
"Terima kasih yah Astrid... Sudah mau mengurus Lita selama Mama belum ada disini." Kata Tia.
Astrid memang langsung ke Unit Leo setelah Leo mengabari kalau Lita sudah kembali ke Negara J. Karena bagaimana pun juga, Leo belum sah menjadi Suami Lita, jadi Lita tak ada yang membantu saat Dia akan ke kamar mandi atau berganti pakaian.
"Aku gak repot kok Ma... Lita kan sudah Ku anggap seperti Adikku sendiri. Aku senang bisa membantu Lita." Kata Astrid.
"Lagi pula Aku juga jadi gak kesepian kalau Kak Arham sedang keluar Negeri. Dan Puteri ku juga sangat menyukai Auntie nya..." Kata Astrid lagi.
Tia dan Lambok tersenyum. Begitu juga Lita yang sedang memangku Puteri nya Astrid. Tapi masih diawasi oleh Astrid.
"Om... Tante... Ayo Kita makan... Jam makan siang sudah lewat..." Canda Leo yang baru saja tiba sambil membawa makan siang untuk Mereka.
"Kok Dokter masih manggil Om dan Tante sih pada Mama dan Papa?" Tanya Astrid.
Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya nih Dokter, panggil saja Om dan Tante ini, Papa dan Mama, seperti Lita dan Astrid memanggil Kami." Kata Tia.
"Maaf Tan.... Eh Ma..." Leo kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Lambok hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Leo.
"Bagaimana terapi nya, Sayang?" Tanya Tia pada Lita.
Lita nampak sedih. Dia menunduk. Tia meletakan sendok nya. Kemudian mengusap kepala Lita. "Ada apa Sayang???"
"Dokter Oliver sudah melakukan Observasi. Tapi belum berhasil Ma.. Pa..." Leo menjawab. "Lita jadi tambah tak punya keinginan untuk sembuh. Lita putus Asa." Kata Leo lirih.
__ADS_1
Sedangkan Lita sudah terisak.
Tia langsung memeluk Lita. "Kamu gak boleh putua asa, Sayang... Mama yakin Kamu akan sehat. Allah sangat menyayangi Kamu sehingga DIA memberikan cobaan ini buatmu, Sayang..." Tia mencoba menghibur Lita.
"Dokter Oliver juga bilang kalau kelumpuhan Lita ini bukan juga karena dari Alergi Obat tapi juga karena turunan dari Gen. Apakah Mama dan Papa punya riwayat penyakit dalam yang fatal? Seperti Cancer?" Tanya Leo serius.
Tia dan Lambok tak dapat menutupi keterkejutannya. Tia menutup mulutnya. Mata Tia mulai berkaca-kaca. "Ya Allah... Apa salah Kami? Mengapa KAU turunkan Gen yang tidak baik kepada Puteri Kami?" Batin Tia.
Lambok mendengar isakan Tia yang tertahan. Lambok merengkuh bahu Tia. Tia merebahkan kepalanya Di dada Lambok.
"Ya Nak... Dulu Papa pernah mengidap kanker Darah dan Mama mu mengidap kanker Otak. Kami pun punya riwayat sakit magh." Jelas Lambok terdengar putus Asa.
Leo menghela nafas. "Papa dan Mama jangan merasa bersalah, semua ini sudah kehendak Allah, tapi dengan Kita tahu riwayat penyakit Papa dan Mama, Para Dokter bisa melanjutkan observasinya." Jelas Leo tanpa ingin membuat Keluarganya bersedih.
"Ini semua salah Aku... Aku yang gak bisa menjaga diri ku sendiri... Aku sangat egois hingga menyakiti diriku sendiri. Hik... hik... hik..." Lita menangis. Airmata nya menetes ke wajah Puteri nya Astrid dan itu membuat Puteri Astrid ikut menangis.
Lita merasa tak kuat. Ingin rasanya Dia kabur kemana pun ke tempat dimana Keluarga tak pernah menemukannya. Tapi apa daya, menggerakkan kursi rodanya saja, Lita tak mampu. "Aku gak berguna... Hik... hik... hik...."
Leo langsung bangkit dari duduknya dan berjongkong di depan kursi roda Lita. "Ssttt... Sayaaang... Jangan bicara seperti itu... Kamu sangat cerdas, tidak mungkin Kamu tak berguna. Semua ini hanya cobaan dari Allah... Kita harus yakin bisa melewatinya..." Leo menggenggam telapak tangan Lita.
