CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Patah Hati


__ADS_3

Kedekatan Friska dan Atala makin dekat. Mereka tak segan-segan mengumbar kemesraan di depan Vita.


Itu membuat perasaan Friska pada Atala makin mendalam. Atala sendiri hanya berakting.


Atala ingin memastikan kalau Vita memang mencintainya.


Vita sebisa mungkin menahan gejolak hatinya. Dia menahan deru amarah karena cemburu melihat kedekatan Atala dengan Friska.


Berulang kali Vita menghela nafas, membuang semua himpitan yang terasa sesak di dada.


Diam-diam Lita dan Atala memperhatikan Vita. Wajah Vita mulai terlihat mendung. Dia menahan airmata nya agar tidak tumpah.


Vita membuka Al Qurannya dan fokus menghapal dan mengulang kembali hapalannya


Vita tak mau pandangannya tertuju pada kemesraan Atala dan Friska.


Atala tersenyum. Atala sangat yakin kini kalau Vita memang cemburu dengan kedekatan Dirinya dan Friska.


"Kalau Dia begitu cemburu, berarti Vita juga menyukaiku. Alhamdulillaah... Ya Allah... Aku mohon jadikanlah Vita menjadi pendamping hidupku, di Dunia dan di Akhirat. Aamiin..." Batin Atala. Dia mengusap wajahnya.


Lita melihatnya. "Aamiin...." Kata Lita.


Atala mendongak menatap Lita dari kaca spion dalam. Lita mengedipkan mata. Atala sedikit terlonjak tapi kemudian dia tersenyum pada Lita.


"Apakah Lita mengetahuinya?" Batin Atala.


Vita mendongak. "Sedang doa apa? Kok Kamu mengucap Aamiin?" Tanya Vita.


"Memang salah ya kalau Aku mengamini doa Kak Atala?" Goda Lita.


"Tapi Aku gak dengar Kak Atala berdoa?! ?" Kata Vita.


"Ya Kamu fokus sama hapalanmu, mana dengar Kamu, Kakak berdoa." Canda Lita.


"Kak Atala berdoa apa?" Tanya Vita.


Atala tersenyum. "Tanya saja sama Lita." Atala memandang wajah Vita dari spion dan mengerlingkan sebelah mata pada Vita.


Lita tersenyum melihat kejahilan Kakaknya pada kembarannya.


Vita tersipu malu. "Iiisshhh... Kak Atala ada Kak Friska masih saja genit. Nanti Kak Friska cemburu loh sama Aku..." Canda Vita yang mencoba menutupi kegugupannya. Debar jantungnya terasa sangat berisik. Vita takut terdengar oleh Atala, Lita dan Friska.


Friska menoleh ke belakang. "Bukannya terbalik ya? Kamu kali yang cemburu..!?" Canda Friska.


"Haahhh... Maksud Kakak? Aku cemburu sama Kak Atala? Atau sama Kak Friska? Memangnya kenapa Aku harus cemburu?" Vita mengrucutkan bibirnya. Tapi Vita sangat berusaha terus menutupi kegugupannya.


"Hahahaha...." Atala tiba-tiba tertawa. "Gak mungkinlah Vita cemburu, Dia kan adik kesayanganku... Bukan begitu, Sayang?" Goda Atala pada Vita.


"Ehh.. Iya... Nah... Tuh Kak Friska dengar sendiri kan?" Kata Vita. Tapi bibirnya bergetar. Vita kecewa ternyata Atala tidak peka. Hatinya bagai teriris sembilu dan lukanya tersiram perasan jeruk nipis. Perrriiiiiihhhh sekali.


Airmatanya mulai mengambang. Vita ingin menangis tapi apa alasannya jika Mereka yang di dalam mobil bertanya.

__ADS_1


"Haaccciiihhh..." Vita bersin. Dia mengusap hidungnya. Dia terus bersin-bersin hingga airmatanya tak terbendung lagi. Vita memang sangat sensitif, jika hatinya terasa sakit dan sedih, dia akan bersin. Dan itu bisa dijadikan alasan untuknya menutupi tangisnya.


"Kok Kamu malah nangis sih?" Selidik Lita.


"Kamu gak lihat, Aku bersin-bersin?" Vita berkelit.


Atala membuka laci dalam mobil, Dia mengambil minyak angin untuk Vita.


"Nih pake ini, Dek." Pinta Atala.


Vita menerimanya. "Terima kasih Kak." Vita menunduk. Vita tak kuat melihat tatapan mata Atala yang membuat jantungnya makin berdegub kencang.


"Kenapa Kamu tiba-tiba jadi bersin-bersin?" Tanya Friska.


"Gak apa Kak. Aku memang alergi." Kata Vita.


"Alergi apa? Debu? Kan gak ada debu." Selidik Friska.


"Aku memang dari kemarin sedang Flu, Kak. Mungkin ini masih ada sisa-sisanya." Vita mengelak. Vita memang sangat cerdas, Dia akan dengan cepat menampik semua pertanyaan.


____________________


Atala telah memarkirkan mobilnya. Vita langsung membuka pintu mobil dan berhambur ke dalam rumah.


"Assalamu alaikum... Mama..." Rengek Vita.


