
"Yang ini cocok untuk mu, Sayang..." Kata Tia pada Astrid. Tia, Lita dan Astrid sedang ke Mall mencari baju hamil untuk Astrid dan membeli beberapa oleh-oleh. Karena lusa Lita beserta Mama dan Papa nya kembali ke Indonesia.
"Aku pasti akan merindukan Kalian..." Astrid terlihat sedih.
"Nanti kalau Kamu sudah lahiran dan libur Kuliah, Kamu main ke rumah Kami di Indonesia, ya Sayang." Kata Tia lembut sambil kerangkul bahu Astrid.
"Insyaa Allah kalau gak ada halangan, Pas Kamu lahiran nanti, Aku akan kembali kesini." Janji Lita.
"Janji ya..." Astrid mengrucutkan bibirnya.
"Insyaa Allah..." Kata Lita.
Setelah membayar belanjaan Mereka, Mereka pergi ke foodcourt dimana Lambok dan Arham menunggu Mereka di sana.
"Cape yah??" Tanya Arham sambil merangkul istri nya dan membawa nya duduk.
"Lumayan... Ternyata kalau sedang hamil gini, cepet banget cape nya." Keluh Astrid.
Tia dan Lambok tersenyum mendengar perkataan Astrid.
"Kamu jaga baik-baik Istrimu ya Nak Arham." Pinta Lambok.
"Pasti Pa... Aku sangat menyayangi Astrid." Kata Arham.
Sedangkan Lita, pandangannya tertuju pada suatu tempat.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Tia bingung karena mata Lita sudah berkaca-kaca. Tia mengikuti arah pandang Lita. Begitu pula dengan Lambok, Astrid dan Arham.
"Kurang ajar...!" Arham mengepalkan tangannya.
Lambok dan Tia sangat terkejut melihat Leo bersama seorang perempuan cantik. Wanita itu bergelayut manja pada Leo, sedangkan Leo terlihat senang memanjakan wanita itu.
Astrid juga terlihat sangat kesal. Astrid hendak bangun mengejar Leo. Arham sudah meninggalkan meja tempat Mereka makan, tapi tiba-tiba.
"Aacchhh... Aaduuuhhhh....." Astrid memegang perutnya. "Ma... Sakiiittt....Kak Arhaaammm..." Astrid setengah berteriak kesakitan.
Arham menoleh mendengar keluhan Astrid, Arham berlari menghampiri Astrid. "Astrid...!"
"Cepat Kita bawa Astrid ke Rumah Sakit!" Lambok bergegas membantu Arham membopong tubuh Astrid yang sudah pingsan karena tak kuat menahan sakit.
Lita langsung mengusap airmatanya kasar. Dia mengganteng tangan Tia mengikuti Papa nya dan Arham yang sudah membawa Astrid ke parkiran mobil.
Tia berulang kali mengusap telapak tangan Lita. Tia sangat mengerti perasaan Lita. Satu bulan Leo menghilang entah kemana, tidak bisa dihubungi seperti ditelan bumi. Namun hari ini Lita melihatnya bergandengan mesra dengan perempuan cantik.
Lita tersenyum pahit. "Aku gak apa Ma... Mungkin ini lebih baik sebelum semua nya terlambat." Lita mencoba tegar.
Tia tersenyum. Tia sangat tahu, tidak semudah itu melupakan Laki-laki yang setahun ini mengisi hari-hari Kita.
Mereka sudah tiba di mobil. Arham mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit terdekat.
_____________________________
__ADS_1
Lita terlihat duduk termenung sambil menunggu kabar tentang Astrid.
Sedangkan Arham sudah mondar-mandir menunggu kabar dari Dokter.
"Duduk lah Nak... Astrid akan baik-baik saja." Kata Lambok.
Arham menghentikan langkahnya. Dia menghampiri Lambok dan duduk disisi kanannya.
Tia dari tadi tak henti-henti nya mengusap bahu Lita. Lita terlihat murung. Saat Tia menyentuh punggungnya agak keras, Lita tersenyum pahit.
Pintu ruang tindakan Astrid terbuka. Arham langsung berdiri dan menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaan Istri Saya, Dokter?" Nampak kecemasan menghiasi wajah Arham.
Dokter tersenyum. "Mari ikut Saya..." Ajak Dokter sambil berjalan ke ruangannya.
Lambok mengikuti langkah Arham. Sedangkan Tia tak sedikitpun meninggalkan Lita yang pikirannya terbang entah kemana.
"Ibu Astrid baik-baik saja... Hanya saja emosi nya tak stabil, ada apa?" Tanya Dokter.
Arham menengok pada Lambok. Lambok mengangguk.
"Tadi Kami hendak melabrak seseorang Dokter. Istri Saya sangat kesal karena Adik kesayangannya dihianati." Jelas Arham.
Dokter tersenyum. "Sebisa mungkin jangan memancing Emosi Ibu Astrid. Tadi sedikit kontraksi pada janin nya karena Emosi Ibu Astrid yang tiba-tiba."
