CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Keputusan Vita


__ADS_3

Friska terus histeris. Dia seperti orang yang depresi tak bisa menerima kenyataan akan musibah yang telah menimpa nya.


Atala masih mendekam menjadi tahanan Polisi karena Rafa gak mau melepaskannya.


Lambok dan Tia sudah memohon pada Rafa untuk mencabut tuntutannya karena bagaimana pun Atala belum tentu bersalah.


"Baik... Aku akan menarik tuntutanku tapi dengan satu syarat..!!" Rafa memberi syarat.


"Apa?" Tanya Tia.


"Atala harus bertanggung jawab dan mau menikahi Friska." Kata Rafa.


"Tapi...." Kata Lambok dan Tia berbarengan.


"Tidak ada kata TAPI. Kalau Atala mau menikahkan Friska, Aku akan menarik tuntutanku." Ancam Rafa.


Tia menghela nafas. Dia memikirkan bagaimana perasaan Puterinya nanti, Vita. Hati nya pasti akan hancur.


"Kak... Apa begini cara Kak Rafa dan Siska memperlakukan Keluargaku? Selama ini Aku tak pernah menuntut apapun... Aku rela mengorbankan sakit hati ku demi kebahagiaan Kalian, dan kini Kalian juga akan merusak kebahagiaan Putera dan Puteri ku..." Mata Tia mulai berkaca-kaca.


Rafa dan Siska terperanjat akan kata-kata Tia yang lembut tapi menusuk kalbu.


"Tapi bagaimana dengan masa depan Puteri ku?! Masa depannya sudah hancur, Kehormatannya sudah terenggut dan itu yang melakukannya Atala....!!" Kata Rafa.


Siska mencoba meredam amarah Rafa. Siska juga merasa tak enak hati akan perkataan Tia. Selama ini Tia selalu mengalah. Hingga Perusahaan pun sampai kini masih Rafa yang memegangnya. Lambok tak pernah mempermasalahkannya.


"Setiap orangtua akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya." Kata Rafa.


"Tapi Atala, Putera ku tidak mungkin melakukan itu!!" Tia berteriak, Dia sudah tak tahan lagi menahan gejolak amarahnya. Tia juga gak mau lagi mengalah.


"Aku minta bebaskan Putera ku... Toh juga menurut Atala, Friska sudah mabuk entah diajak oleh siapa?! Masih bersyukur Putera ku ada perhatian dengan Friska..!! Aku lebih percaya Putera ku dari pada bukti-bukti itu!!" Tia makin histeris.


Lambok langsung memeluk tubuh Tia dan mengusap punggungnya. Dia tak mau Tia akan mengalami kejadiaan puluhan tahun yang lalu. Dia masih ingat pesan Dokter Fajar, Tia gak boleh tertekan. "Sayaaaang... Istighfar..." Pinta Lambok lembut.


"Astaghfirullaah...... Tolong bawa Aku pergi dari sini... Aku gak mau melihat wajah-wajah manusia serakah dan tidak berbudi macam Mereka." Ketus Tia.


"Tia......" Kata Siska terkejut.


"Jangan panggil NAMA Ku lagi...!! Aku tak mengenal Kalian...!!!" Hardik Tia.


Lambok langsung membawa Tia dari hadapan Mereka. Lambok masih terus menuntun Tia akan beristighfar dan bersabar.


Siska terkulai lemas... Sahabat sekaligus saudaranya telah memutuskan hubungan dengan Mereka.


Rafa langsung memeluk tubuh Siska. "Apa Kita jahat meminta keadilan untuk Puteri Kita? Huk... huk.. huk..." Siska menangis.


"Aku juga sebenarnya tidak mau seperti itu, tapi melihat kondisi Friska, Aku sangat terpukul." Kata Rafa yang jadi merasa sangat bersalah.

__ADS_1


Rafa menyesal telah mengompori Friska agar terus mendekati Atala. Padahal jelas-jelas usia Friska lebih tua dari Atala.


______________________


"Tidaaakkk... Atala tidak mau Ma... Atala lebih baik mendekam di penjara daripada Atala hidup dengan orang yang sama sekali Atala tidak mencintainya...." Tegas Atala.


"Kaaakkk....Tapi kalau Kak Atala didalam sini juga, Kita juga gak akan bisa menjalani hidup Kita dengan tenang...." Kata Vita lembut.


Lambok dan Tia sudah menyewa pengacara terbaik tapi pihak Rafa juga gak mau kalah dan Rafa teguh akan pendiriannya.


"Vita... Apa kah Kamu tak mencintai Kak Atala?" Tanya Atala pelan.


"Aku sangat mencintai Kakak....Tapi Aku juga gak bisa melihat Kakak tersiksa disini. Masa depan Kita masih panjang Kak... Mungkin Kita memang tak berjodoh Kak..." Vita menunduk.


Atala mengangkat dagu Vita. "Tapi Aku yakin, Kamu adalah jodohku, Vita." Kata Atala.


Tia terisak. Dia tak sanggup melihat penderitaan Putera dan Puterinya.


"Tia.... Lambok...." Tiba-tiba Siska sudah berada di ruang kunjungan tahanan.


Tia tak menoleh, Dia sudah tahu akan suara itu.


