CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Arby Dan Vero


__ADS_3

"Kenapa..???!! Kenapa Kamu datang lagi Bang..??!! Kenapa Kamu mengganti namamu..??!! Belum puaskah Kamu menyakitiku...??!! Huk... huk...huk..." Lita menangis menyesali pertemuannya dengan Arby.


"Maksud Kamu apa, Lita?" Tanya Astrid bingung. "Ada sangkat paut apa dengan Arby?"


"Dia bukan Arby...!! Tapi Bang Vero!!" Lita histeris.


"Astaghfirullaah...!" Astrid sangat terkejut. "Tapi Dia benar-benar Arby, Lita. Dia sahabat Kak Arham. Kami mengenalnya sudah lama. Dia sahabat Kak Arham sejak di bangku SMP." Jelas Astrid.


"Hik... hik... hik..." Lita terisak. Telinga nya menangkap ucapan Astrid. Lita mendongak, mengusap airmatanya. "Benarkah...??? Kamu tidak bohong? Jadi Arby bukan Bang Vero??" Lita seperti orang bodoh.


"Jadi maksudmu Arby itu Vero? Apa wajahnya sangat mirip? Apa Kamu masih menyimpan fotonya?" Tanya Astrid beruntun.


Lita mengangguk. "Aku sudah membuang semua kenangan yang berhubungan dengan Bang Vero. Kalau Kamu tak percaya, Kamu boleh search Akun Sosmes nya Vero." Lita mulai merasa sedikit lega.


"Astaghfirullaah... Maafkan Aku... Aku tak bermaksud membuka luka lamamu, Lita. Aku dan Kak Arham tadinya berniat mendekatkan mu pada Arby. Tapi ternyata....." Astrid tak meneruskan bicaranya.


"Tapi percayalah Lita, Dia Arby. Dan Dia tak punya kekasih. Dia juga belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun." Astrid meyakinkan.


"Lalu... Aku harus menerima nya dan menjadikan Dia pelarianku dari Vero?? Setiap waktu Aku akan melihat wajah Vero di wajah nya??!" Lita nampak sedikit emosi.


Astrid menghela nafas. Astrid memeluk tubuh Lita dari samping. Mereka memang masih berada di dalam taxi.


"Baiklah... Maafkan Aku. Sungguh Kami tak bermaksud menyakiti hatimu. Kami hanya ingin Kamu bahagia. Tapi ternyata malah membuatmu terluka." Kata Astrid dengan sangat menyesal.


Lita menghela nafas. "Aku yang seharusnya minta maaf karena telah merusak jalan-jalan Kita." Lita mencoba tersenyum.


"Gak apa. Masih 10 hari lagi Kita disini." Astrid ikut tersenyum. Astrid mengusap wajah Lita dengan lembut. Lita sangat terharu dengan perlakuan Astrid yang begitu menyayanginya.


"Kamu tahu Strid..??" Kata Lita.


"Tahu apa?" Tanya Astrid.


"Kamu seperti Mama ku...." Canda Lita.


"Sudah tua dong Aku... Hahahaha..." Goda Astrid.


"Enak aja...! Mama ku Tua juga Papa ku sangat mencintainya..." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Hahahaha... Iyaaa Aku tahu... Aku bisa melihat tatapan mata Papa mu pada Mama mu..." Kata Astrid lagi.


Mereka pun tertawa bersama. Kesedihan Lita hilang seketika.


"Aku jadi gak enak dengan tunanganmu, Strid." Kata Lita.


"Tenang... Santai saja. Kak Arham orangnya sangat pengertian." Kata Astrid. "Lagi pula ini juga salah Dia. Dia yang punya ide ngenalin Kamu sama Arby. Hehehehe...." Astrid menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Kak Arham memang baik sekali. Dia begitu perhatian sama Aku." Puji Lita.


"Ya Kak Arham memang begitu. Semua teman yang baik sama Aku, pasti Kak Arham akan sangat baik sama Dia. Tapi Kak Arham bilang sama Aku semalam, melihat Kamu, Dia teringat sama adiknya." Jelas Astrid namun terlihat sedih.


"Loh memang Kak Arham tak pernah bertemu adiknya?" Tanya Lita bingung.


Astrid menghela nafas. "Adiknya Kak Arham dari Mama kandungnya laki-laki semua. Setelah Mama nya meninggal dunia dan Papa nya menikah lagi, Dia punya Adik perempuan dari Mama tiri nya. Kak Arham sangat menyayangi Adiknya itu. Tapi Mama nya sepertinya sengaja menjauhi Arham dengan Sarah." Jelas Astrid.


"Sarah namanya?" Tanya Lita.


Astrid mengangguk. "Sarah sekarang kelas 2 SMA, bulan depan ulang tahunnya yang ke-17. Dari kemarin Kak Arham mencari cara agar bisa mengajak Adiknya untuk merayakannya." Kata Astrid lagi.


