
"Mama.....!!!" Panggil seseorang nampak panik dan lelah. Dia menyetir sendiri manakala kehadiran Mama dan Papa nya juga adik-adiknya tak ada lagi di acara pernikahannya.
Atala meninggalkan pernikahannya sesaat setelah berhasil mengucap ijab kabul yang terus salah dan akhirnya SAH.
"Mama.....!!!" Panggil Atala lagi yang melihat Mama nya akan masuk karena panggilan pesawatnya.
Tia mengenal suara itu. Dia terdiam tak percaya akan pendengarannya. Tapi suara itu memanggil lagi. Tia menoleh dan berbalik. Dia melihat Atala yang sudah dicegat oleh petugas Bandara.
Tia menghampiri Atala. "Biarkan Pak....Dia Putera Saya." Pinta Tia lembut dengan airmata yang sudah jatuh ke pipi.
"Mama... Huk.. huk... huk... Jangan tinggalkan Atala... Huk.. huk... huk...." Atala tak dapat menahan kesedihannya. Dia begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa dirinya saat ini.
"Sayaaaang... Hik... hik... hik... Mama gak pernah meninggalkanmu....Mama hanya ingin menjaga Vita... Kamu gak ingin kan Vita kenapa-napa disana sendiri?" Kata Tia yang masih terisak.
"Atala ikut Mama saja....Atala gak mau disini Ma..." Atala masih menangis.
Fahmi mengusap bahu Atala. "Ayaaahh.. Huk.. huk.. huk..."
"Sabar Nak... Ada Ayah Fahmi dan Mama Fitri disini yang akan menjagamu." Kata Fahmi.
Tia mengangguk. "Benar Sayang... Kamu tidak sendirian disini. Mama titip Lita ya..." Kata Tia lembut yang mencoba menahan tangis nya lagi.
"Jalani hidup mu, Sayaang... Bahagiakan Friska... Kamu dan Vita tak berjodoh, Sayaang...." Kata Tia lagi dengan suara parau.
"Papa juga akan membantumu, Nak. Datanglah pada Papa kalau Kamu perlu Papa..." Kata Adrian yang memang sangat menyayangi Atala.
"Mama juga akan membantumu... " Kata Dita.
"Alhamdulillaah... Putera ku banyak yang menjaga disini. Aku bisa tenang pergi ke Negeri orang." Kata Tia.
"Mama gak marah kan sama Atala?" Tanya Atala lagi.
"Tidak Sayaang... Mama yakin Kamu tak bersalah. Mama hanya bisa berdoa semoga semua ini cepat berlalu dan terbongkar siapa dalang dibalik ini semua...." Kata Tia.
Atala memeluk tubuh Tia erat. "Atala akan merindukan Mama... Atala akan secepatnya menyusul Mama..." Kata Atala.
Tia mengerutkan keningnya. Dia hendak bertanya namun waktu panggilan terakhir telah terdengar. Penjaga bandara segera mengajak Tia untuk segera naik pesawat.
"Bu... Pesawat akan segera take off..." Kata Petugas itu.
"Mama..." Atala kembali memeluk Tia erat.
Tia melerainya perlahan... "I Love You, Sayaaang...." Kata Tia. Tia segera berbalik dan berlari. Dia tak ingin menangis dihadapan Atala. Tia tak sanggup menahan kesedihannya.
Fahmi menahan tubuh Atala yang mau mengejar Tia. Fathir langsung merangkul bahu Atala dan membawanya keluar.
"Kamu gak boleh lemah, Atala. Kalau Kamu lemah, bagaimana Kamu dapat mencari bukti-bukti kalau Kamu tak bersalah." Bisik Fathir.
__ADS_1
Fathir memang sudah berjanji pada Atala akan membantunya menyelesaikan masalah Atala.
Atala akhirnya menuruti menikahi Friska karena rencana Fathir. Fathir ingin tahu apa Friska terlibat dalam penjebakan Atala ini.
Atala mengusap airmata nya kasar.
"Sayaaang..." Panggil Fitri. "Kenapa Kamu meninggalkan pernikahanmu?" Tanya Fitri lembut.
"Aku gak bisa Ma... Aku seperti orang asing berada disana." Kata Atala.
Fitri menghela nafas. "Tapi Kamu sudah menjadi suami Friska." Kata Fitri lagi yang memang menyaksikan akad Nikah Atala tadi. Dan Fahmi berlaku sebagai saksi pernikahan Atala.
"Ma....Bagaimana Aku menghindari Friska? Aku takut Ma...." Kata Atala.
"Aku akan menemanimu bersama Lita." Kata Fathir.
Lita mengerutkan keningnya. "Kenapa Aku?" Tanya Lita.
"Karena Kamu adik kesayanganku...." Canda Fathir yang langsung merangkul bahu Lita.
