CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Selamanya Berada Disisimu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gery sudah membawa Friska keluar dari ruang perawatannya. Dengan menggunakan kursi roda Gery mendorongnya, mengajak Friska untuk berjemur saat matahari menampakan dirinya.


Gery sudah dua minggu melakukan rutinitas ini, sejak Friska sadar dari komanya.


"Gery..." Panggil Friska.


"Ya Sayang..." Jawab Gery lembut.


"Apa Atala yang kemarin itu anaknya Tante Tia dan Om Lambok?" Tanya Friska.


Gery mengernyitkan dahinya mencoba mengingat cerita Papa nya, Teguh.


"Ya Friska.... Ada apa? Apa Kamu mengingatnya?" Tanya Gery.


"Aku hanya ingat Dia anak Tante Tia. Karena Mama ku dan Mama nya Atala itu sahabat sejak kuliah." Kata Friska.


"Ooohhh..." Gery mengangguk.


"Gery....." Panggil Friska lagi.


"Ya...." Kata Gery.


"Maafin Aku ya... Aku merepotkan Kamu." Kata Friska.


Gery langsung ke depan kursi roda Friska. Dia berjongkok. "Kamu jangan bicara seperti itu. Aku sangat mencintaimu..." Kata Gery.


Friska menunduk malu. Gery mengangkat dagu Friska lembut. "Sayang... Aku sangat mencintaimu, Aku ingin Kamu menjadi pendamping hidupku."


"Iiihhh Gery apaan siih...?! Kita kan masih kuliah, kok ngomongin pendamping hidup." Friska masih tersipu malu.


Gery menghela nafas. "Berapa usiamu kini?" Tanya Gery.


"Gery.... Kamu kan tahu... Kita masih sangat muda. Aku baru 19 tahun, 2 bulan lagi 20 tahun." Kata Friska.


Gery tersenyum. "Kamu tahu Sayang... Usia mu kini sudah 26 tahun. Dan Kamu baru satu tahun lalu lulus kuliah. Sedangkan Aku sudah tiga tahun yang lalu lulus kuliah." Jelas Gery.


"Kok bisa gitu? Kamu kan sama Aku seangkatan." Kata Friska bingung.


Gery menghela nafas. "Sayang... saat kita sama-sama naik tingkat, pas mulai masuk ajaran baru, Aku kehilangan Kamu selama setahun." Kata Gery.


"Memang Aku kemana?" Tanya Friska.


Gery menggeleng. "Aku tidak tahu. Pas setahun, Aku melihatmu lagi, Aku sangat senang. Dan Aku mengungkapkan perasaanku padamu..." Jelas Gery tapi terlihat murung.


"Oh ya..? Lalu Aku pasti menerimamu, ya kan? Lalu apa Aku sekarang sudah menjadi istrimu?" Tanya Friska sangat senang.


Gery nampak ragu. Tapi akhirnya Gery menggeleng. "Tidak Sayang... Kamu menolakku. Entah mengapa Aku juga gak tahu. Atau mungkin Kamu menolakku karena tak ingin membuatku kecewa karena ternyata Kamu sakit?" Tanya Gery.


"Aku gak tahu Gery... Kepalaku sakiiitt..." Keluh Friska.


"Kamu mau kembali ke kamar?" Tanya Gery.


Friska mengangguk. "Tapi Aku ingin selalu Kamu temani..." Pinta Friska manja.


Gery tersenyum. "Iya sayang... Aku akan menemanimu." Gery pun mendorong kursi roda Friska dan kembali ke kamar.


Tabib tersenyum melihat kedatangan Gery dan Friska.

__ADS_1


"Ayooo sarapan dulu..." Pinta Tabib.


"Apa Aku akan makan bubur lagi?" Tanya Friska sambil mengerucutkan bibirnya.


Gery menatap Tabib. Tabib tersenyum. "Ya Nak. Karena lukamu belum kering benar." Kata Tabib.


Friska menghela nafas. "Tapi apa harus tak ada rasa?" Friska merajuk.


"Kamu mau rasa apa, Nak?" Tanya Tabib.


"Sedikit pedas Tabib. Dan agak manis." Pinta Friska.


"Boleh..." Tabib beranjak ke dapur.


"Kamu disini dulu ya... Aku akan membuatkan bubur yang enak untukmu." Kata Gery.


"Benarkah?" Friska nampak tak percaya.


Gery mengangguk. "Sesuai permintaanmu, sedikit pedas dan sedikit manis."


Friska mengangguk senang. "Tapi gak lama kan?" Tanya Friska.


Gery mengangguk dan langsung ke dapur. "Tabiiiibb..." Panggil Gery.


"Ya Nak. Ada apa?" Tanya Tabib.


"Apa boleh Saya saja yang membumbuinya?" Tanya Gery. "Tabib kasih tahu ke saya mana yang boleh dan yang tidak."


"Baiklah." Tabib menunjukan bumbu-bumbu nya dan rasanya. Itu semua adalah ramuan dan rempah.


Gery juga menciumi satu persatu juga menyicipinya. "Bubur sudah matang tinggal bumbunya saja. Tak akan lama." Gumam Gery.


"Hhmmm... Harum... Pasti enak." Kata Tabib.


Gery menyodorkan semangkuk bumbu itu pada Tabib. Tabib menuangnya sedikit demi sedikit kedalam bubur.


