
Lita mengusap airmata nya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Leo mengambil tisu dan mengusap mata Lita. "Apa Aku menyakitimu?" Tanya Leo heran.
Lita tersenyum. "Aku gak apa Dokter, Aku hanya terharu dengan kisah hidup Mama dan Papa Dokter."
Leo tersenyum. Leo mengelus kepala Lita yang tertutup hijab. "Kamu orangnya perasa banget ya? Pura-pura cuex tapi ternyata melo." Goda Leo.
Lita tak menjawab. "Berarti Kakak ku masih lama disini ya. Tapi kenapa Mereka tak menjengukku?" Lita nampak berfikir.
"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, Sayang." Leo mendekat dan mendekap leher Lita.
"Dokter.... Jangan seperti ini. Kita bukan muhrim." Pinta Lita lembut.
"Aku sangat mencintaimu." Leo berjongkok di depan Lita sambil menggenggam tangan Lita. Leo menatap mata Lita. Lita balas menatap, mencari kejujuran dimata Leo.
"Kalau Dokter sudah siap menerima persyaratanku, Aku juga siap menerima cinta Dokter." Kata Lita.
Leo menghela nafas. Leo bangkit dari jongkoknya. Dia berjalan ke arah balkon.
Lita beranjak dari duduknya. Dia merapihkan meja bekas Mereka makan siang. Lita juga mencuci peralatan makan yang telah terpakai.
Lita mengendus bau rokok. "Siapa yang merokok?" Lita mengelap tangannya yang basah. Lita terus mengendus hingga tiba di balkon ruang tamu. "Dokter..!!" Lita terkejut. Reflex Lita mengambil rokok dari jari Leo dan membantingnya ke lantai.
"Apa-apaan Dokter? Kenapa Dokter merokok? Sejak kapan?!" Lita terlihat kesal namun khawatir.
"Lita....." Leo tak bisa marah pada Lita saat Lita membuang sebungkus rokoknya ke dalam tempat sampah.
Lita langsung ke dapur, membuat lemontea hangat. Lita segera ke balkon, melihat Leo yang masih berdiri disana.
"Ini... Minumlah." Lita menyodorkan cangkir lemontea.
Leo nampak ragu. perlahan Dia menyeruput cangkirnya. "Apa ini? Kok teh nya asem?" Leo mengerutkan keningnya. "Kenapa Aku dikasih Lemontea?" Leo bertanya seperti orang bodoh.
"Dokter tidak tahu apa karena bodoh atau sengaja?" Lita nampak kesal.
Leo tersenyum. Dia kembali menyeruput Lemontea nya. "Maaf...."
"Sejak kapan Dokter merokok?" Tanya Lita lagi.
"Sejak mengenal Kamu." Goda Leo.
"Apa hubungannya denganku?" Lita mengrucutkan bibirnya.
Leo meletakkan cangkirnya dan mendekat pada Lita. Leo menangkup kedua pipi Lita. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku stress melihatmu dekat dengan laki-laki lain. Aku juga merindukan Mama ku."
Lita memegang lengan Leo dan melepaskan tangan Leo dari pipi nya. Lita berjalan ke pagar balkon. Dia berdiri menatap ke arah pantai. "Aku.... Aku juga menyukai Dokter. Tapi Aku tak berani untuk lebih. Aku gak mau terluka lagi jika pada kenyataannya Dokter tak pernah mau menuruti persyaratanku." Lita menundukkan wajahnya. Airmata nya sudah tak dapat dibendung lagi.
Leo mendekat, berdiri di samping Lita. "Aku masih memikirkannya. Pikiranku mumet, makanya Aku merokok." Kata Leo lembut.
__ADS_1
Lita mendongak dan menatap ke arah Leo. "Seharusnya Dokter bisa belajar dari kehidupan orangtua Dokter. Maaf Aku tak bermaksud......"
Leo menatap Lita. "Tidak apa, Aku tahu, tapi Aku masih butuh waktu. Tidak gampang untukku menerima ajaran agama yang tidak pernah Aku dapat dari Aku lahir." Kata Leo.
Lita menghela nafas. "Biarlah Allah yang akan menuntun jalan hidup Kita." Lita langsung masuk kedalam apartemen. Lita menuju kamarnya. Dia mendengar suara Adzan sayup-sayup dari ponsel nya.
Leo hanya terpaku menatap kepergian Lita. Leo melihat puntung rokok yang tadi Lita banting, juga bungkus rokok yang sudah penyok diremas jemari Lita. Leo menghela nafas. Dia memungut puntung yang sudah tak berapi dan memasukan ke tempat sampah. Leo membuka kotak di atas tembok balkonnya. Banyak stok rokok disana. Leo hanya memandangnya dan menutup kembali kotak itu.
_________________________
"Kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Aku." Pinta Leo. Leo akan berangkat ke rumah Papa nya. Sesuai janjinya, Dia bermalam di rumah Papa nya. Dan membiarkan Lita menempati apartemennya.
"Apa tidak sebaiknya Aku kembali ke Mess." Pinta Lita.
