CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Lamaran Untuk Vita


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian.


"Vita.... Sayang...." Panggil Tia.


"Ya Ma...." Sahut Vita, Dia menghampiri sang Mama yang sedang duduk bersanding dengan Sang Papa.


"Sini Sayang... Duduk.. Ada yang Mama dan Papa ingin bicarakan dengan Kamu." Pinta Tia lembut.


Vita pun menurut. Lita dan Tristan juga sudah duduk disana. Keluarga Mereka memang sudah kembali ke Indonesia setelah Vita berhasil mendapat gelar sarjana nya di Kairo dengan predikat cumloade.


Tristan kembali meneruskan sekolah di Jakarta. Dia kini duduk di kelas X SMA Negeri favorit Jakarta.


"Kami baru saja menerima lamaran dari seorang laki-laki untuk Kamu, Sayang. Insyaa Allah, Dia dari keluarga baik-baik. Minggu depan Mereka akan bertandang kesini. Mama harap Kamu mau menerimanya...." Pinta Tia.


"Haaahhh....?? Tapi Ma...." Vita hendak membantah tapi Tia buru-buru memotong ucapan Vita.


"Kamu boleh melihatnya nanti minggu depan. Kalau Kamu tak suka, Kamu boleh menolaknya." Kata Tia.


"Ya Sayaaang... Papa juga tak ingin memaksakan kehendak Kami. Semua terserah Kamu. Tapi Papa hanya ingin Kamu melihatnya dulu." Pinta Lambok.


Vita menunduk. Dia mengangguk. Ada rasa sedih dihatinya. Dia tak ingin dijodohin oleh siapa pun. Hatinya sudah terlanjur terpatri pada hati Atala.


Tapi Dia juga tak dapat menolak keinginan kedua orang tua nya, karena Dia yakin, orangtua nya tidak akan memberikan jodoh yang tidak baik untuknya.


"Ma.... Pa..... Sebenarnya Vita belum mau menikah. Vita masih ingin melanjutkan kuliah S2." Vita menunduk.


Tia dan Lambok tersenyum. "Sayaang.... Calon Suami mu tak akan melarangmu meneruskan kuliah S2 mu, malah Dia akan mendukung mu. Jadi Mama dan Papa juga tidak terlalu khawatir dengan keselamatan mu." Jelas Tia.


Vita makin menunduk. Dia makin sedih. Tapi semua Dia telan sendiri.


Tia menghampiri Vita. Dia duduk disebelah Vita. Tia mengusap bahu Vita. Vita langsung memeluk tubuh Tia. Vita menumpahkan tangisannya. Tia tersenyum sambil mengusap bahu Vita.


"Mama harap Kamu mau menerima Mereka, Sayang...." Kata Tia.


Lambok, Lita dan Tristan tersenyum melihat Vita yang menangis.


___________________________


Satu Minggu Kemudian.


Lita telah selesai merias wajah Vita senatural mungkin. Karena Lita tahu, Vita paling tidak suka berdandan.


Lita juga sudah menghias hijab Vita sedemikian rupa sehingga Vita nampak cantik dan anggun. Kulit eksotik Vita dibalut gamis warna baby pink. Dengan model potongan pinggang dengan bawahnya model plisket yang sangat rapat.


Lita memutar kursinya. Menghadapkan tubuh Vita pada cermin riasnya. "Sudah selesai Vit... Sekarang Kamu boleh lihat hasilnya." Goda Lita.


Vita perlahan mengangkat wajahnya. Dia menatap dirinya dicermin. "Subhanallaah... Ini beneran Aku, Lita?" Tanya Vita tak percaya.


Lita mengangguk sambil tersenyum. "Gimana...??? Bagus kan?" Tanya Lita puas.


"Ini sih bukan bagus, tapi sangat bagus banget...." Canda Vita.

__ADS_1


"Hahahaha... Kamu bisa aja...." Kata Lita yang tertawa senang. "Jadi Kamu jangan sedih lagi yah.... Mama dan Papa gak akan menjodohkan Kamu dengan Pria yang tidak baik." Hibur Lita.


Sudah seminggu sejak berita Vita akan dilamar, Vita memang selalu murung dan berakhir dengan airmata.


Vita selalu menghibur dirinya dengan mengaji dan shalat istikharah, hingga hatinya merasa tenang, kini. Walau Dia sendiri belum tahu siapa calon suaminya.


"Kak Vita sudah selesai?" Tanya Tristan.


"Sudah... Ada apa, Tristan?" Tanya Lita.


"Tamu nya sudah datang. Kakak siap-siap ya." Pinta Tristan.


"Dek.... Mereka siapa? Apa Kita mengenalnya?" Tanya Vita.


"Nanti Kakak juga tahu." Kata Tristan masih berteka-teki.


Vita menghela nafas. Dia mengrucutkan bibirnya.


Di Ruang Tamu


"Silahkan duduk...." Tia dan Lambok mempersilahkan tamu nya untuk duduk.


"Dimana Vita, Tante?" Tanya Friska.


"Vita ada... Masih dikamarnya." Kata Tia.


