
"Sayaaang...." Panggil Krisna.
"Ya Kak?" Lita mematikan kompor nya bergegas ke kamar. "Ada apa Kak?" Tanya Lita.
"Dimana Caca?" Tanya Krisna.
"Oh Caca... Caca ikut bersama Astrid. Kemarin Astrid berjanji mengajaknya jalan-jalan. Tadi sebelum berangkat, pamitan sama Kakak, tapi Kakak tidur nya nyenyak sekali. Semalam Aku mau ijin sama Kakak, tapi Kakak sudah tidur." Jelas Lita.
Krisna menyodorkan tangannya. Lita mendekat. "Kamu sedang apa?" Tanya Krisna yang sudah memeluk pinggang Lita.
Lita duduk dipinggir ranjang. "Aku sedang masak." Kata Lita.
Krisna sudah mengecupi leher Lita. "Kaaaakkk..." Lita mendesah tak mungkin mengelak. Walau bagaimana pun Krisna adalah Suami nya. Halal baginya menyentuh Lita.
"Aku ingin." Krisna sudah menurunkan resleting gamis Lita. Lita nampak malu. Tubuh nya hanya terbalut pakaian dalam.
"Kaaakkk... Aku sedang masak..." Lita tersipu malu.
"Sudah dimatikan kompor nya kan?" Tanya Krisna yang sudah membuka kaitan Bra Lita. Krisna membisikan doa ke telinga Lita. Dia mengulum puncak dada Lita.
"Aaahhh..." Lita tak dapat menolak, sentuhan Krisna memberikan sensasi yang luar biasa pada tubuh Lita.
Krisna merebahkan tubuh Lita di ranjang. Krisna membuka piyama nya. Dia naik ke tubuh Lita. Menyentuh tubuh Istrinya dengan lembut. Tangan Krisna menjelajah ke bawah. Memainkan milik Lita.
Tubuh Lita menggeliat. "Kaaaakkk..." Lita terus mendesah tak kuasa menahan hasratnya.
Krisna mengecupi seluruh tubuh Lita hingga ke bawah. Memainkan lidahnya disana.
"Kak Krisnaaaa..." Lita mencengkram bantalnya. Lita merasakan sesuatu kenikmatan mencapai puncaknya.
Krisna tersenyum saat merasakan cairan hangat keluar dari milik Istrinya. Krisna bersiap memasukan miliknya. Namun Krisna sangat terkejut mendapatkan miliknya yang tak bangun.
"Ya Allah.... Ada apa dengan milik Ku?" Krisna terlihat khawatir.
Lita yang merasa buaian Krisna terhenti membuka matanya. Lita melihat wajah Krisna yang terlihat sedih.
"Sayaaang... Ada apa?" Tanya Lita yang segera bangun. Tak ada lagi rasa malu pada Suami nya.
"Aku.... Aaacchhhh!!! Kenapa bisa begini?!!" Krisna histeris.
Lita melihat ke arah milik Krisna. Tak ada reaksi disana. "Ya Allah... Apa yang harus Aku lakukan? Kaaakkk...." Lita memeluk tubuh Krisna.
Namun Krisna mendorong tubuh Lita. Lita menarik tangan Krisna. Krisna menindih tubuh Lita.
"Maafkan Aku... Aku tidak berguna jadi Suami... Hik... hik... hik..." Krisna terisak.
Lita memberanikan diri memegang milik Krisna. Dia seorang Dokter, tahu lika liku anatomi kenikmatan tubuh manusia.
"Aapppaaa yang Kamu lakukan, Sayang?!" Krisna tak menyangka Lita mau memainkan punyanya. Memberikan sensasi dengan mulutnya. Krisna sangat memanjakannya, tidak mungkin Lita membiarkan Suami nya menderita.
"Aaacchhh... Sayaang..." Krisna mendesah. Tapi miliknya tidak juga bangun.
Lita terus menarik ulur milik Krisna dalam mulutnya.
__ADS_1
"Saaayyaaaang... Aku... Aku mau keluar...." Krisna hendak melepaskan miliknya dari mulut Lita, tapi Lita tak membiarkannya. "Aaacchhhh... Sayaaang....." Krisna mengeluarkan isi hasratnya kedalam mulut Lita.
Lita menahan ingin muntah. Dia berlari ke kamar mandi. Airmata nya mencelos tak dapat menahan rasa yang dirasa mulutnya.
Krisna menyusulnya. Memijat tengkuk Lita dengan lembut. "Maafkan Aku..." Krisna merasa bersalah.
Lita menggeleng. Lita memeluk tubuh Krisna. Tubuh Mereka yang masih polos menyatu. Krisna mengelus tubuh Lita. Menciumi wajah Lita.
"Terima kasih Sayang... Terima kasih..." Krisna terus menciumi wajah Lita.
"Kak... Kita Suami Istri, sudah seharusnya Kita saling melengkapi. Kakak sudah menerima kekurangan Ku, maka kekurangan Kakak jadi tanggung jawabKu." Kata Lita.
Krisna memeluk tubuh Lita erat. "Aku berjanji akan selalu membahagiakan Mu..."
"Aku juga berjanji akan menjadi Istri yang memuliakan Mu." Kata Lita.
Mereka akhirnya mandi bersama. Krisna memandikan Lita, Lita menyabuni Krisna. Walau kepuasan didapat dengan cara lain, tapi membina rumah tangga bukan hanya dari kenikmatan di ranjang saja.
