
"Sebenarnya ada apa sih Tante?" Tanya Tia selepas kepergian Diandra, Lambok dan Lita.
"Tante juga gak tahu, Sayaang... Diandra tak pernah cerita pada Tante." Kata Tante Dewi.
"Dulu.... Diandra pernah depresi, Sejak kepergian Rasya dan dicampakan Teguh begitu saja." Tante Dewi terlihat Sedih.
Tia terperanjat. "Ya Allaah... Maaf Tante, Tia gak tahu." Tia mengelus bahu Tante Dewi.
Tante Dewi tersenyum. Atala dan Fathir sedang menonton Tivi. Vita sedang menidurkan Tristan.
"Tante memang tak mengabari Kalian, waktu itu Kamu belum menjadi istri Lambok. Dan Lambok pun tak bahagia menikah dengan Cecil." Kata Tante Dewi. Tante Dewi menceritakan semua tentang hidup Diandra selama pernikahannya dengan Teguh.
Tia mengangguk-angguk mendengar cerita Tante Dewi.
"Lalu selama ini apa Tante gak pernah dengar apapun dari Kak Diandra?" Tanya Tia.
"Tante pernah mendengar Diandra menyebut Putra nya masih hidup. Tapi Tante menganggap Diandra masih mengingat Rasya. Tante juga gak tahu ada apa dengan Diandra. Diandra menutup diri." Kata Tante Dewi sedih.
"Tante yang sabar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan Kak Diandra ini demi kebahagiaan Tante dan Masa Depan Diandra, benar adanya." Tia mencoba menghibur Tante Dewi.
"Ya Sayang.... Tante berharap yang terbaik untuk Diandra." Doa Tante Dewi.
"Aamiin..." Kata Tia yang menengadah dan mengusap wajahnya lembut.
_______________________
Pak Rahman telah selesai makan. Diandra sedang asik bercanda dengan Lita.
Lambok sedang membalas chat Ustadz Joey. Sesekali Lambok mengambil gambar kebersamaan Diandra dan Lita dan mengirimnya pada Ustadz Joey. Lambok senyum-senyum sendiri.
Diandra menghentikan menggoda Lita setelah melihat Pak Rahman sudah cukup beristirahat setelah makan.
"Bisa Kita lanjutkan Pak?" Tanya Diandra.
Pak Rahman mengangguk. "Perempuan yang Ibu cari itu ternyata tinggal tak jauh dari rumah Saya. Tapi Sayang, Dia sudah tiada." Kata Pak Rahman.
"Inna lillaahi....." Diandra terkejut. Diandra nampak putus asa.
"Kapan? Lalu bagaimana dengan putraku?" Diandra makin putus asa.
"Putra Ibu? Maksudnya apa Bu?!" Pak Rahman bingung dengan perkataan Diandra.
__ADS_1
Lambok langsung berpamitan pada Ustadz Joey karena melihat pembicaraan Diandra yang serius dengan Pak Rahman.
"Wanita yang Ibu cari sudah lama meninggal dunia. Sebulan habis melahirkan, Dia menjadi TKW ke negara M, dan sebulan disana, Dia pendarahan dan akhirnya meninggal dunia." Cerita Pak Rahman.
"Lalu dimana anaknya?" Diandra sangat antusias.
"Anaknya?!" Pak Rahman belum mengerti mengapa Diandra menanyakan anak Wanita itu.
"Maaf Bu, sebenarnya Ibu cari perempuan itu atau anaknya? Sebenarnya ada apa Bu? Maaf kalau Saya lancang bertanya pada Ibu." Kata Pak Rahman.
Diandra nampak ragu. Dia menatap Lambok.
"Sebenarnya ada apa Kak? Kata Tante, putra Kakak sudah lama meninggal dunia, kan? Kakak jujur saja, mungkin dengan Kakak jujur, Semua akan terbuka." Pinta Lambok.
Diandra menghela nafas. "Sebenarnya Saya mencari Putra Saya, Pak. Perempuan itu telah menukar anak Saya di Rumah Sakit. Yang selama ini ada padaku dan meninggal dunia, itu anak perempuan itu." Diandra mulai terisak karena merasa tak ada harapan lagi bertemu dengan Putranya setelah tahu perempuan itu telah tiada.
Pak Rahman terkejut. Lambok juga terkejut. Lambok menatap wajah Pak Rahman.
"Pak... Apa yang Kak Diandra maksud Perempuan yang tempo hari Tia cari?" Tanya Lambok penasaran.
Pak Rahman mengangguk sambil tersenyum. Pak Rahman memang sangat kaget tapi dia bersyukur karena Allah membuka jalan untuk Diandra bertemu Putranya.
"Beberapa bulan yang lalu, Seorang anak laki-laki mencari wanita ini." Kata Pak Rahman yang tidak langsung memberitahu keberadaan Putra Diandra.
Lambok pun bingung, Dia harus bahagia atau bersedih dengan berita ini.
"Apa Dia Putra ku?" Tanya Diandra.
Pak Rahman mengangguk. "Anak laki-laki itu sangat sedih mendapat berita kalau Ibu nya sudah tiada. Dan Dia merasa sebatang kara. Tapi orangtua yang sudah menyayanginya sejak kecil membesarkan hati anak laki-laki itu." Jelas Pak Rahman.
