CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Masalah Fitri dan Fahmi


__ADS_3

Sebelum subuh Nindi sudah bangun. Dia membangunkan suaminya. "Sayaaaang... Bangun.. Sebentar lagi adzan subuh." Kata Nindi lembut sambil mengecup bibir Marcel.


Marcel mengerjapkan mata. Marcel tersenyum melihat Nindi mengecup bibirnya. Marcel merengkuh tengkuk Nindi dan mengecup bibir Nindi balik.


"Ya sudah mandi sana. Aku mau bikin sarapan dan bekal ke sungai." Kata Nindi.


Marcel mengangguk tapi Dia tak mau melepaskan pelukannya pada Nindi.


"Kalau Aku dipeluk terus, gak bakal jadi deh sarapannya." Canda Nindi.


Marcel tersenyum. Marcel beranjak dari ranjang dan bergegas mandi.


Nindi menyiapkan baju koko untuk shalat subuh dan sarungnya. Kemudian Nindi keluar dari kamar dan langsung ke dapur.


Ternyata di dapur sudah ada Ibu dan Fitri.


"Eh pengantin baru sudah bangun..." Goda Fitri. "Tapi kok belum mandi? Sebentar lagi kan subuh?" Fitri heran.


"Aku lagi libur, Kak. Marcel lagi mandi." Kata Nindi.


"Waaahhh berarti malam pertamanya gagal dong." Canda Fitri.


Nindi tersipu malu. "Ya mau gimana lagi Kak. Hehehehe....."


"Kasihan Marcel... Hihihihi..." Fitri cekikikan.


"Huusss.... Apaan sih Kamu, Fit? Senang sekali kalau sudah gangguin adeknya." Kata Ibu.


"Hehehehe.... Maaf bu. Sudah kamu di kamar saja. Urusan dapur biar Kakak saja. Kamu urus saja suamimu." Pinta Fitri.


"Aku dan Marcel mau ke sungai Kak. Aku mau siapin bekal." Kata Nindi.


"Ya sudah nanti Kakak yang siapin." Kata Fitri sembari mendorong tubuh Nindi lembut, keluar dari dapur.


Mau tak mau Nindi kembali ke kamar. Marcel baru saja keluar dari kamar mandi. Nindi sedang duduk dipinggir ranjang.


"Loh... gak jadi bikin sarapannya?" Tanya Marcel.


Nindi menggeleng. "Gak boleh sama Kak Fitri. Nanti Kakak yang buatin." Kata Nindi.


Marcel tersenyum. "Kakak kamu pengertian yah." Canda Marcel.


Nindi mengangguk. "Kamu shalat di musholah saja. Jamaah sama Kak Fahmi dan keluarga." Pinta Nindi.


Marcel mengangguk sambil memakai sarungnya dan baju kokonya.


Adzan subuh berkumandang. Nindi mengantar Marcel ke musholah yang ada didalam rumah. Ternyata disana sudah ada Fahmi dan anak-anaknya, Fathir dan Fahri.


"Auntie kira, Kamu nginep di rumah Papa Lambok." Kata Nindi pada Fathir.


"Gak Miss Dokter, Aku mau shalat bareng Mr. Dokter." Kata Fathir.


Tak lama Ibu dan Fitri sudah tiba di musholah.


"Nindi... Ibu lagi masak nasi. 5 menit lagi tolong matikan kompornya." Pinta Ibu.


"Ya Bu." Kata Nindi yang bergegas ke dapur. Nindi membuat teh manis, susu juga kopi.


Nindi menggoreng pisang yang sudah diadon oleh Ibu.

__ADS_1


15 menit kemudian hidangan sarapan sudah tersedia di atas meja makan. Yang shalat subuh pun sudah keluar dari musholah.


"Ayo sarapan dulu." Kata Nindi.


Fathir dan Fahri langsung menyerbu ke meja makan. "Auntie bikin apa?" Tanya Fahri.


"Nih susu buat Kamu, ini buat Abang Kamu." Kata Nindi.


Marcel tersenyum melihat keakraban Nindi dengan keponakannya.


"Ini Sayaaang... Kopi untuk kamu. Dan ini cemilannya." Nindi menyiapkan pisang goreng di piring kecil untuk suaminya.


"Ini apa Sayaang?" Tanya Marcel melihat pisang goreng.


"Ini pisang goreng, Sayang." Kata Nindi.


"Pisang digoreng? Enak?" Tanya Marcel.


"Makanya dicoba dulu." Pinta Nindi. "Hati-hati masih agak panas."


Marcel duduk dan mulai mencicipi pisang goreng.


Fathir dan Fahri sudah lahab menyantab pisang goreng.


Ibu menggeleng-geleng melihat Fathir dan Fahri. "Cucu Nenek, makan pisang sudah baca doa, belum?"


"Sudah dong Nek. Pisang goreng buatan Nenek mah gak ada duanya. Enak banget." Puji Fathir.


Ibu tersenyum. Fitri, Nindi, Fahmi dan Marcel tersenyum melihat mereka.


"Ini memang enak. Crunchi... Kopinya juga beda rasanya." Kata Marcel.


