
"Ada apa Ma... Pa..??" Tanya Fathir dan Atala yang juga menghampiri Orangtua nya yang terlihat cemas.
"Lita masuk Rumah Sakit. Kritis..." Kata Vita.
"Innalillaahi...." Jawab Fathir dan Atala juga Emily.
"Ya sudah, Kita berangkat ke Sumatera, sekarang." Kata Fathir.
"Jangan Nak. Gak enak sama Leo. Kasihan juga Leo kan, gak ada yang bantu. Cuma ada Ustadz Joey." Kata Lambok.
"Tapi keadaan Lita lebih penting Pa." Kata Atala cemas.
"Iyaa... Papa tahu. Tapi Lita sudah ditangani Auntie dan Uncle Kalian. Ada Mama Fitri dan Ayah Fahmi disana. Kalian disini saja, menemani Leo. Dia sedang berduka. Kalian harus menenangkannya. Leo baru saja muallaaf..." Kata Lambok bijak.
Mereka pun mengangguk.
"Satu lagi... Jangan ada yang memberitahu Leo tentang keadaan Lita sampai Leo tenang." Pinta Lambok.
"Papa....! Mama....!" Tristan menghampiri orangtua nya juga saudara-saudara nya.
"Nah Tristan sudah sampai. Papa dan Mama berangkat yah." Kata Lambok.
"Dek... Jaga Papa dan Mama yah..." Pinta Vita dan Atala.
"Ya Kak." Kata Tristan.
"Aku juga sudah menghubungi travel. Dua jam lagi Mereka menjemput Mama dan Papa juga Tristan di rumah." Kata Atala.
Mereka pun mengantar kepergian Orangtua dan Adiknya ke parkiran. Setelah itu Mereka kembali ke ruangan Romo untuk membantu pengurusan jenasah Romo.
__________________________
Tia langsung menghambur kepada Nindi.
"Tenang Kak. Alhamdulillaah Lita sudah bisa merespon obat yang diberikan Kak Marcel. Masa kritis nya juga sudah lewat." Jelas Nindi.
Tengah malam ini, Tia dan Lambok juga Tristan memutuskan langsung ke Rumah Sakit. Mereka tak memperdulikan rasa letih pada tubuh Mereka.
"Sebaiknya Kakak istirahat." Kata Nindi yang terlihat juga sangat letih.
"Gak Dek... Kamu yang harus nya istirahat. Kami sudah istirahat tadi di pesawat dan mobil travel." Kata Tia.
"Aku sedang menunggu Kak Marcel. Kalau Kak Marcel sudah datang, Aku janji akan istirahat." Kata Nindi.
"Dek... Kita sudah disini. Kamu istirahatlah di ruangan mu sambil menunggu Marcel. Nanti kalau ada apa-apa, Kakak akan memanggil Kamu." Pinta Lambok.
Akhirnya Nindi mengalah dan mengangguk. "Baiklah Kak. Aku permisi."
Tia duduk di samping brankar Lita. Membuka Al Quran nya dan mengaji. Lambok dan Tristan menyimak.
__________________________
"Auntie.... Kenapa beberapa hari ini Lita
tak mengunjungi ku? Lita sibuk yah?" Tanya Vero saat melihat Nindi memasuki ruang rawatnya.
__ADS_1
Nindi tersenyum. "Bagaimana kabar Kamu hari ini, Vero?" Nindi balik bertanya.
"Aku baik-baik saja. Tapi Lita....." Vero nampak kecewa.
"Kamu mau bertemu Lita?" Canda Nindi.
Vero mengangguk dengan wajah sumringah. Vera hanya geleng-geleng kepala. Keluarga Vero memang sudah boleh menjenguk Vero. Vero akan segera menjalani operasi.
"Kamu yakin?" Tanya Nindi lagi nampak ragu.
"Ada apa Auntie? Ada apa dengan Lita? Kenapa Auntie terlihat cemas? Vero seakan bisa membaca kecemasan Nindi.
"Lita...." Nindi nampak ragu.
"Auntie.. Kak Lita kenapa?" Vera cemas.
"Lita sudah dua hari tidak sadarkan diri....." Kata Nindi pada akhirnya.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Vero terbatuk.
Vera bergegas memberi minum pada Vero.
"Auntie... Aku ingin melihat Lita... Apa boleh..?" Vero berharap.
"Iya... Boleh... Lita sempat kritis, tapi masa kritis nya sudah lewat." Jelas Nindi.
Vero hendak turun dari brankar tanpa menyadari jarum infus ditangannya.
"Abaaang.... Hati-hati Bang. Pelan-pelan..." Vera sangat cemas.
Nindi dan Vera memindahkan tubuh Vero ke kursi roda. Vera mendorong kursi roda Vero mengikuti Nindi menuju ruang perawatan Lita.
"Assalamu alaikum..." Salam Nindi, Vera dan Vero.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Tristan. Tia dan Lambok sudah kembali ke rumah Mereka di Kampung Ibu Nia karena Nindi yang memaksa untuk istirahat.
