CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Tak Ingin Menyakiti


__ADS_3

"Kenapa Kamu banyak diam? Ada apa, Sayang?" Tanya Vero melihat kemurungan Lita.


"Eng... oh.. gak Bang... Aku gak apa. Aku cuma kangen sama Mama dan Papa." Lita menunduk. Lita sebenarnya ingin sekali menanyakan perihal hubungan Vero dengan Diah, tapi ini tidak fair kalau Mereka berdua tidak dihadapkan. Pasti Mereka saling membela diri.


"Tuh kan bengong lagi." Tegur Vero.


"Bang....." Lita nampak ragu.


Vero menatap wajah cantik Lita. "Ada apa? Katakanlah... Aku merasa Kamu menjauhiku akhir-akhir ini. Apa karena Nenek? Atau karena yang lain? Diah?" Vero langsung to the point. Vero sedikitnya juga curiga pasti ada kaitannya dengan Diah.


"Jadi Abang sudah tahu?" Lita menatap lekat mata Vero, mencari kejujuran disana.


"Tahu apa? Lita... please, jangan berteka-teki pada Abang... Abang khawatir." Vero mengusap lembut pipi Lita.


Mereka memang sedang bersantai di taman di atas Mall B, tepatnya taman apartemen Mall B, setelah selesai makan malam.


"Apa yang Diah katakan padamu?" Vero kembali bertanya.


Lita menunduk menyembunyikan wajah sedih nya, di satu sisi Lita tak ingin kehilangan Vero sebagai calon suaminya, di sisi lain, Lita juga gak mungkin menyakiti perasaan sahabat baiknya. Lita harus memilih antara sahabat dan kekasih.


Vero mengangkat dagu Lita dengan lembut dengan jemarinya. Vero sudah dapat melihat ada airmata yang sudah mengambang disana.


"Maaf Bang...." Lita buru-buru mengusap airmatanya tapi tangan Vero lebih cepat. Dia memegang tangan Lita yang hendak mengusap airmatanya.


Vero menggeleng. Dia langsung mengusap airmata Lita dengan lembut. Mengecup kedua mata Lita. Lita hanya diam terpaku mendapat perlakuan manis dari Vero.


"Apa Diah mengatakan padamu, kalau Aku dan Diah tidak pernah putus?" Vero langsung berkata setelah menghela nafas yang terasa sesak di dada nya.


"Bagaimana Abang bisa tahu?" Lita tak percaya. "Apa Diah menelpon Abang lagi?" Selidik Lita.


Vero menggeleng. "Aku sudah mengganti nomor ponsel Ku jauh sebelum Aku menyatakan Cinta padamu. Diah tak tahu nomor baru Ku, kecuali Kamu atau Vera yang memberikannya." Jelas Vero.


Lita menunduk. Diah memang tak meminta nomor ponsel Vero padanya. Diah hanya mengatakan Vero tak pernah merespon telponnya.


"Apa yang Diah katakan padamu, saat Kalian bertemu tadi? Apa Diah menanyakan nomor ponsel Ku?" Tanya Vero.


Lita menggeleng. "Tidak Bang. Diah tak meminta nomor ponsel Abang. Diah bilang, masih sangat mencintai Abang. Diah gak bisa pisah dengan Abang. Diah masih menunggu Abang." Lita menunduk menyembunyikan kesedihannya.


Vero menangkup kedua pipi Lita dengan lembut. "Hubungan Ku sudah berakhir dengan Diah, saat Aku kuliah ke Kairo. Diah memang tak pernah mau putus dengan Ku, tapi Aku gak bisa meneruskan hubungan Kami." Vero terlihat bersedih. Ada sesuatu yang Dia sembunyikan tapi Vero tak mau jujur mengatakannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa Bang? Apa Diah punya salah sama Abang? Harus nya Abang selesaikan dulu masalah Abang dengan Diah. Aku gak mau dibilang perusak hubungan Abang dengan Diah." Tegas Lita.


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Diah.... Tapi Diah tidak mau." Vero kembali menunduk.


"Tapi kenapa Bang? Ada apa?" Selidik Lita.


Tiba-tiba ponsel Vero berdering. Vero langsung merogohnya dari saku celana panjangnya. "Kakek...?? Sebentar yah Sayang... Aku angkat telpon dari Kakek." Ijin Vero.


Lita mengangguk dan sedikit terlihat khawatir.


"Assalamu alaikum Kek.... Apa Kek?!..... Baik Kek.... Vero akan segera ke Rumah Sakit." Vero memutus sambungan telpon.


"Ada apa?" Lita terlihat cemas.


"Aku harus ke Rumah Sakit sekarang. Nenek...." Vero tak melanjutkan kata-katanya.


"Aku ikut..." Lita pun bergegas.


"Tidak Sayang... Kamu disini saja. Kamu istirahat. Nanti Aku kabari Kamu." Pinta Vero.


Lita menghela nafas. "Baiklah..." Lita mengalah.


