CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kesempatan


__ADS_3

"Kenapa jadi begini, Dokter?" Tanya Lambok pada Leo yang kaget melihat Puteri nya duduk di kursi roda.


"Aku gak apa, Pa. Aku alergi obat." Lita mencoba menghilangkan kekhawatiran orang tua dan keluarganya.


Akad Nikah baru saja usai. Para undangan dipersilahkan menyantap hidangan yang telah disiapkan. Sedangkan kedua pasang pengantin sedang berganti pakaian untuk acara resepsi.


"Sayaang....!" Fahri berlari menghampiri Lita. "Kenapa Kamu paksakan datang kesini? Dan ini, ada apa denganmu?" Fahri nampak khawatir.


"Aku gak apa, Bang. Aku hanya alergi obat." Lita mencoba tersenyum.


"Dokter... Kenapa bisa begini?" Tanya Fahri.


"Aku gak tahu kalau Lita tak cocok dengan zat yang terkandung dalam obat. Lita juga baru mengatakan kalau Dia alergi obat itu setelah observasi dengan Dokter Oliver. Tapi Aku sudah menghubungi Dokter Oliver, secepatnya Aku harus membawa Lita ke Negara Bagian J, supaya Dokter Oliver segera menangani Lita." Jelas Leo.


"Kenapa gak langsung berangkat. Dan ini, kenapa Kamu bela-belain kesini?" Fahri makin bersedih.


Lita mengggenggam tangan Fahri dengan sebelah tangannya. "Abang... Pernikahan Abang dan Farah hanya sekali seumur hidup, sedang kesehatanku, Aku....." Lita belum selesai bicara.


"Kesehatanmu lebih penting, Sayang..." Mata Fahri berkaca-kaca. Fahri berjongkok dihadapan Lita. Mengelus pipi Lita dengan lembut.


"Makanlah Sayang...." Tia tiba dengan membawakan makanan untuk Lita dan Leo.


"Tante gak usah repot. Aku bisa mengambilnya sendiri." Kata Leo merasa tak enak.


"Gak apa Dokter..." Tia mencoba tersenyum agar Lita tegar. "Mama suapin yah?" Tanya Tia.


Lita hanya mengangguk.


"Tante, sebaiknya Lita jangan dikasih rasa pedas dahulu. Karena lambungnya masih lemah." Pinta Leo.


"Ya Dokter... Rendang ini tidak pedas." Tia menyodorkan sepotong rendang dan menyuapkan pada Leo.


Leo menerimanya dengan rasa malu. Leo mengunyahnya. "Ini sangat enak Tante. Dan tidak pedas." Puji Leo.


"Kami sengaja membuatnya dua rasa, takut anak-anak kecil tak suka memakannya." Jelas Tia.


Leo hanya mengangguk. Mata nya sesekali melirik pada Lita.


_________________________


Jam menunjukkan pukul 11.58.


Lita dan Leo baru saja tiba di ruang perawatan Lita. Leo menggendong tubuh Lita ke brankarnya.

__ADS_1


"Alhamdulillaah... Kita tiba tepat waktu." Leo melihat arloji nya.


"Aku berwudhu dulu yah.' Pamit Leo.


"Dokter...." Panggil Lita.


Leo membalikkan tubuhnya. "Ya Sayang....??"


"Apa tidak sekalian Aku dibawa ke toilet untuk berwudhu?" Pinta Lita.


"Astaghfirullaah. Aku hampir lupa." Leo kembali menggendong tubuh Lita dan membantunya untuk berwudhu. Sebisa mungkin Leo tak menyentuh kulit Lita.


Sebenarnya Tia ingin ikut ke Jakarta untuk merawat Lita. Namun Lita melarangnya. Dengan alasan pernikahan Fahri lebih penting. Tia dan Lambok berkali-kali meminta tolong pada Leo agar menjaga Lita dan Leo tak berkeberatan.


Leo pun sudah menghubungi Kedua orangtua nya. Namun Sang Mama tidak bisa meninggalkan Eyang Puteri nya yang kondisi tubuh nya juga kurang fit.


Leo mengimami shalat Dzuhur Lita. Lita shalat diatas brankarnya.


Banyak Doa yang Leo minta Allah SWT, airmata Leo mengalir merasakan kedamaian dalam hatinya setelah muallaf.


Lita juga memanjatkan syukur karena kini Leo telah muallaf. Lita juga meminta agar Allah mempersatukan cinta Mereka dalam ikatan pernikahan yang suci.


Leo merapihkan sajadahnya dan segera membantu Lita melepas mukenanya.


Leo membalas senyum Lita. "Kamu istirahat yah..." Pinta Leo.


