
Hujan rintik membasahi tanah pemakaman yang kini mulai ditinggalkan para pelayat satu persatu.
Lita dan Vera masih menangis terseduh di depan pusara Vero yang masih basah dan bertanah merah.
"Buat apa Kakak menangisi kepergian Bang Vero?! Bukankah ini yang Kakak tunggu?! Sekarang Kakak bebas pergi menyusul Kekasih Kakak!" Tiba-tiba Vera membentak Lita.
Lita yang masih sesegukan terperanjat. Lita mendongak. "A.. apa maksud Kamu, Dek?" Mata Lita terlihat sembab.
"Gara-gara Kakak, Bang Vero jadi pergi!! Kalau saja Kakak gak mengigau yang membuat Bang Vero sakit hati... Mungkin sekarang Abang masih ada! Hik... hik..hik..." Vera masih emosi dalam tangisnya.
"Tapi...." Lita nampak bingung.
"Pergi..!!! Pergi dari sini!! Aku benci Kakak!!" Usir Vera.
Vera terkulai lemas. Kakek Burhan dan seorang pemuda merangkul bahu Vera dan membawa nya meninggalkan tanah pemakaman itu.
Lita masih membisu. Kata-kata Vera bak cambuk yang perih mengenai tubuh nya yang mulai terlihat kurus. Wajah nya pucat.
"Sayaaang...." Nindi berjongkok di samping Lita. "Kamu harus ikhlas... Vero sudah tenang disana. Kamu ingatkan pesan terakhir Vero?"
"Tapi Auntie... Kenapa Vera membenciku? Ada apa sebenarnya? Apa yang Bang Vero ketahui yang Aku tidak tahu?" Lita mencoba tegar.
"Kita pulang yah. Hujannya akan deras. Nanti Auntie ceritakan di mobil. Uncle mu sudah menunggu. Kasihan Mama mu sudah kedinginan di sana." Pinta Nindi.
Lita mengangguk setelah berpamitan pada pusara Vero.
__________________________
Lita berjalan seorang diri. Panggilan Fitri tak di dengar nya. Mau tak mau Farah dan Fahri mengikuti langkah Lita.
Tiga hari sudah setelah kepergian Vero. Penjelasan Nindi soal igauannya membuat Lita merasa sangat bersalah. Lita selalu menyalahkan diri nya sendiri. Kalau saja Lita bisa menjaga perasaannya dan tidak sakit.
Tia dan Lambok sudah sering menasehati Lita. Kalau memang sudah takdir Vero berpulang di usia nya yang ke 27 tahun. Namun Lita masih saja bersedih dan menyalahkan diri nya.
Lita sampai di sungai. Lita duduk di sebuah batu besar yang permukaannya datar. Lita menghirup udara segar disana. Mata beningnya mengeluarkan air, Lita menangis.
Risetnya telah gagal. Pasien pertama nya tidak tertolong. Cintanya kandas manakala Leo menghianatinya. Lita menelungkupkan kepala nya di kedua lutut nya.
Fahri dan Farah hanya memandangi kelakuan saudara sepupu nya tak jauh dari tubuh Lita berada.
"Bagaimana ini Bang? Sampai kapan Kita akan menunggu?" Farah nampak cemas.
Biarkan Lita memuaskan perasaan sedihnya. "Kita berjaga saja disini. Abang yakin Lita tak akan berbuat yang tidak-tidak." Kata Fahri menenangkan adiknya.
__ADS_1
"Bang... Vera sangat membenci Lita. Bagaimana hubungan Abang dengan Vera nantinya?" Tanya Farah.
Fahri tersenyum sambil merangkul bahu Farah. "Vera hanya sedang sedih. Vera salah paham. Nanti kalau Vera sudah tenang, Dia akan menyesal dan minta maaf pada Lita."
"Hhhmmmm... Abang... Udah tahu banget yah sifat Vera.... hhmmm... hhhmmm...hhmmm. Kapan nih diresmikan?" Goda Farah.
"Kamu tuh yah... Jail nya gak ilang-ilang dari dulu." Fahri menjewer telinga Farah yang tertutup hijab.
"Aauuu... Aduuhhh Abang... Sakiiiittt..." Farah mengadu.
Tiba-tiba... Byuuuurrrr...
Lita lompat ke sungai yang airnya sangat deras.
"Litaaaa!!!" Fahri dan Farah berlari dan menceburkan diri ke sungai.
Farah dan Fahri mencari tubuh Lita. Tapi tak ketemu. Mereka sangat cemas.
"Bagaimana ini Bang? Ya ampun, kenapa Kita jadi lengah. Litaaa.....!" Panggil Farah.
"Litaaaa!!!" Panggil Fahri yang terus menyelam dan timbul.