"Jaga dirimu...." Vero meninggalkan Lita setelah menggenggam tangan Lita.


_________________________


Seminggu sudah Lita bolak-balik ke Rumah Sakit menjenguk Neneknya Vero. Tapi Lita selalu menghindari Vero. Dia akan datang saat Vero sudah berganti jaga dengan sang Kakek.


"Nak..... Kamu baik sekali..." Bunda Dinda sudah mulai sedikit lancar berbicara. Lita selalu mengajaknya dan menemani Nenek Dinda untuk terapi.


Lita tersenyum. "Nenek sudah Puteri anggap seperti Nenek Puteri sendiri." Kata Lita.


"Nak... Kalau Kamu mau menganggap Nenek ini, Nenekmu... berarti Kamu mau memenuhi permintaan Nenek." Kata Bunda Dinda.


Lita sedikit terkejut. "Apa...?! Apa.. Nek?!" Lita gugup.


"Menikahlah dengan cucu Nenek. Dia baik juga tampan. Dia juga mapan." Promosi Bunda Dinda.


Lita menunduk. "Nenek ada-ada saja. Puteri kira ada apa."

__ADS_1


"Nenek serius Nak. Kamu besok datanglah agak awal. Nenek akan menahan cucu Nenek agar Dia lebih lama disini." Kata Bunda Dinda.


Lita tersenyum. "Nenek.... Apa Nenek yakin kalau cucu Nenek akan menerima Puteri?" Tanya Lita.


"Yakin! Cucu Nenek, cucu yang baik dan penurut. Dia akan menuruti kemauan Nenek." Kata Bunda Dinda sangat yakin.


"Tapi kan... Nenek baru saja mengenal Puteri. Bagaimana Nenek bisa percaya begitu saja pada Puteri?" Selidik Lita.


Bunda Dinda menghela nafas. "Sebenarnya Nenek lebih baik menerima Kamu jadi calon istri untuk cucuku daripada harus berbesanan dengan Keluarga Nia...." Bunda Dinda terlihat kesal.


Lita tersenyum getir. "Begitu benci nya Nenek pada keluarga Nenek ku." Batin Lita.


Bunda Dinda mengelus rambut Lita yang panjang. Lita memang sedang berjongkok dihadapan kursi roda yang sedang diduduki Bunda Dinda.


"Nenek yakin sekali, Vero akan menyukaimu. Setiap hari Nenek bercerita tentang Kamu padanya. Dan Vero terlihat senang." Kata Bunda Dinda.


"Oh ya... Sampai segitu nya Nek?" Tanya Lita tak lupa menyunggingkan senyuman.


Bunda Dinda mengangguk. "Vero penasaran sekali ingin cepat-cepat bertemu denganmu Nak." Bunda Dinda masih mengelus rambut Lita yang panjang.


Lita bangun dari jongkoknya. Dia segera mendorong kursi roda Bunda Dinda. " Sinar Matahari nya sudah mulai panas, Nek. Kita masuk yah. Nenek habiskan sarapan Nenek tadi." Bujuk Lita.


Bunda Dinda tersenyum. "Alangkah beruntungnya Orangtua Mu, memiliki Puteri seperti Kamu, Nak." Puji Bunda.


Lita hanya tersenyum sambil terus mendorong kursi roda milik Bunda Dinda.


_________________________


Lita sudah berkemas. Dia memutuskan akan kembali ke Jakarta sore ini. Lusa Lita akan terbang ke Negara J. Karena email tentang penerimaan Mahasiswa S2 telah Dia terima. Dan Lita berhasil lulus menjadi Mahasiswa di Universitas Negara J.


Lita memandang foto nya bersama Nenek Dinda di ponsel nya. "Maafkan Aku, Bang Vero. Aku gak bisa berbahagia diatas penderitaan sahabat Ku sendiri. Aku harap Abang mau menerima Diah lagi dan memperbaiki semuanya."


Lita menghela nafas. Airmata nya telah membasahi pipi nya. Rencana Bunda Dinda mempertemukan Lita dan Vero akan gagal total, karena Lita sudah bersiap akan meninggalkan Sumatera.


"Kamu sudah siap, Sayang?" Tanya Auntie Nindi yang berdiri di depan pintu kamar Lita.


Lita buru-buru mengusap airmatanya.


Nindi menghampiri keponakannya. "Kamu kenapa? Apa ini soal Vero dan Diah?" Tanya Nindi sambil memeluk kepala Lita dan membenamkan di dadanya. Nindi mengusap kepala Lita dengan rasa kasih sayang.

__ADS_1


"Maafkan Aku Auntie... Aku gak bisa menyatukan keluarga Nenek dengan Keluarga Kakek Burhan." Lita terisak.


Nindi melerai pelukannya. "Sssttt... Jangan bersedih kalau untuk masalah itu... Kamu ingat? Kesabaran dan kebaikan akan ada balasan yang setimpal. Bukalah hati mu untuk hati yang lain." Nasehat Nindi.


__ADS_2