"Vera..?!" Tristan nampak terkejut. "Daaannn....? Astaghfirullaah... Bang Vero? Bang Vero kenapa?" Tristan nampak terkejut melihat tubuh Vero di kursi roda, tubuh kurus dan kepala plontos dengan bibir pucat.
Vero tersenyum. "Kamu apa kabar, Tristan?" Tanya Vero lemah.
Tristan mengambil alih kursi roda Vero. "Biar Aku saja. Abang mau melihat Kak Lita, kan?"
Vero mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. Wajahnya sangat sedih melihat Lita yang terbaring tenang. Matanya terpejam dengan jarum infus ditangannya, juga kabel-kabel yang masuk lewat celah kancing piyama Rumah Sakit.
"Sayaaang... Kamu kenapa? Baru kemarin Kamu baik-baik saja." Vero mengelus pipi Lita dengan lembut.
"Dok...ter.... Sa...yang...." Lita mengigau. "Dok...ter... ja....ngan...ting....gal... kan... Aku...."
Kening Vero mengernyit. Vero bingung siapa yang dipanggil Lita.
Vera menutup mulutnya karena terkejut. Vera tahu kalau Lita sudah tidak mencintai Abangnya. "Berarti Kak Lita sudah punya calon." Batin Vera.
"Sayaang... Ini Aku... Vero mu..." Kata Vero yang masih diselimuti rasa bingung.
Nindi dan Tristan merasa tak enak hati. Vero belum tahu kalau Lita sudah move on.
__ADS_1
"Maaf... Sebaiknya Kalian keluar dulu." Pinta Nindi akhirnya yang tiba-tiba mendapat ide agar Vero tak mendengar igauan Lita.
"Dok... ter.... Aku... cin...ta... Ka..mu.." Igau Lita.
"Tapi Auntie..." Vero sedikit tak terima.
"Tristan, Vera tolong Kalian keluar dahulu. Bawa Vero yah. Auntie akan memeriksa Lita." Pinta Nindi.
Tristan langsung mendorong kursi roda Vero. Vera mengikuti dan menutup ruang perawatan Lita.
Vero nampak shok. Suara Lita terngiang di telinga nya. "Dok...ter... Sa...yang.... Ja...ngan.. ting...gal..kan... Aku..."
"Bang..." Panggil Tristan yang membuat Vero sadar dari lamunannya.
"Ya...." Jawab Vero.
"Abang mau ke taman?" Tanya Tristan.
Vero menggeleng. "Aku mau kembali ke kamar." Pinta Vero tak bersemangat. Hatinya sakit mendengar Lita menyebut Sayang pada seorang Dokter.
_________________________
"Dok...ter... Sa...yang... Ja...ngan... Ting...gal...kan... Aku...."
"Dok...ter... A...ku... Cin...ta... Ka...mu...."
Igauan Lita terus terngiang di telinga Vero. Sejak igauan itu, Vero gak mau makan. Semangat hidupnya turun.
Vera berulang kali menghiburnya, namun tak membuahkan hasil.
Tristan pun tak luput dari introgasi Vero.
"Aku gak tahu siapa Dokter itu, Bang... Kak Lita gak pernah cerita. Aku juga jarang bertemu Kak Lita..." Jelas Tristan berbohong.
"Assalamu alaikum...." Salam Dokter Marcel.
"Wa alaikumussalaam Dokter...." Jawab Vera. "Abang gak mau makan." Vera nampak sedih. Kondisi Vero sangat tidak baik.
"Vero... Ada apa? Apa yang Kamu rasakan?" Tanya Marcel. Nindi memang sudah menceritakan perihal igauan Lita yang di dengar Vero.
Vero hanya diam. Tatapannya kosong.
Marcel memeriksa kondisi Vero. "Kamu makan dulu yah. Katanya mau sehat, biar bisa bersama lagi dengan Lita... Kalau Kamu sakit, siapa yang akan memberi semangat pada Lita, biar Lita mau bangun?" Goda Marcel.
"Dokter itu yang akan menjaga Lita." Ketus Vero dengan suara lemah.
Marcel mengerutkan keningnya. "Maksud Kamu? Dokter, Auntie atau Uncle?" Tanya Marcel.
Vero diam. Vero terus menunduk. Hatinya hancur. Semangatnya down. Seketika Vero tak punya keinginan untuk sehat lagi.
Vera menahan isak tangis nya. Susah payah Dia menutupi kalau Lita tak mencintai lagi Abang nya. Tapi akhir nya Vero mendengarnya sendiri dari mulut Lita.
"Lita memanggilnya dalam keadaan tidak sadar." Kata Vero.
Marcel tersenyum dan mengelus bahu Vero. "Orang yang dibawah pengaruh obat penenang, alam bawah sadar nya bisa menyebut apa pun. Mungkin Lita disana sedang bertemu seorang Dokter. Waktu Kamu gak sadar, Kamu juga mengigau...." Marcel mencoba meng-clear-kan suasana agar Vero tidak putus asa.
__ADS_1
Vero hanya diam. Hati nya mengatakan Lita telah berpaling. Lita berpura-pura masih mencintainya karena ingin menyelamatkannya. "Pantas saja Aku tak pernah menemukan cinta lagi di matanya." Batin Vero.