
Pagi-pagi sekali Tia sudah sibuk di dapur. Lita dan Vita juga sedang membantu sang Mama.
Hari ini Mereka berencana pergi mencari orangtua kandung Atala.
Atala sangat senang, semalam Papa Mereka memastikan kembali akan berangkat hari ini.
Tia, Vita dan Lita menyiapkan segala sesuatunya. Walau banyak resto di pinggir jalan atau di Mall, Mereka memutuskan membawa bekal dari rumah, masakan favorit karena Mama yang memasak.
"Sudah selesai, Sayang?" Tanya Tia pada Vita.
"Belum Ma.... Lebih baik kita siap-siap dulu, sebentar lagi adzan subuh Ma." Kata Vita.
"Ya Sayang...." Kata Tia yang mematikan kompor. Dan membuka celemeknya.
Mereka pun meninggalkan dapur menuju kamar masing-masing.
Atala dan Papa sudah bersiap. Atala sudah menggendong Tristan.
Adzan subuh pun berkumandang. Mereka telah bersiap di musholah. Lambok mengimami shalat subuh mereka.
Jam 7 pagi. Mereka pun berangkat ke Cikarang Bekasi. Lambok yang menyetir mobil. Atala duduk disamping Papa nya.
Tia duduk di belakang Lambok bersama Tristan. Twins berada di jok belakang. Sesekali Lita menjahili Tristan hingga suasana kepergian mereka terasa suka cita.
"Pa... Kalau cape biar Atala saja yang bawa mobilnya." Kata Atala yang melihat sepertinya Sang Papa kurang Fit.
"Ya Sayang... Nanti diperhentian berikutnya Kamu yang bawa yah." Kata Lambok.
Tia mengusap bahu Lambok lembut. "Badanmu hangat Sayang. Apa gak sebaiknya berhenti dulu di pom bensin terdekat sebelum masuk tol." Pinta Tia yang terlihat khawatir.
Lambok mengangguk.
"Atau Kita pulang saja Ma... Cari orangtua ku lain waktu saja. Kasihan Papa, Ma." Kata Atala.
"Tidak Sayang... Papa gak apa. Hanya sedikit flu karena kurang istirahat." Kata Lambok.
Tak lama Lambok meminggirkan kendaraannya di pom bensin.
Atala langsung mengambil alih setir. Lita pindah duduk ke samping Atala. Tristan digendong Vita. Lambok merebahkan kepalanya di pangkuan Tia.
Tia mengeluarkan minyak kayu putih dan memijat lembut kening Lambok.
"Minum tolak angin dulu ya, Sayang." Pinta Tia.
Lambok bangun dari rebahannya. Tia memberikan tolak angin dan Lambok meminumnya. Tia memberikan air minum pada Lambok.
15 menit kemudian Atala melajukan kendaraannya. Lambok kembali merebahkan kepalanya dipangkuan sang istri.
"Pa... Bener gak apa Kita melanjutkan perjalanan?" Atala masih khawatir.
"Ya Nak....Papa cuma butuh istirahat sebentar saja. Kamu setir saja yang benar....Jangan berisik." Kata Lambok yang terlihat sangat ingin memejamkan mata.
Tia mengusap bahu Atala. "Biarkan Papa istirahat Sayang..." Kata Tia.
Atala menghela nafas. Dia mengangguk. Papa nya hanya ingin mereka melanjutkan perjalanan.
Atala telah memasuki pintu tol. Lambok terlihat sudah terlelap dengan tangan melingkar dipinggang Tia.
Tristan juga terlelap dalam pangkuan Vita. Sesekali Atala melihat Vita, mencuri pandang lewat kaca spion dalam.
"Semakin hari Aku makin mengagumimu Dek.... Mungkin dengan terkuaknya statusku dalam keluarga, Aku bisa benar-benar mencintaimu Sayang...." Batin Atala sambil tersenyum.
Lita memperhatikan Atala. Lita berdehem. Tapi Dia tak ingin membuka suara, takut Papa nya terbangun.
__ADS_1
Atala menoleh pada Lita. Lita mengangkat sebelah alisnya. Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Lita menunjuk kedua jarinya ke mata dan kemudian ke jalan.
Atala mengangguk. "Maaf..." Atala mengatakan tanpa mengeluarkan suara.
30 menit kemudian mobil yang dikendarai Atala keluar dari pintu tol Cikarang. Tia mulai mengarahkan jalan pada Atala.
"Papa bagaimana Ma?" Tanya Atala yang masih khawatir dengan kesehatan Papa nya.
Tia menempelkan punggung telapak tangannya ke kening dan leher lambok. "Alhamdulillaah...." panas badan Papa sudah mereda. Kata Tia.
"Alhamdulillaah...." Kata Atala yang tetap fokus pada jalan.
Tia masih mengarahkan jalan pada Atala. Dipersimpangan Tia terlihat bingung. "Mama lupa... Jalannya sudah banyak yang berubah." Kata Tia.
"Mama masih ingat nama tempatnya? Kampung apa atau jalan apa?" Tanya Atala.
"Ya..." Tia memberitahu pada Atala. "Kampung utan gang rambutan, kontrakan Nenek Iyam." Kata Tia.
Atala meminggirkan mobilnya setelah dirasa aman untuk berhenti. Atala melepas seatbelt nya kemudian membuka pintu mobil dan mulai bertanya pada orang tentang alamat yang akan dituju.