"Wa alaikumussalaam... Loh Kamu kenapa? Kok pulang-pulang nangis?" Selidik Tia.


Tia mengelus kepala Vita yang tertutup hijab. "Ya sudah... Kamu ganti baju dulu. Mama buatkan lemon hangat untuk Kamu." Kata Tia.


"Terima kasih Ma." Vita bergegas naik ke kamar.


Vita mengunci kamarnya, Dia menangis, menumpahkan kegundahan hatinya.


Vita patah hati... "Hik... hik..hik... Apa begini rasanya kalau patah hati? Cinta ku tak terbalas... Cinta pertama ku bertepuk sebelah tangan... Hik.. hik.. hik..." Vita masih terisak. Dia tumpahkan semua sesak yang menghimpit didada.


"Vita...." Tok.. tok... tok... Mama mengetuk puntu kamar Vita dan memanggilnya.


"Sayaaang...." Panggil Tia.


Vita mendengar ketukan itu dan langsung turun dari ranjangnya. Dia bergegas ke kamar mandi dan kemudian Dia mandi.


Tia mendengar suara gemericik air walau sayup-sayup. Tia tersenyum. Dia kembali ke ruang makan membawa kembali cangkir lemon nya.


"Loh kok dibawa lagi, Ma?" Tanya Atala heran.


"Vita sedang mandi. Mungkin biar lebih segar." Kata Tia.


Atala mengangguk. Dia pun meneruskan makannya.


"Tante... Mama titip salam. Katanya Mama kangen sama Tante." Kata Friska ditengah-tengah makan bersama Mereka.

__ADS_1


"Wa alaikumussalaam... Mama dan Papa mu sehat-sehat kan?" Tanya Tia.


'Alhamdulillaah....Sehat semua Tante." Kata Friska.


Tia tersenyum. "Salam kembali sama Mama Kamu. Maaf....Tante belum sempat berkunjung kesana." Kata Tia lembut.


"Ya Tante. Nanti Friska sampaikan." Kata Friska.


Tia sebenarnya enggan bertemu Siska dan Rafa, sejak pertemuan Mereka yang terakhir membicarakan tentang perjodohan. Walau sebenarnya masalah itu sudah selesai, Tia tahu benar bagaimana sifat Rafa yang suka tak menyerah. Dia pasti akan mengungkitnya kembali.


Vita berjalan malas ke meja makan.


"Sudah segar, Puteri Mama. Kamu makan dulu ya, abis itu baru minum lemon nya." Pinta Tia.


"Ya Ma....." Kata Vita pelan.


"Kok matanya sembab gitu? Kamu abis menangis, Sayaang....?" Tanya Atala yang terus menggoda Vita dengan memanggilnya sayang.


"Kan Aku dah bilang Kak, Aku flu berat dari kemarin. Ya jadi mata Aku sembab...." Vita mengrucutkan bibirnya. Dia kembali fokus pada makanannya.


Atala tersenyum. "Sayang.. Kamu coba ini deh.." Vita mendongak, Dia fikir Atala menawarkannya tapi Vita melihat Atala menyuapi Friska dan memanggilnya Sayang.


"Huk... huk... huk..." Vita terbatuk-batuk.


Lita mengelus punggung Vita.


"Kamu kenapa, Dek?" Tanya Atala yang segera bangun mengusap punggung Vita dan memberikannya air minum. Ada rasa khawatir dalam diri Atala.


Baru saja Vita ingin mengambil air minum, tapi Atala juga mengambilnya. Tangan Mereka saling bersentuhan. Jantung Vita berdegub kencang. Vita segera menarik tangannya dari genggaman Atala yang hendak memberikannya minum.


Atala tersenyum dan memberikan minum pada Vita.


Friska melihat itu semua. Hati nya hancur. Walau Dia sempat merasa melambung tinggi di awan karena Atala memanggilnya Sayang dan menyuapinya tapi itu hanya permainan Atala saja. "Andai saja semua nya benar. Ya Allah.... Kenapa Atala tak mengerti perasaanku?"


"Kamu pelan-pelan dong makannya." Kata Atala yang mengusap bibir Vita lembut.


Vita menepisnya. Dia melihat wajah Friska yang bersedih. "Kak...." Vita memberi kode pada Atala. Atala mengerutkan keningnya mengikuti arah pandang Vita.


"Sini Kak, Aku bisa sendiri." Kata Vita yang langsung mengambil tisu dan mengusap mulutnya.


"Kasihan Kak Friska, Dia pasti terluka hatinya karena cemburu." Batin Vita.


Vita menyelesaikan makannya dengan cepat. Kemudian.


"Ma.... Aku ke atas duluan ya.. Maaf Aku gak bantu Mama... Aku sedang banyak tugas Ma." Kata Vita beralasan.


"Ya Sayang....Gak apa....Jangan lupa Lemonnya dibawa dan diminum." Kata Tia.


"Ya Ma...." Vita mengangguk.


Atala melihat Vita. Tak biasanya Vita mengacuhkannya. Tapi Atala tersenyum manakala Dia teringat akan perkataan Friska kalau Vita cemburu pada Friska.

__ADS_1


__ADS_2