"Leo.... Papa punya usul. Tapi maaf sebelumnya, Kamu jangan tersinggung." Lambok nampak ragu.
"Ada apa Pa... Papa jangan sungkan sama Aku." Kata Leo.
"Papa bukannya tidak percaya dengan pengobatan medis bisa mengobati Lita, tapi kalau memang ada alternatif lain, mengapa Kita tak mencobanya." Lambok benar-benar tak ingin menyinggung perasaan Leo yang seorang Dokter dan berfikir modern.
"Maksud Papa berobat alternatif itu apa?" Tanya Leo penasaran.
__ADS_1
"Dulu Papa mengidap kanker darah, Mama mu yang menyumbangkan sumsum tulang belakangnya untuk Papa." Lambok menggenggam telapak tangan Tia menatapnya dengan cinta. "Lalu Mama mu mengidap kanker yang Kita tidak mengetahuinya, hingga akhirnya Mama ditangani oleh seorang tabib di Negara T." Leo menghela nafas. "Sayang nya Tabib sudah lama meninggal Dunia." Lambok nampak putus asa.
"Tapi terakhir Papa mengunjungi Mereka ke Surabaya, karena memang Tabib pindah kesana ingin berkumpul dengan anak cucu nya. Ada Putera nya Tabib yang menuruni bakat Tabib." Jelas Lambok.
"Tapi Pa... Apa tidak berbahaya? Mereka tidak mengetahui seluk beluk syaraf manusia?" Leo nampak kurang setuju.
Lambok menghela nafas. "Memang Nak, pengobatan Mereka, Kita tidak tahu darimana Mereka bisa mendapatkan jalan untuk mengobati pasiennya. Tapi apa salahnya Kita mencoba nya." Kata Lambok meyakinkan Leo.
Leo menatap Lita. "Aku mengenal Tabib saat Kami tinggal di Negara A. Aku pernah kehilangan Mama saat kecelakaan pesawat yang membawa brankar Mama ke Negara J untuk pengobatan. Aku waktu itu memang masih kecil saat Mama meninggalkan Kami. Tapi setelah Lima tahun, Kak Atala menemukan Mama dalam wujud Suster Maria." Mata Lita kembali berkaca-kaca Mengingat kejadian beberapa belas tahun yang lalu.
Astrid tak dapat membendung airmata nya mendengar cerita Lambok dan Lita. "Ya Allah... Ternyata kehidupan Keluarga Lita tak semudah yang kubayangkang..." Batin Astrid menutupi kesedihannya. "Andai saja Aku bertemu dengan Mereka lebih awal, mungkin kini Mama masih berada di sampingku." Astrid mengusap airmata nya.
"Dan terakhir Kita ke Negara T, saat Papa Adrian yang sudah tidak muda lagi menginginkan keturunan. Alhamdulillaah berhasil." Jelas Tia.
"Jadi Kita menemui Keluarga Tabib ke Surabaya? Itu berarti Kita kembali ke Indonesia?" Tanya Leo yang mau tidak mau menyetujui usul calon Mertua nya.
"Iya Nak... Papa juga baru teringat dengan Mereka. Ya Allah... Silahturahmi Kita hampir saja terputus. Sudah lama Kita tidak bertandang kesana." Kata Lambok.
"Baik Pa.... Ma... Aku akan coba membicarakan ini pada Para Dokter yang menangani Lita. Aku tidak ingin Mereka merasa tersinggung karena tiba-tiba Kita menghentikan Observasi Lita." Kata Leo tak ingin calon mertua nya kecewa.
"Ya Nak... Papa percaya sama Kamu. Kamu pasti akan memberikan yang terbaik untuk Puteri Kami." Kata Lambok.
Leo tersenyum. Kemudian pandangannya beralih pada Lita yang masih di depannya. "Kamu tidak keberatan Sayang?" Tanya Leo.
Lita menggeleng. "Aku sama sekali tidak keberatan. Malahan Aku sudah mulai juga membuat obat-obatan penyakit dalam menggunakan bahan-bahan dari rempah-rempah yang dihasilkan di Negara Indonesia. Aku hampir berhasil saat mengobati pasien pertamaku..." Lita menunduk tak lagi meneruskan kata-kata nya. Lita tak ingin Leo akan merasa sakit hati karena Dia akan mengingat Almarhum Vero.
Leo langsung memeluk Lita. Leo paham akan apa yang Lita akan sampaikan. "Kita akan mencobanya Sayang... Kamu harus optimis. Kamu pasti sehat."
__ADS_1