Nindi tersenyum. "Alhamdulillaah kalau Sayang suka." Kata Nindi.


"Siapa tuh?" Tanya Fahmi.


"Wa alaikumussalaam...." Sahut mereka.


Fathir bergegas ke depan dan membuka kunci pintu rumah.


"Papa Lambok, Mama Tia, Atala dan Twins!" Teriak Fathir senang.


"Waaahhh... enak nih pagi-pagi sudah sarapan?" Kata Lambok seraya mencium punggung telapak tangan Ibu.


"Ayo sekalian. Ibu bikin pisang goreng. Kalau mau makan nasi, makanlah..." Kata Ibu lembut.


Mereka pun ikut duduk di kursi meja makan. Nindi menuang teh manis ke cangkir untuk Kakak-kakaknya.


"Anak Tampan dan Cantik Auntie sudah minum susu, belum?" Tanya Nindi.


"Belum Auntie. Aku mau minum disini." Kata Vita.


"Ya sudah, Auntie buatkan dulu ya." Kata Nindi.


Tak lama Nindi sudah membawa tiga gelas susu. "Niiihhh...." Kata Nindi.


"Terima kasih Auntie." Kata Atala dan Twins.


"Saudara-saudaramu, sudah sarapan Tia?" Tanya Ibu.

__ADS_1


"Mungkin sedang sarapan Bu. Tadi Kak Mia sama Aku sudah nyiapin. Ini anak-anak minta kesini. Mau sama Auntie katanya." Jelas Tia.


"Hhmmmm.... Manjaaaa... Mau nya sama Auntie terus. Nanti kalau Auntie pindah jauh, gimana?" Canda Nindi.


"Emang Auntie mau pindah kemana?" Tanya Atala.


"Tergantung Mr. Dokter." Canda Nindi.


Marcel tersenyum mendengar perkataan Nindi yang mengikuti Fathir.


"Uncle... Jangan pindah yah.... Please... Di indonesia saja..." Atala memohon.


"Tapi Uncle belum pindah dari Rumah Sakit di Negara A, Sayaang..." Kata Marcel.


"Huuuhhhh... Uncle... Memang Uncle gak suka tinggal disini? Disini kan enak, rame, Ada Nenek, Auntie Fitri, Ayah Fahmi, Fathir, Fahri juga dede Fara." Rengek Vita.


Marcel tersenyum. Marcel melirik kearah Nindi. Nindi hanya mengedikkan bahunya.


"Nanti Uncle pikirkan lagi ya. Uncle baru sehari disini." Kata Marcel.


"Ya Allah... Mudah-mudahan Uncle Marcel tidak membawa Auntie Nindi jauh-jauh..." Doa Atala dan Twins. "Aamiin...." Mereka mengusap wajahnya.


Yang mendengar hanya senyum-senyum saja.


"Oh ya Fahmi dan Fitri. Kakak punya sesuatu untuk Kalian." Kata Lambok.


Fitri mendongak. Dia dari tadi menunduk karena Lambok terus menatapnya tajam.


"Apa Kak?" Tanya Fitri.


Lambok menyerahkan dua tiket dan dua passport pada Fitri.


Fitri mengambilnya dan membacanya. "Bulan madu ke Australia? Apaan ini, Kak? Yang bulan madu kan Nindi dan Marcel kenapa Aku yang dikasih?" Fitri menyodorkan kembali Tiket dan Passport pada Lambok.


Lambok tersenyum. "Kamu ingat kata-kata Kakak? Sesudah pernikahan Nindi selesai, kamu yang Kakak selesaikan?" Tanya Lambok.


Nindi yang tahu ini masalah orang dewasa segera mengajak keponakannya pergi keluar rumah. "Ayooo... Anak-anak Auntie. Bantuin Auntie menyapu halaman." Ajak Nindi.


"Siap Auntie..." Jawab mereka.


Tia tersenyum melihat kelakuan Nindi.


"Maksud Kak Lambok apa? Apa yang mau diselesaikan?" Tanya Fitri heran.


"Kakak sudah tahu dari Fahmi." Kata Lambok.


"Tahu apa? Kakak cuma dengar dari sebelah pihak saja tapi tak mendengar penjelasanku." Fitri mengrucutkan bibirnya.


"Justru sekarang Kakak mau mendengarkan. Ada apa sebenarnya? Bukan Kakak mau ikut campur. Tapi ini berlarut kalau tidak ada yang menengahi." Tegas Lambok.


Mata Fitri sudah berkaca-kaca. Fahmi mengelus bahu Fitri tapi Fitri menampiknya. "Jangan sentuh Aku. Aku gak suka tangan kotormu menyentuhku." Hardik Fitri.


Fahmi menghela nafas.


"Fitri...." Panggil Ibu. "Dia Suami Kamu, gak boleh bersikap seperti itu." Pinta Ibu.


"Suami yang tukang selingkuh." Ketus Fitri.


"Apaaa...???" Ibu tak percaya.

__ADS_1


Fahmi menggeleng. "Fitri salah paham Bu."


"Salah paham gimana? Belum mau ngaku juga?! Jelas-jelas Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri!" Fitri makin kesal.


__ADS_2