Hampir lima belas menit Lita tak kunjung ditemukan. Hingga pada akhirnya.
Fahri malah tertawa terbahak. Baru kali ini Farah mau terjun ke sungai itu karena ingin menolong Lita. "Kena Kamu dijaili Lita." Canda Fahri.
Farah hanya mengerucutkan bibirnya. "Huuhhh... Lita...!! Gak lucu!" Sambil menuju ke daratan.
Lita sedang menyiangi seekor ikan yang Dia tangkap. Perutnya sangat lapar. Dari pagi Lita belum sarapan.
"Lita....! Iiihhh... Malah asik-asikan disini." Farah merajuk.
Lita mendongak. "Siapa suruh terjun ke sungai..." Kata Lita santai.
"Haaahhhh!!" Farah melotot. "Iiisshhh... Aku kan khawatir Kamu kenapa-napa.... Basah deh semua baju ku." Farah mengrucutkan bibir nya.
Fahri hanya menggeleng sambil tertawa melihat kelakuan kedua adiknya.
"Aku tadi lihat ikan ini menggodaku terus. Ya udah Aku tangkap. Ya hampir kebentur batu tadi Aku. Kayaknya enak banget yah kalau dibakar." Jelas Lita.
Tanpa diminta Fahri sudah tahu kalau Lita sangat suka ikan bakar. Apalagi ikan yang masih segar. Katanya rasa dagingnya manis. Tak perlu bumbu juga sudah enak.
"Ini sudah jadi apinya." Fahri mengupas sebuah ranting menyerupai sembilu untuk menusuk ikan.
__ADS_1
"Sebentar, Aku cuci dulu ikannya." Lita hendak turun lagi ke sungai.
"Biar Aku saja." Farah mengambil ikan yang sudah berlumuran darah karena Lita menyianginya.
Tapi Lita tetap turun ke sungai untuk mencuci tangannya.
Tak lama ikan pun sudah berada diatas api. Fahri membolak balikan ikan itu agar merata matangnya.
"Udah gak sedih lagi?" Goda Farah pada Lita.
Lita menghela nafas. "Masih....Tapi Aku gak boleh larut. Toh Bang Vero sudah tenang. Bang Vero sudah ikhlas kalau Aku memilih jalan hidupku. Yaahhh tidak dapat kupungkiri, Aku telah gagal. Tapi Aku gak boleh terpuruk. Kasihan Mama dan Papa juga Ayah... Mereka sudah Tua. Tak seharusnya Aku membebani dengan gaya kekanakanku." Lita menitikkan airmata.
Farah mengusap mata Lita dengan lembut. "Aku setuju. Jalan Kita masih panjang. Risetmu yang gagal bisa Kamu ulang lagi, bukan?"
Lita mengangguk sambil tersenyum. Farah memeluk tubuh Lita. "Ini baru saudaraku."
"Hahahahaha...." Lita dan Farah tertawa.
"Udaaahhh... Ketawa mulu. Ikannya udah mateng nih." Fahri menyela.
"Gak ada nasi yah? Aku laper banget." Tanya Lita.
"Tenang...." Farah bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pedataran yang ditumbuhi rumput dimana Dia meletakkan rantang yang memang sudah disiapkan Mama Fitri.
"Waahhhh.... Pasti enak. Masakan Mama Fitri memang gak ada dua nya." Lita bangun dan setengah berlari.
Fahri hanya geleng-geleng kepala. Fahri melepas kayu yang bertengger pada perapian. Dia mengangkat ikan bakarnya.
"Memang Mama Tia, masakannya gak enak?" Tanya Farah.
"Enak... Cuma Mama kan kalo masak ikutin selera Papa. Papa gak begitu kuat makan pedas. Iiihhhh... Pasti sambel buatan Mama Fitri pedes bangeeetttt..." Lita terlihat tak sabar.
Farah sudah menuang nasi di rantang ke atas daun pisang. Fahri kalau ke sungai selalu membawa pisau dan golok. Karena di sungai ada saja yang akan menjadi santapan golok nya.
Lita terlihat makan sangat lahab. Farah sampai ternganga dengan porsi makan Lita.
Fahri mengedipkan mata pada Farah. "Biarkan saja...." Bisik Fahri.
Farah tersenyum dan menyemangati Lita makan. Farah terkadang iseng menyomot nasi Lita. Atau mengambil tangan Lita agar Lita menyuapi nya.
Fahri juga ikut-ikutan menyuapi Lita dan Farah. Lita dan Farah juga bergantian menyuapi Fahri. Malah terkesan berebut sehingga Fahri merasa dikerjai kedua adik perempuannya. Mereka bertiga sangat senang.
"Setidaknya hari ini Aku bisa melihat senyum dan tawa di wajah adik-adikku." Batin Fahri.
__ADS_1