Siska mendekat. "Boleh Aku bicara berdua saja dengan Atala?" Siska memohon.


"Ma.... Biarkan Aku bicara sama Tante Siska, ya..." Kata Atala.


"Ma... Aku mau ke toilet dulu..." Pamit Vita.


"Ya Sayaang..." Kata Tia lembut.


Siska dan Atala memilih duduk agak jauh dari Lambok dan Tia.


Sesekali Tia melirik ke arah Siska dan Atala yang berbicara sangat serius. Tia melihat Atala yang menggelengkan kepalanya keras.


"Sepertinya Atala memang menolaknya. Sebenarnya apa yang dibicarakan Mereka?" Batin Tia.


Lambok mengusap bahu Tia. "Kamu yang sabar Sayang... Kamu gak boleh memendam dendam..." Nasehat Lambok.


"Bagaimana Aku tidak kesal Sayang.... Aku selama ini selalu mengalah... Ini juga Ku lakukan demi kebahagiaan anak-anakku..." Tia kembali terisak.


Lambok memeluk tubuh Tia. "Aku juga mengkhawatirkan Mereka. Tapi Aku merasa Kamu tidak seperti istriku yang Ku kenal... Tak ada kesabaran dalam dirimu menghadapi ini semua."


"Dulu Kamu selalu mengalah dan menyerahkan semuanya pada Kuasa Allah... Aku tahu... Kamu hanya ingin melindungi Anak-anak Kita." Kata Lambok lembut.


Tia beristighfar... Dia sadar akhir-akhir ini Dia tak dapat menahan emosinya. Tia merasa karena Dia selalu mengalah jadi semua orang bebas memperlakukan dirinya seenak hati Mereka.


Siska nampak akan berlutut di kaki Atala tapi Atala langsung berdiri mengangkat tubuh Siska." Tante jangan seperti ini..." Atala nampak tidak enak.

__ADS_1


"Tante mohon Atala...." Siska sudah terisak dari tadi.


Atala menghela nafas. Atala bingung harus berbuat apa.


Vita mengusap airmatanya. Dia berada di balik tembok tak jauh dari meja Siska dan Atala. Dia memang habis dari toilet dan Vita tak sengaja mendengar pembicaraan Siska dan Atala.


Tak ada maksudnya untuk menguping. Tapi bagaimana pun Vita masih punya rasa kemanusiaan. "Bagaimana kalau semua terjadi pada diriku? Astaghfirullaah... Gak... gak... Aku gak boleh berfikiran yang tidak-tidak." Batin Vita.


"Apa yang harus Aku lakukan, Ya Allah..." Batin Vita yang menengadah.


Vita melihat Atala dan Siska yang sudah berpamitan. Vita sebisa mungkin bersikap biasa-biasa saja.


Vita melihat Siska berpamitan pada Mama dan Papa nya. Dan Atala terlihat mengusap rambutnya kasar.


"Aku tahu Kak... Kamu gak akan tega membiarkan Kak Friska menderita. Aku juga tahu... Kakak sangat mencintaiku dan gak mau menyakiti perasaanku...." Batin Vita.


"Tenang Kak... Aku yang akan mengambil keputusan." Batin Vita menguatkan hatinya.


"Bagaimana Nak? Apa yang Kalian bicarakan?" Tanya Tia tergesa-gesa.


Atala nampak bingung. Dia tak tahu harus bicara apa.


"Kak...." Panggil Vita.


Atala menoleh. "Darimana Kamu, Sayang?" Tanya Atala.


"Aku dari toilet Kak." Kata Vita lembut dengan senyum manisnya. Dia tak ingin Atala bersedih lagi.


"Ma... Pa... Apa Aku punya hak untuk bicara?" Tanya Vita.


Lambok dan Tia juga Atala mengerutkan keningnya.


"Ada apa Sayang... bicaralah..." Pinta Lambok.


"Aku akan memutuskan pernikahanku dengan Kak Atala." Kata Vita.


"Apa..??!! Tidak... Kamu gak boleh ngomong seperti itu..!" Atala tak terima.


Vita berdiri dan merangkul bahu Atala. "Kak... Aku kan sudah bilang, mungkin Kita memang tak berjodoh. Aku sudah tiga kali melaksanakan shalat istikharaah... Tapi hasilnya tak ada kebahagiaan disana... Kak Friska menderita Kak... Aku gak bisa bahagia diatas penderitaan Kak Friska." Kata Vita lembut. Sebisa mungkin Dia menutupi kesedihannya.


"Tapi kenapa tiba-tiba, Sayang?" Tanya Tia. Tia tahu ada yang disembunyikan Vita dari Mereka.


Vita tersenyum. "Ma... Selama Kak Atala disini, Aku melaksanakan shalat malam setiap hari Aku memohon petunjuk dari Allah... Dan hasilnya Aku yakin untuk memutuskan pernikahan ini." Kata Vita.


"Tapi bagaimana dengan persiapan pernikahan Kalian..? Undangan juga telah tersebar." Kata Tia rasa kecewa.


Vita tersenyum. "Semua akan berlangsung Ma, Tapi mempelai wanitanya bukan Vita melainkan Friska."

__ADS_1


__ADS_2