Tak butuh waktu lama, Atala telah kembali ke dalam mobil.
"Bagaimana sayang?" Tanya Tia.
"Nenek Iyam terkenal ya Ma... Tapi sayang Ma, Nenek Iyam sudah tiada." Kata Atala.
"Innalillaahi wa inna ilaihi rajiun." Kata Tia, Lita dan Vita.
"Atala lanjut ya Ma...." Kata Atala.
"Iya Sayang..." Kata Tia.
"Ya bener Sayang... Ini gang nya. Tapi dulu masih banyak pohon rambutan dan pohon bambu. Sekarang sudah banyak perumahan." Kata Tia.
Atala menghentikan mobilnya di sebuah rumah.
"Kenapa Kita berhenti disini, Sayang?" Tanya Tia.
"Rumah Nenek Iyam masuk gang kecil Ma. Tanahnya sudah dijual. Kontrakannya juga sudah dibeli orang." Kata Atala.
"Ooohhh... Lalu rumah Pak RT?" Tanya Tia.
"Nanti Kita tanya sama anaknya Nenek Iyam." Kata Atala.
"Mama tunggu didalam mobil atau gimana?" Tanya Atala.
"Mama ikut Sayang. Nanti mereka tak mengenalimu. Mudah-mudahan masih ada yang mengenal Mama." Kata Tia.
"Tapi bagaimana dengan Papa, Ma?" Tanya Vita.
"Apa sudah sampai?" Lambok yang mendengar namanya disebut segera buka suara.
"Sudah Pa. Papa gimana istirahatnya?" Tanya Atala.
"Alhamdulillaah Nak. Sayang.... Sepertinya Kita akan menginap di sekitar sini. Aku benar-benar sangat letih." Kata Lambok.
"Iya Sayaaang.... Bagaimana nanti saja." Kata Tia.
"Kamu tinggal di mobil atau ikut?" Tanya Tia pada Lambok.
"Aku disini saja, Sayang. Nanti kalau rumahnya sudah ketemu, Aku baru turun." Kata Lambok.
__ADS_1
"Baiklah." Kata Tia.
"Ma.... Aku ikut." Kata Vita yang masih menggendong Tristan.
"Tristan biar sama Papa saja." Pinta Lambok.
Vita mengangguk dan menyerahkan pada Lambok.
"Aku tinggal saja Ma. Aku khawatir sama Papa." Kata Lita.
"Ya Sayang... Gak apa.." Kata Tia.
Mereka pun bergegas masuk ke dalam gang rumah Nenek Iyam.
"Assalamu alaikum..." Salam Tia, Vita dan Atala.
"Wa alaikumussalam...." Sahut yang punya rumah. "Maaf cari siapa?" Tanya orang itu.
"Saya mau cari Nani, cucu Nenek Iyam." Kata Tia.
"Dari siapa Ibu?" Tanya orang itu yang sepertinya lebih tua dari Tia.
"Maaf... Kalau boleh saya tahu, Bapak siapanya Nenek Iyam?" Tanya Tia ramah.
"Saya suaminya Nani." Kata Pria itu.
"Oohhh... Tia sedikit kaget." Karena yang Tia tahu, dulu suami Nani bukan pria ini. "Maaf Pak, bilang saja dari Tia Jakarta yang dulu ngontrak di sana." Tunjuk Tia pada bangunan yang kini sudah berubah menjadi rumah mewah.
"Baik.. Tunggu sebentar." Kata Pria itu tanpa mempersilahkan masuk.
"Ma... Kok kurang ramah ya?" Tanya Vita pelan.
Tia mengangguk dan menempelkan telunjuknya ke bibirnya.
Tak lama Ibu Nani keluar. Dia terlihat bingung. "Siapa yah?" Tanya Nani.
"Teh... Ini Tia... Masih ingat? Dulu di depan pintu kontrakan Tia ada yang meletakkan bayi?" Tia sedikit khawatir melihat kondisi Nani yang tidak seperti dulu.
"Oohh Kak Tia... Ya Allah..." Nani menangis dan memeluk Tia. Nani mengajak Tia masuk, juga dengan Atala dan Vita.
"Nenek sudah gak ada, Kak Tia. Ibu juga." Nani masih terisak.
"Lalu anak-anak Teh Nani kemana?" Tanya Tia.
"Mereka sudah ikut dengan Suami mereka. Ada yang ke Sumatera, Sulawesi dan Bandung." Kata Nani.
Tia mengangguk. "Maaf Teh, kalau Tia mengganggu." Kata Tia yang tak enak melihat sikap suami Nani yang kurang ramah.
"Gak apa Kak Tia. Ada apa? Ada yang Nani bisa bantu?" Tanya Nani.
"Rumah Pak RT Rahman disebelah mana? Tia lupa." Tia gak mau banyak bertanya pada Nani.
"RT yang dulu waktu Kak Tia disini?" Tanya Nani.
Tia mengangguk.
Nani memanggil seorang anak tanggung. "Baim....Tolong anterin Ibu Tia ke rumah Pak Rahman." Pinta Nani.
"Maaf Kak Tia, Nani gak bisa ikut. Nani sedang gak enak badan." Kata Nani.
"Ya gak apa, Teh. Nanti Tia kembali kesini lagi setelah dari rumah Pak RT." Kata Tia.
"Ya Kak Tia... Sok atuh." Kata Nani.
__ADS_1