"Jangan Sayang. Kamu disini saja. Aku sudah janji pada Atala untuk menemani Papaku. Apartemen ku kosong. Daripada Kamu di Mess lebih baik disini. Kamu boleh mengajak Astrid kesini." Jelas Leo.
"Tapi peraturan Kampus?" Tanya Lita.
"Sudah ku urus semua. Aku sudah menyuruh OB Kampus untuk membawakan barang-barangmu kesini." Kata Leo.
"Kenapa Dokter tak meminta pendapatku terlebih dahulu?" Lita mengrucutkan bibirnya.
"Aku sudah minta ijin Mama dan Papa mu, juga Fathir dan Atala." Leo keceplosan. Buru-buru Leo membekap mulutnya.
"Hhhmmmm.... Jadi Kalian sudah kongkalingkong ya." Lita bersedekap.
Lita terkekeh. "Tanyakan saja sama Bang Fathir apa kongkalingkong. Sudah sana pergi... Nanti kemaleman." Lita mendorong tubuh Leo keluar dari Apartemen.
Leo berbalik dan langsung memeluk tubuh Lita. Lita terkesiap. Lita ingin berontak namun ada kenyamanan disana.
"Jangan pernah berpaling dari ku... Aku mohon. Kasih Aku waktu untuk memikirkan permintaanmu." Kata Leo.
Lita mengangguk. "Jangan kecewakan Aku."
Leo melerai pelukannya. Leo menatap Lita dengan senyum dan cinta. "Doa kan Aku ya."
Lita mengangguk. "Tanpa Dokter minta, Aku sudah melakukannya."
"Benarkah?" Leo tak percaya.
Lita mengangguk pasti. Leo kembali memeluk tubuh Lita.
________________________
"Lita....!!" Suara yang tak asing bagi Lita. Lita menghentikan langkahnya dan menoleh. Lita tersenyum dan merentangkan tangannya.
"Aku kangen banget sama Kamu." Kata Astrid dalam pelukan Lita.
"Bohong." Ketus Lita.
__ADS_1
Astrid melerai pelukannya. "Aku gak bohong."
Lita mencibir. Lalu berjalan menuju kelas. Astrid mengejarnya.
"Katanya kangen, tapi gak mau menjengukku ke rumah sakit." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Maaf... Kamu kan tahu tugas Kampus mulai banyak." Astrid beralasan.
"Ya... ya... ya.... Tapi bukan berarti Kamu melupakan Aku, kan?" Lita masih tak terima.
Astrid menangkupkan kedua telapak tangannya. "Aku minta maaf. Kamu jangan marah lagi ya sama Aku." Astrid memohon.
"Ada syaratnya." Kata Lita.
"Apa?" Tanya Astrid.
"Temani Aku tinggal di apartemen......" Lita tak meneruskan kata-katanya. Lita sadar, berarti Astrid akan tahu hubungannya dengan Leo.
"Kalau menemani mu tinggal di Apartemen, Aku gak bisa. Kamu kan tahu, ribet mengurus ijinnya. Kalau Kamu beda, Saudara-saudara Kamu sudah mengurusnya, sedangkan Aku? Tapi kalau sesekali Aku menginap disana, Aku bisa." Jelas Astrid.
Lita menghela nafas. "Benar juga kata Kamu."
"Lita... Maafkan Aku ya... Gara-gara Aku dan Kak Arham mengenalkan Kamu sama Kak Arby, Kamu jadi sakit." Astrid terlihat menyesal.
Lita tersenyum. "Kamu gak salah kok Strid. Aku yang salah. Aku terlalu kebawa perasaan. Sudah ya... Aku gak mau bahas itu lagi. Aku mau membuka lembaran baru. Aku mau fokus dengan kuliah ku." Kata Lita menenangkan hati Astrid.
"Buka lembaran baru sama Asdos ya?" Goda Astrid.
Lita membelalakan matanya. "Iisshhh... Apaan sih?? Jangan gosip deh..."
"Tapi ini bukan gosip kan, tapi nyata. Orang Pak Leo sendiri yang bilang sama Aku." Canda Astrid.
"Whaaatttssss..??!!" Lita tak percaya. "Awas saja Dokter kalau kata Astrid benar." Batin Lita.
"Waktu di Rumah Sakit, Asdos bilang sama Keluarga mu, kalau Dia menyukai mu." Cerita Astrid.
"Oohhh... Terus jawab keluarga ku apa?" Tanya Lita.
"Bang Fathir memberi syarat." Kata Astrid.
"Syarat? Syarat apa?" Lita pura-pura gak tahu.
"Kalau Pak Leo mau sama Kamu, Dia harus mengikuti kepercayaan Kita." Jelas Astrid. "Kayaknya keluargamu setuju dengan hubungan ini kalau Pak Leo benar-benar mau mengikuti kepercayaan Kita."
"Jadi ceritanya Aku dijodohin ya?" Lita pura-pura bego.
"Anggap saja begitu. Tapi kan Kamu dijodohin sama laki-laki tertampan di Negara ini. Hehehehe..." Astrid terkekeh menggoda Lita.
"Dasar Kamu..!!" Lita memukul pelan bahu Astrid.
__ADS_1