Lita mencubit pinggang Fathir. "Bang Fathir genit iiihhh..." Kata Lita.
"Ya sudah... Kalau begitu biar Fathir yang nyetir mobil Atala. Ayah khawatir Atala tidak konsen nanti." Pinta Fahmi.
"Ya Ayah." Kata Atala.
Vero masih termenung memandang Lita. "Kenapa Kamu melamun, Sayang?" Tanya Dita.
"Eh anu Ma... Gak kok. Aku boleh bantu Kak Atala juga kan? Biar tambah rame." Kata Vero.
Adrian mengernyitkan dahinya. "Kamu mau membantu Atala atau mau mendekati Lita? Bukankah sekarang Vita bukan milik Atala?" Tanya Adrian.
"Gak Pa....Aku merasa Vita adalah jodoh Atala. Semua yang terjadi adalah cobaan bagi cinta Mereka. Aku lebih baik mencintai tanpa menyakiti perasaan yang lain." Kata Vero.
Dita tersenyum. "Kamu persis kaya Papa mu... Papa Adnan." Puji Dita.
"Dan tampan seperti Papa Adrian." Canda Adrian.
"Hahahaha...." Vero dan Adrian tertawa, Dita dan Vera hanya menggelengkan kepala melihat kedua laki-laki itu.
"Ya sudah... Kamu ikut sama Bang Fathir ya." Kata Adrian.
Vero mengangguk dan langsung mengejar Fathir, Atala dan Lita.
"Bang Fathir....!!" Panggil Vero.
Fathir menoleh bersamaan dengan Atala dan Lita. "Ya... Ada apa?" Tanya Fathir.
__ADS_1
"Aku ikut ya? Aku juga mau membantu Kak Atala." Pinta Vero.
Fathir memandang Atala. "Lebih rame lebih baik. Jadi Mereka tak curiga." Kata Atala.
Fathir tersenyum. "Baiklah... Hayoo.. Adikku yang cantik mana?" Tanya Fathir yang celingukan mencari Lita.
"Tuh... Dia lagi ke toilet." Kata Atala yang mulai tenang.
"Hhmmmm.... Dasar Lita..." Gerutu Fathir.
Tak lama Lita sudah kembali ke rombongan Mereka.
"Kalau mau pergi bilang-bilang dong cantik..." Goda Fathir.
"Aku dah bilang sama Kak Atala tadi, waktu Bang Fathir bicara sama Bang Vero." Kata Lita sambil mengerucutkan bibirnya.
Dan itu membuat Vero sangat gemas. Jantungnya berdegub kencang. "Ya Allah... Apa Aku mulai mencintainya? Dia memang tak selembut Vita tapi Dia sangat baik dan perhatian." Batin Vero.
"Vero.... Kok bengong sih? Jadi ikut gak?" Tegur Fathir.
"Eh.. Iya Bang....Maaf...." Vero menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
Fathir mengangkat alisnya sebelah. "Hhhmmm Kaya nya ada sesuatu nih..." Fathir menjentikan jari telunjuknya pada dagunya.
"Ayo buruaaan..." Atala menepuk bahu Fathir.
"Deeehhh....segitunya... pengen buru-buru ketemu sama istri ya...." Goda Fathir.
Atala tersentak kaget. "Iya... yah... Ngapain juga buru-buru. Mending Kita jalan-jalan saja." Usul Atala.
"Aku setuju. Nanti Kamu pulang pas pesta sudah usai atau pas Friska sudah tidur." Kata Fathir.
Atala mengangguk senang. Vero dan Lita hanya mengikuti saja.
Ponsel Atala terus berdering. Atala memang meninggalkannya didalam mobil. "Huuhhh... Berisik banget sih?!" Kata Atala kesal sambil mengambil ponselnya dan menyetel pada nada silence.
"Waaahhh... Kayanya mertua Kamu bakal marah besar ini." Goda Fathir.
"Bodo amat....! Aku dah gak peduli. Aku ingin menenangkan diriku." Kata Atala.
Di Saat yang sama, Di tempat resepsi pernikahan.
"Kemana sih Atala? Kenapa lama sekali?! Bikin malu saja!" Rafa nampak sangat kesal. Atala membuatnya malu karena telah meninggalkan kursi pelaminan.
Friska hanya terdiam. Dia tahu Atala tak mencintainya. Tapi Friska tak habis fikir, kenapa kalau Atala tak mencintainya, Atala malah menyentuhnya. Airmata nya tak kuasa jatuh ke pipi.
Mama nya, Siska melihat itu semua. "Kamu yang sabar yah. Atala tadi pamit hanya sebentar. Dia mau mengantar Mama dan Papa nya ke bandara." Kata Siska yang memang mengijinkan Atala untuk bertemu orangtuanya saat terakhir masa awal pernikahannya.
__ADS_1