"Saya gak mengerti maksud Pak Rahman. Apa perempuan itu memberikan anakku pada orang lain?" Tanya Diandra.
Pak Rahman mengangguk. Pak Rahman menceritakan beberapa tahun silam. 18 tahun yang lalu.
"Seorang Ibu muda yang belum dikaruniai anak membawa bayi itu subuh-subuh kerumah Saya untuk melaporkan ada yang menaruh bayi di depan pintu kontrakannya."
"Ibu itu ingat Saya juga punya bayi yang masih menyusu. Ibu itu meminta sedikit Susu pada Saya untuk bayi nya hingga toko Susu buka. Dia juga dengan tulus mau mengasuh bayi itu. Baginya bayi itu anugerah terindah yang Allah berikan padanya." Pak Rahman belum mau membuka siapa Putra Diandra. Dia ingin semuanya jelas dan tak ada salah paham.
Diandra kembali menangis. Dia merasa Putra nya pasti sangat sedih karena merasa tak punya siapa-siapa lagi selain orangtua angkatnya.
Lambok dan Lita mengusap punggung Diandra. Lita sudah mengerti jalan cerita Pak Rahman. Tapi Lita hanya diam. Dia tak mau bicara. "Biar Papa saja yang mengambil keputusan." Batin Lita.
__ADS_1
Lita juga bingung harus sedih atau bahagia. Lita sedih memikirkan perasaan Mama nya, Tia yang pasti akan merasa kehilangan. Disisi lain Lita bahagia kalau ternyata Kakak nya masih memiliki Ibu kandung.
"Pak Rahman, apa Bapak tahu dimana orangtua yang telah mengasuh anakku?" Diandra berharap.
Pak Rahman mengangguk. "Sangat tahu Bu." Pak Rahman menoleh kearah Lambok. Wajah Lambok terlihat sedih dan bingung.
"Bisa Bapak antarkan Kami pada Mereka? Aku sangat ingin bertemu Putraku." Diandra memohon.
"Apa Ibu akan membawa anak Ibu jika telah bertemu?" Tanya Pak Rahman yang mengerti perasaan Lambok.
Diandra menoleh pada Lambok. "Dek... Kenapa Kamu diam saja. Kakak bingung." Kata Diandra.
Lambok menghela nafas. "Kak... Sebenarnya....." Lambok menggantung perkataannya.
Diandra tambah bingung. Lita mengusap bahu Papa nya. Lita tak mau Papa nya kenapa-napa.
"Atala adalah Putra Kak Diandra." Lambok akhirnya mengatakan kebenarannya.
"Apa?! Coba ulangi. Kakak gak salah dengar?!" Diandra sangat terkejut mendengar ucapan Lambok.
Lambok mengangguk. "Iya Kak. Atala Putra Kakak. Tia yang mengadopsinya dari bayi. Tia yang menyayangi Atala sejak bayi. Tia yang memberi nama Atala Rizky untuk Putra Kakak." Lambok terlihat putus asa. Tapi Dia tak bisa lagi menahan semua ini. Kebenaran harus diungkap.
Diandra terduduk lemas. Diandra bingung, dia harus bahagia atau bersedih. Diandra sangat bahagia karena ternyata Putranya masih hidup dan Dia mengenalnya dekat. Disisi lain Diandra sangat sedih, bingung bagaimana mengatakan pada Atala, karena dia sangat tahu Atala sangat menyayangi Tia.
"Atala tidak akan apa-apa Kak. Karena dia memang sangat ingin bertemu dengan orangtua kandungnya." Kata Lambok yang mencoba ikhlas.
"Ya Allah... Terima kasih karena Engkau telah menjaga Putra ku. Memberikannya pada orang yang sangat tepat." Diandra mulai menangis. Dia sangat bersyukur karena putra nya sangat dekat dengannya selama ini dan menjadi pemuda yang Soleh, baik dan bertanggung jawab.
"Terima kasih Dek... Selama ini Kamu sudah membesarkan Atala dengan kasih sayang yang berlimpah." Diandra masih terisak.
"Kakak jangan berterima kasih padaku. Tapi pada istriku. Tia berjasa lagi pada keluarga Kita." Mata Lambok mulai berkaca-kaca.
"Pak Rahman. Saya sangat berterima kasih karena telah membantu Saya." Diandra mengeluarkan amplop dan menyerahkan pada Pak Rahman.
Pak Rahman menolak. "Maaf Bu, untuk kali ini Saya tak mau menerimanya. Yang kemarin lebih dari cukup." Kata Pak Rahman.
"Tapi Pak, Saya sudah janji." Kata Diandra.
"Saya ikhlas Bu. Karena tugas Saya hanya mencari keberadaan Perempuan itu sudah selesai. Saya hanya berharap masalah ini diselesaikan baik-baik dan semua orang bahagia." Pinta Pak Rahman.
Diandra masih memaksa. "Anggap saja ini untuk ongkos Bapak pulang ke Cikarang. Ajak keluarga Bapak jalan-jalan, bahagiakan Mereka. Besok Bapak Saya kasih libur dua hari." Kata Diandra.
__ADS_1
"Masyaa Allah... Terima kasih banyak Bu. Alhamdulillaah... Akhirnya Saya bisa pulang." Kata Pak Rahman yang memang jarang sekali pulang ke Cikarang karena kantornya jauh dari rumah.