir mencoba mengingat.
"Gery.... Aku Gery... Fakultas Tehnik jurusan Informatika." Katanya mengulurkan tangan pada Fathir.
Fathir mengangguk. "Iyaaa... Aku baru ingat. Kamu senior di Fakultas Kami." Kata Fathir tersenyum.
"Eh Friska... Masa Kamu gak kenal? Dia kan seangkatan denganmu." Tegas Fathir.
"Oh.. Iya.. Eh.. Aku lupa. Aku kan sempat cuti setahun, dulu." Kata Friska mencoba menyembunyikan wajahnya yang terlihat gugup.
"Friska... Aku Gery... Aku teman dekatmu saat Kita baru masuk Kampus." Gery akhirnya membukanya di depan Fathir.
"Apa?! Jadi Kalian memang kenal?" Tanya Fathir.
Gery mengangguk. Gery menatap lekat wajah Friska. Dia juga meneliti postur tubuh Friska yang terlihat berisi. "Ternyata Kamu bahagia menikah dengan Atala..." Batin Gery.
"Friska....Kamu sombong sekali....Teman baikmu satu angkatan, Kamu lupakan begitu saja?!" Fathir nampak kesal.
Sontak saja Friska kaget karena Fathir membentaknya. "Tidak Fathir... Aku tak mengenalnya! Dia bukan orang baik-baik! Dia yang mengajakku minum-minum pada malam laknat itu!" Tiba-tiba Friska membuka semuanya.
"Apaaa..!?" Fathir terperanjat.
"Friska..." Gery hendak meraih lengan Friska tapi tiba-tiba...
__ADS_1
Buuukkk... Buuukkk.... Fathir telah melayangkan bogem mentahnya ke arah wajah Gery dan perutnya.
"Fathiiirr...!!" Friska histeris karena Fathir memukuli Gery.
"Kurang ajar Lo!! Lo yah yang bikin susah hidup teman Gw?! Atau jangan-jangan Lo yang sudah menodai Friska?!" Fathir telah menggenggam kerah baju Gery yang sudah berlumuran darah.
"Jawaaab!!!!" Fathir tak dapat menahan emosinya lagi.
Friska terlihat shock. Dia berpegangan pada Meja kosong di sebuah Foodcourt di dalam Mall itu.
Para pengunjung dan karyawan yang melihat kejadian itu sudah mengkrumuni Mereka.
Friska sudah terkulai lemas. Dia tak dapat lagi menahan berat tubuhnya.
Beberapa orang menahan tubuh Friska agar tak terjatuh ke lantai.
"Maasss... Ini istrinya pingsan." Kata Seseorang.
Sontak saja Fathir menoleh kearah Friska dan setengah mendorong tubuh Gery yang sama sekali tak melakukan perlawanan.
Gery sudah pasrah. Semua memang kesalahannya dan rasa pengecutnya.
Fathir langsung membopong tubuh Friska. Gery juga membantu Fathir membopong tubuh Friska.
"Lo masih hutang penjelasan sama Gw!" Ketus Fathir.
Gery hanya diam. Dia sudah benar-benar pasrah. Dia tak mau lagi menghindar. Dia sangat mencintai Friska.
Fathir mendudukan tubuh Friska di kursi penumpang sebelahnya. Dia tak mau menidurkan Friska di jok belakang dan Gery bebas meraba-raba tubuh Friska.
"Maaf..." Kata Gery. Gery duduk di jok belakang. Sesekali Fathir melihat Gery lewat kaca spion takut-takut Gery menyerangnya dari belakang.
"Tenang saja. Aku gak akan menyerangmu." Kata Gery seakan tahu kekhawatiran Fathir.
Fathir mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Gery sudah mengirim pesan pada Papa nya.
Tak lama Fathir sudah memarkirkan mobilnya di depan loby UGD Rumah Sakit. Gery langsung setengah berlari meminta perawat membawa brankar untuk Friska.
Tak lama tubuh Friska sudah berada diatas Brankar dan segera ditangani Dokter.