"Kenapa gak dijemput saja pulang sekolah?" Tanya Astrid.


"Gak bisa. Karena sudah sebesar itu, Sarah selalu diantar jemput Mama nya. Dia memang benar-benar gak mau Sarah dekat dengan saudara-saudaranya dari istri pertama Suaminya." Astrid menghela nafas.


"Kok aneh yah. Anak Tiri baik-baik malah dijauhi." Kata Lita.


"Ya Aku juga sempet berfikir seperti itu." Kata Astrid.


"Lalu kok Kak Arham bisa bilang Aku seperti adiknya?" Lita masih penasaran.


Astrid mengambil ponsel nya dalam tas. Dia membuka galeri dan memperlihatkan pada Lita.


"Ya Mama nya juga cantik. Makanya Papa nya tergila-gila sama Istrinya." Kata Astrid.


"Tapi kan gak mirip Aku." Lita mengrucutkan bibirnya.


Astrid mencubit pipi Lita dengan gemas. "Tapi Dia sama cantiknya dengan Kamu."


"Iiihhh Astrid... Sakit tahu." Rajuk Lita yang memegang pipi merah nya karena dicubit Astrid.


"Hahahaha.... Kamu ngegemesin. Tapi ngomong-ngomong kenapa gak ada yang suka sama Kamu, yaaaa???" Astrid menjentikkan telunjuknya di dagu.


"Iiiissshhh.... Mulai deeeehhhh....." Lita mencubit pinggang Astrid.


Taxi yang membawa mereka sudah tiba di halaman rumah Mama nya Astrid.


"Loh Kak Arham sudah sampai duluan?! Lewat mana?" Astrid terkejut. Setelah membayar taxi Mereka langsung turun.


Arham tersenyum melihat Astrid dan Lita yang baik-baik saja. Dia berdiri di dekat mobil nya.


"Kok gak masuk Kak?" Tanya Astrid.


"Aku baru sampe. Aku lihat taxi yang membawa Kalian itu santai sekali jalannya." Kata Arham.

__ADS_1


"Aku yang minta." Kata Lita sambil mendelikan matanya pada Arham.


"Ooohhh..." Arham membulatkan bibirnya.


"Apaaaaa...??!!!!" Lita mengrucutkan bibirnya.


"Hahahaha.... Masih ngambek yaaaa...??? Maaf ya... Aku gak tahu kalau Arby mirip dengan Vero." Kata Arham.


"Hah..!!! Bagaimana Kak Arham bisa tahu??!!" Lita terkejut. Dia memandang wajah Astrid.


"Uuppsss... Maaf... Tadi Kak Arham telpon Aku waktu Kamu nangis. Aku angkat dan Dia ingin dengar Kamu kenapa." Jelas Astrid.


"Dasar Kamu ya...! Kamu gak mau jaga privasi ku siiihhh...!" Lita kesal memukul pinggul Astrid.


"Yaaang.... Toloooong...." Astrid berlari ke arah Arham. Lita terus mengejarnya. Tapi Arham memegang tangan Lita dan memeluknya.


Lita terperanjat. Dia meronta ingin melepaskan diri.


"Aku mohon... Sebentar saja... Aku telah menganggapmu seperti adikku sendiri... Tidak ada apa-apa..." Arham memohon.


Lita melihat ke arah Astrid. Astrid mengangguk menyeka airmata nya. Semalam Arham menangis karena rindu pada adiknya. Dan Astrid mengijinkan Arham memeluk Lita sebagai obat rindu pada sang adik.


Arham memeluk Lita dan mengusap punggung Lita. "Kak Arham... Walau bagaimanapun Kita bukan muhrim." Tiba-tiba Lita merasa jengah.


"Astaghfirullaah..." Arham langsung melepas pelukannya. "Maafkan Aku... Aku terbawa rindu pada Adikku... Maafkan Aku..." Arham menangkupkan kedua tangannya.


Lita tersenyum. "Gak apa... Asal jangan modus ya... Hahahaha...." Lita tertawa.


Arham sangat gemas dan mengejar Lita yang sudah berlari. Astrid hanya menggeleng kepala.


"Ha... Hu... ha... capeeee...." Lita memegang kedua lututnya.


"Makanya sering olahraga. Masa calon dokter gak suka olahraga." Goda Arham.


"Kak Arham lama-lama kayak Bang Fathir. Aku jadi rindu sama Abangku." Kata Lita.


"Sini peluk..." Goda Arham.


"Niihhh peluk..." Tiba-tiba Astrid menjewer telinga Arham. "Mau modus ya... Hahahaha..."


"Sayaaang... Sakiiittt...." Arham langsung memeluk Astrid dan mengecup kepala Astrid.


"Yaaahhh.... Jadi obat nyamuk lagi." Canda Lita.


"Hahahahaha....!" Mereka tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2