
"Pokok nya Kamu harus datang, Dek. Abang gak mau tahu alasan Kamu!" Fahri sedikit menekan Lita dalam sambungan video call.
"Tapi Bang, tiga bulan yang akan datang, Aku akan wisuda." Kata Lita cepat.
"Loh Kamu bilang barusan belum tahu Kamu lulus atau gak?! Pokoknya Abang gak terima alasan apapun! Kalau Kamu gak datang, seumur hidup Abang gak mau ketemu Kamu lagi!" Tegas Fahri.
"Diihhh... Abang begitu banget sama Aku." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Sekarang Abang tanya, tanggal berapa wisuda Kamu?" Tanya Fahri lagi.
"Tanggal 24." Kata Lita pelan.
"Pernikahan Abang dan Farah tanggal 3, jadi gak ada alasan lagi Kamu tidak datang." Ketus Fahri.
"Tapi Aku sibuk Bang di Rumah Sakit..." Lita masih membantah. Sebenarnya Lita sangat ingin menghadiri pernikahan Saudara-saudara nya. Namun kembali ke Sumatera, akan mengingatkan Lita pada banyak kenangan disana. Lita tak ingin mengingatnya kembali.
"Oohhh... Jadi pekerjaanmu lebih penting dari pada Abang mu ini. Baik kalau begitu." Tut.... tut... tut.... Fahri memutus sambungan Video call nya.
"Abang....!! Aaacchhhh.... Pasti ngambek! Kalau dah ngambek, susah deh baiknya..." Lita terduduk lemas di sofa Apartemennya. Dia baru saja tiba dari Rumah Sakit Negara Bagian Negara J.
"Huh... Riset ku kan belum selesai.... Aku mau cepat-cepat merampungkan supaya cepat lulus. Huuhh... ini semua gara-gara Dokter Leo yang gak profesional, mencampur adukan urusan hati dengan Ujian." Lita menggerutu kesal.
"Kamu itu mau nya apa sih?! Kamu yang sudah menghianatiku!! Sekarang Kamu mempersulit kelulusanku!!" Lita memaki profil Leo yang masih Lita simpan dalam ponselnya. Walau bagaimana pun Lita masih sangat mencintai Leo. Lita memang sangat susah untuk move on, Dia akan setia hanya pada satu laki-laki yang berhasil mengambil hatinya.
_________________________
"Anda tidak bisa mencampurkan urusan Pribadi Anda dengan Riset Mahasiswa Saya. Lita sangat cerdas, dan Risetnya tidak gagal. Anda jangan mempermainkan Dia. Jauh-jauh Lita mengadakan Riset nya di Negara nya, tapi Anda malah tidak mau memberi kelulusan pada Lita!" Dokter Oliver sedang bersitegang dengan Leo di depan Rektor.
Dua hari lagi pengumuman kelulusan akan keluar, namun Leo masih saja enggan memberikan Nilai Sidang Lita pada bagian Administrasi Kampus.
__ADS_1
"Lita tidak sopan, Dia meninggalkan sidang begitu saja tanpa penutup." Leo tak mau kalah.
"Tapi ini Lita lakukan karena Anda tidak profesional. Anda cemburu dengan Almarhum Vero yang menjadi Riset Lita. Anda juga memberikan pertanyaan yang melenceng dari Riset." Dokter Oliver tak kalah debat.
Rektor yang sudah mengetahui ujung pangkal nya hanya tersenyum melihat debat argumen kedua Dosen nya.
"Tapi tidak seharusnya Lita mempermainkan perasaan Vero, Dia sempat bangkit lalu langsung DOWN!" Leo tak mau kalah.
"Lalu... Apa Anda sudah lupa? Apa yang Anda lakukan kepada Keponakan Rektor?! Anda juga berpura-pura kan menyamar seperti mantan Kekasihnya yang meninggalkannya, agar Dia mau diobati dan mempunyai semangat untuk hidup! Apa hanya Anda yang boleh melakukan itu? Apa Lita atau Para Dokter lainnya tidak boleh melakukan itu?!" Dokter Oliver terus mencecar Leo.
"Dan jangan lupa! Kalau Anda telah gagal mengobati Keponakan Rektor. Dia meninggal Dunia kan?!" Cecar Dokter Oliver lagi.
"Apa Anda Tuhan yang bisa mengendalikan nyawa manusia?! Anda hanya seorang Dokter, Dokter muda yang masih penuh ambisi! Pengalaman Anda belum seberapa?! Sudah berapa kali Anda kehilangan Pasien Anda?! Lalu bagaimana perasaan Anda?!" Dokter Oliver benar-benar mengeluarkan luapan emosi nya.
Pak Rektor sudah mempelajari Makalah Riset Lita. Dia hanya ingin mendengar pembelaan dari Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji.
Di SKAK demikian Leo terdiam. Dia membetulkan kata-kata Dokter Oliver. Leo menatap mata Rektor. Rektor hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Menyerahkan keputusan kepada Leo.