Arham menghela nafas. "Baik Dok... Saya akan usahakan Istri Saya tenang. Apa Istri Saya harus dirawat, Dokter?" Tanya Arham.
"Tidak perlu. Ibu Astrid sudah sadar. Hanya perlu menenangkan diri dan istirahat." Jelas Dokter.
"Apa boleh Saya melihat Istri Saya, Dokter?" Tanya Arham lagi.
"Tantu saja boleh. Ibu Astrid sedang dibawa ke ruang perawatan." Kata Dokter.
"Baiklah Dokter, terima kasih banyak." Kata Arham seraya berdiri dan meninggalkan ruangan Dokter, diikuti Lambok.
"Papa..!! Kak Arham!" Panggil Lita.
"Ya Sayaang..." Sahut Lambok.
"Ruang perawatan Astrid disana." Unjuk Lita.
Lambok dan Arham tersenyum. Sebenarnya Lambok dan Arham sangat cemas dengan keadaan Lita. Mereka takut Lita akan kembali sakit.
"Ayo Sayang... Kita menemui Astrid." Kata Lambok sambil merangkul bahu Lita. Sedangkan Tia sudah ikut dengan rombongan perawat yang membawa brankar Astrid ke ruang perawatan.
"Kak Arham... Bagaimana bayi Kita?" Tanya Astrid sesaat melihat Suami nya masuk ke ruang perawatannya.
Arham tersenyum dan segera mendekat. Arham mengecup kening Astrid. "Alhamdulillaah Dia baik-baik saja." Kata Arham sambil mengelus perut Astrid dengan lembut. Arham juga memberitahukan pada Astrid apa kata Dokter.
Lita yang mendengarnya segera menunduk. Lita kembali teringat kejadian tadi.
__ADS_1
"Lita...." Panggil Astrid.
Lita mendongak. "Yaaa... Jangan Kamu pikirkan ya... Mungkin lebih baik Kamu mengetahuinya lebih awal." Kata Astrid yang terlihat khawatir dengan keadaan Lita.
Lita memaksakan senyumnya. Lita mengangguk. "Kamu jangan mengkhawatirkan Aku. Ingat kesehatan Kamu dan bayi Kamu." Kata Lita lembut.
Astrid tersenyum. "Kamu juga harus ingat, penyakitmu dari sini dan sini." Astrid kembali mengingatkan Lita.
Lita tersenyum. "Terima kasih, Strid."
Lambok mengusap kepala Lita lembut dan merangkulnya, menenggelamkan kepala Lita ke dada nya.
___________________________
"Kalian jaga diri baik-baik ya... Ingat ya Astrid, Kamu gak boleh emosi..." Tia mengingatkan Astrid sesaat lagi pesawat Mereka akan take off.
"Ya Ma.. Pa... Aku titip Lita ya Ma....Tolong jaga Adikku yang cantik ini." Canda Astrid yang segera memeluk tubuh Lita.
"Kamu juga baik-baik ya Strid. Jaga keponakan Aku..." Balas Lita.
Panggilan terakhir pesawat ke Indonesia sudah terdengar.
"Papa pamit ya Arham...." Kata Lambok.
"Iya Pa... Salam sama saudara-saudara disana." Pinta Arham.
"Insyaa Allah..." Kata Lambok dan Tia.
Astrid menciumi kedua pipi Lita. Lita juga melakukan hal yang sama.
"Kamu harus kuat ya Lita..." Astrid memberi kekuatan pada Lita. Lita mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo Sayaang...." Ajak Tia sambil mengulurkan tangannya pada Lita.
Lambok dan Tia menggandeng tangan Lita.
Astrid dan Arham menatap kepergian sahabat nya juga orangtua nya. Hingga tak terlihat lagi.
"Ayo Sayang, Kita pulang." Ajak Arham.
Astrid mengangguk. Arham merangkul bahu Astrid dan mengecup puncak kepala Astrid yang tertutup hijab.
Di dalam Mobil.
"Aku gak habis pikir, kok tega-tega nya Pak Leo menghianati Lita. Dari awal Kak Fathir sudah wanti-wanti pada Leo agar tak menyakiti Lita. Tapi nyatanya..." Astrid nampak sangat kesal.
Arham mengelus paha Astrid yang tertutup gamis nya. "Sayaang... Jaga emosi Kamu..." Arham mengingatkan.
"Aku gak terima, Sayang. Dia menyakiti Adikku." Kata Astrid penuh amarah.
"Aku juga marah, Sayang... Tapi Kamu harus ingat anak Kita." Pinta Arham dengan lembut.
__ADS_1
Astrid menghela nafas. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Lihat saja nanti kalau Aku bertemu Dia lagi." Ancam Astrid.
Arham mengelus kepala Astrid sambil menggelengkan kepala dan tersenyum. Arham mengendarai kendaraannya dengan kecepatan sedang.