"Tante.... Boleh Friska ke atas?" Tanya Friska.


"Terima kasih Tante...." Friska langsung beranjak dan menuju kamar Vita.


"Mama...... Ituuuuttt...." Puteri nya Friska merengek minta ikut. Dia langsung turun dari pangkuan Atala.


Friska tersenyum. "Ayoooo Sayaaang...." Kata Friska sambil menggandeng tangan Gifany.


Sesampainya Di kamar Vita.


"Assalamu alaikum...." Salam Friska.


"Wa alaikumussalaam...." Sahut Vita dan Lita.


"Kak Friska?" Vita terperanjat. Ada rasa tak menentu dalam hatinya. Tapi Vita sebisa mungkin menahan gejolak hatinya yang sudah tak menentu.


Friska tersenyum. "Kamu cantik sekali.... Aku sampai pangling...." Puji Friska.


"Terima kasih Kak.... Lita yang meriasku." Kata Vita lembut. "Kakak apa kabar? Bagaimana dengan kesehatan Kakak?" Tanya Vita.


"Alhamdulillaah Aku baik-baik saja... Setelah melewati banyak penderitaan...." Friska menunduk. "Aku juga mau minta maaf karena telah merebut Atala mu...." Friska memasang wajah sangat menyesal.


Vita tersenyum kecut. "Semua sudah berlalu lama Kak.... Jangan mengingat semua ke belakang. Mungkin jodohku bukan sama Kak Atala...." Air mata Vita menetes.


"Yaaaa Vitaaaaa.... Jangan nangis.... nanti make up nya luntur." Lita mengusap airmata Vita dengan lembut.

__ADS_1


"Memang Kamu pake make up apa Lita? Tepung terigu?" Canda Vita.


Sontak saja Lita dan Friska tertawa lepas mendengar perkataan Vita. "Hahahaha.... Kamu bisa aja, Vita...." Kata Lita.


"Dan ini.... Siapa Puteri cantik ini?" Tanya Vita gemas.


"Aku Gifany, Tante...." Kata Friska.


"Lucu ya Kak....." Kata Vita.


Friska tersenyum.


"Kakak-kakak ku yang cantik....." Tiba-tiba Tristan sudah berada lagi di depan kamar Vita.


"Ya Dek..." Jawab Lita.


"Kak Vita disuruh turun sama Mama." Kata Tristan.


Lita dan Vita mengangguk. Lita menggandeng tangan Vita menuruni tangga menuju ruang tamu. Tristan juga mengapitnya disebelah Vita.


Friska dan Gifany berada dibelakang Mereka.


Vita masih tetap menunduk. Lita sudah mendudukan Vita di kursinya.


"Subhanallaah.... Vita cantik ya...." Terdengar suara yang tak asing bagi Vita. Jantungnya berdegub kencang. "Kenapa Dia ada disini? Ya Allah... Aku lupa... Kak Friska ada disini, berarti Dia ada disini...." Batin Vita.


"Papa.....!" Gifany langsung kembali duduk dipangkuan Atala. Gifany memang sangat dekat dengan Atala walau Atala sudah mengatakan kalau Papa Gifany adalah Gery, tapi Gifany sangat menyayangi Atala.


Vita mendongak perlahan. Dia melihat Atala yang menciumi Puterinya dengan kasih sayang. Ada luka dihatinya.


"Vita....." Panggil Tia.


"Mereka adalah Keluarga yang meminta mu menjadi calon menantu...." Canda Tia.


"Mama... Kalau Mereka, Aku sudah kenal... Kenapa Mama gak kasih tahu Aku...?" Vita mengrucutkan bibirnya.


Disana memang ada Mama Diandra dan Ustadz Joey. Gery, Atala, Friska, Teguh. Sedangkan Joana dan Fathir tidak ikut, karena Joana dan Fathir sedang berada di Jogja.


Tia tersenyum. "Yang disebelah Atala, itu Gery, Sayang.... Namanya Gery.... Dia Kakak nya Kak Atala, Puteranya Om Teguh." Kata Tia memperkenalkan.


"Gery... Ini Vita puteri pertama Tante..." Kata Tia.


Gery tersenyum.... "Cantik Tante.... Dan sholehah."


"Vita... Kalau sama Kak Atala... Kamu masih inget, kan?" Goda Atala.


Vita tertunduk malu bercampur aduk. Sedih tak menentu.


Mereka tertawa senang. Setelah perbincangan yang cukup panjang. Dan berbagai macam jamuan yang telah disediakan. Mereka pun akhirnya menentukan hari pernikahan Vita. Gery meminta jangan terlalu lama untuk persiapan pernikahan.


Mereka tertawa karena melihat Gery yang sudah sangat tak sabar.

__ADS_1


Lain hal nya dengan Vita, Dia terlihat sedih, kenyataannya Dia akan menikah dengan Gery yang baru saja Dia kenal. "Tapi Kata Mama, Dia adalah Kakaknya Kak Atala." Batin Vita. Airmatanya sudah mengambang di pelupuk matanya yang cantik.


__ADS_2