
Lita mengusap airmata nya. "Maafkan Aku karena telah menjadikan Bang Vero, sebagai bahan risetku. Ternyata riset ku gagal. Huk... huk... huk..." Lita menangis sesegukkan.
"Ssstttt.... Jangan menangis." Fahri memeluk tubuh Lita yang sudah terguncang.
Farah mengusap punggung Lita dengan lembut.
"Jangan merasa bersalah, Sayang... Auntie mu sudah menjelaskan padaku. Riset mu tidak gagal. Obat yang Kamu racik untuk Vero, tidak gagal. Malah dibilang hampir mencapai sempurna. Ini semua sudah takdir. Allah sudah menentukan umur Vero." Arby mencoba menghibur Lita.
Hati Farah terluka manakala Dia mendengar Veri memanggil Lita dengan sebutan SAYANG.
"Tapi tetap saja Aku yang salah. Kalau saja Aku gak sakit dan Bang Vero tak mendengar igauanku... Mungkin hari ini.... Hik... hik... hik..." Lita kembali terisak. Mengingat Vero menghembuskan nafas terakhirnya dihadapannya.
"Sayaaang... Kamu calon Dokter. Kamu harus bisa menerima suatu kegagalan. Bukan berarti Kamu sudah gagal. Ingat pesan Vero, Dia tak ingin melihatmu bersedih." Kata Arby lagi.
"Bagaimana Abang bisa tahu?" Tanya Lita.
"Aku beberapa kali bertemu Vero di Rumah Sakit. Vero berharap Kamu selalu bahagia. Vero merasa hidup nya gak akan lama lagi. Vero sudah ikhlas jika Kamu memang sudah tak mencintainya lagi. Vero juga tahu Kamu terluka sejak berpisah dengannya." Jelas Arby atau Veri.
"Apa Abang memberitahu Bang Vero?" Tanya Lita.
Veri mengangguk. "Aku sudah menceritakan semua pada Vero. Aku gak mau Vero berat meninggalkanmu. Aku bilang Lita sudah bahagia. Vero memang curhat padaku tentang igauanmu yang Dia dengar. Makanya Aku menceritakannya semua."
"Termasuk hubungan Kita dulu?" Tanya Lita tak percaya.
Veri mengangguk. "Semua nya... Tak ada yang dikurangi dan ditambahi."
"Sudah yaahhh... Jangan nangis lagi..." Fahri melerai pelukannya dan mengusap airmata Lita. "Lihat tuh, Kamu sekarang terlihat jelek, malah kurus, matanya celong. Tulang pipi nya juga keliatan.... Aahhh pokok nya gak banget seperti seorang Lita, Adikku yang cantik." Goda Fahri.
"Iiisshhh Abang..." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Makanya jangan nangis lagi..." Kata Fahri yang kembali memeluk Lita. Lita mengangguk.
"Tuh lihat Farah, wajah nya sudah mendung, mendengar Veri memanggil Kamu, Sayang." Bisik Fahri.
"Memang Farah suka, Bang?" Tanya Lita sambil berbisik. Fahri mengangguk.
Lita melerai pelukannya. "Jadi... Ada yang diam-diam lagi curi-curi pandang yah??!!" Lita menggoda Farah.
Farah terlihat kaget kepergok Lita. "Si... siapa Lita?" Tanya Farah gugup.
"Bang Veri.... Saudara ku ini, cantik kan?" Lita merangkul bahu Farah sambil menoel dagu Farah.
"Iihhh Lita... Apaan siiihhh... Jangan bikin malu deh." Gumam Farah kesal.
"Cantik..." Kata Veri singkat.
"Abang suka gak sama Saudara ku ini?" Goda Lita.
"Kamu ada-ada saja Lita..." Veri menggeleng-gelengkan kepala. "Aku masih mencintaimu Lita." Batinnya.
__ADS_1
"Ayo ah pulang. Udah siang. Sebentar lagi Adzan Dzuhur." Farah yang sudah selesai merapihkan peralatan makan, segera berdiri dan angkat kaki dari sana.
"Iiisshhh Farah... Kebiasaan deh... Suka ninggalin." Lita terlihat kesal. "Ayo Bang... Pulang... Nanti Mama khawatir." Lita mengulurkan tangannya pada Fahri.
Fahri menyambut tangan Lita dan ikut beranjak dari sana.
"Lita..." Panggil Veri.
"Iya..." Lita menatap Veri.
"Apa Kamu ada waktu lain kali? Ada yang mau Aku omongin." Pinta Veri.
"Tentang apa?" Tanya Lita bingung.
"Aku cuma mau ngobrol aja sama Kamu..." Kata Veri merasa tak enak dengan tatapan Fahri yang sangat posesif.
"Main aja ke rumah Nenek. Aku tinggal di sana selama riset." Kata Lita.
__________________________
"Aku masih mencintaimu...." Veri mengungkapkan perasaannya.
