
Pagi-pagi sekali, Krisna sudah terjaga. Dia memasak air juga mengisi air di penampungan.
Devi mengerjapkan mata. Mendengar kesibukan Krisna dini hari.
"Pak Krisna...." Panggil Devi.
Krisna mendengar panggilan Devi. "Jangan panggil Pak, Saya merasa tua banget." Canda Krisna.
Devi tersenyum.
"Panggil saja Krisna atau Kak." Kata Krisna.
Devi mengangguk. Disebelah nya Caca tidur sangat pulas. Dia senang sekali tidur bersama Devi. Dielus dan diusap.
"Ada apa, Dek?" Tanya Krisna.
"Aku ingin membantu Mu, tapi badan Ku yang sebelah kanan kenapa terasa lemas?" Tanya Devi.
"Benarkah? Apa sebelum kecekalakaan Kamu mengalami sakit?" Tanya Krisna.
"Aku gak tahu Kak...." Kata Devi. Tapi tiba-tiba Devi terbesit dengan panggilan KAK. "Aaaaccchhhh...!" Devi menjerit memegang kepala nya yang terasa sakit.
"Ada apa?" Tanya Krisna yang segera menghampiri Devi.
"Entahlah ada bayangan saat Aku memanggil KAK pada Kak Krisna." Kata Devi.
Krisna memeriksa tubuh Devi sebelah kanan yang katanya terasa lemas. Devi memperhatikan gerakan Krisna.
"Apakah ini sakit?" Krisna menyubit lengan Devi. Devi menggeleng.
Krisna teringat saat Dia memeriksa luka dipinggang Devi, ada darah hitam seperti keracunan.
"Maaf, Boleh Aku lihat luka dipinggang Mu?" Tanya Krisna hati-hati.
Wajah Devi bersemu merah tapi Dia mengangguk.
Krisna menyingkap kain Devi. Luka di pinggang Devi kini sudah berubah warna merah walau belum seperti merah darah.
"Seperti nya Kamu keracunan yang sangat lama. Mungkin Kamu sedang mengkonsumsi obat?" Tanya Krisna.
"Kak... Apakah Kakak seorang Dokter?" Tiba-tiba Devi merasa kepala nya sakit lagi ketika dalam fikirannya terbesit seseorang memanggil Dokter.
__ADS_1
"Kamu ingat apa?" Tanya Krisna.
"Dokter... Seperti nya Aku dekat dengan seorang Dokter." Kata Devi.
Krisna menghela nafas. Dia beranjak dan mengambil ramuan yang sudah Dia persiapkan untuk menutup luka di pinggang Devi.
"Kak... Aku ingin mandi, sepertinya Aku sudah lama sekali tidak mandi." Kata Devi.
"Apa Kamu bisa menggerakan tangan Mu yang kiri untuk membasuh?" Tanya Krisna.
Devi mengangguk. Sekali lagi wajah nya bersemu merah.
"Aku akan memandikan Kamu dengan Kamu memakai kain ini. Nanti Kamu yang membilas tubuh Kamu, yah. Kakak udah masak air untuk Kamu mandi." Kata Krisna.
"Terima kasih Kak... Maaf merepotkan Kakak." Kata Devi. Devi kembali mendapat gambaran akan kata-kata nya.
Krisna menggendong tubuh Devi ke kamar mandi dan mendudukan ke kursi pendek. Krisna mulai menyiram tubuh Devi. Devi menggosok tubuh nya dengan tangan kiri nya.
Krisna membasuh rambut Devi yang sangat lepek karena sudah lama tidak terkena air. Krisna mengkramas rambut Devi. Krisna teringat manakala dulu memandikan Istri nya. Tanpa sengaja Krisna membelai bahu Devi.
Devi terperanjat. "Kak! Apa yang Kakak akan lakukan?" Devi setengah berteriak.
"Astaghfirullaah... Maafkan Aku... Aku...." Krisna merasa tak enak dengan Devi. Dia hendak meninggalkan Devi tapi tidak tega karena tubuh nya masih berbalut sabun dan shampo.
Krisna memandang wajah Devi, merasa bersalah. Krisna mengangguk. "Maafkan Aku...." Krisna mempercepat membasuh tubuh Devi.
Setelah itu Krisna mengeringkan rambut Devi dengan handuk.
"Sementara Kamu pakai sarung dulu yah... Nanti kalau Kakak ke kabupaten, Kakak carikan pakaian layak untuk Kamu." Kata Krisna.
Devi mengangguk. Dia meraba leher nya. Dia memang merasa ada sesuatu dilehernya. "Kak, boleh minta tolong lepaskan ini." Pinta Devi.
"Kenapa Kamu minta melepas kalung Kamu? Ini mahal sekali." Tanya Krisna.
"Gak apa Kak. Kakak pasti akan membutuhkan nya untuk membeli keperluan Ku. Aku ingin baju yang menutupi aurat Ku. Kalau ada tolong belikan kerudung dan perlengkapan shalat." Pinta Devi.
