
"Auntie... Kenapa Dia disini?!" Lita membuang wajahnya saat sadar Leo masuk ke ruang perawatannya. Seluruh keluarga nya sudah kembali ke Rumah. Karena jam besuk yang hanya sampai jam 7 malam.
"Sayaaang...." Leo mendekat.
"Jangan sentuh Aku!!" Lita histeris.
"Sayaaang.... Gak boleh gitu..." Nindi menasehati Lita seperti anak kecil.
"Aku gak mau Dia disini!!" Lita kembali histeris.
Leo menghela nafas. "Sabaar..." Batinnya.
"Lalu siapa yang akan menjagamu? Auntie dan Uncle akan kembali ke Sumatera. Lagi pula, Dokter Leo yang menangani Kamu selama Kamu dirawat disini?" Jelas Auntie.
"Bagaimana mungkin? Dia kan gak ada ijin praktek disini?" Lita masih ketus.
"Tapi Uncle mu sudah mengurus semuanya. Rumah Sakit ini masih terhubung dengan Rumah Sakit Negara J. Para Dokter disana, meminta Dokter Leo menangani Kamu, karena Dokter Leo sudah disini. Dan Kamu pasien Dokter Leo waktu di Negara J." Jelas Nindi.
"Aku gak bakal sembuh kalau ada Dia disini..." Lita terus saja ketus. Mata nya tak mau melihat sedikitpun ke arah Leo.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang....Ucapanmu adalah Doa mu..." Kata Leo lembut. Leo tahu Lita masih kesal pada dirinya karena kesalahpahaman yang belum Leo utarakan padanya.
Sedangkan Nindi tak menghentikan kegiatannya mengemas barang-barangnya karena akan langsung ke Sumatera. Keluarga nya sudah bersiap di rumah Lambok tinggal menunggu kepulangannya.
Lita terisak.... Lita sedih seluruh keluarga nya berangkat ke Sumatera untuk menghadiri pernikahan Fahri. "Kenapa gak ada yang menjagaku..?? Hik... hik... hik..."
"Sayaaang...." Nindi mengelus pipi Lita. "Mama dan Papa mu akan kesini esok pagi. Kasihan kan kalau Orang tua mu menemani mu disini. Jadi malam ini Dokter Leo yang menemani mu..." Ucap Nindi lembut dan terus membujuk.
"Sudah siap, Sayang?" Tiba-tiba Marcel sudah masuk ke ruang perawatan Lita.
"Sudah Sayang... Tapi Lita...." Nindi menjeda perkataannya.
Marcel tersenyum melihat Lita yang sudah manyun karena ada Leo disana.
"Sayang.... Uncle dan Auntie tidak bisa lama disini. Kasihan pasien Kami di Sumatera. Barusan Uncle mendapat kabar ada pasien baru masuk terkena kanker..." Marcel mencoba menenangkan Lita.
"Lagi pula tak ada salahnya kan Dokter Leo disini? Dia, Dokter mu saat di Negara J." Kata Marcel lagi.
Lita tak menjawab. Airmata nya terus saja mengalir.
Nindi melihat jam dipergelangan tangannya. "Kita bisa telat." Kata Nindi. Nindi kemudian mengecup kening Lita. "Dokter Leo, Aku titip Puteri ku. Jaga Dia baik-baik." Pinta Nindi pada Leo sambil mengerlingkan matanya.
"Ya Dokter Nindi..." Kata Leo meyakinkan.
Marcel juga mengecup kening Lita. "Cepat sembuh yah.... Dokter Leo jangan digalakin. Kasihan jauh-jauh dari Negara J cuma mau ngobatin Kamu." Marcel berbohong.
"Auntie... hik... hik... hik... Uncle.... Jangan tinggalin Aku..." Lita makin terisak.
"Maaf Sayang... Kami sudah terlambat..." Kata Nindi.
__ADS_1
"Assalamu alaikum...." Salam Nindi dan Marcel.
Lita menjawab sambil berlinangan airmata.
Leo mengelus lengan Lita. "Sayaang... Maafkan Aku...."
Lita menarik lengannya yang tersentuh oleh Leo. Wajah nya masih menyamping tak mau melihat Leo. Badannya bergetar karena masih menangis.
Leo menghela nafas.
Seorang perawat masuk membawakan makan malam dan obat untuk Lita.
"Terima kasih, Sus." Kata Leo.
Perawat itu tersenyum dan menunduk, kemudian berlalu.
"Kamu makan ya... abis itu minum obat." Pinta Leo sangat lembut.
Lita tak menjawab. Lita masih membuang muka.
Mau tak mau Leo berpindah ke arah wajah Lita. Leo tersenyum. Dan Lita kembali melengos.
"Tinggalkan Saya!" Pinta Lita ketus.
"Tapi...." Leo tampak terkejut.
"Tinggalkan Saya!!!" Lita berteriak.
Sepeninggal Leo, Lita hendak menggapai makan malam nya yang di letakan di sebelah kanan tubuhnya.
Lita sangat berusaha namun tubuhnya tak bisa digerakan. Semua terasa kaku. Lita mencoba menggapai dengan tangannya tapi tangan itu seakan lemah tak bertulang.