Lita menunduk. "Tapi Bang... Aku sudah bilang berulang kali, Aku gak bisa mencintai Abang. Abang juga tahu kan sebabnya?"
"Tapi Vero saudara kembar ku... Bukan orang lain. Kalau pun Kamu masih memikirkannya, Aku gak masalah." Kata Veri lagi.
"Maaf Bang... Aku gak bisa... Aku... Aku..." Lita nampak ragu.
"Apa karena Leo?" Tanya Veri.
Lita mengangguk.
"Tapi sampai kapan Kamu menunggu nya untuk muallaf?" Veri terlihat kesal.
"Aku gak tahu, Bang. Saat ini Aku sedang fokus merampungkan risetku. Aku sedang tak ingin bermain hati. Aku gak mau lagi terluka. Sudah cukup bagiku. Aku pasrah pada Allah. Aku yakin, Allah akan memberikanku yang terbaik." Tegas Lita.
"Tapi...." Veri terlihat putus asa.
"Bang.... Cobalah membuka hati Abang untuk gadis yang lain." Pinta Lita akhirnya. Lita tahu, Farah menyukai Veri. Farah memang tertutup. Tapi Lita tahu dari tatapannya pada Veri.
"Kehidupanku entah akan berhenti dimana. Setelah lulus, Aku akan mengabdikan diriku untuk orang banyak. Aku ingin berguna untuk orang banyak." Kata Lita lemah lembut, tak ada maksud menyakiti hati Veri.
Veri mengambil jemari Lita. Veri menghela nafas. "Kamu benar... Tidak seharusnya Aku memaksakan hatimu untuk menerimaku lagi. Aku akan coba membuka hatiku untuk gadis yang lain." Veri tersenyum.
Lita tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Aku doakan... Abang mendapat pendamping hidup yang baik dan cantik." Goda Lita.
"Kalau Farah, sudah punya pacar, belum?" Canda Veri.
"Hhhmmm.... Kasih tau gak yaaahhh???" Canda Lita.
__ADS_1
"Kasih tahu lah... please... please...." Veri memohon.
"Iisshhh... Usaha sendiri lah... Masa harus disuapi terus... Hahahaha..." Lita tertawa lepas. Bebannya merasa berkurang, hati nya plong.
"Tapi Kamu setuju, kalau Aku sama saudaramu?" Tanya Veri.
"Iisshhh GR deh... Lagian belum tentu juga Saudara ku mau sama Abang... Weeeee..." Lita menjulurkan lidahnya.
"Hahahahaha.... Kamu kayak anak kecil." Veri mengacak kepala Lita yang tertutup hijab.
"Hhmmm.... hhmmm... hhmmm..." Fahmi berdehem.
"Ayaaahhh...." Wajah Lita terlihat bersemu merah.
"Om..." Veri menunduk.
"Udah mau Maghrib. Kamu gak siap-siap?" Tegur Fahmi.
"Iya nih Yah... Calon mantu Ayah tuh... Weee..." Lita meledek Veri.
"Apa Lita? Calon mantu Ayah? Kamu jadian sama Dia?" Fahmi terlihat bingung.
"Iisshh Ayah... Bukan Aku... Tapi..." Lita membisikkan sesuatu ke telinga Fahmi. Mata Fahmi mendelik.
"Bener itu, Veri?" Tanya Fahmi dengan nada geram.
Veri nampak gugup. "Maaf Om... Aku juga belum mencoba memenangkan hati Puteri Om..." Veri menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Kamu bisa mengaji? Sudah berapa kali Kamu khatam Al Quran?" Tanya Fahmi dengan tegas.
"Harus yah Om..." Veri masih menunduk.
"Wajib!" Tegas Fahmi.
"Alhamdulillaah.... Saya khatam Al Quran tiga bulan sekali Om." Veri masih menunduk.
Tiba-tiba Fahmi memeluknya. "Subhanallaah...."
Veri terlihat kaget dan mendongak melihat kearah Lita yang sudah memberikan dua jempol nya dan sebuah kerlingan mata.
"Setidaknya Aku bisa melihat keceriaan di wajah mu, Lita. Kamu sangat cantik jika ceria begitu. Semoga Kamu selalu bahagia." Batin Veri sambil membalas mengacungkan sebuah Ibu jari nya pada Lita.
Fahmi melerai pelukannya. "Kalau Kamu memang serius, Ayah gak akan melarang. Pesan Ayah satu, Jaga kehormatan Puteri Ayah selama pengenalan. Bahagiakan Puteri Ayah." Pesan Fahmi.
"Iiyyaaa... Om... Veri juga belum tahu perasaan Farah pada Veri." Veri nampak gugup.
"Satu lagi.... Kalau Kamu menyakiti Puteri Ayah, siap-siap saja Kamu menghadapi kedua Abang nya Farah." Canda Fahmi.
Lita terkekeh mendengar perkataan Fahmi. Veri menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1