"Dasar pengecut Lo!" Amarah Fathir yang dari tadi mendengarkan cerita Gery selama perjalanan ke Rumah Sakit.
Gery hanya menunduk. Dia memang pengecut.
FLASH BACK ON
Friska tergesa keluar dari Kampus karena hari sudah lewat maghrib. Dia sangat kesal karena Atala tak juga datang menemuinya.
Friska sedang menunggu taksi tapi sebuah mobil berhenti persis di depan Friska.
"Friska..." Panggilnya.
__ADS_1
"Gery...?!" Teriak Friska senang.
"Kamu mau kemana? Pulang? Ayo Aku antar." Tanya Gery.
"Aku lagi BT..." Friska mengrucutkan bibirnya.
"Ayo masuk. Sudah lama Kita tak ngobrol." Pinta Gery ramah.
Friska menurut saat Gery membukakan pintu mobil nya untuk Friska, dari dalam.
Friska tersenyum dan segera masuk kedalam mobil. Duduk di sebelah Gery yang menyetir.
"Kamu mau kemana?" Tanya Gery lembut. Gery masih sangat mencintai Friska.
"Aku gak tahu. Dari tadi Aku meminta temanku untuk datang, tapi Dia tak menghiraukanku." Kata Friska yang masih mengrucutkan bibirnya. Dan itu membuat Gery sangat gemas.
"Ke Cafe milik temanku saja, yah. Bagus kok tempatnya." Kata Gery.
"Terserah Kamu saja." Kata Friska yang benar-benar butuh teman untuk bersandar.
"Kamu apa kabar, Friska? Apa Kamu sudah lulus, sekarang?" Tanya Gery.
Friska mengangguk. "Aku baru saja terima kelulusanku." Kata Friska tak bersemangat.
"Heeyyy... Ada apa? Ceritalah denganku... Aku masih teman baikmu, kan?" Tanya Gery sangat perhatian.
Friska menatap Gery yang Fokus menyetir. "Apa Kamu sudah tak mencintaiku lagi? Atau sakit hati padaku?" Batin Friska.
Gery menoleh pada Friska yang menatapnya. Gery meminggirkan mobilnya dan menatap wajah Friska yang tirus.
"Ada apa? Apa Aku terlihat seperti orang jahat?" Tanya Gery yang merapikan rambut Friska dan menyelipkannya ke belakang telinga Friska.
Friska langsung menunduk. Friska malu karena dulu pernah menolak Gery karena penyakitnya. Dia gak mau Gery kecewa karena Dia sakit.
"Maaf..." Kata Gery. Gery kemudian melajukan kembali mobilnya dan membawa Friska ke Cafe temannya, Dion.
Friska masih terus menghubungi Atala tapi tak kunjung diangkat.
"Kamu telpon siapa?" Tanya Gery.
"Temanku..." Kata Friska kesal.
"Kekasihmu?" Tanya Gery.
Friska menggeleng. "Dia tak mencintaiku. Dia lebih memilih perempuan lain yang biasa-biasa saja." Kata Friska sedih.
"Lalu bagaimana dengan permintaanku dulu? Aku masih sangat mencintaimu." Kata Gery.
Friska tak menjawab. Hatinya sudah terlanjur terpaut pada Atala.
Gery menghela nafas. Rasa nya sakit sekali melihat orang yang dicintainya mencintai laki-laki lain, namun laki-laki itu tak menyambut cinta Friska.
"Aku mohon Friska.... Aku bisa membahagiakanmu. Kita teman baik dulu. Tapi tiba-tiba Kamu menghilang." Kata Gery.
__ADS_1
"Aku.... Aku gak tahu Gery." Kata Friska masih menunduk. Friska sadar, Gery adalah teman baiknya. Dia dulu memang menyukai Gery tapi setelah vonis Dokter, Friska tak mau meyakiti Gery di kemudian hari.
Namun pesona Atala membuatnya lupa akan penyakitnya dan Friska seperti mendapat kehidupan baru walau Atala tak pernah menganggapnya lebih. Namun dekat dengan Atala sangat membuatnya bahagia.