
Dua Bulan Berlalu.
Hari ini Lita sedang bersiap-siap. Dia berkemas untuk pulang ke Indonesia.
Sebenarnya Dokter Oliver berat melepas Lita. Namun apa boleh buat, Lita meminta ijin karena Abangnya akan menikah, berikut dengan cerita ancaman Fahri jika Lita tidak datang di hari pernikahannya.
"Kamu hati-hati yah. Aku akan merindukan Puteri ku." Kata Dokter Oliver sambil memeluk Lita saat Lita berpamitan pulang setelah selesai tugasnya di Rumah Sakit kemarin sore.
Lita mengecek kembali barang bawaannya. "Jangan sampai ada yang terlupa." Gumam Lita.
Bel apartemen Lita berbunyi. Lita bergegas membukakan pintu.
Tapi alangkah terkejutnya Lita, saat Dia melihat sosok yang berdiri di depan unitnya. Lita lupa memasang rantai slot pintunya. Lita hendak menutupnya namun tenaga lelaki itu lebih kuat dari pada Lita.
"Aku mohon...." Dia memohon.
"Buat apa mencariku sampai kemari?!" Lita nampak gugup.
"Boleh Aku masuk?" Pinta nya lembut.
Akhirnya Lita mengalah. Jantungnya berdegub kencang mendapati Leo berdiri di depan unitnya dan memaksa masuk.
"Duduklah...." Lita bergegas ke pantry membuatkan Jeruk hangat untuk Leo.
"Kamu mau kemana?" Tanya Leo bingung melihat banyak barang yang sudah di pack oleh Lita.
"Aku mau pulang ke Indonesia." Kata Lita dari pantry.
"Selama nya?" Tanya Leo.
"Tidak... Bang Fahri akan menikah, makanya Aku pulang." Kata Lita.
Leo hanya mengangguk. Leo berdiri dan berjalan ke arah Lita.
"Jangan mendekat...!! Duduklah disana." Pinta Lita tegas. Namun masih sangat terlihat gugup. Dan Leo mengetahuinya.
Leo menuruti perintah Lita. Dia kembali duduk di sofa. Lita beranjak dari pantry dan menyediakan Jeruk hangat nya dimeja. "Minumlah...." Pinta Lita sambil duduk di seberang Leo.
Leo menyesap jeruk hangat buatan Lita. "Hhmmm.... Sudah lama Aku tak merasakan jeruk buatanmu...."
Lita hanya menunduk. Lita sibuk mengalahkan debaran jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi.
Tiba-tiba Leo mengambil jemari Lita. Lita terkejut. Tapi Leo enggan melepasnya.
"Apa yang Dokter lakukan? Ada apa kesini, katakan saja cepat. Aku masih mau berkemas." Kata Lita berusaha menarik jemarinya.
"Jangan tinggalkan Aku... Aku minta maaf karena sidang itu. Aku cemburu..." Leo menatap lekat wajah Lita.
"Cemburu???!!! Apa Aku gak salah dengar. Dokter kan bukan siapa-siapa Aku?!" Lita nampak kesal. Dan menampik tangan Leo yang memegang jemarinya.
"Aku kekasihmu... Dari dulu sampai kapan pun." Tegas Leo.
Lita tertawa sinis. "Kekasih?! Apa Aku gak salah dengar?!"
__ADS_1
"Kenapa Kamu seperti ini?!" Leo nampak bingung. Leo menghela nafas. Dia teringat kata-kata Fathir tentang penghiatannya yang salah tangkap oleh Lita.
"Kamu juga cemburu, kan?" Goda Leo.
"Cemburu? Aku? Mana mungkin.... Cemburu sama Siapa?" Ketus Lita.
"Kamu cemburu dengan keponakan Pak Rektor." Kata Leo.
Lita menatap mata Leo tak mengerti.
"Permisi....." Seseorang menyapa.
"Oh ya.... Tunggu sebentar." Lita langsung berdiri dan membukakan pintu unitnya yang memang Lita sengaja tidak tutup rapat.
"Barang yang mau dibawa yang mana, Nona." Kata Office Boy apartemen. Lita memang meminta salah seorang OB di apartemen itu untuk membantunya membawakan barang-barangnya ke taxi.
"Yang ini." Lita menaikan barang bawaannya ke trolli dibantu OB itu.
"Sudah semua?" Tanya nya.
"Sudah. Tolong ditunggu ya taxi nya. 10 menit lagi Saya turun." Pinta Lita.
"Baik Nona." Kata OB itu.
"Aku saja yang antar." Pinta Leo. Leo memanggil OB itu untuk menunggu di lobby.
Lita hendak menolak namun Leo memasang wajah memohon. Lita hanya bisa menghela nafas.
"Aku ganti baju dulu." Kata Lita akhirnya. Lita tahu perasaannya pada Leo masih mendalam. Walau Lita coba melupakannya namun bayang-bayang Leo terus menggodanya.
"Terima kasih." Kata Lita.