Dari kemarin ada yang janggal dengan Devi melihat tubuh nya yang hanya terbalut kain panjang. Dia merasa tak pantas memperlihatkan sebagian tubuh nya pada Krisna.
"Baiklah..." Krisna menuruti kemauan Devi melepas kalung nya.
"Beli lah kebutuhan pangan Kita, Kak. Kebutuhan Caca juga. Tolong belikan buku bacaan anak-anak juga perlengkapan belajar. Seperti nya Caca anak yang cerdas." Kata Devi lagi.
__ADS_1
"Baiklah... Tapi Kamu jangan memporsis tubuh Mu. Luka dipinggang Mu masih menganga. Aku sengaja belum menutupnya karena masih banyak racun dalam tubuh Mu." Kata Krisna.
"Kakak belum cerita tentang Kakak. Apa Kakak seorang Dokter?" Tanya Devi.
Krisna mengangguk. "Aku memang seorang Dokter, Aku gagal menyelamatkan seorang pasien yang ternyata adik kandung Istri Ku. Aku menikah dengan Istri Ku tanpa tahu siapa Keluarga nya. Karena Dia selalu menutupi keberadaan Keluarga nya. Ternyata Dia salah satu anak orang terpandang di Kota Kalimantan. Aku juga gak tahu kenapa Dia menutupi siapa Keluarga nya. Krisna menunduk." Menetralisasi emosi nya mengingat kehidupan Rumah tangga nya.
"Maaf.... Aku belum sanggup untuk membuka luka lama Ku." Kata Krisna seraya beranjak meninggalkan Devi yang sudah memakai sarung.
Krisna mengambil kain basah bekas pakai Devi. Dia mencuci nya. Airmata nya berderai mengingat kehidupannya dulu yang sangat bahagia.
Devi termenung menerka-nerka kisah hidup Krisna. Devi mendengar hirupan air hidung Krisna di belakang sana. Devi tahu Krisna sedang menangis.
"Semoga Kamu mendapat kebahagiaan Mu, Kak." Batin Devi.
Krisna mengerjakan semua pekerjaan rumah. Hari ini Dia tidak melaut karena sudah seminggu cuaca kurang mendukung. Kayu bakar untuk dijual pun tidak ada, karena curah hujan yang intens membuat kayu-kayu basah.
Krisna menggunakan tabungan nya yang Dia kumpulkan saat cuaca mendukung untuk menutupi kebutuhan nya saat cuaca di musim hujan.
Devi beberapa hari yang lalu melihat Krisna membobol celengannya pada sebatang bambu yang menempel di tiang biliknya. Makanya Devi memutuskan menjual Kalung nya demi membantu keuangan Krisna.
Krisna sudah menyiapkan sarapan. Caca juga sudah bangun. Krisna juga sudah memandikan Caca.
Caca nampak segar dan ceria. Dia duduk di pangkuan Devi. Bermanja pada nya.
"Sayang... Ibu nya jangan Kamu bebani dengan tubuh Mu. Luka nya belum sembuh." Pinta Krisna lembut.
"Maafin Caca ya Bu..." Caca memang anak yang sangat pengertian. Dia segera turun dari pangkuan Devi.
Devi tersenyum sambil menyisir rambut ikal Caca. "Maaf Sayang... Ibu gak bisa menguncir rambut Mu. Tangan Ibu yang sebelah belum bisa digerakan." Kata Devi.
"Gak apa Bu... Caca mau kayak Ibu, Lambut nya gak dikuncil." Celoteh Caca.
Devi mencium pipi Caca dengan gemas. Caca balik mencium pipi Devi.
Krisna melihat kemesraan Puteri nya dengan Wanita yang Caca inginkan dirinya menjadi Ibu nya.
Krisna tersenyum. "Setidaknya ada Obat mengobati rindu Mu akan sosok Ibu, Nak." Batin Krisna.
Mereka sarapan dalam suka cita. Devi menyuapi Caca dengan tangan kiri nya. Sebenarnya Krisna melarang Caca disuapi Devi. Namun Devi tak keberatan. "Gak apa Kak... Caca kan sudah lama gak merasakan kasih sayang seorang Ibu." Bisik Devi.
Krisna membenarkan perkataan Devi. "Tapi Aku gak mau nanti anankku jadi manja." Bisik Krisna.
__ADS_1
"Caca walau masih kecil, tapi sangat cerdas, Kak. Dia bisa menempatkan diri nya. Aku terharu melihat anak sekecil Dia tapi sudah mandiri." Kata Devi lagi.
Setelah sarapan, Krisna pamit untuk pergi ke Kabupaten, membelikan keperluan Devi, juga beberapa alat kedokteran. Krisna berencana mengukur kadar racun yang ada dalam tubuh Devi dan penyebab kelumpuhan sebelah tubuh Devi.