Beberapa hari setelah pertemuan sidang dengan Lita, Leo memang sempat memikirkan kata-kata Lita. Leo juga teringat akan ancama Fathir yang menuduhnya telah selingkuh juga kemurkaan Sang Papa yang mempermainkan perasaan Lita. Leo menyambungkan semua. Leo hendak menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan Lita tetapi Lita ternyata sudah kembali ke Indonesia, dan keberadaan Lita kini, Leo tidak tahu. Karena Dokter Oliver memang meminta kepada Rektor untuk merahasiakan keberadaan Lita kepada Leo.
"Maafkan Saya. Saya memang egois. Sebenarnya Saya sudah buntu mencari keberadaan Lita. Saya menunda kelulusannya, agar Dia kembali ke Kampus ini dan Saya ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini. Mohon maaf karena Saya telah mencampur aduk urusan Pribadi Saya dengan Lita kedalam Akademik ini." Leo menunduk. Kesombongannya telah membutakannya. Leo lupa diatas langit masih ada langit.
"Saya sudah tahu hal ini sejak lama. Saya memang kecewa dengan Anda, Dokter Leo. Namun Saya masih mempertahankan Anda disini, karena Saya punya hutang budi dengan Anda. Saya hanya memberikan Surat Peringatan Pertama kepada Anda. Selama tiga bulan ini, Kinerja Anda dalam pantauan Saya." Akhirnya Rektor menengahi.
"Dokter Oliver, Saya minta maaf, karena masalah ini, Anda jauh-jauh harus datang demi membela Mahasiswa bimbingan Anda." Kata Rektor.
"Sampai darah penghabisan Saya akan membela kebenaran." Tegas Dokter Oliver.
"Mohon maaf sekali lagi, Dokter Oliver. Saya memang harus lebih banyak menahan ego Saya. Saya malu karena belum bisa bersikap profesional." Leo menunduk.
__ADS_1
"Tidak apa. Toh Anda juga sudah mendapat SP Satu dari Rektor. Saya harap kedepannya Anda bisa lebih baik lagi. Anda Dokter muda yanga sangat cerdas, Sayang jika kecerdasan Anda membuat Diri Anda lupa akan Kuasa Tuhan." Dokter Oliver melunak. Dia juga mengerti dengan perasaan Leo yang kehilangan Lita namun sekali lagi harus dewasa dan profesional.
_______________________
"Alhamdulillaah...." Lita langsung melakukan sujud Syukur di ruang kerja nya.
Dokter Oliver baru semalam tiba di Negara Bagian dan pagi ini langsung mengabari Lita tentang kelulusannya.
"Terima kasih Dokter.... Saya gak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikan Dokter." Lita menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Kamu hanya cukup belajar yang serius dan menjadi manusia yang berguna untuk manusia lain." Pinta Dokter Oliver.
"Insyaa Allah Dokter. Saya akan banyak belajar dan melayani pasien dengan baik." Lita tersenyum senang.
"Puji Tuhan. Saya bangga dengan Kamu. Ini yang Saya suka dari Kamu, Lita. Kamu sangat cerdas tapi tidak pernah sombong. Kamu selalu senang menerima pelajaran baru." Puji Dokter Oliver.
"Apa yang harus Saya sombongkan, Dokter? Di atas langit masih ada langit. Saya ini tidak ada apa-apa nya kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa memberikan kecerdasan ini kepada Saya. Saya hanya ingin hidup berguna bagi orang banyak." Lita menunduk.
"Orang Tua Kamu pasti sangat bangga mempunyai Puteri sebaik Kamu, Nak." Puji Dokter Oliver.
"Mereka memang selalu mengajarkan Saya dan Saudara-saudara Saya untuk selalu berbuat baik, Dokter. Walau banyak yang tak suka, namun Kami hanya mengharap ridho dari Allah SWT. Itu saja." Lita menengadah menatap mata Dokter Oliver yang sudah berkaca-kaca.
"Tidak sia-sia Saya memilih Kamu sebagai Asisten Saya." Tatapan Dokter Oliver sangat sendu. Dokter Oliver teringat Puteri nya yang sudah meninggal dunia saat masih duduk di bangku SMP, mungkin umur nya sama dengan Lita saat ini kalau Dia ada.
"Dokter jangan bersedih yah... Ini kan berita bahagia buat Lita?!" Canda Lita mencoba menenangkan Dokter Oliver.
"Ya Nak.... Bolehkan Saya memanggil mu Nak? Anggaplah Saya ini pengganti Papa Kamu, disini." Pinta Dokter Oliver.
"Tanpa Dokter minta, Saya sudah melakukannya sejak beberapa bulan yang lalu saat Dokter menjadi Dosen Pembimbing Saya." Kata Lita sambil mengambil jemari milik Dokter Oliver.
__ADS_1
"Terima kasih Lita..." Dokter Oliver mengusap airmata nya.