"Hhmmm... Ini sangat enak. Kenapa Aku tak terpikir membuat seperti ini?" Canda Tabib.


Gery tersenyum. "Apa boleh Aku memberikan pada Friska?" Tanya Gery.


"Tentu boleh Nak... Friska pasti akan suka, dan Dia tak akan lagi malas makan." Canda Tabib.


"Baiklah... Kalau begitu Aku antar untuk Friska." Kata Gery.


Tabib mengangguk.


"Serius ini Kamu yang buat?" Friska sangat lahab menyantab bubur yang telah dibumbui Gery.


Gery mengangguk sambil terus menyuapi Friska.


"Jadi Kamu suka masak?" Tanya Friska.


"Gak juga. Aku dulu sering membantu Almarhumah Mama ku kalau Dia sedang memasak." Kata Gery.


"Jadi Mama mu sudah tak ada?" Tanya Friska pelan. "Maaf..."


Gery mengangguk. "Gak apa. Itu sudah lama sekali." Kata Gery.

__ADS_1


"Gery... Apa nanti kalau Aku ingat semuanya, Aku akan tetap disampingmu?" Tanya Friska tiba-tiba.


Gery terlonjak senang. "Benarkah Kamu mau selalu berada disisiku?" Tanya Gery.


Friska mengangguk senang. "Aku sudah menyukaimu saat pertama kali Kita berteman. Dan sikapmu yang lembut membuatku tak bisa melupakanmu." Kata Friska.


Gery memeluk tubuh Friska lembut. "Aku janji akan selalu membahagiakanmu. Aku akan menebus semua kesalahanku padamu." Janji Gery.


Friska melerai pelukannya. Dia menatap mata Gery, ada tatapan cinta yang tulus disana. "Tapi mengapa Kamu bersalah padaku?" Friska tampak bingung.


Gery menghela nafas. Dia bingung untuk jujur pada Friska.


"Jujur lah Nak... Tak akan ada apa-apa sama Friska..." Tiba-tiba Tabib sudah berada di kamar Friska sambil membawa 2 gelas air minum dan secangkir ramuan untuk Friska.


"Benar gak apa-apa, Tabib?" Gery ragu.


"Makin ada reaksi dari kejujuranmu, makin baik, Aku akan mengobatinya. Sejauh mana Dia bisa menerima kenyataannya." Kata Tabib.


Friska sangat bingung dengan kata-kata Tabib. Tapi Dia mencoba tersenyum. Friska ingin tahu yang sebenarnya. Dia sudah siap untuk mendengarkannya.


"Kalian minum dulu ya. Habis makan belum minum." Canda Tabib.


Gery memberikan minum pada Friska perlahan. Kemudian minum untuk dirinya.


Tabib menyerahkan cangkir ramuan untuk Friska. Gery dengan sabar memberikan pada Friska yang sangat susah menelan ramuan itu.


"Heeeeehhhh... Berapa lama lagi Aku harus mengkonsumsi obat ini?" Kata Friska yang menyeka bibirnya dengan punggung telapak tangannya.


"Kalau Kamu ingin hidup lebih lama dengan Gery, Kamu harus sabar menjalani terapi ini, Nak." Canda Tabib.


Friska tersipu malu akan perkataan Tabib.


"Apa Kamu sudah siap mendengarnya?" Tanya Gery.


Friska mengangguk dengan pasti.


Gery pun mulai menceritakan dari awal penolakan Friska. Hingga Friska menikah dengan Atala dan melahirkan Puterinya.


Friska nampak shock mendengarnya. Dia tak percaya kalau hatinya bisa berpaling dari Gery yang sangat baik padanya.


Friska menangis. Dia tak bisa menerima kenyataan kalau ternyata Dia adalah istri Atala yang ternyata Adik dari Gery.


"Hik... hik.. hik... Jadi luka jahitan ini karena Aku abis operasi caesar? Lalu dimana Puteriku?" Tanya Friska frustasi.


Friska tak marah pada Gery karena ternyata Friska hamil gara-gara Gery. "Maafkan Aku karena Aku telah menolakmu... Aku juga gak tahu kenapa."


"Mungkin saat Kamu tak masuk kuliah satu tahun, Kamu sedang berobat, Nak?" Tanya Tabib.


"Mungkin Tabib. Tapi mengapa Aku gak ingat?" Tanya Friska.


"Itu efek dari obat-obatan yang selama ini Kamu konsumsi. Obat itu bersifat menekan penyakitmu agar tak terus berkembang. Hingga tubuhmu tak sanggup lagi untuk menerimanya." Jelas Tabib.


Friska mengusap air matanya. Dia melihat Gery yang tertunduk merasa bersalah. Friska menyentuh tangan Gery.


"Maafkan Aku karena Aku tak jujur padamu..." Kata Friska.


Gery mengangkat wajahnya. "Aku tak marah padamu, Sayang. Justru Aku yang sudah jahat sama Kamu... Puteri Kita ada sama Mama Diandra. Atau mungkin sama Mama mu." Kata Gery.

__ADS_1


"Apa Aku begitu mencintai Atala? Hingga Kamu, Aku tolak?" Tanya Friska.


Gery mengangguk. Friska menghela nafas. Tiba-tiba cairan hitam yang kental keluar dari hidung Friska.


__ADS_2