"Ya Allah... Lita kenapa? Kenapa semua nya tidak bisa Lita gerakan?" Lita belum menyerah. Tapi semuanya sia-sia. Lita mencoba menghibur dirinya kalau tubuhnya tak bisa digerakan karena telah lama berbaring saja.
Akhirnya Lita menyerah. Tak lupa Lita melafalkan ayat-ayat Al Quran untuk menghibur dirinya. Hingga matanya terpejam.
"Dokter.... Pasien Lita tak menyentuh makanannya." Kata Perawat yang kembali ingin mengambil peralatan makan di ruang Lita.
"Apa? Berarti Dia juga belum minum obat?" Tanya Leo.
Perawat itu mengangguk. "Nona Lita tertidur, Dokter."
"Baiklah... Terima kasih Sus." Kata Leo dan bergegas ke ruang perawatan Lita. Leo langsung membuka aplikasi delivery. Dia mencari menu kesukaan Lita. Leo tersenyum manakala mendapati ada Resto bubur ayam. Leo pun memesannya. Karena Lita belum boleh makan yang agak keras.
"Assalamu alaikum..." Salam Leo ketika masuk ruang perawatan Lita. Tak ada jawaban. Hening...
Leo memandang wajah Lita yang terlihat tenang saat terpejam matanya. Leo menarik selimut untuk Lita sampai ke dada. Leo mengusap pipi Lita dengan lembut.
Tiga puluh menit kemudian.
__ADS_1
"Dokter... Pesanan Anda sudah sampai." Kata seorang Perawat.
"Oh iya... Terima kasih..." Kata Leo sambil mengambil bungkusan itu. Perawat pun meninggalkan ruangan itu.
Leo meletakan makanan itu di atas nakas. Leo duduk di samping brankar Lita. "Sayaaang..." Leo menepuk pipi Lita dengan lembut.
"Hhmmm..." Lita manja.
"Makan yah... Kamu belum makan dan minum obat..." Kata Leo dengan sabar.
Lita membuka matanya. Dia tersentak Leo berada di sampingnya. "Kenapa Dokter masih disini?!" Ketus Lita.
"Kamu belum makan. Makanya Aku kesini." Kata Leo yang meredam kekesalannya.
Lita merasakan perutnya berbunyi. Dan Leo mendengarnya.
"Tuh kan... Perutnya minta diisi." Canda Leo mencoba menggoda Lita.
"Aku suapin yah?" Tanya Leo hati-hati.
Lita kembali membuang wajahnya. Leo menghela nafas.
"Aku tidak berpelukan dengan Bella. Tiba-tiba Dia menghampiriku dan langsung memelukku..." Leo menjelaskan kejadian di Bandara Negara J. Leo sudah tak tahan Lita mendiaminya. "Saat Kamu melihatnya, Aku akan mendorong tubuh Bella, namun melihatmu terpaku disana, Bella kembali memelukku." Jelas Leo dengan jujur.
Tak ada tanggapan dari Lita, Leo kembali menceritakan kejadian saat itu.
"Aku sudah tak punya perasaan apapun pada Bella. Bagiku Dia sudah tidak ada. Dia sudah menghancurkan hatiku hingga Aku terpuruk. Kini Dia mau kembali memungut serpihan itu. Tapi Aku tidak mau. Hatiku untuknya sudah ku buang ke tempat sampah." Leo terus meyakinkan Lita.
"Huk... huk... huk..." Lita menangis. Entah apa yang membuatnya begitu sedih. Lita sangat mencintai Leo, tapi Lita sadar, penyakitnya kini menggerogoti tubuhnya. Walau Lita masih optimis tapi Lita merasa Dia gak pantas bersanding dengan Leo.
Leo mendekati Lita yang menangis. Ragu... Tapi akhirnya Leo memeluk tubuh Lita yang lemah. Lita terus menangis.
Leo mengelus kepala Lita yang tertutup hijab. "Aku mencintaimu... Jangan pernah meragukan cintaku... Aku gak bisa hidup tanpa mu..."
"Badanku lumpuh... Sebelah tanganku tak bisa kugerakkan... huk.. huk.. huk..." Lita terus menangis.
"Apa?!" Leo terperanjat tak percaya. Dia melerai pelukannya.
"Aku alergi obat... Huk... huk... huk.." Lita masih menangis.
"Tapi... Ini obat yang sama saat Kamu berobat di Negara J." Leo memperlihatkan obat yang akan Lita konsumsi dan obat yang akan disuntikan ke infus Lita.
"Aku alergi obat yang......" Lita hendak menunjuk obat yang dimaksud tapi tangannya terasa tak bertulang.
"Astaghfirullaah..." Leo melihat tangan Lita.
"Aku juga baru tahu setelah Aku konsultasi dengan Dokter Oliver. Aku sempat observasi dengan beliau. Dan beliau menemukan penyebab dari penyakitku. Aku gak boleh mengkonsumsi obat itu karena tubuhku menolak, makanya Aku sering lemas. huk.. huk... huk..." Jelas Lita.
Leo menunjuk satu persatu obat yang ternyata tak cocok untuk Lita. Lita menggeleng hingga terakhir Leo menunjuk jarum suntik dan mengatakan cairan didalamnya. Lita mengangguk.
__ADS_1
Leo langsung melepas infusan Lita. Dia juga menekan tombol darurat.