Leo hanya tersenyum. "Hanya gelas. Sudah... Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Leo.
Lita menggeleng. "Tidak."
Leo hendak memeluk Lita, namun Lita segera mendorong dada Leo.
Leo menghela nafas. "Aku sangat merindukanmu.... Kenapa Kamu bersikap dingin padaku?"
"Kita bukan muhrim." Tegas Lita.
________________________
"Dia keponakan Rektor yang sedang sakit kanker...." Leo mencoba menjelaskan kesalah pahaman pada Lita. Leo juga menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
Lita menoleh ke arah Leo yang sedang menyetir mobil. "Jam berapa pesawatmu berangkat?" Tanya Leo.
"Jam Lima." Kata Lita.
Leo melirik jam digital di mobil nya. "Masih tujuh jam lagi. Kenapa Kamu buru-buru?" Tanya Leo.
"Aku mau mampir ke Apartemen Astrid." Kata Lita.
__ADS_1
"Ooohhh... Ok... Aku akan antar. Tapi ijinkan Aku mengajakmu, makan siang." Pinta Leo.
"Tapi nanti Aku makan di tempat Astrid." Lita mencoba menolak.
"Tidak.... Jam makan siang jam 12. Kamu gak boleh telat makan... Jarak ke apartemen Astrid tiga jam dari sini." Tegas Leo.
"Sok perhatian..." Lita menggrutu. Tapi Leo mendengarnya.
"Karena Aku sangat mencintaimu..." Kata Leo.
"Cinta??? Tapi selingkuh... Dan pergi tanpa kabar... Membiarkan Aku sendiri di unit mu..." Lita sangat kesal.
"Aku minta maaf. Sungguh.... Aku tidak tahu... Ponsel ku hilang. Aku hendak menemuimu tapi Rektor begitu mendesak. Semuanya serba urgent." Leo mencoba membela diri.
"Alasan...." Lita kembali mengrucutkan bibirnya.
Leo menghela nafas. "Bagaimana lagi Aku harus meyakinkan Kamu, kalau Aku memang jalan dengan keponakan Rektor."
"Dan Kamu juga pura-pura mencintai Dia, agar Dia juga mau diobati. Begitu pula dengan Aku yang mengobati Bang Vero." Lita sangat sangat kesal.
"Aku minta maaf. Aku cemburu. Bagaiamana pun Vero pernah ada di hatimu. Aku pikir Kamu masih sangat mencintainya dan akan kembali padanya." Leo melembutkan nada bicara nya. Leo tahu Dia bersalah.
Lita menghela nafas. Menghembuskan nafasnya perlahan, membuang himpitan dadanya yang sangat menyesakkan.
Lita menyenderkan kepalanya di jok dan menatap wajahnya ke samping jendela mobil. Leo melirik sesaat.
"Kamu lelah? Tadi sarapan gak?" Leo nampak cemas karena Lita terlihat pucat.
Lita hanya diam tak menjawab. Leo membuka laci mobilnya. "Makanlah... sampai Kita keluar dari tol dan Kita akan makan di Resto terdekat."
Lita menerima coklat pemberian Leo. "Terima kasih."
"Sampai kapan Kamu akan lalai dengan sarapan?" Leo menghela nafas, cemas akan sikap Lita yang selalu lupa untuk sarapan.
Lita tak menjawab. Lita memang lupa karena sibuk mengepak. Dan memeriksa ulang barang bawaannya.
Leo fokus mengendarai mobilnya. Sesekali melirik Lita yang sedang makan coklat.
Leo menyodorkan air mineral kepada Lita. Leo tahu air itu sudah Dia minum. Namun tak ada pilihan lain.
"Terima kasih. Aku bawa minum." Kata Lita mulai melembut.
Leo hanya tersenyum. Ingin sekali Dia memeluk tubuh Lita. Melepas kerinduannya selama berbulan-bulan ini.
"Bagaimana Kamu bisa tahu, Aku di Negara bagian?" Tanya Lita penasaran.
Leo tersenyum. "Aku tahu, Dokter Oliver sangat perhatian padamu. Dia membela mu mati-matian. Beberapa bulan yang lalu, Dia meminta seorang Asisten tapi belum ada yang cocok. Tiba-tiba Kamu tidak ada dimana-mana." Jelas Leo.
"Dan tiba-tiba Dokter Oliver tidak meminta lagi Asisten. Jadi Aku berasumsi kalau Kamu adalah Asisten Dokter Oliver." Kata Leo lagi sambil tersenyum.
"Kok Kamu bisa tahu unit ku?" Tanya Lita.
"Aku mengikutimu saat Kamu keluar dari Rumah Sakit kemarin. Dan Aku melihat Kamu berbicara dengan OB tadi kemarin. Makanya Aku bertanya dimana Unit Kamu. Dia mengatakannya." Jelas Leo.
__ADS_1
Lita hanya menghela nafas. Tak dipungkiri hatinya berbunga karena Leo mencarinya. Walau semuanya sangat terlambat.