___________________________
Lita meneruskan memasaknya. Krisna merasa lebih baik. Dia selalu menggoda Lita yang sedang memasak.
"Kak... Nanti matanya kena sambel." Lita sedang mengulek cabe, Krisna malah terus memeluknya dari belakang. Menempelkan dagu nya di bahu Lita.
Krisna terkekeh. Dia melihat sayuran yang belum disiangi Lita. "Kamu mau buat capcay, Sayang?" Tanya Krisna.
"Heeemmm..." Lita mengangguk.
Krisna langsung membantu Lita membersihkan sayuran dan memotong-motong. Mengiris bawang dan menyiapkan bumbu lainnya.
Krisna merangkul bahu Lita. Membawa nya mencuci tangan. Kemudian menuntun Lita agar duduk di kursi meja makan. "Kamu duduk disini saja, biar Aku yang meneruskan."
"Tapi Kak..." Lita hendak membantah.
"Diamlah Tuan Puteri Ku...." Canda Krisna.
Lita menghela nafas. Sudah berulang kali Lita melarang Krisna mengerjakan pekerjaan rumah tapi Krisna menampiknya, katanya tubuh nya terasa kaku kebanyakan tidur selama masa pemulihannya.
Beberapa saat kemudian
"Hheeemmm... Haruuummmm..." Lita mengendus aroma masakan Krisna.
"Selesai...!!" Kata Krisna.
"Boleh icip?" Lita sudah membawa sendok.
Krisna mengambil sendok Lita dan menyendok masakannya. Memasukan kedalam mulutnya kemudian menyodorkan ke mulut Lita. Lita tersenyum tapi Dia ikhlas menerima dari mulut Suami nya.
Krisna mengulum lidah Lita. "Enak, Sayaaang??"
Lita mengangguk, berebut udara karena Krisna tak melepas pagutannya.
Krisna terkekeh. Dia mengacak rambut Lita yang masih basah.
__ADS_1
Lita tersipu malu. Lita bergegas menyajikan masakan Krisna dalam piring saji.
Tok... tok... tok... Pintu depan diketuk.
Lita dan Krisna saling pandang.
"Kok cepat Caca perginya?" Tanya Krisna. "Aku lihat yah... Kamu rapihkan pakaian Mu." Pinta Krisna.
Lita segera menyambar hijab nya. Dia kembali menata makanan di meja makan.
"Assalamu alaikum..." Salam dari Orang-orang yang mengetuk pintu rumah Mereka.
"Wa alaikumussalaam..." Krisna mengerutkan keningnya. Tapi senyumnya mengembang saat melihat Tristan di belakang Suami Istri yang sudah tidak muda lagi. Krisna langsung paham siapa yang bertandang ke rumah nya. Krisna langsung mencium punggung telapak tangan Tia dan Lambok.
Tia dan Lambok tersenyum mendapat sambutan baik dari Krisna. "Apa Kamu Krisna?" Tanya Tia.
"Ya Ma.... Aku Krisna. Mari Ma... Pa... masuk... Tristan..." Krisna mempersilahkan.
"Sayaaang..." Krisna setengah berteriak.
"Siapa yang da....." Lita sedang memegang piring, terkejut melihat siapa yang datang.
Krisna buru-buru mendekat pada Lita dan mengambil piring di tangan Lita. Lalu meletakan di meja makan.
Lita sudah terisak. "Mama....Papa..." Lita langsung menghambur, bersimpuh di kaki Tia dan Lambok. "Ampuni Lita Ma... Pa... Maafin Lita..."
Tia mengangkat bahu Lita dan memeluk Puteri nya. "Kenapa Kamu membiarkan Mama menderita, Sayaang... Apa Kami tak berarti buat Mu?" Tia menangis dalam pelukan Lita.
"Maafin Lita Ma... Lita bingung harus bagaimana..." Lita terus menangis.
Krisna menyeka airmata nya melihat pertemuan Anak dan Kedua Orangtua nya.
Lambok yang melihat Krisna bersedih seakan mengerti. Dia merangkul bahu Krisna dan mengusapnya.
Krisna langsung memeluk tubuh Lambok. "Maafin Kami Pa..." Kata Krisna.
"Tidak Nak... Kamu tidak salah.. Yang salah disini, Puteri Kami. Dia selalu menyembunyikan masalahnya dari Kami." Kata Lambok yang mengusap airmata Krisna.
Lambok dan Tia sudah tahu dari Tristan kalau Krisna sebatang kara. Lambok mengerti pasti, Krisna merindukan kasih sayang dari Orang Tua.
Lita membawa Tia duduk di sofa. Lita mengusap airmata Sang Mama. Berulang kali Dia mengecupi wajah Mama nya.
"Ma... Pa... Kayaknya Kakak abis masak deh. Harum banget... Laper nih..." Tiba-tiba Tristan menghapus kesedihan Mereka.
"Ya ampuuunnn Tristaaan?!" Tia mendelik.
"Cape tau Ma nangis melulu. Aku jadi laper..." Tristan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ayooo... Ma.. Pa... Tristan.. Kita makan..." Ajak Krisna.
"Kayaknya enak banget nih..." Kata Lambok.
"Siapa yang masak?" Tanya Tia.
__ADS_1
Krisna dan Lita saling menunjuk. Lita tersipu malu, Krisna langsung merangkul bahu Lita.