Lita mengangguk. Leo membantu memposisikan tubuh Lita agar nyaman dalam berbaring. Tak sengaja hidung Leo menyentuh bibir Lita. Wajah Mereka menjadi dekat malah makin dekat. Leo tak mau kehilangan kesempatan langka ini. Dia langsung mengecup bibir Lita.


Lita yang kaget tak dapat menepisnya karena tangannya tak mampu digerakan. "Dokter....!" Lita mengrucutkan bibirnya.


"Maaf..." Leo terkekeh. "Habis Kamu gemesin."


"Kesempatan..." Lita masih cemberut.


"Hehehehe.... Kapan lagi..." Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Leo duduk disamping brankar Lita dan menggengam jemari Lita. "Aku sangat mencintaimu. Menikahlah denganku." Pinta Leo sambil mengecup jemari Lita.


"Aku...." Lita menunduk ragu. Hati nya tak ingin membuat Leo malu karena kondisinya yang tak memungkinkan. "Bagaimana kalau Aku lumpuh selamanya?" Lita menahan airmatanya yang seakan siap meluncur ke pipi mulusnya.


"Kamu akan sehat, Sayang... Aku yakin. Leo menyemangati Lita.


"Apa Dokter tidak malu bersanding denganku?" Tanya Lita lagi.


Leo menggeleng. "Aku sangat mencintaimu... Seperti apapun dirimu. Asal jangan pernah menghianatiku." Pinta Leo.

__ADS_1


Airmata Lita tak mampu dibendung lagi. Dengan deras meluncur ke pipi nya.


"Ssttt... Jangan menangis lagi. Aku janji akan selalu membahagiakanmu. Kalau Kamu setuju, sebelum Kita kembali ke Negara J, Kita sudah menikah." Pinta Leo. "Kamu mau kan, menikah denganku?" Tatapan Leo sangat mengharap.


Lita dapat melihat cinta di mata Leo. Lita mengangguk. "Aku mau..." Masih dengan airmata yang mengalir.


Leo memeluk Lita. "Alhamdulillaah... Aku akan mengabari orangtua ku juga orangtua mu." Tanpa meminta persetujuan Lita, Leo langsung menghubungi orangtua nya dan orangtua Lita.


___________________________


Dua hari kemudian.


Seluruh Keluarga Lita sudah berkumpul. Keluarga dari Leo juga sudah membawakan seserahan untuk Lita. Semua terjadi di Ruang Perawatan Lita.


Itu pun sudah persetujuan dari pihak Rumah Sakit setelah Marcel mencoba meminta pengertian pihak Rumah Sakit.


"Begini Nak...." Ustadz Joey membuka percakapan setelah Keluarga Lita menerima lamaran Keluarga Leo.


"Pernikahan Kalian baru akan bisa dilaksanakan tiga bulan lagi bertepatan dengan tahun baru Islam, 1 Muharraam... Karena baru dua hari yang lalu Keluarga Lita mengadakan acara ijab Qabul." Jelas Ustadz Joey.


Leo nampak kecewa. Tapi Dia tak dapat berkata apa-apa. Dia tak ingin dikatakan sudah tak sabar untuk merasakan syurga nya Dunia. Leo menatap Lita. Lita hanya mengangguk dengan tatapan Leo. Lita tahu Leo kecewa. Lita tersenyum melihatnya.


"Seperti nya calon pengantin pria sudah gak sabar, ini." Goda Atala. Dan itu membuat yang hadir di ruangan itu tertawa.


Leo hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sambil sesekali melirik Lita. Sedangkan Lita, wajahnya sudah bersemu merah menahan malu.


"Tiga bulan itu tidak lama, Nak." Papa Alex menghibur Leo. "Sambil Kita juga mempersiapkan segala sesuatu nya. Lagi pula sangat susah mencari tempat untuk mengadakan resepsi. Kita harus membookingnya." Kata Papa Alex.


"Nah... Itu benar. Kalian juga harus menyiapkan mental Kalian. Terutama Kamu, Leo. Bukankah Lita meminta Mahar berupa Surat Ar Rahman?" Tanya Ustadz Joey.


Leo mengangguk.


"Apa Kamu sudah menghapalnya? Dengan bacaan yang benar?" Tanya Ustadz Joey.


"Insyaa Allah, Ustadz." Kata Leo.


"Nah Kamu bisa lebih mendalami nya lagi. Jangan membuat Lita kecewa." Goda Ustadz Joey.


Leo hanya mengangguk sambil menunduk. Demikian juga Lita yang terus menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah sejak tadi.


"Lalu, bagaimana dengan Wisuda Lita, Om?" Tanya Leo.


"Insyaa Allah Kita akan hadir kesana. Semoga Kita selalu diberikan nikmat sehat oleh Allah SWT. Aamiinnn...." Kata Lambok.

__ADS_1


"Aamiinn...." Jawab semua orang yang hadir disana.


__ADS_2